
Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah benda yang menjadi topik pembicaraan mereka berdua tadi, benda bulat seperti kelereng besar itu saat ini benar-benar jadi bahan perdebatan mereka.
'Itu kan batu sihir? Mereka berdua, bagaimana mereka bisa mendapatkannya? Dan itu mau di belah?!' Chavire yenyu saja semakin terkejut saat batu kelereng besar itu sudah di letakkan di atas batu besar. Dengan di temani satu ekor burung Elang yang cukup besar tengah menonton Eldania yang merupakan partner dari burung Elang tersebut, Eldania saat ini justru sudah mengambil langkah kuda-kuda.
Saat kaki kirinya di posisikan sedikit ke depan, kedua tangan Eldania di letakkan di sebelah kiri semua.
Kedau tangan yang awalnya tidak memegang apapun itu tiba-tiba saja muncul sebuah pedang krisal berwarma putih.
"Ok, mau di potong kan? Maka aku akan potong saat ini juga sampai mengenai lehermu itu." Kata Eldania seraya memberikan ancaman kepada Everst.
"Kalau bisa."
"Tentu saja bisa!" Jawab Eldania singkat.
TAP...
Kaki kanannya tiba-tiba Eldania hentakkan ke depan sampai hentakan kakitadi itu menciptakan gelombang angin, setelahnya kedua tangan yang sudah memegang pedang itu langsung Eldania ayunkan dengan cepat mengarah ke batu kelereng itu.
Dan Chavire yang merupakan orang yang sangat menginginkan batu itu, langsung berlari sambil meneriaki, "Jangan!"
SYAHT..
Satu ayunan itu berhasil menebas batu kelereng itu menjadi dua, dan di saat yang bersamaan pula, sayap besar milik Everst langsung membuat tubuh itu terbang di udara, untuk menghindari imbas dari Eldania yang mengeluarkan tekniknya itu untuk memotong batu tersebut.
Lalu akhir dari gerakan Eldania tadi, membuatnya langsung menoleh bersamaan dengan tatapan penuh tanda tanya oleh Everst yang sedang terbang itu.
"Kau lagi. Sebegitu sukanya para pria di dunia ini denganku sampai mengetahui lokasiku. Kau sungguh stalker yng cukup hebat ya?" Kata Eldania dengan cukup percaya diri yang tinggi, sampai Everst seketika itu lagsung memberikan jelingan yang cukup tajam kepada Eldania, karena berbicara hal yang menyinggung Everst kala itu juga.
"Stalker?" Chavire tentu saja tidak mengerti apa maksud yang di ucapkan oleh Eldania tadi, apalagi yang namanya begitu asing itu, maka Chavire membalas ucapan Eldania itu berdasarkan apa diucapkan oleh Eldania selain kata Stalker itu. "Siapa juga yang sedang mengikutimu."
"Nah itu? Kau sendiri kenapa bisa datang kesini? Ini tempatnya jauh, dan kau bisa kesini dengan cepat pasti minta bantuan si tua itu." Ejek Eldania.
Dan di sela-sela pembicaraan mereka berdua, Ailyn yang berhasil menyusul Chavire langsung berkata. "Kau jangan sembarangan pergi dariku, manusia. Cepat kembali, Yang mulia sudah menunggu, jangan biarkan beliu lebih menunggu dari ini." Ucap Ailyn memberikan peringatan kepada Chavire yang terus terpaku pada benda bulat yang sudah terbelah menjadi dua itu. 'Jadi itu tujuanmu, batu sihir.' Terka Ailyn melihat Chavire sungguh tidak menanggapi apa yang tadi di ucapkannya.
"Ah...dari tatapan matamu itu, kau ingin ini yah..akkkk...!" Belum juga berbicara penuh dengan Chavire, tiba-tiba saja dirinya...
SYUHT...
Everst yang tidak ingin melhiat Eldania berbicara terus kepada Chavire yang terlihat sangat menginginkan benda milik mereka berdua, langsung membawa Eldania dan batu mana sihir yang sudah terbelah dua itu pergi, dan Everst bawa terbang tinggi menjauhi mereka yang ingin mengganggu waktu mereka berdua.
