Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
107 : Alstrelia : Api Biru


__ADS_3

Ctang...! Ctang...! Ctang...!


Tiga pedang saling beradu satu sama lain. Alstrelia yang merasa tidak terima karena ada dua orang manusia yang mampu bertahan dari kobaran api itu, terpaksa melawan Alrescha da Chavire yang dia anggap sebagai musuh dan harus membuat kedua lawannya itu mati di tangannya.


"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Chavire kepada Alrescha.


Alsrescha yang awalnya terdiam itu terpaksa menjawab rasa penasaran dari Chavire yang dimatanya itu, pria berambut merah itu adalah orang asing. "Karena dia sudah bukan dirinya lagi, dia mengira kita adalah musuh yang harus dibunuh." jawabnya.


Alrescha melompat ke atas sebelum pedang milik Alstrelia menyapa sepasang kakinya.


Namun, seperti yang diharapkan, keempat Gimmick Alstrelia yang terus terbang melindungi Alstrelia dalam segala situasi, kini sudah ada di atas kepalanya.


Alrescha yang sadar akan keberadaaan senjata itu segera mengarahkan bilah pedang miliknya itu tepat di depan wajahnya persis sebelum senjata itu meledakkan kepalanya.


DOORR...


Alstrelia yang sudah mengerti Alrescha untuk sesaat diurus oleh Gimmick nya, membuat Alstrelia segera mengalihkan targetnya, yaitu Chavire.


Alstrelia yang beberapa waktu lalu tidak berhasil memotong kedua kaki Alrescha, justru membuat kesempatan itu sebagai senjata Alstrelia untuk melawan Chavire.


Alstrelia yang masih sedikit berjongkok itu meneruskan serangannya dengan membuat satu putaran lagi, sampai di satu titik, tepat ujung pedangnya berada di depan persis Chavire, Alstrelia justru menancapkan sedikit tujung pedangnya di atas tanah.


Ya....


Area beku itu sudah tidak ada lagi selepas Alstrelia menciptakan api biru untuk membakar semua monster yang ada di sana.


Dia terpaksa melakukan itu untuk membereskan semuanya dalam sekali percobaan.


Setelah ujung pedangnya sudah sedikit menancap di tanah, Alstrelia yang awalnya jongkok itu tiba-tiba melompat keatas dalam posisi gerakan salto, hingga posisi kepala Alstrelia ada di bawah lalu dengan pedang yang ada di tangannya, Alstrelia pun akhirnya mengayunkan kearah kepala Chavire.


Tetapi, tepat saat Chavire mendongak keatas dan menemukan kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain, Chavire justru merasa seperti sedang diberikan satu pesan dari Alstrelia.


'Jadi dia minta dihentikan?' Pikir Chavire detik itu sebelum dirinya segera membungkuk dan melompat pergi ke depan demi menghindari Gimmcik yang sudah ada di posisinya tepat di belakang Chavire dan memulai tembakan sihir kearahnya.


DORRR...


Setelah berhasil menghindar, Alrescha dan Chavire pun berkumpul dan berdiri bersama dengan pedang mereka sudah siap mereka berdua gunakan untuk melawan Alstrelia yang saat ini sdauh menganggap mereka berdua sebagai musuh.


"Alrescha, adikmu itu gesit juga ya?" Tanya Chavire antara penasaran bercampur bumbu pujian tapi juga sindiran, karean Alstrelia yang ada di depannya itu memang gesit dan berhasil membuat mereka berdua kewalahan.


"Siapa kau sebenarnya? Aku belum pernah melihatmu." Tanya Alrescha menghindari topik Alstrelia.


"Hei, apa kau lupa siapa majikanmu? Anj*ng penjaga?" Cibir Chavire, berhasil membuat Alrescha mengernyitkan matanya sebab Alrescha benar-benar merasa familiar akan nada saat menyebutnya sebagai majikannya dan Alrescha adalah anj*ng penjaganya.


TAP...

__ADS_1


Alstrelia yang saat ini sduah berhasil mendarat dengan sempuran setelah salto, kini dia menatap kedua pria itu bersama dengan keempat Gimmicknya yang sama-sama sduah siap untuk kembali menyerang mereka.


SYUHT!


Alstrelia pun kembali berlari dan melesat kearah depan bersama dengan keempat Gimmick nya.


Tidak hanya Alstrelia, Alrescha dan Chavire pun melakukan hal yang sama dengan berlari ke arah Alstrelia yang dimana saat ini Alstrelia harus mereka hentikan.


Ketika ketiga tokoh utama sedang memerankan peran mereka masing-masing dalam sebuah pertarungan, Edward pun saat ini sedang bersusah payah untuk membuat dinding pembatas untuk para kesatria. Alasannya cukup sederhana, yaitu untuk melindungi mereka semua dari api biru yang mematikan itu, sekaligus agar api itu tidak merambat ke tempat lain.


"Dia sesuatu sekali ya?" Suara milik Eldania memecah segala pikiran Edward saat itu juga. Saat ini Eldania masih duduk menonton pertunjukan menarik itu dengan tatapan jenakanya.


Tidak seperti seharusnya dilakukan oleh orang baik, akan turut membantu orang lain yang sedang kesusahan, Eldania justru terlihat menikmati pertunjukkan awal dari kehancuran Kekaisaran Regalia.


"Apa kau mengharapkan bantuanku, rambut tua?" Cibir Eldania karena julukannya itu memang diarahkan pada rambut Edward yang berwarna putih perak.


