
“........................”
‘Kenapa dia tiba-tiba jadi diam? Apa aku salah bicara lagi?’ Pikir Alstrelia.
Alstrelia tidak pernah sekalipun melihat wajah bersalah sampai seperti itu.
Mengartikan kalau kali ini, dia benar-benar sudah barhasil menyinggung hati dari pria ini. Bukan hati dari sebuah kehilangan cinta, melainkan hati dari rasa bersalah bercampur dengan rasa penyesalan.
Sekalipun melihat Alrescha kembali membuka bukunya lagi, dan terlihat seolah sedang membaca buku, tapi dimata Alstrelia jelas kalau mata itu sedang menatap kisah dari masa lalunya sendiri.
“...............” Alstrelia pun memilih untuk diam dan memperhatikan pemandangan yang bisa dia lihat dari jendela kecil itu. ‘Tidak terlihat seperti tampangnya yang dingin itu, dia benar-benar mempunyai sisi perhatian yang besar kepada adiknya.'
Di mata Alstrelia itu sudah terlihat dengan sangat jelas.
Seperti saat pagi tadi, Alstrelia sebenarnya baru saja mengunjungi ruang Walk-in Closet milik kembarannya itu.
Di ruangan tersebut, hampir ada 13 lemari berisi gaun yang mewah dengan harrga mahal. Belum lagi, ratusan kotak sepatu, dan deretan laci yang menyimpan kotak set perhiasan dalam berbagai warna.
Bagi Alstrelia, itu adalah sebuah kemewahan yang meliibihi apa yang Allstrelia Ve Der Vrancisteen miliki.
Meski itu hanyalah kemewahan untuk penampilan saja, kekayaan tetap berada di tangan Alstrelia yang sekarang. Karena dibalik dirinya tidak memiliki banyak set perhiasan dan gaun, dia memiliki banyak kendaraan, arena trek untuk balapan, stadion, dan tempat penelitian.
Karena itulah, apa yang ada di depan matanya saat ini, Alstrelia tidak begitu kagum dengan semua kekayaan yang dimiliki Fisher, selain alamnya yang masih asri.
‘Aku hanya suka dengan pemandangannya.’ batin Alstrelia sambil menatap alam liar yang sedang dia lewati dengan kendaraan kereta kuda.
Meski tidak terasa nyaman, Alstrelia mencoba untuk bertahan saja di dalam kereta kuda yang sekarang sudah dalam kecanggungan.
“Apa kau bisa mengatakan siapa dirimu sebenarnya?” tanya Alrescha tanpa mengalihkan pandangannya dari membaca bukunya sendiri.
__ADS_1
Alstrelia yang sedang menyangga dagunya, hanya melirik Alrescha sekilas sambil menjawab, “Aku adalah Alstrelia.”
Mendengar jawaban singkat begitu saja, Alrescha langsung memejamkan matanya sesaat, kemudian dia menutup bukunya lagi.
PAK.
“Selain namamu, kau pasti punya sebuah identitas, kan?”
“Jadi sekarang kau sedang menuntut apa identitas yang aku miliki?” tanya Alstrelia dengan selamba. Dia benar-benar tidak tertarik untuk mengatakan identitas aslinya, karena itu akan merugikan dirinya. “Aku punya rahasia yang harus aku jaga, dan kau adalah orang yang tidak akan mampu menjaganya sekalipun aku sudah memberitahumu.”
“Kenapa kau mengatakan aku tidak bisa menjaga rahasiamu?”
Alstrelia melirik ke arah jendela lagi, dan kebali menjawab: “Manusia itu tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Bahkan jika itu adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk meramal masa depan, pasti akan ada satu waktu dimana dia ternyata tidak bisa melihat kenyataan tersembunyi yang tidak bisa dia lihat dengan kemampuannya itu.” Alstrelia menoleh ke arah kanan, dan menatap Alresscha sambil berkata lagi : “Alrescha, aku hanya akan memberitahumu satu hal, selama kehidupan itu masih ada, tidak ada rahasia yang tidak bisa terbongkar. Walaupun kau bisa menutup mulutmu, tapi apa kau bisa menutup pikiranmu?” Jelas Alstrelia sambil menatap tajam Alrescha dengan ekspresi wajah serius.
“................!” Dalam seperkian detik itu, Alrescha dibuat sadar sepenuhnya dan langsung mengerti apa maksud dari ucapannya itu.
Alrescha paham betul, kalau maksud dari ucapannya Alstrelia adalah meskipun mulut bisa ditutup dan bisa bicara dalam sebuah kebohongan, tapi tidak dengan pikiran.
“.................” Alstrelia terus menatap Alrescha dengan tatapan datar.
