Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
30 : Alstrelia


__ADS_3


Lautan luas manusia menjadi pemandangannya kali ini. Suasana meriah yang mengisi suasana dari kota metropolitan.


“Tuan putri!” semua teriakan menggema meneriaki tuan putri yang tidak lain adalah Alstrelia.


Alstrelia berdiri di depan balkon depan dari istananya.


Dia berdiri sambil memberikan lambaian tangan untuk menyapa para masyarakat yang hadir serta puluhan ribu pasukan militer yang berbaris rapi tepat di halaman depan istana.


Bukan sekedar teriakan, maupun tepuk tangan saja. Deretan dari kapal angkasa yang berbaris di langit istananya jadi menambah kesan meriahnya acara yang sedang diadakan kali ini.


“Alstrelia.” panggil Alvaron, yang merupakan sang raja sekaligus ayahnya.



“Ya yang mulia?” Alstrelia melirik ke samping kanannya.


Alvaron juga berdiri sambil melambaikan tangannya untuk menyapa mereka semua. Tapi meski tangannya melambaikan tangan, tidak dengan arah pandangannya yang terus tertuju pada Alstrelia.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain.


Mata berwarna biru yang dimiliki oleh mereka berdua membuat Alvaron dan Alstrelia seperti sedang bercermin satu sama lain. 


“Aku benar-benar sangat iri. Mereka berdua ayah dan anak, tapi kenapa tatapan dari yang mulia raja dan putri terlihat seperti seseorang yang mengumbar keromantisan di depan kita semua?” ucap salah satu penonton, yang merasa takjub dengan apa yang sedang dia lihat itu.


“Mereka sangat beda level dengan kita.”


“Yang mulia raja sendiri, bisa juga ya awet muda seperti itu?”


“Benar, aku juga ingin memiliki suami sepertinya. Setiap hari melihat wajahnya, energiku tidak akan berkurang karena keberadaannya.”


Itu adalah salah satu pemandangan yang membuat semua orang yang melihatnya seperti terhipnotis akan suasana yang terlihat romantis. 


Pujian dan rasa takjub dari sudut pandang orang lain memang terdengar membahagiakan, tapi tidak dengan kenyataan aslinya.


“Aku pikir kau akan terlihat seperti ibumu.” kata Alvaron kepada Alstrelia.


“Apa anda sedang menyesalinya karena saya mirip dengan anda?” tanya balik Alstrelia kepada ayahnya yang kebetulan memang cukup awet muda, sampai Alvaron benar-benar menjadi buah bibir di antara ribuan penonton yang hadir, yang sebenarnya bisa Alstrelia dengar.


“Tidak, justru aku cukup senang. Jika kau bisa tumbuh tinggi lagi, kau bisa menyamar menjadi diriku.” beritahu Alvaron sembari mengelus kepala Alstrelia.


Seketika itu, dahi Alstrelia langsung berkerut karena tahu arti dari ucapan ayahnya.


________________

__ADS_1


‘Aku tidak akan pernah melupakan ini. Padahal aku sudah punya pangkat sebagai putri mahkota, tapi yang mulia malah ingin membuatku menyamar menjadi raja, agar yang mulia bisa bersantai?’ semua ingatannya masih tersimpan dengan jelas. Karena itulah, perayaan yang sedang terjadi di depan matanya kali ini tidak lain adalah pesta kecil. "Itu adalah acara pengangkatan seorang tuan putri." Jawab Alstrelia atas rasa penasaran Elbert. "Bahkan sekedar acara kemenangan, juga sama meriahnya. Kalau yang seperti ini, itu bagiku sekedar perayaan ulang tahun biasa."


'Aku jadi penasaran, asal dan seperti apa tempat yang ditinggali perempuan ini?' batin Elbert sambil mendongak ke atas. Dia melihat kembang api terus menerus di sulut. Banyak orang yang melihatnya, tapi tidak dengan Alstrelia yang justru tertarik melihat langit gelap yang sedang dihiasi bulan purnama.


Dimata Elbert, Alstrelia terlihat seperti sedang memikirkan akan kenangan masa lalunya.


‘Elda.’ Panggil Alstrelia dari dalam hatinya. Dia benar-benar ingin sekali pulang dan mencari penyebab dari semua yang Alstrelia alami sampai pergi ke dimensi lain ini.


Di saat sedang mengharapkan sesuatu dalam pikirannya, tiba-tiba saja Alstrelia tertabrak oleh seseorang.


DUAK….


“Hei!” protes Alstrelia kepada perempuan yang bagi Alstrelia terlihat sengaja menabrakkan tubuhnya.


