Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
89 : Alstrelia


__ADS_3

“Kyaa!” Suara dari teriakan itu segera menarik perhatian Lena untuk kembali berdiri. 


Meow…?


Lena masih menatap kucing dengan bulu putih itu, dan suara teriakan dari orang yang sama, terdengar lagi.


“K-kucing itu pembunuh!” Teriaknya lagi. 


“Kucing? Pembunuh?” Lena menatap kucing yang ada di depannya itu dengan tatapan penuh curiga.


Ya, dari awal seekor kucing tiba-tiba saja duduk manis di tengah koridor, seakan sedang menunggu mangsanya dengan keimutannya.


Meow…


Hal tersebut pun berhasil memicu Lena yang awalnya merasa kalau kucing yang ada di depannya itu lucu, segera merubah pikirannya saat itu juga.


Kalau kucing itu berbahaya!


‘Sangkar?’ Karena kebetulan di tangannya itu Lena sedang membawa sangkar, maka Lena pun segera mengejar kucing itu. 


Karena merasa terancam, kucing tersebut pun berlari menghindari Lena yang kini sedang mengejarnya!


Meow!


“Mau lari seberapa cepat pun, akan aku kejar!” Kata Lena dengan semangat dan terus berlari mengejar kucing itu.


Apalagi ditambah karena kucing itu berlari ke arah dimana tempat diujung dari koridor itu membawa mereka ke satu kamar utama milik majikannya, maka Lena harus menangkapnya terlebih dahulu sebelum ketahuan oleh Nona Alstrelia.


Misinya adalah ‘Bahaya yang mengancam Nona, harus disingkirkan.’


Meow..!


“.................!” Tidak ingin kalah kecepatan lari dari seekor kucing yang dari luar nampak imut tapi ternyata adalah kucing penyusup yang berani menyusup ke kediaman Fisher, Lena segera bertindak berdasarkan peran sebenarnya. ‘Tidak akan aku biarkan kau menyentuh pintu kamar milik Nona!’ 


Lena langsung membuka pintu sangkar burung yang dia bawa, setelah itu pita yang mengikat rambut panjangnya pun Lena lepas dalam sekali tarik.


Meow…!


KLEK.


“.............!” Lena yang menyadari pintu kamar milik Nona Alstrelia mulai terbuka, dan ditambah kucing gemuk itu mulai melompat menuju celah pintu yang semakin terbuka lebar, segera membuat Lena menghentakkan pita panjang miliknya dengan keras. 


CTAK…!


Setelah itu Lena ayunkan pita miliknya itu ke arah kucing yang sudah melompat itu.


SRET.


“Lena, kenapa kau berlari?” Tanya Alstrelia di saat itu juga.


Dan di masa yang sama, kucing gemuk berwarna putih dengan bulu lebat itu pun berada tepat di depan wajahnya. 


MEOW!


Ronta kucing itu saat tubuhnya langsung tertarik oleh pita yang Lena ayunkan dan berhasil mengikat tubuhnya. 


“Maaf Nona, karena saya harus mengejar kucing ini lebih dulu sebelum masuk kedalam kamar anda.” Jawab Lena dengan cepat sambil menarik tubuh kucing itu masuk begitu saja ke dalam sangkar yang dia bawa dalam sekali tarik.

__ADS_1


Meow..! Meow….!


Kucing putih itu mengeong ingin keluar sangkar yang dibawa Lena. 


“Nona, anda sebaiknya jangan menyentuh kucing, karena-” Lena sempat menoleh kebelakang untuk sesaat. Karena dibalik koridor itu, tepatnya di koridor satunya lagi, Lena merasakan perasaan yang tidak enak, setelah mendengar teriakan tadi. 


Apalagi ketika teriakan itu juga menyertai kucing pembunuh, yang artinya kucing yang sudah dia tangkap juga merupakan bagian dari insiden besar yang bisa terjadi pada Nona nya juga, jika tidak segera ditangkap.


‘Ternyata Alrescha memilih pelayan khusus untuk menemani adiknya. Dan Lena ini, cukup terlatih juga.’ Alstrelia diam-diam jadi mengumbar senyuman puas. Sebab Lena yang dari luar terlihat seperti pelayan bodoh yang mengekori majikannya terus, ternyata di balik penampilan dan sikapnya itu tersembunyi sebuah kemampuan yang lumayan untuk melindungi majikannya dari bahaya. 


Dan buktinya adalah seperti tadi.


Lena mampu menggunakan pita yang biasanya digunakan untuk mengikat rambutnya, untuk digunakan sebagai senjatanya dalam menangkap kucing yang pada dasarnya memang akan berakibat fatal jika menyentuh kucing itu secara langsung.


Membunuhnya, akan membuat insiden yang terjadi di pesta semalam akan terjadi lagi, dan jika disentuh, maka yang ada adalah orang yang menyentuhnya juga akan terbunuh. Maka dari itu, lebih baik untuk menangkapnya lebih dulu. 


“Karena orang yang menyentuh kucing itu, akan langsung terbunuh di tempat.” Jelas Alstrelia. 


Lena segera kembali menatap Alstrelia dan bertanya, “Anda sudah tahu?” 


“Karena di pesta semalam-” Alstrelia pun tiba-tiba melangkah maju ke depan beberapa langkah melewati Lena. “Aku sempat menghadapi hal besar karena seekor kucing saja.” Sambungnya. 


