Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
64 : Alstrelia


__ADS_3

Di lpintu gerbang istana.


Dua orang kesatria yang sedang berjaga itu langsung dihampi oleh kesatria lain.


“Hei, sekarang aku gantian jaga denganmu,” Sapa Kesatria ini dengan rekan kerjanya yang masih berdiri di depan pintu gerbang.


Setiap beberapa jam sekaili, mereka akan bergantian berjaga.


“Kebetulan sekali kau datang, aku ingin istirahat. Kerjakan pekerjaanmu baik-baik.” jawabnya, lalu pergi meninggalkan temannya yang sudah mau menggantikan posisinya untuk berjaga di pintu gerbang depan istana.


Kepergian dari temannya tadi, segera membawa seekor kucing hitam yang tiba-tiba muncul dan berjalan mengitari sepasang kaki kesatria itu.


Meow..


Kucing tersebut merasa ingin di elus oleh kesatria itu.  Karena itu, kuicng itu dengan manja menggesekkan tubuhnya ke kaki kesatria itu.


“Kenapa disini ada kucing?” Kesatria ini merasa aneh dengan kehadiran kucing yang tidak akan mungkin muncul di wilayah area istana.


Meow…


Kesatria itu melirik ke bawah, dan menatap sepasang mata kucing berwarna kuning emas itu.


Baginya, warnanya cukuplah cantik.


“Apa yang sedang kau lakukan? Bawa pergi kucing itu sebelum masuk ke istana.” satu orang kesatria lainnya yang sadar dengan rekannya hanya diam dan termenung dengan keberadaan kucing itu segera menyuruhnya untuk membuangnya jauh-jauh.


Meow?


“Tapi kucing ini terlihat sangat lucu.” ucap kesatria itu, memuji kucing yang ada di tangannya saat ini.


“Lucu apa, dia kucing kotor, bawa hewan itu pergi.” perintahnya lagi, tidak suka melihat rekan kerjanya itu justru memilih kucing, ketimbang menaati prosedur pekerjaan.


Dengan berat hati, kesatria yang di datangi kucing hitam itu langsung mengangkat tubuh kucing itu dan membawanya pergi menjauh dari pintu gerbang.


Meow..meow…


Kucing itu mengeong dengan raut wajah sedih, agar menarik perhatian kesatria tersebut.


“Maafkan aku, kau harus pergi dari sini sebelum lehermu dipenggal.” ucap kesatria ini, merasa sayang sekaligus terpaksa melakukannya, karena tidak mau mendapatkan omelan lagi.


Sampai saat kesatria itu menatap mata dari kucing itu, kedua bola mata kucing itu semakin membulat sempurna sambil menatap kesatria yang memberinya kalimat khawatir.


Meow.


____________________________

__ADS_1


Selesainya Alstrelia berdansa dengan Elbert juga Alrescha sebagai dansa terakhirnya, Alstrelia segera mengambil langkah naik ke lantai dua. 


Semua laki-laki yang ingin mengajaknya dansa langsung ditolak secara mentah-mentah dengan kepergian Alstrelia yang pergi tanpa sepatah kata.


Marvin yang masih berdiri di lantai dua, langsung mengerjapkan matanya beberapa kali dengan seorang wanita yang sedang berjalan melewatinya. ‘Di lihat dari dekat, jelas dia memang sangat cantik.’


Tapi tidak berapa lama kemudian, Alstrelia langsung memberikan sebuah jelingan yang cukup tajam kearah Marvin. “................”


Alstrelia tidak berkata apapun saat melihat Marvin yang secara terang-terangan menatap ke arahnya dengan ekspresi yang sama seperti lelaki lainnya.


SRET..


Sampai sebuah tangan tiba-tiba hampir menerjang wajah Marvin saat itu juga. 


“Jangan terlalu lancang.” Elbert lah yang memberikan Marvin peringatan dengan sejelas-jelasnya.


“Bert.” Panggil Alstrelia sudah duduk di kursi yang letaknya persis di tepi jendela.


Merasa terpanggil, Elbert segera menghampiri Alstrelia yang sudah duduk dengan manis.


“Ya, Nona?” tanya Elbert. Dia masih saja mencoba mengalihkan pandangannya dari pada melihat gaun yang dipakai oleh majikan palsunya itu. 


