
"Syarat kedua, apakah kau sudah pernah membaca novelku?"
"Ha? Apa yang Yang mulia katakan tadi?" Elda merasa pendengarannya kurang baik, jadi dia pun bertanya lagi.
"Novel."
"Novel siapa?" Tanya lagi Elda.
"Punyaku."
"Memangnya anda membuat Novel?" Elda mengernyitkan matanya. "Anda kan selalu sibuk di depan komputer,"
"He..bagaimana kau bisa tahu aku selalu sibuk di depan komputer?" Tanya Alvaron dengan tatapan penuh selidik pada Elda ini.
"Kan ada ajudan anda. Saya bisa menanyainya kapan saja." Jawab Elda dengan serta merta.
"Oh iya, yah..aku lupa dia kan punya mulut ember." Kata Alvaron mencibir ajudan nya sendiri.
'Yang mulia ini, kenapa selalu bisa membuat orang yang melihatnya, jadi terlihat seperti orang aneh. Tapi aku suka dengan kepemimpinannya yang cukup ketat tapi juga lumayan fleksibel.' Elda hanya tersenyum dalam diam, merasakanera bisa dipimpin oleh Raja bijaksana yang punya daya tarik yang sangat besar untuk kalangan wanita.
Entah itu muda maupun tua, banyak yang menyukainya, bahkan termasuk Elda sendiri. Dia justru merasa jadi orang yang beruntung, sebab dia bisa bertatap muka dengan pemimpin Negara yang banyak di gandrungi oleh banyak orang ini.
"Jadi, jika anda memang buat novel, novel apa yang anda buat itu?" Rasa penasarannya pun datang juga.
"Satu kisah dua bersaudara kembar." Jawab Alvaron.
"A-apa?! I-itu...itu bukannya novel yang itu, yang ada al-"
Alvaron mengangguk-angguk iya. "Iya aku tahu perasaanmu, apalagi Alrescha kan?"
"Iya itu! Jadi nama pena yang aku pikir punya wanita it-" Elda yang terkejut dengan jawabannya Alvarn, jadi gelagapan sendiri saat tahu author degan nama pena aneh itu ternyata adalah orang yang punya kedudukan tinggi, dan orang itu adalah ayahnya Alstrelia?!
"Aku juga tahu, nama pena yang terkesan seperti perempuan itu ternyata adalah pria, bagaimana ini? Aku jadi sedih."
__ADS_1
"M-maaf Yang mulia, anda jangan bersedih, sekalipun nama pena anda itu seperti nama perempuan, tapi novel anda laku keras!" Jelas Elda agar sang raja yang tiba-tiba membuat raut wajah sedih itu tidak terhasut dengan kekecewaan dari nama pena bernama Risya, yang padahal hanyalah nama samaran.
"Tidak kok, kamu tertipu. Terima kasih sudah menghibur orang tua yang kesepian ini, Elda." Sela Alvaron dengan sekikikannya.
"Tidak..tidak, anda tidak perlu berterima kasih. Dan lagi pua, anda itu tidak pernah kesepian, kami semua ada disini untuk anda, jadi anda tidak akan pernah kesepan kan? Dan jika saya bisa membawa Yang muila Putri pulang, maka anda bisa bermanja dengan beliau- ups.." Elda langsung menutup mulutnya yang kurang ajar, karena keceplosan mengatakan sesuatu yang cukup menghina.
"Hahaha....manja? Benar juga, aku memang sudah lama tidak manja dengan putriku sendiri. Dan kau...tenang saja, aku tidak akan memotong lidahmu, apalagi kepalamu hanya karena mengatakan itu di depanku.
Justru karena kau berani sampai berkata seperti itu kepadaku, walaupun hanya ucapan yang terdengar seperti keceplosan tidak dan di saring-"
JLEB..
Elda langsung terkena ucapan menusuk dari Alvaron yang memang terasa cukup menusuk, karena apa yang diakatakannya memang benar adanya, kalau ucapannya tadi keblabasan dan tidak di saring lebih dulu.
"Aku akan membantumu untuk menemukan Alstrelia." Imbuh Alvaron, atas kalimat tadi yang sempat menggantung itu.
"Apa? Jadi maksud anda ini, anda memang tahu cara untuk membuat saya bisa menyusul Yang mulia Putri?"
"Tentu saja." Senyum Alvaron.
Dalam kurun waktu kurang dari satu menit, pintu ruang kerja milik Alvaron tiba-tiba saja terbuka.
