Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
156 : Alstrelia : Kebersamaan


__ADS_3

“Kalian! Cepat! Cepat! Jangan sampai ada kesalahan sedikitpun!” Teriak wanita ini, menjadi mandor untuk semua pelayan yang saat ini sedang sibuk di mansion milik Alstrelia, karena mansion utama Fisher sedang dalam proses perbaikan. 


“Baik nyonya!” Jawab mereka semua secara bersamaan.


Jika bukan karena adanya tamu yang di undang oleh Tuan muda mereka, mereka semua tidak akan sesibuk ini, di tengah-tengah kondisi sedang dalam pemulihan pasca insiden yang terjadi malam tadi. 


Tetapi demi mencari perhatian pada dua orang yang merupakan dua orang paling penting dari Kekaisaran Regalia, maka mereka tidak mmiliki waktu untuk trauma, sebab yang mereka layani saat ini adalah Charles yang masih berada di dalam tubuh milik Chavire, erta Reva.


__________


“Wah…apa ini akan jadi makan besar? Sampai-sampai musuh seperti kalian jadi ikut duduk bersama denganku.” Ucap Als dengan nada sombongnya. 


Saat ini posisi duduknya pun berada di kursi yang letaknya di meja paling ujung, membuat dirinya seperti orang yang menguasai jamuan makan itu, sebab Alrescha sendiri yang merupakan kepala Keluarga, justru memilih duduk di kursi biasa, yang ada di samping kanan dari meja makan, dan saat yang sama dua orang di sebelahnya yaitu Chavire dan Charles, jadi ikut makan dalam satu meja yang sama. 


Kalau Reva dan Elda, dia sudah terdiam di tempatnya sambil memperhatikan ketikga pria yang ada di depan mereka berdua. 


‘Kenapa wajah mereka semua sangat beracun?! Chavire, Charles, dan apalagi Alrescha, tidak ada yang tidak tampan. Mereka semua masuk ke dalam tipe aku.’ Pikir Elda seraya memperhatikan satu demi satu wajah dari ketiga pria yang untung saja duduk dalam kondisi akur, jadi tidak ada keributan seperti yang terjadi malam tadi. 


‘Wah….tanpa sadar, aku jadi ingin mencicipi darah milik Alrescha. Kira-kira seperti apa ya rasanya?’ Reva pula sedang penasaran dengan satu orang pria yang darahnya belum Reva hisap untuk sekedar merasakan rasanya. 


‘Suasananya cukup menyenangkan juga ya? padahal…’ Kalimat di dalam pikiran Als pun menggantung saat adanya angin yang tiba-tiba datang berhembus.


WUSHH~


Angin itu datang menyapa mereka berenam. 


Gara-gara jendela semua bangunan pecah, maka angin dingin yang ada di luar pun dengan cukup bebas langsung masuk begitu saja tanpa permisi.


‘Dimana Edward itu, kalau saja ada dia, sudah pasti mansionku bisa kembali seperti semula.’ Pikir Alrescha, diam-diam dia sedang menunggu si penyihir itu datang. 


‘Kenapa aku jadi makan satu meja dengan mereka semua?’ Pikir Charles, merasa aneh dengan situasi yang sedang dia rasakan.


‘Alstrelia, kenapa dia punya cara bicara yang berbeda. Tapi gara-gara dia punya lidah yang tajam, aku merasa ingin memotong lidahnya agar tidak bisa bicara.’ Pikir Chavire. 

__ADS_1


Mereka semua terdiam dalam pikirannya masing-masing. Sampai Lena pun merasa aneh sendiri, sebab biasanya dia akan melayani Nona Alstrelia makan sendirian, sekarang hal itu tidak berlaku lagi, sebab ke depannya mereka semua akan tinggal di mansion ini. 


‘Tapi…mereka semua benar-benar orang penting semua.’ Pikir Lena. Dia hanya berdiri di sampin Alstrelia yang saat ini sudah bersiap untuk menyantap sarapan paginya. 


Tok…Tok….Tok….


Tiga ketukan itu pun menjadi pertanda kalau makanan untuk sarapan mereka semua sudah hadir. 


“Kami para pelayan membawakan makanan untuk sarapan anda sekalian.” Kata kepala koki, lalu kedua pelayan langsung membukakan pintu ruang makan, dan setelahnya satu barisan dari para pelayan, membawa satu-per satu troli makanan.


Jamuan makan besar yang diadakan di mansion milik Alstrelia pun akhirnya terjadi. 