"Tidak sama sekali." Ketus Edward.


"Hei, dari pada mereka bertiga membuang-buang energi nya, akan lebih baik buat mereka teleportasi ke Ibu kota." Saran Eldania yang masih asik mengelus leher Everst dengan cukup manja. "Aku bicara seperti itu karena rasanya suasananya cukup mengkhawatirkan, jika semua orang penting ada disini. Lagipula api biru itu akan padam setelah membakar habis semua sampah itu." Imbuhnya.


'Walaupun aku membenci perempuan ini, apa yang dikatakannya memang ada benarnya juga. Tapi kalau dipikir-pikir kenapa aku samar-samar merasakan aroma milik Alstrelia? Sudah jelas dari tadi dia hanya duduk diam disitu, tidak terlihat ada kontak fisik dengan Alstrelia yang disitu. Apakah dibalik wajahnya yang terlihat bodoh itu dia menyembunyikan sesuatu besar dari semua orang?' Pikir Edward.


Matanya menyipit, karean ada sesuatu yang tidak berkenan dengan perempuan yang pernah Edward temui beberapa bulan lalu dalam satu insiden yang tidak bisa Edward ceritakan dengan begitu gamblang.


"Anders, kau yang urus sisanya disini." Kata Edward memberikan perintah kepada Anders yang kebetulan ada di bawah persis.


****************


Di barisan paling belakang para monster Orc.


Karena berada di barisan paling belakang, mereka semua pun tidak ada yang tahu apa yagg sedang terjadi di depan sana.


Sampai ada salah satu diantara mereka yang tiba-tiba berteriak.


"Api! Ada api biru! Kita harus mundur!" Teriak salah satu dari mereka ketika di depan jauh sana, dia melihat kobaran api berwarna biru yang kian mendekat.


Tentu saja teriakan dari peringatan yang tadi mereka semua dengar tidak langsung mereka tanggapi dengan serius.


"Api biru?" Beberapa diantara mereka sedikit penasaran sekaligus terheran.


"Bukankah api biru adalah punyanya orang 'Terpilih' yang ada di dalam legenda? Mana mungkin yang seperti ada di sini."


"Mana mungkin ada api biru, kau pasti berkhayal." Sela Orc yang lainnya, tidak percaya dengan seruan dari salah satu temannya itu, sebab diantara mereka tidak ada yang melihat api biru itu.


'Jelas-jelas api biru itu saat ini sedang berkobar di depan sana, dan mereka tidak bisa melihat pa yang aku lihat?' Pikir Orc ini. Dia pun terus memperhatikan apa yang bisa dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Dan api biru yang tadi dia teriakan pun memang benar-benar ada, dan keberadaannya pun semakin mendekat.


Karena tidak ada yang percaya dengan apa yang dilihatnya, Orc ini memilih bungkam dan memutuskan untuk pergi dari sana. Meskipun, harus bersusah payah karena harus berdesakan dengan kawanannya sendiri, dia tetap berusaha untuk kabur menyelamatkan dirinya sendiri.


"Hei, kau mau pergi kemana?"


"Target kita ada di depan saan, kau mau kemana?"


Mendapatkan beberapa pertanyaan, dia akhirnya menjawab.


"Aku akan mundur sebelum aku mati terbakar."


"Terbakar oleh apa?"


"Aku tadi sduah mengatkannya kepada kalian, di depan sana teman-teman kita sudah terbakar oleh Api biru yang tidak bisa kalian lihat." Jelas Orc ini.


"............." Mereka semua terdiam sekaligus menghentikan langkah mereka.


Awalnya mereka semua memang tidak percaya dengan apa yang dikatakannya, tapi perlahan semua itu terbukti.


"Arhhh! Panas!" Erang Orc ini dengan tubuh diselimuti oleh api biru yang terlihat tidak panas, tapi ketika sudah menyentuh api itu, maka sensasi panas karena terbakar, sudah pasti akan mereka rasakan.


BRUK...


"D-dia mati!"


"Mati?!"


Sontak melihat satu persatu dari mereka mati karena api biru itu, semuanya pun jadi dibuat panik.


"Mundur! Cepat mundur!" Seru Orc ini selepas mendapati teman di depannya tiba-tiba ambruk begitu saja tanpa adanya perlawanan.


"Ayo mundur! Sebelum kita mati seperti itu!" Teriak Orc lainnya.


Tetapi belum sempat mereka bisa pergi menjauhi api malapetaka itu, mereka akhirnya mendapatkan giliran mendapatkan maut.


Suasana pun menjadi riuh sebab sebelum mereka membuat pelawanan dengan manusia, mereka justru harus mengahadapi hal yang mengejutkan, karena api biru yang berkobar itu akhirnya semakin meluas melahap apapun yang api itu lewati.


Para Orc tersebut pun semakin panik karean apu biru yang awalnya tidak bisa mereka lihat, sekarang bisa mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka menerima imbas dari ttubuh mereka yang saat ini terkena api biru tersebut.


"Arrgghh....!" Seluruh erangan langsung menyeruak memenuhi medan pertempuran dengan suara yang cukup memilukan.


*


*

__ADS_1


*


'Api biru, jadi julukan 'yang terpilih' itu akhirnya muncul juga? Kira-kira siapa?' Pikir makhluk besar bersayap ini, yaitu naga berwarna hitam.


__ADS_2