“Sepertinya ada pesta lain yang akan diadakan.” Ujar Alstrelia sambil menopang dagu dan menatap jauh pemandangan yang ada di luar istana.


“Maksudku-” Alstrelia menggantungkan kalimatnya, ketika dia terus menatap keluar jendela, perlahan dia melihat apa yang bisa dia lihat sekalipun sedang duduk santai di dalam istana yang mewah itu.


_________________


KROAKK….


KROAKK……


Di langit malam yang semakin menampilkan suasana gelap dan mencekam, seekor burung gagak terbang bebas di langit. 


Dia terbang di atas dari sebuah derita banyaknya orang yang sedang berjuang melawan musuhnya. 


“Cepat! Bunuh semua monster itu sebelum menerobos masuk dinding ini!” Seorang kesatria meneriakan semangatnya kepada semua kesatria lainnya.


Di luar dinding pertahanan yang digunakan sebagai perbatasan utara antara wilayah Kekaisaran Regalia dengan area luar, sekelompok monster yang tidak pernah muncul tiba-tiba saja berdatangan dan membuat para kesatria yang dipekerjakan untuk berjaga di daerah perbatasan langsung turun tangan untuk melawan monster yang mengalami Invasi itu.


GOARHH!


“Hyahh!” Banyak dari mereka melawan satu persatu monster dalam berbagai bentuk. 


Tentu saja mereka dibuat kewalahan karena perbandingan jumlah mereka yang cukup berbanding terbalik, ditambah ukuran monster yang mereka lawan cukup besar.

__ADS_1


CRASSHH…..


“Akhh!” Salah satu orang kesatria langusng kena baku hantam oleh senjata dari monster orc, dan mati seketika di tempat itu juga.


GROARRHH!


Erangan yang begitu keras itu semakin membuat riuh suasana yang ada, ditambah hujan yang akhirnya turun semakin menjadi suasana masuk ke dalam ketegangan.


KROAKK....


Burung gagak hitam itu bertengger di atas dinding dan menyaksikan segala hal yang burung itu lihat. 


_________________


Alstrelia langsung menarik dasi Elbert agar membungkuk lebih rendah ke arahnya.


Marvin yang terkejut dengan keagresifan itu hanya diam menonton.


Lain hal dengan Elbert yang sudah membungkuk di depan Alstrelia persis, sehingga dia dapat melihat dada wanita itu lebih dekat lagi.


Tapi sayangnya apa yang dilakukan oleh Alstrelia kepada Elbert bukanlah semata-mata untuk menarik perhatiannya, melainkan informasi yang akan Alstrelia berikan kepada Elbert.


Dengan sebuah bisikan kecil yang keluar dari bibir mungil itu, Elbert seketika langsung membelalakkan matanya.


“Nona-, apa anda yakin dengan itu?” Tanya Elbert masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


“Apa kau meragukanku? Tapi tidak masalah jika kau ragu.” Kata Alstrelia, dia melepaskan cengkramannya dari dasi Elbert, setelah itu Alstrelia bersandar ke sandaran kursi lalu berkata lagi : “Bert, malam ini akan menjadi pesta paling meriah yang pernah ada, apa kau tidak ingin meramaikan nya juga?” ujar Alstrelia dengan senyuman mencibir.


Ucapannya tentu saja memiliki makna yang lain, yang hanya isa Elbert ketahui saat itu juga.


Kalimat yang muncul dari mulut Alstrelia mengandung makna lain, yaitu “Kejadian ini akan bertambah besar jika tidak segera ditangani. Apa kau tidak mau ikut menangani serangan dari mereka?’


“...............” Tanpa sepatah kata, Elbert membungkuk hormat kepada Alstrelia sebelum pergi. 


Alstrelia yang hanya melihat kepergian dari Elbert, sekilas dia memasang ekspresi yang cukup datar, sampai disadari oleh Marvin yang masih berdiri di depan sana. 


Alstrelia mengatupkan mulutnya, dan memberikan kosakata yang tidak dapat didengar oleh orang lain, tapi dapat diartikan oleh Marvin untuk mendekat ke arahnya.


Setelah Marvin berada di depannya, lelaki itu kemudian duduk di depannya.


“Siapa namamu?” tanya Alstrelia.


“Marvin Caladio Ornas.”


“Marvin, apa kita bisa mengobrol sebentar?” pinta Alstrelia kepada Marvin ini.

__ADS_1


__ADS_2