
Elbert dan Alstrelia pun saling menatap satu sama lain dari tempat yang saling berjauhan itu. Sejujurnya Elbert cukup penasaran apa yang membuat perempuan yang sedang berdiri di dalam kamar sana itu sampai berani menyerang Tuan muda nya di pagi-pagi seperti ini?
Tapi karena Elbert sadar dengan posisinya sendiri, maka dia hanya bisa memendamnya.
Selepas Alstrelia pergi dari sana, Elbert pun pergi menuju tujuannya.
*
*
*
“A-apa yang barusan anda lakukan kepada Tuan?” Tanya Lena dengan wajah masih terpegun.
Tentu saja begitu, karena baru saja perempuan yang merupakan sekeddar pengganti dari majikannya Lena yang asli, justru memiliki keberanian lebih untuk melempar dan menendang Alrescha pergi keluar dari kamar dengan cara yang cukup kasar.
“Siapa dulu yang melakukan kesalahan denganku? Dia tidak mengerti bahasa manusia, aku menyuruhnya untuk mencium kakiku tapi dia malah mencium bibirku.” Jelas Alstrelia dengan nada kesal.
Dia kesal, karena ucapannya tidak di turuti dengan benar oleh laki-laki yang tidak tahu di untung itu karena mengambil semua kesempatan miliknya, baik itu waktu, tenaga, pikiran, dan sekarang?
“Elda…kau lihat tadi kan? Kutu itu baru saja mencium bibirku.” Kata Alstrelia ini kepada Elda yang masih memasang wajah terkejut.
“S-sebenarnya anda siapa?” Hanya itulah yang terlintas di kepala Elda saat ini, karena melihat tingkah dan cara bicara dari sahabatnya itu benar-benar berbeda.
Alstrelia yang ini pun langsung berdecak pinggang sambil menatap Elda yang masih berekspresi terkejut itu.
“Kau masih belum sadar juga anak buah?” Celetuk Alstrelia.
“Hei…” Raut wajah Elda langsung berubah menjadi datar, karena tidak memanggilnya dengan namanya. “Aku Elda, bukan anak buah. Namaku itu Elda, mengerti?”
__ADS_1
“Tidak tuh.” Ketus Alstrelia.
Perempatan siku di dahi Elda pun muncul juga, karena dia harus menghadapi sisi lain dari Alstrelia ini yang kelewat sombong itu.
“Tapi karena kau sudah memperkenalkan dirimu seperti itu, maka…” Alstrelia pun memiringkan kepalanya ke kanan sambil menyeringai, “Aku juga akan memperkenalkan diriku padamu anak buah,”
‘Haisshh! Dia memanggilku seperti itu lagi.’ Kesal Elda. Elda pun menatap wajah songong Alstrelia.
Di berikan tatapan sengit oleh Elda, Alstrelia justru semakin bangga sendiri karena Elda berhasil terprovokasi.
Alstrelia menurunkan kedua tangannya, sedikit menarik ujung rok pendeknya, dia pun memberikan penghormatan sebagai salam perkenalannya.
“Perkenalkan, aku adalah Als, yang menggantikan kesadaran Alstrelia yang saat ini masih tertidur.” Salam sapa Alstrelia kepada Elda serta Lena yang saat ini jadi berekspresi bengong.
“A-als?” Tanya Lena.
Als yang sedang menggantikan posisi kesadaran Alstrelia pun melirik kearah satu orang pelayan yang cukup setia itu. “Ya, aku adalah Als. Demi menja- ah tidak…sialan, kutu itu membuat bibir ini dicium.” Lirikan matanya mengarah ke arah jendela yang baru saja jadi pelampiasan amarahnya itu. Seraya memegangi bibirnya, Als pun berkata lagi : “Aku masih belum puas dengan perbuatannya itu. Aku harus membalasnya lagi.” Jelas Als.
Namun ketika dirinya hendak pergi menyusul Alrescha yang sudah dia lempar dari jendela kamarnya, justru langsung di cegat oleh Lena.
“N-nona Als, sebaiknya jangan dulu. Tuan sudah lelah, dan anda bukannya lelah juga, sebaiknya anda istirahat dulu agar nantinya anda bisa melampiaskan kemarahan anda lebih keras lagi, karena menodai bibir anda yang cantik itu.” Jelas Lena panjang lebar, sembari memegang lengan Als agar tidak pergi dulu.