“........................!” Elbert yang melihat tusuk rambut itu lepas, dengan sigap langsung menangkap tusuk rambut berwarna biru itu sebelum terjatuh ke tanah.


“Maaf!” Perempuan ini membungkuk ke arah Alstrelia sambil mengatakan maaf, tapi dianya langsung pergi begitu saja seolah sedang dikejar-kejar.


“Tidak sopan.” celetuk Alstrelia pada perempuan itu.


‘Bukannya dia sendiri juga tidak punya kesopanan?’ umpat Elbert saat mendengar Alstrelia berkata demikian. “Ini.” menyerahkan tusuk rambut yang dipakai oleh Alstrelia tadi.


“......................” Alstrelia langsung mengambilnya begitu saja. ‘Dia cekatan juga.’ menyimpan kembali pulpen itu ke dalam sakunya.


“Dia pergi kemana?! Cepat berpencar dan cari lagi!” seru pria yang seperti preman ini kepada kedua orang rekannya.


Setelah kedua orang temannya sudah pergi berpencar, pria botak ini berlari dan menghampiri Alstrelia dan Elbert.


“Maaf, apa nona dan tuan melihat seorang wanita dengan jubah coklat yang mencurigakan?” 


‘Tidak terlihat seperti tampangnya, dia cukup sopan juga.’ pikir Alstrelia. “Kalau itu, aku melihatnya berlari ke arah sana.” Alstrelia menunjuk ke arah kiri, dimana setelah melewati jembatan kecil itu, maka jalan itu akan terhubung dengan hutan.


“Kenapa wajahmu terlihat panik seperti itu?” Akhirnya Elbert bertanya.


“..................” Alstrelia hanya menunggu jawaban yang ingin dia dengar.


“Sebenarnya wanita tadi adalah kelompok dari cincin matahari.”


“Apa?!” Elbert terkejut dengan jawabannya.


“Kelihatannya serius. Bantu saja dia mencari wanita tadi.” perintah Alstrelia kepada Elbert. “Aku akan tetap disini.”


“Tapi-” Elbert ragu dengan keputusannya.


“Kalau begitu saya pergi dulu.” kata pria ini, lalu kembali berlari masuk kedalam hutan.

__ADS_1


“Aku bukan seperti dia, aku akan tetap disini.” ucapnya lagi, memberikan peringatan dari sebuah kode.


‘Aku bukan seperti nona kalian itu, aku bisa menjaga diriku sendiri’


Itulah yang Alstrelia katakan kepada Elbert.


“Baiklah, aku percaya padamu. Jadi tetap disini.” tutur Elbert, lalu pergi masuk ikut ke dalam hutan, menyusul pria berkepala botak tadi.


“................” Alstrelia hanya menatap kepergian dari tiga orang tadi dengan tatapan datarnya. Setelah itu Alstrelia mendongak ke atas. Tepat di dahan pohon ada seekor burung gagak yang bertengger dan terlihat sedang memperhatikannya.


KROAKK…..


KROAKK……


“...................” Alstrelia langsung berbalik dan berjalan pergi menuju tempat duduk yang ada tepat di bawah pohon.


KROAK…….


Setelah itu burung gagak hitam itu langsung terbang, sedangkan Alstrelia yang tadi duduk penuh dengan keanggunan, langsung membuka kelopak matanya dan segera memperlihatkan sorotan matanya yang dingin. ‘Pengemis itu ya?’ pikir Alstrelia.


DHUAR…..


DHUAR…..


DHUAR……


Alatrelia kembali diperlihatkan sekumpulan kembang api yang bermekaran layaknya buka di langit.


Alstrelia terus menatap sekumpulan orang yang berlalu lalang keluar masuk gerbang utama ibu kota. 


Kebahagiaan di wajah mereka semua, bagi Alstrelia adalah sesuatu yang pastinya tidak akan bertahan lama. 


Benar.


Semua yang dilihat Alstrelia saat ini adalah awal dari sesuatu yang akan terjadi. Itu sudah cukup jelas, karena Alstrelia sendiri belum lama ini juga mengalami hal yang seperti itu.


Keheningan yang seperti itu adalah awal dari segalanya.


Tapi apa?


‘Wanita yang tadi dikejar Elbert. Sudah pasti dia memiliki hubungan dari apa yang akan terjadi saat ini.’ pikir Alstrelia lagi.


Dia benar-benar tidak mengalihkan pandangannya dari sekumpulan manusia yang terlihat sangat menikmati kehidupan kota yang damai dan menyenangkan itu.


‘3, 2, 1.’ Alstrelia berhitung di dalam pikirannya, dan...

__ADS_1


__ADS_2