"Everst! Aku kan masih ingin bicara dengannya!" Teriak Eldania dengan posisi tubuhnya menggantung di udara, sebab saat ini tangannya di cengkram kuat oleh kaki Everst yang cukup besar itu.
KWAKKK....
Suara teriakan dari Everst itu berhasil membuat seluruh penghuni di hutan, terutama burung yang sedang beristirahat di berbagai tempat langsung terbang semua karena saking terkejutnya dengan suara milik Everst yang cukup keras itu.
Chavire yang awalnya terdiam karena melihat rasa kesal yang dimiliki oleh Everst itu, seakan dirinya hendak merebut wanitanya, membuat Chavire akhirnya bertanya. "Bagaimana dia bisa mendapatkannya?" Tentu dengan mode penasarannya lagi.
"Dia? Jika yang kau maksud adalah perempuan itu, kau salah. Yang mendapatkan batu berharga itu adalah burung itu." Jawabnya.
Sambil berdecak pinggang, Ailyn menatap batu besar yang tadi sempat digunakan menjadi tmepat diletakkannya batu mana yang di potong itu, lalu menambahkan. "Entah apa yang dipikrkan oleh Kakakku, burung itu berhasil diberikan tujuh batu sihir. Dan aku peringatkan sebaiknya jangan pernah penasaran dengan baik apa yang didapat, dipunya, dan di perbuat oleh burung itu.
Dia bukan sekedar burung yang punya kelebihan jadi besar dan berbicara. Jika sekalinya aku mengusi perepuan itu, kau bisa di bunuh oleh makhluk itu. Apa kau mengerti?" Jelas Ailyn panjang lebar.
__ADS_1
Ailyn bisa mengatakan itu semua karena sebenarnya dia itu memiliki pengalaman yang buruk, karena pernah berurusan dengan burung Elang itu. Makannya, Ailyn punya kesar dari arah pembicaraannya tadi adalah untuk memberikan peringatan kepada Chavire yang suka seenak jidat menggoda dan bericara dengan perempuan yang baru di temui sesuka hati.
Padahal di balik sosok Everst yang merupakan partner dari Eldania, bukanlah sosok biasa yang akan membiarkan wanita itu, yaitu Eldania bicara sembarangan dengan laki-laki lain, apa lagi di depan matanya seperti tadi.
'Dia memang terlihat bukan seperti burung biasa yang sekedar bisa besar dan bisa bicara.' Pikir Chavire, lalu dia menatap ke arah Ailyn itu sambil memberikan senyuman mautnya. "Ngomong-ngomong, terima kasih karena kau ternyata cukup perhatian pada seorang manusia sepertiku ini. Sungguh tidak terdua." Goda Chavire saat itu juga.
KLAKK....
Mendengar perkataannya itu, tentu saja Ailyn jadi langsung menodongkan senjatanya ke depan wajah Chavire persis. "Sekali lagi menggodaku seperti itu, aku akan potong lidahmu dan menjahit mulutmu, lalu aku buang ke kubangan lumpur jadi makanan buaya."
Namun responnya, Chavire mengangkat kedua tangannya. Sambil tersenyum simpul, Chavire justru berbalik dan pergi meninggalkan kemarahan Aiyn yang kembali muncul karena godaan kecilnya.
"Ayo, katamu ingin membuatku cepat menemui kakakmu."
"Jaga ucapanmu! Orang luar sepertimu itu tidak punya hak untuk bicara seperti itu. Karena jika dia tahu, mungkin saja niatnya untuk mengizinkanmu ke istana bisa saja berubah." Ancam Ailyn, meletakkan pedang miliknya di belakang punggungnya, dan segera menyusul Chavire yang sudah sedikit jauh itu.
'Memangnya aku bisa di ancam seperti itu? Dari ekspresi wajah yang dimiliki Ratu hutan ini, jelas dia bukanlah makhluk yang akan merubah pikirannya secepat itu, hanya karena aku memanggil kakak. Dia itu-' Chavire terdiam dan melirik ada satu pohon mungil sedang sembunyi-sembunyi mengikuti mereka berdua. 'Raut wajahnya itu, seperti seorang Ibu yang sangat bijaksana. Hanya dengan sekali lihat, jelas dia punya sifat yang cukup baik dan saling menguntungkan. Dan dia jadi mengingatkanku kepada-' Dan Chavire pun tidak bisa untuk tidak mengingat Alstrelia.