Kesan sepi itu juga perlahan menghilang, sebab mereka semua datang untuk tinggal bersama, dalam jangka waktu yang tidak bisa di tentukan, sebab Ibu kota termasuk Istana sedang dalam proses perbaikan total. 


“Semoga masakan kalian sesuai dengan ekspektasiku.” Kata Als kepada mereka semua. 


Tapi atas kejadian yang pernah terjadi pada mereka, mereka semua lebih memilih untuk diam dan melakukan pekerjaan mereka sebaik mungkin. 


______________


“Everst, disini maih banyak batu kristal yang tersisa. Apakah batu seperti itu masih bisa di fungsikan?” Tanya perempuan ini terhadap burung peliharaannya itu


“Selama batu itu masih ada, pemanggilan seperti yang dilakukan tadi malam, masih bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Apalagi mengingat, batu kristal sebanyak dan sebesar ini, itu akan mempermudah proses pemanggilan gerbang dimensi untuk yang kedua kalinya.” Jelas Everst atas pertanyaan dari majikannya itu. 


Eldania, perempuan ini pun mendongak ke atas. Menara Istana yang sudah hancur itu, kini da pijak, dan mencoba memperhatikan hasil peristiwa semalam yang sebenarnya cukup menggemparkan, sebab makhluk dari dunia lain bisa di panggil. 


Dan hal yang membuat Eldania tiba-tiba saja menyinggingkan senyuman miringnya, adalah karena proses pemanggilan itu cukuplah menyenangkan. Siapapun pasti menginginkan proses yang cukup menggaiahkan itu. 


Tapi keberadaannya saat ini adalah untuk membereskan sisa dari pertempuran semalam. 


Angin yang datang dengan cukup beas itu datang menerpa tubuhnya. Mantel coat yang Eldania pakai pun akhirnya berkibar. 


“Setelah ini, kira-kira kita akan kemana lagi?” Tanya Eldania terhadap Everst yang saat ini sedang berdiri di atas salah satu puing bangunan. 

__ADS_1


“Ke tempatku.” Jawab Everst. 


Setelah mendengar jawaban milik Everst, Eldania langsung mengambil senjata yang dia simpan di bawah ketiaknya. 


KLEK….


Senjata dalam bentuk pistol berwarna biru itu pun sudah Eldania pegang. 


“Meskipun sayang, aku tidak melawan kembaranku, karena dia tidak muncul, tapi aku akan melenyapkan seluruh kristal pemanggil ini.” Ucap Eldania pada dirinya sendiri. 


Setelah itu, Eldania pun mengarahkan pistol miliknya ke arah bawah, tepatnya adalah ke lantai. 


“Kau siap-siap, kita akan langsung pergi dari sini.” Perintah Eldania. 


Selepas mantera sihir yang dipikirkannya sudah selesai, Eldania pun menarik pemicunya. 


Cahaya merah yang berkelap kelip layaknya kunang-kunang muncul dari bawah kakinya lalu terbang ke atas, dan efek dari sihir yang baru saja Eldania aktifkan, membuat lantai yang dia pijak tiba-tiba saja mengeluarkan asap putih yang kian menyebar sampai ke seluruh area sekita istana. 


*


*


*


Edward yang berada di kejahan, langsung melihat adanya sihir asing yang menyelimuti seluruh istana.


“.............” Dia menatap keberadaan dari seorang perempuan yang saat ini sedang berdiri di atas menara yang sudah separuh hancur itu. 


Asap putih itu kian menyebar, dan membuat jarak pandang Edward pun terganggu, sampai dia tidak bisa merasakan keberadaan dari Eldania yang beberapa saat tadi ada di sana. 


WUSHH….


Angin besar yang tiba-tiba datang itu langsung menyapu bersih asap putih itu, hingga satu hal yang mengejutkan Eward saat itu adalah seluruh puing-puing bangunan yang berserakan, serta seluruh bongkahan kristal yang awalnya tertanam sekaligus terlihat seperti tumbuh dari Istana tersebut, dalam seketika sudah tidak ada. 

__ADS_1


“Sihir apa itu? Bagaimana dia bisa melakukan sihir tingkat tinggi seperti itu?” Gumam Edward. 


Tetapi sosok perempuan yang dia kenal itu sudah sepenuhnya menghilang dari jangkauan sihir pendeteksinya, yang artinya Eldania bersama dengan burung peliharannya sudah pergi jauh. 


__ADS_2