
Sebelum sihir yang digunakan oleh Orc itu menghancurkan segalanya di kediaman Fisher selagi ingin membunuh semua kesatria di sana, hasil perbuatan Edward yang membuka gerbang teleportasi itu pun berhasil membuat sebagian besar dari mereka semua langsung berpindah tempat ke dinding Utara.
Termasuk dengan mayat-mayat itu, tanpa tertinggal sedikitpun para kesatria pun turut ikut berteleportasi, sebab..
"Hancurkan manusia!"
"Hancurkan Kekaisaran Regalia!"
"Bunuh mereka semua. Balaskan dendam teman-teman kita yang sudah mati karena ulah para manusia!"
"Bunuh manusia!"
"Hancurkan Kekaisaran Regalia!"
Berbagai seruan atas kemarahan para monster yang tidak terima dengan para kawanannya yang sebelumnya sudah mati, langsung mengisi suasana dari dinding utara yang saat ini sudah menjadi lautan monster yang bersiap untuk memporak-porandakan segala isi yang ada di balik dinding pembata situ. Wilayah resmi milik Kekaisaran Regalia.
"Hahahaha...penyihir bodoh mana yang membuatku pindah kesini? Dengan adanya mereka, aku jadi bisa melahap semua jiwa mereka agar aku jadi lebih kuat!" Seru monster Orc Lord setelah dirinya berpindah ke tempat awal. Dimana sekarang dia tidak akan butuh lagi manusia sebagai makanannya, karena keberadaan dari anak buahnya sendiri pun sudah berhasil menciptakan kesempatan baru yang lebih besar.
"Mau setinggi apapun pangkat, jika memang bodoh ya tetap bodoh. Kau berhasil memberi Bab* itu makan sepuasnya, Edward Hasting." Hina Alstrelia secara terang-terangan kepada Edward yang saat ini berada di belakangnya persis.
Tidak hanya Edward, Alrescha pun saat ini sudah ikut berpindah tempat juga dan sedang berlutut di samping Alstrelia tengah melihat pasukan monster yang saat ini sudah mulai berbaris di depan tembok persis.
"Jika mendesak, juga tidak seharusnya kau membuat sihir teleportasi." Peringat Alrescha juga kepada Edward yang saat ini sudah berwajah pucat.
"Aku akan mengirimnya ke tempat lain." Kata Edward.
"Tidak perlu. Jika seperti itu bisa saja dia akan lebih merusak. Apa kau mau bertanggung jawab?" Sela Alrescha lagi memperingatkan tindakan Edward.
Kedua orang yang memiliki ekspresi wajah serius yang sama itu pun berhasil menarik perhatian Edward untuk menatap kakak beradik itu dengan tatapan intens.
Alstrelia yang saat ini berdiri dengan kedua pistol di kedua tangannya, di dampingi Alrescha yang saat ini berlutut dengan satu pedang sudah Alrescha dapatkan.
Siapa yang akan mengira kalau kedua anak kembar itu sekarang terlihat seperti saudara penggila perang, itu terlihat jelas dari senyuman miring mereka berdua yang sama.
"Sebaiknya kau jangan memaksakan dirimu," Ujar Alrescha.
Alstrelia melirik kearah pedang yang sedang dijadikan tumpuan oleh Alrescha itu, lalu menyahut, "Akulah yang harusnya mengatakan itu padamu. Jika tidak bisa, lebih baik mundur."
"Ho~ Dua anak kembar. Kalian berdua terlihat lebih enak ketimbang anak buahku." Sela Orc Lord itu.
__ADS_1
Sedangkan maksud dari Alrescha dan Alstrelia terlihat lebih enak adalah karena mereka berdua adalah manusia yang memiliki sihir, dan sudah pastinya jika Orc Lord itu bisa mengalahkan Alrescha dan Alstreila, maka kekuatan di dalam tubuhnya akan meningkat lebih pesat.
"Alstrelia, aku akan membuatmu jadi hidangan penutup. Rasanya pasti lebih enak ketimbang hidangan utamanya." Orc Lord itu pun melirik kearah Alrescha.
"Heh~" Alstrelia dan Alrescha tiba-tiba sama-sama tersenyum. "Coba saja, apakah aku lebih enak ketimbang dia?" Jawab mereka berdua secara serentak.
"Hahhh~ Ini akan menjadi lebih menarik." Monster berkepala babi ini pun mengumbar senyuman paling lebar, memperlihatkan deretan giginya yang berwarna kuning.
"Menjijikan." Celetuk Alstrelia dengan sebuah gumaman lirih.
"Karena adikku mengatakan menjijikan, aku akan membersihkan makhluk itu untukmu." Lontar Alrescha sebelum dia memilih untuk melesat turun lebih dulu.
SYUHTT..!