"Pi-"
DEG.
'S-suara ini..' Chavire yang mendengar suara mungil itu membuat kedua kakinya berhenti untuk berjalan.
"Pi..pi."
Seperti orang yang ketakutan saat menoleh ke belakang, maka itulah yang sedang Chavire lakukan selepas mendengar suara kecil itu.
"Pi..?"
Melihat ekspresi Chavire yang seolah sedang menahan sesuatu, membuat Ailyn melirik ke bawah, dan menemukan satu anak pohon yang sedang memegang celana Chavire?
"Pici?" Panggil Ailyn.
"Pi..pi.!" Dan yang di panggil itu terus mengeluarkan suara imutnya!
'Suara kecil mungil bersanding dengan tubuh yang kecil ini, kenapa ada pohon unik semenarik ini?!' Chavire yang baru menyadari kalau si Pici yang merupakan anak pohon yang belum lama lahir itu saat ini sedang menyetuh celananya, membuat Chavire langsung menarik tubuh itu dan mengangkatnya.
"Hei, jangan seenaknya menyentuh Pici." Ailyn yang tidak suka melihat Pici kesayangannya di pegang oleh manusia seperti Chavire itu, berusaha merebut Pici dari tangan Chavire."Kembalikan." Perintah Ailyn.
"Tidak, biarkan aku memeluknya. Ini terlalu imut untuk dikembalikan oleh wanita galak sepertimu." Chavire langsung memeluk anak pohon itu dengan cepat sebelum direbut oleh Ailyn, lalu dia bergegas pergi menuju Istana sambil menggendong Pici.
Ailyn yang merasa anak kesayangannya di rebut itu, langsung menyusul Chavire untuk merebut anak pohon itu, akan tetapi...
"Pi.." Sedangkan si Pici sendiri justru melambaikan tangan yang terbuat dari ranting kecil mungil yang terlihat rapuh itu sebagai salam perpisahan untuk Ailyn yang sudah ada di dalam mode peserta yang tersingkirkan.
"Pici!" Tidak mau melihat hal yang menyakitkan karena Pici itu ternyata menyukai pria berambut merah itu, Ailyn segera berlari menghampiri Chavire yang sudah berjalan jauh itu.
"Pi..pi." Anak pohon itu terus melambaikan tangannya ke arah Ailyn yang terlihat putus asa.
"Ternyata kau pohon yang imut. Coba bicara lagi, aku suka suaramu yang kecil dan imut itu, ayo..pi..pi..pi..." Sepeti sudah gila karena terbuai dengan keimutan anak pohon, Chavire jadi bicara sendiri dengan anak pohon yang hanya bisa mengatakan..
"Pi..pi?"
__ADS_1
"Iya..bagus sekali, lagi..lagi." Pinta Chavire sekali lagi.
"Pi..pi..pi." ucapnya lagi.
Hal itu pun berhasil menjadikan Chavire membuat ekspresi bahagia seperti seorang ayah yang senang melihat anaknya bisa berbicara dengan kata-kata aneh yang tidak bisa di mengerti.
___________
"Muahahaha......." Gelak tawa itu langsung menggelegar di dalam kamarnya Alstrelia.
Tentu saja yang sedang tertawa bukan hanya Alstrelia saja, tapi Elda juga Lena.
"Hahaha....pria itu ternyata bisa jadi gila karena keimutan pohon kecil mungil yang bisa aku remukkan dengan sekali peluk itu." Ucap Elda, membayangkan kalau pici yang mereka bertiga lihat itu bisa Elda peluk dengan sekuat tenaga dan akhirnya hancur berkeping-keping.
"Hahaha..ternyata pria itu lucu juga. Ekspresi wajahnya terlihat seperti seorang Ayah yang sedang mengasuh anaknya sendiri. Saya tidak menyangka bisa melihat ekspresi wajah yang -" Lena tiba-tiba saja menggantungkan kalimatnya dengan memperlihatkan wajah berpikirnya.
Saat ini, Alstrelia, Elda dan Lena sedang duduk bersama di kemarnya Alstrelia.
