Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
186 : Alstrelia : Tujuan Chavire


__ADS_3

"Ailyn, kau melakukannya lagi?" Akhirnya Darayad ini menegur wanita Elf tersebut yang ternyata bernama Ailyn.


Ailyn sendiri segera bungkam karena tatapan dari sang Ratu cukup mengintimidasinya. Ailyn berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya yang dirasa kotor itu, lalu melemparkan tatapan tajamnya ke arah dua orang manusia itu.


"Ailyn, hentikanitu." Peringat Daryad ini lagi kepada Ailyn yang justru menyalahkan kedua mannusia itu dengan tatpan tajamnya.


"Tapi Yang mulia, dia sudha membunuh temanku, maka dia harus di hukum." Tuding Ailyn kepadaChavire, sang tersangka atas kasus pembunuhan terhadap pohon penjaga.


"Kan yang mulai dulu adalah kau," Tunjuk Chavire kepada Ailyn.


"Taii. Jika bukan karena ucapanmu yang tidak sopan itu, aku tidak akan mung-"


"Tapi apa? Aku hanya menjawa ucapapanmu yang ingin membuatku jadi pupuk. Lantas, memangnya apa yang kau maksudkan itu? Aku ini laki-laki, banyak persepsi yang bercabang di kepalaku, dan salah satunya tadi." Jelas Chavire.


BLUSSH...


Sekalipun wajahnya sudah tersipu malu, Ailyn tetap memperlihatkan wajah pernuh emosi.


"Chavire, tutup mulutmu itu. Kita ini ada di tempat lain, bukan wilayanmu lagi." Sela Edward, sudah tidak taan lagi dengan Chavire yang masih sempat-sempatnya membalas ucapan yang dulontarkan Elf bernama AIlyn yang kurang berguna itu.


"Hahh~" Mendengar pertengkaran dari ketiga anak muda di depannya itu, Darayad ini pun langsung menghela nafasnya, dan melirik ke samping kanan.


Saat ini seluruh pohon di pinggir hutan sudah mulai membangunkan diri dalam mode waspada gara-gara perintah yang barusan Ailyn katakan untuk menyerang Chavire dan Edward itu.


"Kalian semua, tidurlah lagi." Ucap Darayad dengan lirih, dan seua puhon itu perlahan mundur dan berhenti di posisi mereka masing-masing. "Sedangkan kalian, masuk."


"Yang mulia, jangan biarkan mereka berdua masuk ke tempat kita." Tolak Ailyn, tidak mau kedua manusia itu masuk kedalam wilayah yang sudah susah payah Ailyn jaga.


"Ailyn, ini keputusanku. Lagipula kelihatnnyaaku tahu sesuatu." Pungkas darayad.


"Hmph.." Ailyn mendengus kesal ada dua orang itu.


"Ailyn, antar dia masuk." perintah Darayad kepada Ailyn.


Lalu Darayad mengambil bola hijau itu dan meletakkan bola hijau itu di permukaan batang pohon yang tergeletak itu, sampai akhirnya bola hijau itu menghilang dengan kata lain menyerap masuk ke dalm batang pohon itu.


Barulah melihat pohon penjaga tersebut sudah mulai menunjukkan kehidupan lagi, wanita ini kemudian menghilang seperti kumpulan kunang-kunang berwarna hijau yang perlahan lenyap.


Esudah sang Ratu hutan lebih dulu kembali ke Istana yang ada di tengah hutan, Ailyn berkata : "Ayo."


Edward dan Chavire pun berjalan mengekori Ailyn dari belakang.


"Kau penyihir, siapa yang menyuruhmu ikut denganku mausk ke sana? Yang masuk itu hanya satu orang saja, dan kebetulan penyihir sepertimu itu dilarang masuk kedalam wilayahku." Terus terang Ailyn kepada Edward, kalau Edward tidak di perkenankan untuk masuk kedalam hutan sebab status Edward itu penyihir .

__ADS_1


Walaupun tidak ada perbedaan jauh dengan Chavire, akan tetapi Ailyn memang hanya di perintahkan oleh Darayad untuk membawa Chavire saja, karena yang mempunyai keperluan besar adalah havire seorang, itulah yang dikatakan oleh sang Ratu kepada Ailyn dengan telepatinya beberapa waktu lalu.


"Daah..." dengan senyuman penuh kemenangann, Chavire melambaikan tangan sebagai salam perpisahan antara dirinya dengan Eward itu.


"............" Edward hanya diam, karena diirnya tidak bisa masuk kedalam hutan juga, maka sekarang yang bisa dia lakukan adalah mencari sesuatu yang ada di sekitar sana.


*


*


*


"Apa kau sudah membuat perjanjian dengan kakakku?"


"Kakak?" Salah satu alisnya terangkat ke atas, karena dia bingung tiba-tiba Ailyn membahas kakak?


"Ratu Darayad, yang tadi muncul itu adalah kakakku. Apa karena warna rambut aku dan kakakku berbeda, jadi kau menganggap aku itu benar-benar anak buahnya?" Lirik Ailyn.


"Itu...aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi soal perjanjian, aku sama sekali belum membuat janji, dan bahkan aku baru pertama kali bertemu dengannya." Jelas Chavire.


Mendengar penjelasannya Chavire sedikit meragukan, Ailyn pun menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap pria tinggi dari kalangan manusia ini dengan tatapan penuh selidik.


"Tapi asal kau tahu, kau nanti harus menerima konsekuensi sudah membunuh anak buahku." Tunjuk Ailyn tepat ke wajah Chavire itu.