'Kau mau bertanding? Ok. Aku akan aku layani,' Pikir Alstrelia. Tidak seperti Alrescha yang berlari di atas para tubuh monster yang berhimpitan itu, maka Alstrelia, demi sampai kearah Raja para Bab* itu, dia menggunakan jalur udara.
WUSH.......
Saling menyaingi dalam kecepatan, Alrescha dan Alstrelia sama-sama berlari demi menghampiri makhluk itu.
********
WUSHH.....
"Kau gila!" Teriak Chavire.
"Mereka memang selalu menyebutku gila. Jadi jangan terheran apa yang akan terjadi selanjutnya jika kau terus bersamaku." Jawab gadis ini setelah berhasil menangkap tangan Chavire agar mereka berdua tidak berpisah di saat mereka berdua saat ini sedang terjun bersama.
KWAKK...!
Gadis itu pun mendongak ke atas, terlihat burung kesayangannya saat ini sudah berhasil membereskan nyamuk-nyamuk itu dalam waktu yang singkat. Dan saat ini Everst tengah terang ke arah mereka berdua untuk menangkap baik dirinya maupun Chavire sebelum benar-benar terjatuh.
WUSHH....!
Dalam sekejap mata, Everst mampu menyaingi kecepatan jatuh mereka berdua, dan saat ini Everts pun berhasil menangkap Chavire serta Eldania untuk duduk kembali di atas punggungnya.
Dan dalam waktu yang sama pula, setelah mereka berdua terjun menembus awan gelap itu, Chavire, Eldania, Everst, dan Guguk, akhirnya melihat hal yang harusnya mereka lihat dari awal.
"Mereka semua?! Sud-"
__ADS_1
"Mereka ternyata sudah sampai lebih cepat dari perkiraan. Tapi waktu kita sampai juga terlalu pas kan?" Sela Eldania.
Mereka sama-sama diperlihatkan pemandangan dari lautan para monster yang berkumpul untuk menembus dinding perbatasan dan masuk kedalam wilayah Kekaisaran Regalia.
"Alstrelia! Matilah kau!" Teriak salah satu monster paling mencolok diantara monster lainnya, sebab tubuhnya lebih besar dari mereka semua.
DEG!
'A-alstrelia? Kenapa monster itu meneriaki namanya?' Detik hati Chavire. Seketika hatinya menjadi cemas ketika nama dari perempuan yang Chavire mimpikan semalam, saat ini tengah berdiri di udara bersama dengan kakaknya, yaitu Alrescha.
"Alstrelia? Nama sebagus itu kenapa dipanggil oleh monster sejelek itu?" Gerutu Eldania ketika sama-sama mendengar terikan kencang akan dari kemarahan yang Orc Lord ambil itu. "Wah...dia Orc Lord Disaster. Ternyata Bab* jelek itu sudah berevolusi." Beritahu Eldania kepada Chavire yang saat ini sedang memasang wajah setengah terkejut.
"Orc Lord Disaster?" Tanya Chavire masih mempertahankan reaksi wajah tegangnya.
Everst pun terbang tidak jauh dari atas mereka semua dan terbang memutar.
"Ya. Kau bisa menganggapnya sebagai rajanya kaum monster. Jika dibilang raja Iblis, juga bukan. Dia kan awalnya juga dari monster, jadi mau sekuat apapun, dia tidak akan mendapatkan julukan Raja Iblis." Terang Eldania. "Tapi-" Reaksi wajah Eldania berubah menjadi wajah penuh dengan tatapan menyelidik. "Apa kau mengenal perempuan itu?"
DORR...!
CTANG...!
DHUAR...!
Suara demi suara itu menyeruak masuk kedalam indera pendengaran mereka berdua.
"Dia cukup tangguh. Jangan-jangan dia kekasihmu ya?" Terka Eldania dengan tatapan jenaka nya.
"U-untuk saat ini bukan." Sahut Chavire sambil memalingkan wajahnya kearah lain, karena Eldania sedari tadi mendekatkan wajahnya terus kearahnya.
"Aku iri padamu." Imbuh Eldania, lalu menjauhkan wajahnya dari depan wajah Chavire dan berbalik menatap kearah depan. "Sekarang tujuanmu sudah sampai, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Eldania seraya menatap perempuan yang saat ini sedang bertarung bersama dengan kembarannya sendiri.
WUSHH.....
Everst pun terbang semakin rendah dan akhirnya mendarat tepat di atas dinding perbatasan.
Edward yang melihat kedatangan dari kedua orang asing bersama dengan seekor burung besar, hanya berdiri menatap mereka semua sambil bersikap waspada.
"Siapa kalian?" Edward mengambil satu langkah ke depan.
__ADS_1
"Hanya pelancong yang ingin menyaksikan kehancuran negeri ini. Tuan penyihir." Sahut Eldania dengan senyuman remeh temehnya.
"K-kau!" Pekik Edward saat melihat seorang perempuan yang tiba-tiba saja muncul di balik punggung tubuh Chavire yang tinggi itu.