Bagi Alstrelia, dalam hidupnya sudah tidak ada kata mustahil lagi. Selama ada niat, apapun itu selama ada keinginan kuat didalam hati, hal yang dipikir mustahil itu pasti akan segera terwujud, meskipun hal tersebut harus memakan waktu.
Karena itulah Alstrelia memberikan peringatan kepada pria ini kalau semua rahasia yang ada pasti akan terbongkar selama isi pikiran itu masih ada.
Apa lagi jika itu sudah berhubungan dengan sihir, maka sudah tidak ada kata mustahil lagi kalau seseorang bisa saja mampu untuk membaca pikirannya.
Alstrelia sendiri, sedang mengatasi itu agar rahasianya menjadi rahasianya sendiri yang tidak perlu dibagikan kepada orang asing seperti Alrescha ini. Karena bagi Alstrelia sendiri, Alrescha juga sepenuhnya manusia yang memiliki perbedan level yang jauh dengan dirinya, jadi dia tidak punya hak untuk mengetahui identitas asli Alstrelia.
“Tapi aku akan memberitahumu, selagi aku sedang mencari sesuatu yang harus aku temukan, dan selagi adikmu masih belum ditemukan, aku akan menggantikan keberadaannya. Meski yang disayangkan, aku tidak memiliki sifat seperti adikmu itu.” Imbuh Alstrelia. “Kau fokus saja dengan urusanmu, dan aku akan mengurus apa yang ingin aku urus. Jika aku memerlukan sesuatu, aku akan mengatakannya kepadamu langsung.”
“........................” Alrescha sendiri sedang bingung. Dia pada akhirnya berurusan dengan seorang wanita yang seperti memiliki pengetahuan lebih dari yang Alrescha bayangkan. ‘Itu terlihat dari dia yang pintar bicara.’
__ADS_1
30 menit kemudian, kereta kuda yang membawa mereka berdua akhirnya sampai di pinggir pemukiman kumuh yang kebetulan sepi.
Alstrelia memutuskan turun dari kereta kuda mewah yang memiliki lambang duke Fisher. Apa lagi karena tidak mau terlihat lebih mencolok karena turun dari kereta kuda dari keluarga terkenal itu.
KLOTAK...KLOTAK...KLOTAK…….
Setelah turun, Alstrelia langsung disambut oleh kereta kuda biasa. Ketika pintu itu dibuka, terlihat jelas Elbert sudah duduk manis di dalam sana dengan pakaian sederhananya.
“Halo.” Alstrelia sengaja menyapanya. Tapi melihat keterdiaman Elbert, apalagi saat sorotan matanya terus tertuju kepadanya terus, membuat Alstrelia kembali angkat suara. “Apa aku benar-benar terlihat sama persis dengan nona dari majikanmu?”
Elbert memejamkan matanya sambil menyerahkan sebuah jubah kepada Alstrelia.
“Selama ada saya yang akan menemani anda, anda tidak perlu mencemaskan soal keamanan anda. Pakai ini agar anda tidak terlihat begitu mencolok dengan pakaian anda itu.”
‘Ho~ Jadi dia benar-benar menjaga pandangannya.’ Membuat Alstrelia tersenyum simpul. “Apa yang akan kau lakukan jika kau tidak menerima usulanmu ini?”
“Maka kita akan putar balik.” Pungkas Elbert.
“Jika mau putar balik, silahkan saja. Tapi aku akan langsung turun saja disini, dan lagi pula aku tidak mau memakai pakaian merepotkan seperti itu.” kata Alstrelia, sambil mengernyit menatap pakaian kuno yang terlihat tidak nyaman itu dengan tatapan jijik.
Perempatan di dahi Elbert langsung muncul ketika akhirnya dirinya harus menahan satu emosi yang berhasil muncul karena ada satu orang perempuan yang susah diajak bekerja sama.
Apatah lagi yang menjadi lawan bicaranya saat ini adalah perempuan yang memiliki perawakan dan wajah yang sama dengan adik dari tuan muda Alrescha.
Alstrelia.
Sungguh diluar perkiraan Elbert sendiri, saat melihat sifat sombong, angkuh dan keras kepala ternyata keluar dari mulut Alstrelia yang ini.
“Tapi aku bisa berubah pikiran, jika aku diajak berkeliling ke tempat yang menarik.” Akhirnya Alstrelia yang sudah puas dengan ekspresi Elbert, memberikan tawaran yang mudah untuk mereka berdua.
‘Ada apa ini? Ekspresi wajahnya jadi terlihat mencurigakan.’ Elbert yang merasa ada yang janggal, terus mencoba memperhatikan perempuan ini dengan lebih serius lagi.
__ADS_1