BLUSHH....


Ailyn yang baru pertama kali berbicara cukup dekak dengan manusia, apa lagi laki-laki, hal itu lantas membuat rona pipnya menjadi bukti kalau Ailyn ternyata mudah di goda.


"Tapi aku melihatnya sendiri, kau membuat anak buahku jadi abu." Berusaha menarik tangannya dari cengkraman tangan Chavire ini.


"Itu hanya ilusimu saja. Aku hanya memindahkan anak buahmu ke tempat lain." Jelasnya. "Memang, teknik dari sihirmu tadi membuat sihir kami di segel, tapi tidak dengan senjata sihir. Makannya aku bisa melakukan sesuatu untuk melawanmu yang cukup kurang ajar sebagai penjaga."


"A-apa? Aku hanya menjalankan tugasku untuk menjaga seluruh hutan, dari manusia seperti kalian." Sela Ailyn, lalu menarik paksa tangannya dari cengkraman tangannya Chavire.


"Rupanya ini bukan pertama kalinya untukmu tiba-tiba menyerang orang yang hanya melintas, ya kan?" terka Chavire.


".........!" Ailyn segera mundur, apa yang dikatakan oleh Chavire itu memang benar. Siapapun yang mendekat maka tugas Ailyn yang bertugas untuk menjaga wilayah kekuasaan kakaknya mau tidak mau akan menggunakan segala cara agar para monster ataupun manusia yang mengancam mereka bisa pergi atau terbunuh, hanya itu yang Ailyn lakukan.


"Sudahlah, antarkan aku ke Ratumu." Melepas cengkraman tangannya Ailyn.


Ailyn mengerutkan keningnya, "Aku tidak menerima perintah dari manusia sepertimu." Tegas Ailyn seraya mengusap tangannya yang tadi sempat di pegang oleh tangannya Chavire.


"Tapi bukannya ujung-ujungnya aku sedang di bawa untuk menemui Ratumu di tempatnya?" Cetus Chavire, membuat Ailyn kehilangan kata-katanya.

__ADS_1


Malas berdebat lagi, Ailyn pun melanjutkan perjalanannya untuk menuju Istana pohon yang letaknya di tengah hutan persis.


Seperti julukannya, Istana, maka tempatnya cukup luas, dan pohon besar yang di jadikan Istana itu cukuplah tinggi.


'Aku seperti berada di dimensi lain saja.' Pikir Chavire, melihat pemandangan yang luar biasa hebat, karena di tengah hutan bisa ada istana juga?


Akan tetapi semua pikiran itu tiba-tiba saja di usik dengan suara seseorang.


"Apa? Bukannya katamu ini untukku lagi kenapa tiba-tiba mau?"


'Kenapa suaranya cukup familiar?' Chavire jadi celingukan tidak jelas, karena dia sedang mencari-cari pemilik dari suara yang barusan dia dengar tadi.


"Aku memang mengatakan itu untukmu, tapi siapa yang bilang itu untukmu semua? Aku membuatmu memegang itu agar kau membelahnya jadi dua."


"Jadi maksudmu aku harus berbagi?"


"Aku lah yang sedang berbagi denganmu. Jangan banyak menyoal, potong atau belah itu jadi dua, separuh-separuh." Tuntutnya.


Dan suara berat seperti suara yang pernah Chavire dengar pun menjadi penuntut rasa penasarannya untuk mencari-cari keberadaan dari dua suara yang Chavire pikir belum lama ini dia juga sempat bericara dengan pemilik suara itu.


"Kau, aku kan menyuruhmu dibagi jadi dua, kenapa menatapnya seperti itu?"


Chavire yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa penasaran yang cukup mengganggu hatinya itu, akhirnya memisahkan diri dari Ailyn.


Ailyn yang menyadari Chavire tiba-tiba berjlan ke arah lain, segera pergi menyusul. "Hei, kau mau kemana, tempatnya itu bukan disana, tapi disana." Beber Ailyn.


"Aku ingin mengecek sesuatu." Balas Chavire singkat.


"Ini kan cantik, aku sudah pernah memotongnya jadi dua, itu cukup susah." Suara milik perempuan ini berhasil menyita perhatian Chavire. "Lihatlah ini, warna birunya cukup terang. Aku sangat menyukai ini, aku berikan yang punya milikku yang sudah aku potong saja ya."


"Tidak! Aku mengatakan itu ya tetap itu wanita. Apa kau tidak paham dengan ucapanku." Tunjuk ujung bulu ini tepat ke wajah seorang wanita.


Dan tidak berapa lama kemudian, Chavire membelalakkan matanya. 'Perempuan itu!'


Dua sejolin yang terus berbicara itu adalah Eldania dan Everst.


"Hish...kau ini burung, menuntut sekali sih." Ketus Eldania. Dia pun meletakkan sebuah bola berwarna biru navy tetapi di dalamnya itu kebetulan ada satu titik yang cukup terang, sehingga bola itu jadi terlihat seperti sebuah mata.


"Kan aku yang punya, potong itu untukku."


'Apa?! Burung itu teryata bisa berbicara?!' Semakin terkejutlah Chavire sebab bisa melihat kembali burung Elang itu ternyata bisa berbicara layaknya manusia juga. 'Pantas saja waktu itu dia terlihat memahami ucapannya, ternyata burung itu saja bisa berbicara.'


Namun yang paling menarik perhatiannya, tentu saja adalah bola yang sedang di pegang oleh Eldania itu.

__ADS_1


"Iya..iya, dasar burung cerewet.


__ADS_2