Sebuah robot pelayan yang punya tinggi setenah meter itu tiba-tiba datang dan langsung masuk.
Robot itu pun bergerak untuk menghampiri Alvaron yang saat ini sudah berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menuju dimana Elda berdiri.
'Kenapa Yang mulia berdiri dan menghampiriku? Lalu kenapa robot ini muncul? Apa yang dia bawa?' Elda pun penasaran apa yang akan dilakukan oleh Yang mulia Raja terhadapnya.
"Barang yang anda inginkan sudah jadi," Kata robot pelayan ini, seraa membuka perut yang merupakan tepat penyimpanan barang, agar semua barang bisa di bawa dengan mudah dan dalam kondisi aman.
"Terima kasih," Alvaron kemudian mengambil sebuah kotak perhiasan yang dikeluarkan oleh robot pelayan ini.
"Itu apa Yang mulia?" Elda penasaran, kenapa sang Raja ini tiba-tiba memerintahkan robot pelayan itu untuk membawakan kotak perhiasan.
__ADS_1
"Ini syarat keduamu yang kau tanyakan tadi." Ungkap Alvaron. Kemudian Alvaron membukka tutup dari kotak perhiasan itu. Sebuah anting dalam bentuk tindik berukuran cukup kecil menjadi isi dari kotak perhiasan itu.
'Aku pikir itu terlihat seperti kotak cincin, ternyata di dalamnya ada anting kecil.' Pikir Elda.
Alvaron mengambil anting kecil itu. Menatapnya dengan tatapan penuh makna, sampai Elda sendiri di buat sadar kalau anting yang Raja pegang itu memiliki manik kecil terbuat dari batu kristal yang warnanya sangat mirip dengan warna iris mata milik sang Raja ini.
'Warna mirip dengan mata milik Yang mulia Raja dan Koman, tidak hanya itu saja! Tapi itu juga mirip dengan bandul kristal dari kalung yang dipakai oleh Koman! Apa ini? Kenapa Yang mulia memperlihatkanku perhiasan dengan batu berharga itu kepadaku?' Tentu saja di dalam pikiran Elda, banyak pertanyaan yang muncul, akan alasan dari apa yang akan dilakukan oleh sang Raja itu kepadanya, mengingat tadi syarat kedua memiliki hubungan dengan anting itu?
Lalu dalam ruang kerja itu, tiba-tiba saja Elda merasakan ada suasana yang berubah untuk mereka berdua.
Mata penuh tatapan jenaka dan mulut yang biasa mengeluarkan kata canda yang membuat orang salah paham itu tiba-tiba berekspresi serius.
Sorotan mata dari iris mata berwarna biru laut itu perlahan berubah menjadi biru dari samudra yang cukup gelap dan dalam. Bibir yang akhirnya bungkam, menarik tangan yang sedang memegang satu anting kecil itu untuk di kecup.
Sorotan mata yang cukup dingin itu pun akhirnya berhasil menyita nuansa dari aura membunuh yang cukup kuat.
'Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba tubuhku tidak bisa bergerak? Dan satu hal lagi, aku merasa bulu kudukku jadi merinding.'
Ruangan yang awalnya terlihat terang itu perlahan jadi redup, dan rupanya itu bersamaan dengan langit kota Asgardia yang kian mendung, dan...
JDEERR....
Kilatan petir dengan sebuah dentuman yang keras itu sukses menarik perhatian Elda yang tiba-tiba di tatap dengan cukup dingin oleh Alvaron.
BRUKK...
Sampai robot pelayan yang tadi baik-baik saja, tiba-tiba roboh dalam keadaan mesin sudah mati, alias robot itu sepenuhnya sudah rusak total.
"Elda," Kata panggilan itu membuat Elda tiba-tiba saja menggerakkan kepalanya untuk menatap wajah Alvaron.
"Ya?" Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya Elda. 'Ada apa ini? Aku jadi takut, melihat tatapan mata Yang mulia Raja ini seperti akan membunuhku.' Pikir Elda detik itu juga.
CUP.
__ADS_1
Alvaron tiba-tiba mencuim mannik dari batu kristal itu dengan kecupan penuh makna. Sebab selagi bibirnya mencium batu kristal yang ada pada anting itu, tatapan matanya justru tertuju pada Elda yang ada di depannya itu.
Apa yan akan dilakukan oleh Alvaron ini?