Terus tanpa waktu yang lama, Lena dan Alstrelia tiba-tiba mendengar suara dari langkah kaki yang semakin mendekat. 


TAP….TAP….TAP……


Lena pun menoleh ke belakang, dan dari situ pula, Lena melihat teman-temannya tiba-tiba saja datang bersama-sama. 


Tidak hanya para pelayan, tapi juga orang yang bekerja sebagai koki, pengurus kebun juga?


“Nona! Mereka mengincar anda!” Kata Lena memperingatkan. Lena segera meletakkan sangkar yang berisi kucing itu ke lantai, di samping dinding persis. Setelah itu, Lena berjalan menghampiri Alstrelia yang terlihat seperti sudah menantikannya dari awal.


“.............” Lena awalnya diam sambil melihat ke arah depan, dimana semua orang yang ada di ujung koridor itu perlahan berjalan mendekat, dan setelah itu mereka semua berlari. 


Seperti orang yang sedang dirasuki oleh setan, Lena segera menunduk.


“Saya bisa mengurus mereka, Nona.” jawab Lena. Dia memperhatikan semua orang yang dengan cepat sudah berada di tengah koridor. 


“Dan jika ada kucing yang tiba-tiba menyelinap dan melompat, tangkap dia dengan caramu tadi. Untuk urusan harus dikurung dimana, aku yang akan mengatur itu untukmu.” Jelas Alstrelia, memberikan sedikit strategi yang harus digunakan untuk menghadapi berbagai kemungkinan. 


“Baik, Nona.” Sahut Lena. Dia dengan wajah seriusnya, mulai mengikat pita tadi ke tangannya, sehingga membuat sebuah pelindung tangan. 


“Perlihatkan kemampuanmu kepadaku.” Perintah Alstrelia. Dia juga sama-sama bersiap untuk menghadang mereka semua agar tidak masuk kedalam kamarnya. 


Lena mengangguk iya.


“Ayo.” Usul Alstrelia agar pertunjukkan untuk menghadapi para pelayan itu segera dimulai.


“Bunuh Nona!”


“Bunuh Nona!” 


Teriak mereka semua, sambil berlari dengan membawa senjata mereka. 


‘Kenapa Alstrelia menjadi sasarannya?’ Detik hatinya. Namun, Asltrelia tidak pernah sekalipun menghilangkan senyuman menyeringai itu, karena apa?


Pagi-pagi sudah diajak bermain oleh para pelayan. Siapapun, diajak bermain pastinya akan menyenangkan, termasuk Alstrelia sendiri. Karena akhirnya kesenangan itu datang kembali.

__ADS_1


DRAP….DRAP…..


“Bunuh Nona, demi kebaikan dunia ini.”


“Bunuh Nona!”


Ucap mereka semua. Yang mana, tujuan dari mereka semua adalah mengincar Alstrelia, untuk disingkirkan?


‘Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan menghilangnya adiknya Alrescha.’ pikir Alstrelia, lalu..


CTANG…..


Pisau dapur bertemu dengan pedangnya. 


Suara itu berhasil menambah keributan yang harus Alstrelia dan Lena atasi dengan segera mungkin. 


“Pelayan yang menghalangi harus segera disingkirkan juga.”


“Singkirkan pelayannya.” 


“Singkirkan!”


Tidak pada satu target saja, beberapa dari mereka pun menyerang Lena. 


Lena yang mendapati dirinya mendapatkan bagian dari pertarungannya, cepat-cepat melepas ikatan pita miliknya, dan menghentakkannya lalu dia ayunkan ke depan. 


SRET…


Senjata tajam yang dibawa oleh pelayan yang menjadi target Lena langsung terkunci, setelah itu Lena tarik dengan kuat, hingga senjata itu terlepas dari tangannya dan tertarik lalu terlempar jauh ke belakang Lena.


KLANG…


Alstrelia yang melihat Lena berhasil menghadapinya, maka tanpa ragu lagi Alstrelia beraksi dengan caranya sendiri. 


Tanpa perlu membunuhnya, Alstrelia segera menghadapi mereka semua. 


BUKH…


BUKH…


Perut, kaki, tengkuk, Alstrelia pukul dan tendang hingga satu per satu dari mereka langsung tumbang.


“Bunuh Nona.”


Mendapati ada yang menyerangnya dari belakang dengan mengayunkan sebuah rantai panjang, Lena segera menahan pergelangan dari tangan yang akan mengayunkan rantai itu dengan menggunakan pita. 


Lena yang berhasil mencegahnya, segera membuat Alstrelia memukul tengkuk dari pria tukang kebun itu. 


PAHK..


“.................!” Tanpa menghilangkan kewaspadaannya, tangan kirinya Alstrelia ayunkan untuk menahan serangan dari tukang kebun lainnya yang menggunakan sekop sebagai senjatanya.


CTANG..


“Kalian benar-benar berusaha sekali ya?” Alstrelia sedikit terkekeh melihat usaha dari mereka semua sangatlah besar. 


Meow!

__ADS_1


Seperti tebakannya tadi, Alstrelia sudah melihat kucing berwarna oranye datang, tapi kucing itu berlari ke arah Alstrelia.


__ADS_2