Dengan menggunakan kemampuan yang dimiliki oleh Alstrelia, dan dengan menghubungkan kekuatannya itu dengan salah satu burung yang ada di sana, saat ini mereka bertiga pun jadi bisa menonton pertunjukan menarik yang diperankan oleh sang tokoh utama yaitu Chavire, lewat ke empat Gimmick yang terbang dan membuat layar seperti layar televisi.
Dengan caranya itulah, mereka bertiga bisa tertawa lepas karena kepolosan Chavire setelah luluh dengan keimutan yang dimiliki oleh sebuah anak pohon yang cukup mungil layaknya bayi yang bisa berjalan tapi tidak bisa berbicara dengan benar.
"Ekspresi wajah yang apa Lena?" Tanya Elda penasaran dengan kalimat Lena yang sengaja menggantung itu.
"Saya seperti pernah melihatnya, saat itu ketika saya mengunjungi Istana dengan Nona Alstrelia.
Saya rasa....itu seperti ekspresi milik Yang mulia Kaisar. Waktu itu Nona Alstrelia sedang duduk di bangku taman sambil melihat kolam ikan, dari kejauhan saya melihat Yang mulia Kaisar itu menatap ke arah Nona dengan ekspresi seperti itu." Jelas Lena.
"Jadi seperti orang yang melihat orang yang disukainya dekat dengannya?" Sambung Elda.
"Hmm.. Yang barusan kau katakan memang benar." Kata Alstrelia secara tiba-tiba.
Lena secrara otomatis jadi terpancing. "Memang benar? Tentang apa?"
"Tentang yang menuurutmu ekspresi wajahnya itu seperti Kaisar, dia itu memanng Kaisar." Jawab Alstrelia dengan selamba.
Dan balasan dari apa yang Lena dengar itu, membuat kopi yang hendak Lena minum itu tumpah di pangkuannya dengan ekspresi termangu layaknya patung.
"Lena, kopimu tumpah." Elda yang panik itu buru-buru mengambil serbet dan memberikannya kepada Lena untuk segera di seka.
".........!" Lena pun langsung mengambil serbet dari tangan Elda, lalu mencoba menegringkan pakaian pelayannya walau tidak seberapa kering. "Apa yang Nona barusan katakan?" Tanya Lena selagi mengeringkan pakaiannya, lalu segera meletakkan cangkir kopi miliknya ke atas lemek.
"Chavire, Kaisar yang kalian cintai itu ada di sana." Jelas Alstrelia seraya memakan macaron berwarna biru navy dan tangan kirinya langsung menunjuk persis ke layar yang di buat oleh ke empat Gimmick miliknya itu.
"Bagaimana mungkin? Yang mulia Kaisar kan ada di tempat kita, kenapa anda menunjuk pria berambut merah itu Yang mulia Kaisar?" Tanya Lena tidak mengerti.
"Ceritanya panjang." Sahut Alstrelia, dia meminum teh untuk yang pertama kalinya. Alstrelia mengernyitkan matanya karena rasanya pahit.
Lena yang melihat Alstrelia hanya meminumnya langsung, segera bangkit dari tempat duduknya, lalu mengambilkan gula batu ke dalam cangkir teh milik majikannya itu.
Barulah Alstrelia sadar, kalau teh itu harus di masukan gula.
Sebagai orang yang belum pernah minum teh, jadi seperti itulah jadinya, langsung meminumnya begitu saja.
__ADS_1
"Tapi untuk cerita singkatnya,-" Alstrelia mencoba menyambung ucapannya lagi. "Adalah karena ada satu orang yang sengaja bertukar tubuh dengan Chavire secara paksa. Sehingga saat ini baik itu tubuh milik Chavire yang ada di sini dengan pria berambut merah yang ada di sana, jiwa mereka berdua adalah dua jiwa yang bertukar tempat, sekaligus jadi bertukar nasib." Jelas Alstrelia.
Dan ucapannya itu berhasil membuka pikiran Lena, kalau pria berambut merah yang Elbert anggap itu adalah orang asing yang tidak punya sopan santun dan hendak membuat Elbert bertarung dengan pria itu, adalah Chavire, Yang mulia kaisar mereka semua!