
"Tidak perlu di pikirkan lagi, lagian semuanya sudah gagal kan?" Ucap Agres ini seraya balik badan, lalu menjeling karah Arsela yang masih diluputi rasa penasaran yang besar terhadapnya, karena Agres masih belum bersedia memberitahu namanya kepada Arsela. "Jaga baik-baik sepasang asetmu itu, mungkin Alvei yang tiba-tiba berubah pikiran jadi ingin punya milikmu, aku jadi bisa memotongnya dan memberikannya kepada Alvei itu."
BRAK.
Setelah mengatakan itu, Agres berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Arsela yang dimana saat ini tubuhnya sudah berhasil dia gerakkan, dan langsung bangun dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju satu cermin besar di sisi meja rias yang kebetulan ada di samping tempat tidurnya tadi.
Di depan cermin itulah, pantulan dari tubuhnya sendiri itu membuat Arsela perlahan menyentuh letak dari berbagai tanda yang di buat oleh Charles, entah kapan itu, tapi masih membekas, baik di depan mapun di punggungnya.
Setelah mengamati jejak yang ditinggalkan Charles di tubuhnya, Arsela pun menyentuh seapasang buah miliknya yang masih memerah.
"Ahw.." Tiba-tiba Arsela merintih sakit, karena ada kulit yang lecet, dan beberapa di antaranya ada yang sedikit terkelupas, karena perbuatan ganas yang dilakukan oleh Alvei kepadanya beberapa saat tadi. 'Kenapa tubuhku jadi seperti ini? Dan Charles, dia bahkan benar-benar mengeluarkannya di dalamku. Apakah nantinya aku akan hamil? Tapi jika begitu, maka sama artinya aku hamil anak dari keluarga kekaisaran, kan?'
Entah itu akan jadi keberuntungan atau akan jadi buntung, suatu saat nanti, Arsela akan menemukan jawabannya.
Sebab tubuhnya merasa dingin, Arsela kembali ke tempat tidurnya dan masuk kedalam selimut tebal itu untuk menghangatkan tubuhnya.
Dan di dalam selimut itu, Arsela masih saja memikirkan Agres. 'Walaupun dia tersenyum, tapi jelas, dia sangat menkutkan. Lalu apa-apaan dengan ucapannya itu?
Bukannya anak kecil bernama Alvei itu hanyalah seorang pelayan, kenapa laki-laki itu terlihat sangat mendukungnya? Sampai mau memotong punyku untuk di berikan kepada dia?
Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia membawaku kesini? Dia pasti bukan sekedar untuk menyelamatkanku saja. Di balik aku ada disini, pastinya ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Dan sayangnya, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk melihat masa lalunya. Kalau seperti ini, aku hanya tinggal menghitung nasib, baik atau buruk, aku ada disini.'
__ADS_1
______________
Setelah berhasil membuat Alvei keluar dari kamar yang di tinggali oleh Arsela, sekarang mereka berdua ada di dalam kamar mandi, dan Alvei yang merupakan seorang pelayan setia milik Agres, tentu saja menyuruh gadis kecil itu untuk membantunya menggosok punggungnya.
"Tuan, kenapa anda terlihat peduli dengan manusia itu? Dia bukanlah manusia biasa, seperti tadi itu, dia bah-"
Ucapan dari rasa protes milik Alvei pun terhenti saat kedua tangan Agres tiba-tiba saja meraih wajah Alvei yang kebetulan saat ini posisinya ada di atasnya, dan Agres sendiri wajahnya sedang ada di bawah Alsei persis.
"Dia itu urusanku, kau hanya perlu melakukan tugasmu saja, apa kau paham?" Pinta Agres kepada satu pelayan kecilnya itu agar tidak perlu memikirkan apapun selain bekerja menjadi pelayan setianya.
"Tapi, saya iri Tuan."
