
Maldeno, pria berumur 20 tahun. Anak tunggal dari salah satu bangsawan baru, Maldeno Gervans Martieo.
Maldeno, pemuda lulusan dari Academy Star White Galdeon. Walaupun, merupakan lulusan dari Academy ternama di Kekaisaran Regalia, dan mempunyai kekayaan yang berlimpah, Maldeno memiliki reputasi yang cukup buruk yang sudah mulai menyebar karena pernah ketangkap basah masuk ke rumah bordil.
Banyak yang bisa di dapat jika sudah pernah masuk ke rumah bordil, surga para bangsawan dan pria hidung belang.
‘Ternyata memang ada gunanya aku mendengar dongeng pengantar tidur dari Lena. Tapi Maldeno, orang yang aku suruh meminum minumanku tadi tiba-tiba mati di koridor?’ Alstrelia masih memejamkan matanya.
Alstrelia pikir itu adalah obat yang berhubungan untuk meningkatkan gairah dari seseorang, mengingat Maldeno punya sisi gelapnya sendiri karena sudah pernah masuk ke rumah Bordil. Karena itulah Alstrelia yang sudah tahu minuman nya sendiri sudah ditaruh obat, dia berikan kepada Maldeno sendiri untuk diminum.
Tapi siapa yang akan menyangka kalau Maldeno mati?
‘Kucing,’ Alstrelia tentu saja sadar kalau ada kemungkinan lain yang mengaitkan matinya maldeno. Yaitu kucing yang membawa sentuhan kematian.
Ok.
Hanya menyimpulkan informasi dari ucapan saja tidak membuat Alstrelia sepenuhnya percaya.
Mati atau tidak, bisa di buktikan jika sudah melihat mayatnya sendiri. Dan jika memang mati, maka kematiannya harus diselidiki apakah karena obat atau karena ada pembunuhan yang berkaitan dengan kucing seperti yang Alstrelia bunuh beberapa waktu lalu.
Itu yang sedang Alstrelia rencanakan. Pergi ke tempat kejadian perkara.
Tapi, tepat setelah Alstrelia beranjak dari kursinya dan hendak pergi dari sana, seluruh pintu dari semua sisi ruang Ballroom tiba-tiba saja tertutup.
KLEK….
KLEK…..
KLEK….
Suara pintu yang terkunci menjadi bukti nyata kalau mereka semua dikurung.
Semua tatapan mata yang awalnya tertuju kepada Alstrelia, sebuah tatapan menuduh, segera tersapu bersih setelah mereka menemukan kepanikan mereka sendiri karena tiba-tiba dikurung.
“K-kenapa semua pintu di kunci?”
“Apa kita sekarang dikurung?”
Dari satu, dua, tiga orang dan semakin bertambah para perempuan bangsawan yang menunjukkan kepanikan mereka dengan berjalan menuju ke semua pintu yang ada, tapi seperti yang diperkirakan, semua pintu berhasil ditutup rapat dan dikunci dari luar.
“Hei! Kenapa di kunci! Kemana para penjaga!”
Gedoran pintu mulai muncul dari segala sisi ruang Ballroom karena perbuatan para wanita yang tidak sabar ingin keluar.
“Buka!”
“Apa di luar tidak ada orang?!”
BRAK…!
BRAK….!
Sampai pintu ditendang sekalipun, pintu kayu itu tetap saja memperlihatkan ke kokokohannya.
“Dimana Yang Mulia Kaisar?! Kenapa Yang Mulia tidak pernah kembali?”
Para pria mencoba bergantian untuk mendobrak pintu itu, tapi hasilnya kurang lebih sama, karena punya pintu yang cukup kokoh.
Dan semua racauan itu terus menerus terdengar di telinga Alstrelia. ‘Wajar, mereka semua panik, tiba-tiba terkurung.’
__ADS_1
Hanya saja tidak untuk satu masalah saja karena masalah lainnya akhirnya muncul juga.
BRUK!
Satu orang tamu undangan tiba-tiba saja ambruk.
"..............." Alstrelia hanya meliriknya sekilas.
BRUK!
"Kyaaa!" Kepanikan itu semakin memuncak melihat satu persatu orang tumbang begitu saja.
"Jangan-jangan di dalam makanan dan minuman ini ada racun!" Salah satu perempuan yang berteriak itu semakin menambah kehisterisan orang-orang dengan langsung membuang makanan yang mereka bawa ke lantai.
Gelas, piring, nampan, di buang begitu saja dengan sembarangan hingga membuatnya pecah berserakan, dan secara berbondong-bondong mereka semua lari menuju pintu, agar keluar dari sana dan meminta pertolongan.
"Hei! Buka!" Seorang pria mencoba mendobrak pintu kaca. Tapi ternyata sekalipun sudah di dobrak, kaca tidak pecah sama sekali.
Bagaimana itu bisa terjadi?
Apalagi kalau bukan jika sudah ada campur tangan oleh penyihir.
BRUK!
Semakin waktu berlalu, korban semakin bertambah. Bahkan para laki-laki yang awalnya bersikeras untuk mendobrak paksa pintu, akhirnya mereka ambruk juga.
Meow~
Suara kucing itu tidak membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka untuk mencari jalan keluar. Di sini hanya Alstrelia lah yang berdiri dengan tenang sambil menonton keributan mereka, dan akhirnya di datangi seekor kucing.
Tidak seperti yang Alstrelia temukan, kucingnya berwarna hitam, kucing yang muncul itu berwarna abu dan memiliki belang berwarna hitam, jadi terlihat seperti seekor macan.
