Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
224 : Alstrelia : Strategi 3


__ADS_3

Benar, dan Author nya sendiri adalah Ayahku, si Raja yang banyak di puja karena Ayahku itu masih awet muda, punya jabatan tertinggi di kerajaan, dan aku adalah keturunannya langsung, walaupun Ibuku sudah meninggal lebih dulu.


Dengan begitu, Alvaron adalah si pemegang alur cerita ini, membuatku di pancing untuk melakukan ini dan itu secara tidak sadar.


"Hahaha... Kenapa sudah selama ini aku baru menyadari ini?" Kataku dengan tawa yang menggelegar di alam bawah sadarku sendiri.


Meskipun aku ini adalah satu-satunya anaknya, tapi bukan berarti aku ini akan di beri akses untuk mendapatkan apa yang aku mau dengan mudah.


Laki-laki yang jadi Ayahku itu selalu mempermainkanku setiap saat.


Aku sungguh benci, karena Alvaron itu dia adalah Ayahku, dia Rajanya dari kerajaan Asgardia, pemimpin dari planet Clarttylos, sekaligus Author dari novel yang aku masuki ini.


Hebat sekali kan laki-laki itu, sampai bisa menguasai semua bidang, sebagai Ayah, Raja, Author, dan yang lebih parahnya lagi, dia juga adalah si pembuat deritaku.


Dan aku jadi seperti ini juga karena orang itu.


"Tch,... Kalau aku tahu dan menyadarinya dari awal, aku tidak mungkin kerepotan seperti ini. Lagi-lagi jangan percayai mulutnya yang manis itu." Aku meggerutu kesal.


Kesal sendiri terhadap nasib yang harus aku lewati untuk mengakhiri peranku sebagai pengganti kembaranku itu, akhirnya gara-gara Ayahku sendiri.


"Apa anda sedang marah terhadap Yang mulia Raja?"


Aku melirik ke arah pedang yang satu ini, pedang yang rupanya bisa bicara? Berarti ada satu hal yang tidak aku ketahui lagi, sudah pasti ada yang di sembunyikan oleh pedang ini.


"Kenapa? Masalah jika aku marah pada laki-laki itu?" Aku sudah merasa jengkel dengan semua pikiranku ini, dan sekarang pedang ini menambah beban pikiranku gara-gara dia bisa bicara seperti manusia.


"Tidak juga, anda memiliki hak untuk marah kepada Yang mulia Raja, dan bahkan semua orang yang ada di sini, anda bisa memarahinya kapanpun, dan mau menyiksanya pun tidak akan kena masalah, karena anda yang turun tangan langsung berhadapan dengan semua peran di novel ini."


"Apa kau sedang menghasutku?" Salah satu alisku terangkat, karena rupanya pedang ini juga bisa berbicara demikian.

__ADS_1


Walaupun aku juga jadi kesal karena apa yang pedang ini katakan selalu masuk akal.


"Anda sebenarnya bisa punya otoritas untuk melakukan segala hal di dunia ini sendiri, karena semuanya adalah karakter novel yang di ciptakan oleh Yang mulia untuk anda, Tuan putri."


Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada, menjentikan jariku, sebuah kursi tiba-tiba saja muncul di belakangku, dan aku pun langsung duduk kursi tersebut.


"Dari apa yang barusan kau katakan, kenapa itu terdengar seolah kalau Ayahku memperhatikanku? Itu tidak mungkin, dari segi ceritanya saja seperti ini, membuatku lelah sana sini tanpa imbalan yang nyata.


Meskipun aku sedang membuat Chavire menemukan batu Mana- sihir, karena ini dunia novel, mana mungkin bisa aku bawa keluar kan?"


"Apa yang anda katakan? Elda saja bisa masuk, kenapa benda yang ada di dalam dunia novel tidak bisa di bawa keluar?"


Aku semakin mengernyitkan mataku karena mendengar cerita yang kian menarik dari pedang yang memang entahnya tahu, atau sedang menghasutku.


"Kau benar juga. Tapi-" Aku sengaja menggantungkan kalimatku, dan menangkap pedang itu dengan tanganku langsung. Walaupun aku memegang bilah pedang itu secara langsung, aku sama sekali tidak mendapatkan luka di telapak tanganku.


Itulah mengapa aku merasa terheran, karena rupanya aku adalah orang yang terpilih untuk mendapatkan pedang Alstoria, sedangkan Ayahku itu, meskipun bisa menggunakan pedang ini, akan tetapi Ayahku hanya bisa menggunakan separuh kekuatan yang tertanam di dalam pedang ini.


Sedangkan aku? Aku sungguh bisa menggunakannya dengan mudah, sekaligus kekuatan yang bisa kau gunakan pun bisa semuanya.


Dengan kata lain, aku memang orang pilihan.


Hanya saja, lantas apa yang membuat pedang ini tiba-tiba bisa berbicara kepadaku?


"Sebenarnya siapa kau? Aku merasa kau juga sama cerdiknya. Jadi aku pikir kau pasti punya wujudmu yang asli." Kataku, membuat tuduhan yang hanya berdasarkan instingku saja.


Pedang ini malah terdiam. Menyebalkan sekali.


Sangat ironis, karena pada akhirnya aku disini di tempat ini tepatnya di dunia ini, aku adalah orang yang sedang di jadikan objek percobaan, lagi?

__ADS_1


Ya, lagi.


Karena aku sedang di atur oleh Ayah untuk melakukan hal yang harus aku lakukan tanpa aku sadari selama ini.


Cerita yang membuatku berpikir untuk melakukan ini dan hasilnya itu.


Semuanya sudah di prediksi.


Alvaron, sekaligus Ayahku. Yang menjadi pertanyaanku adalah, siapa sebenarnya dia?


"Karena kau sama sekali tidak mau menjawabnya, cepat kembali ke tempatmu." Aku menggerutu dengan nada kesal. Akhirnya aku tidak mendapatkan apapun selain caraku untuk menyelesaikan novel yang aku masuki ini.


WUSHH....


Aku melepaskan genggaman tanganku dari pedang Alstoria. Dan pedang Alstoria perlahan berubah menjadi kabut tipis yang kian menghilang, dan sebaliknya, pedang yang sudah menghilang dari tanganku itu, saat ini sudah berpindah ke dalam kalung milikku.


Kalung sebagai tanda atas statusku yang merupakan Putri kerajaan Asgardia.


Aku pun kembali sendirian.


Tapi karena urusanku belum selesai, aku masih berada di tempatku ini. Menjejerkan semua memori milikku sendiri, dan saling mengaitkan satu sama lain agar aku bisa menemukan lebih dulu Alsteria, atau menemui musuhnya.


"Hahh~" Aku lagi-lagi menghela nafas.


Aku merasa lebih baik untuk langsung berperang ketimbang menggunakan otakku.


Tapi demi tujuanku itu, aku pun tetap fokus dan menyemangati diriku sendiri walaupun melelahkan berpura-pura kuat.


Aku tidak sekuat yang terlihat, karena setiap orang pasti akan memiliki batasannya sendiri. Itulah yang sedang aku alami.

__ADS_1


__ADS_2