“Eh~ Lena, mulutmu manis juga ya.” Kata Als dengan senyuman miringnya.
Siapapun yang melihat senyuman yang sedang di gunakan oleh Als ini pun bisa terpedaya, karena seperti mampu untuk menghipnotis semua mata yang memandangnya.
Dan Lena yang dikatain seperti itu oleh Nona baru nya, hanya tersenyum tawar, sebab mulutnya tidak bisa dia kontrol karena ingin membuat Als ini tidak keluar dari kamar lebih dulu.
“Ok, apa yang kau katakan memang ada benarnya juga. Tubuh ini terlalu dipaksakan, sampai Alstrelia sendiri tertidur. Dasar perempuan itu, dia suka seenaknya sendiri demi bersenang-senang.” Cibir Als pada Alstrelia yang saat ini masih tertidur itu.
__ADS_1
Lena yang merasa bujukannya berhasil, akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dari lengan milik Nona majikannya itu.
“Anak buah,” Panggil Als tanpa basa-basi.
“..........!” Si empu pun jadi terpicu dengan panggilan yang dibuat oleh Als kepadanya. “Apa?” Sahutnya dengan wajah cemberut. Karena bagaimanapun, posisinya sebagai anak buahnya juga memang tidak salah. Karena itu, mau tidak mau Elda pun harus mengikuti kemauan dari Als yang terlalu songong itu.
“Bagaimana kau bisa sampai kesini?” Satu pertanyaan paling masuk akal pun akhirnya terlontar juga. Bukan pertanyaan dari Alstrelia yang merupakan kesadaran utama dari tubuh itu, melainkan sisi lain dari Als lah yang menanyakannya kepadanya.
“Aku juga tidak tahu.” Jawab Elda singkat.
Salah satu alis Als pun terangkat dengan ekspresi bingung. “Kan kau yang datang kesini dalam posisi sadar, kenapa tidak tahu? Dimana otakmu itu berada? Jika kau datang kesini seperti aku, itu baru masuk akal, tapi kau?~”
Berkerut-kerut dahi Elda, mendengar hinaan itu benar-benar keluar dari mulut yang sudah beracun itu.
“Mau seberapa kalipun bertanya, jawabanku hanya satu, aku tidak tahu. Karena aku juga tiba-tiba sudah ada di langit dalam kondisi terjun bebas. Paham?” Tekan Elda, saking kesalnya dengan cara bicara yang digunakan oleh Als kepadanya.
Demi mendapatkan informasi lebih, Als jadi bertanya lagi, “Lalu apa yang terakhir kali kamu ingat sebelum datang kesini?”
“Aku-” Elda melirik kearah Lena.
Lena hanya memiringkan kepalanya seperti orang yang sedang bingung.
Bagaimana tidak bingung, karena sebenarnya Lena sendiri juga tidak tahu apa yang sedang Als dan temannya itu bicarakan, ‘Sebenarnya apa yang mereka berdua bicarakan? Aku baru mendengar logat bahasa itu. Tapi kelihatannya dari ekspresi mereka berdua, pembahasannya pasti cukup serius.’ Pikir Lena, terhadap pemandangan dari dua orang asing yang saat ini memakai pakaian seragam yang sama. ‘Apakah baju itu benar-benar sangat khusus? sampai tidak mau berganti pakaian?’ Imbuhnya.
“Dia tidak akan mengerti apa yang sedang kita bicarakan, karena aku sudah menyuruh ke mereka untuk merubah frekuensi suara kita jadi bahasa lain.” Jelas Alstrelia, mencoba menghilangkan kekhawatiran yang di miliki oleh Elda.
“Ok, aku percaya.” Tapi tatapan sengitnya itu seperti orang yang masih belum sepenuhnya mempercayai apa yang dikatakan oleh Als barusan.
“Jadi katakan, apa yang terakhir kali kau ingat sebelum datang kesini. Tapi jika jawabanmu masih saja tidak tahu, aku akan memaksa isi kepalamu untuk menjawab rasa penasaranku ini.” Ucap Als dengan ekspresi seriusnya.
__ADS_1
‘Mulutnya itu ternyata lebih sadis dari Alstrelia,” Batin Elda.