“Kenapa lampunya padam?!”
“Apa kita menjadi sasaran pembunuhan oleh seseorang?”
Satu per satu mereka semua meracau dalam tekanan kepanikannya.
Apa yang bisa mereka lakukan ketika sudah terkurung di dalam ruangan terkunci?
Lampu padam?
Dan-
BRUK!
Satu yang pasti perlahan dari mereka semua berjatuhan, sampai akhirnya hanya tinggal Alstrelia seorang yang masih berdiri.
Meow~
Alstrelia yang masih bersikap tenang itu menatap kucing itu dengan mata semakin menyipit.
Meow~
Mata kucing itu ternyata menyala, mata kuning yang sama-sama menatap serius Alstrelia.
KLEK.
Satu pintu tiba-tiba saja terbuka, dan menghadirkan seseorang yang terlihat samar. Siapa orang itu, Alstreila hanya menemukan bayangan hitam saja.
__ADS_1
“Ternyata tinggal satu orang saja yang masih berdiri?” Suara serak dan berat khas milik laki-laki segera menyeruak masuk kedalam indera pendengarannya Alstrelia. “Bukankah kau Tuan Putri Alstrelia adiknya Alsrescha?”
Setelah beberapa saat pria itu berjalan beberapa langkah, lampu kembali menyala.
Membuat mereka berdua akhirnya menemukan sosok lawan bicara mereka masing-masing.
‘Dia, laki-laki yang waktu itu menghalangi kereta kuda saat aku dan Bert pulang dari acara Festival, Arsene.’ Dengan ingatannya yang masih segar, Alstrelia mampu mengenali orang yang tiba-tiba muncul dan sedang berjalan menghampirinya. Dia adalah Arsene, yang dimana satu minggu lalu, sempat membuat kereta kuda yang Alstrelia naiki berhenti di tengah hutan.
‘Dia lebih cantik daripada pertemuan pertama. Alrescha ini benar-benar, kenapa dia menyembunyikan perempuan secantik ini? Apa dia hanya ingin menikmatinya sendirian?’ pikir Arsene, mengagumi penampilan Alstrelia yang bisa berubah drastis dari malam pertama pertemuan pertamanya.
Meow~
Mereka berdua akhirnya sama-sama melirik ke arah kucing yang masing mengeong itu.
“Apa ini rencanamu?” tanya Alstrelia.
“Entahlah,” jawab Arsene sambil mengangkat kedua bahunya dan mengumbar senyuman tawar.
Alstrelia tidak merespon lagi dan hanya memperhatikan penampilan Arsene yang rapi.
Tidak seperti pertemuan pertama, dimana Arsene terlihat seperti seorang bandit untuk menculik wanita cantik untuk bermain-main lalu di jual, kini penampilan Arsene cukuplah rapi sampai Alstreila mengira kalau pria di depannya itu seorang bangsawan. Tapi Arsene tidak datang dengan tangan kosong, karena dia membawa sebuah tongkat.
Apapun itu, Alstrelia ingin pergi dari sana.
Itulah yang Astrelia harapkan saat hendak mengambil langkah pertamanya. Tapi dia langsung di halangi oleh Arsene.
“Apa kau mau menghalangi jalanku?” tuntut Alstrelia dengan tampangnya yang masih memperlihatkan wajah tenang.
“Sebenarnya aku tidak mau menghalangi jalan anda, tapi-”
BRAK!
Dalam rentan waktu yang sama, puluhan pintu Ballroom kembali terbuka dan memasukkan puluhan orang berpakaian serba hitam dan penutup mulut, yang membuat wajah mereka tidak dapat mudah dikenali.
“Apa kau yang mengundang mereka?” lirik Alstrelia kepada Arsene yang berdiri di jarak 3 meter dari tempatnya berdiri.
“Entahlah,” jawab Arsene singkat dengan ekspresi wajah yang bahagia.
“................” Alstrelia menghitungnya, saat ini yang muncul, sebanyak 15 orang.
“Tangkap Putri,” salah satu orang memberikan perintah pada kawan-kawannya.
Mereka semua lantas mengangguk bersama, dan secara bersamaan berlari turun menuju Alstrelia.
‘Jadi ini tujuannya?’ detik hati Alstrelia, masih berdiri dan memperhatikan semua orang yang saat ini, sudah berhasil Alstrelia jadikan sebagai musuhnya.
SRIING…
Arsene yang dari tadi diam, tiba-tiba menarik ujung tongkatnya, yang ternyata adalah sebuah bilah pedang.
Alstrelia sedikit menundukkan kepalanya, hingga poni dan helaian rambutnya yang halus itupun sedikit menutupi sepasang matanya. Dan bibir yang awalnya terdiam itu, perlahan terus menarik sudut bibirnya sehingga membentuk bulan sabit. “He~”
Senyuman itu kian mengembang menjadi seringaian yang licik.
“Jadi ini adalah pesta yang memang ditujukan untukku saja?” gumam lirih Alstrelia saat mengetahui kenyataan kalau dirinya adalah target sebenarnya dari semua drama yang ada.
“Kau terlihat senang.” sahut Arsene melihat senyuman cantik itu berubah seperti senyuman miring yang terlihat seakan baru saja menemukan mainan yang menarik.
“Siapa yang tidak senang jika ternyata ada orang lain yang ingin mengajakku berolahraga malam?” jawab Alstrelia. Dia tidak menghentikan jawabannya yang diucapkan-nya itu dengan nada yang rendah, seolah sudah menantikannya sejak lama.
__ADS_1