"Apa aku sedang takut jika aku tergoda dengan wanita seperti dia hanya karena dia punya tubuh dewasa dan cukup bagus?" Tanyanya, mencoba berbicara baik-baik dengan Alvei ini.
"Hmm....." Dehem Alvei, merasa kurang puas hati dengan ucapan dari Agres yang selalunya benar, dan Alvei sendiri tidak mampu menyangkal segara ucapan dari majikannya ini.
Jelas saja, siapa yang tidak akan malu ketika wajah dari pria yang disukainya jusru ada di depan matanya persis dengan jarak yang lumayan dekat sepert tadi.
"Baik. Saya tidak akan membicarakannya lagi." Jawab Alsei, saat ini dia berada di dalam kolam mandi milik Tuan nya yang cukup besar, dan pekerjaannya saat ini adalah untuk membersihkan punggung milik Tuannya.
"Baguslah, kalau kau akhirnya paham juga. Karena apa yang aku lakukan pasti adalah sesuatu yang sudah aku rencanakan matang-matang, makannya jangan pernah ragu dengan keputusanku." Jelas Agres, mencoba membuat Alvei ini mengert dengan apa yang dia lakukan itu memang sudah Agres perhitungkan dengan sebaik-baiknya.
____________
__ADS_1
"Jadi ini tempatnya?" Tanya Chavire, melihat di depannya itu adalah sebuah hutan yang cukup rimbun.
Hanya saja, saat ini dia tidaklah berada di hutan dengan pohon biasa. Sebab di depannya saat ini, dia di pertemukan dengan sebuah pohon besar, memiliki akar yang bergerak di atas permukaan tanah, kedua ranting yang rupanya memiliki lima jari layaknya manusia, dan sepasang mata merah yang menatap penuh amarah kepada dua orang tak di undang di depannya.
"Dia...pohon jenis apa?" Tanya Chavire dengan nada berbisik kepada Edward.
"Dia pohon penjaga. Anggap saja begitu, biar muda di ingat. Dan seperti namanya, dia bertugas menjaga wilayah dari kekuasaan ratu hutan. Darayad."
SYUHHT...
Tepat di saat Edward baru saja mengatakan Darayad, sebuah anak panah langsung datang melesat dengan cukup cepat, sampai berhasil melukai pipi Edward sampai menciptakan goresan tipis dengan darah merah, sduah sedikit keluar.
"Tapi kelihatannya, bukan hanya pohon itu saja yang bertugas menjaga hutan ini." Tutur Chavire.
Edward menyeka darayang sempat keluar dari hasil goresan anak panah tadi dengan ujung jari jempol sebelah kanan, setelah itu, Edward justru menjilat darah miliknya itu dengan jilaan manis bagai permen.
"Akhinya kau sadar juga ya, manusia. Kalian itu memang tidak pernah di untung. Kalian lebih suka merusak hutan, dan sekarang kalian datang kesini, apakah kalian juga ingin ssesuatu yang ada di dalam hutan yang aku lindungi ini?"
Edward dan Chavire langsung mencari-cari asal dari suara milik seorang wanita yang tadi sempat mereka dengar itu.
"Ada apa? Mencariku? Kau salah memilih musuh, manusia." Ucap wanita ini lagi.
Tanpa memperdulikan untuk mendengar alasan apa yang akan di buat oleh kedua manusia yang ada di depan pintu hutan persis, wanita berambbut pirang dengan pakaian hijau, serta punya sepasang telinga runcing, yaitu Elf, dia kembali membidik targetnya dengan senjata miliknya itu.
__ADS_1
"Jika kalian tidak segera pergi dari sini, aku akan membuat pilihan untuk melakukan hal paling buruk untuk mengusir kalian berdua dari sini." ucap wanita ini, kembali memberikan peringatan keras kepada Chavire dan Edward, dan setelah itu wanita ini pun melepaskan kedua jarinya yang tadinya ia gunakan untuk menjepit ekor dari anak panahnya.
SYUHT..