
DRAP…..DRAP….DRAP…..
Di padang rumput yang luas itu, puluhan kuda dari berbagai spesies dan warna, berlari dalam bentuk kelompok.
“Hyah….!” satu orang penunggang kuda terus mengejar sekumpulan kuda itu agar tidak membuat formasinya pecah sekaligus demi menghindari salah satu kuda yang kabur.
NGIK BRRR…
“Hyah..!” penunggang kuda ini terus mengendalikan kuda yang dia tunggangi untuk pergi ke sisi lain dari sekelompok kuda yang sudah berhasil dibentuk.
DRAP......DRAP…..DRAP….
“Hyah…!”
TOK….TAK….TOK…..TAK……
Selesai membimbing puluhan kuda itu untuk membentuk kelompok, pria ini segera pergi menuju satu pohon yang berdiri kokoh di tengah-tengah padang safana.
“Hah~ Panas sekali.” keluh pria ini setelah berhasil turun dari kuda berwarna hitam yang tadi dia naiki. “Tapi sebentar lagi, mereka harus kembali ke kandang.” ucapnya, dengan nada lirih sambil memperhatikan puluhan kuda yang sedang dia urusi sendirian itu.
“Kalau lelah, ya istirahat.” sampai satu suara sukses mengagetkannya.
“Ha?!” sontak pria ini langsung terkejut, sampai niatnya yang ingin duduk di bawah pohon, langsung segera dia urungkannya karena tiba-tiba seseorang muncul dari balik pohon. “Siapa ka-” kalimatnya menghilang selepas perempuan di depannya itu langsung menyela ucapannya.
“Siapa lagi kalau bukan aku. Orang yang waktu itu meminum air es dari gelasmu. Alstrelia.” jawab Alstrelia dengan sikap hormatnya kepada pria yang berprofesi sebagai seorang kesatria.
Hanya karena suasana hati sedang bagus, Alstrelia memberi salam paling sopan sekaligus sebuah pengingat atas pertemuan pertama mereka berdua.
Sadar siapa perempuan berpakaian aneh di depannya itu, kesatria ini buru-buru membungkuk hormat sekaligus meminta maaf. “M-maafkan saya yang tidak mengenal anda waktu itu.”
Alstrelia hanya meliriknya sekilas sambil menjawab. “Aku maklumkan, karena kau pasti kesatria baru kan?”
“Eh? I-itu benar. Saya belum lama ini baru masuk ke dalam pasukan kesatria Fisher, dan waktu itu kebetulan saya baru pertama kali bertemu dengan anda.” imbuh kesatria ini. 'Aku baru menyadarinya. Meskipun pakaiannya aneh seperti itu, dia tetap terlihat cantik dan terasa memiliki kesan seperti pemimpin.'
“Jangan menunduk seperti itu, angkat kepalamu.” perintah Alstrelia.
__ADS_1
“Iya.” langsung berdiri tegak kembali.
Sambil berjalan ke arah kesatria itu, Alstrelia kembali bertanya, “Siapa namamu?”
“Jolie.” jawabnya, sambil melirik ke arah Alstrelia yang berjalan melewatinya.
“Hm…” dalam posisi memunggungi kesatria bernama Jolie itu, Alstrelia sebenarnya sedang tersenyum lembut karena bisa mendengar nama yang unik untuk seorang nama dari laki-laki. “Baiklah Jolie, apa kau bisa mengajariku menunggang kuda ini?”
“Ya?” Jolie yang merasa pendengarannya bermasalah, jadi otomatis kembali mengkonfirmasi.
“Aku ingin menaiki kuda.” jawab Alstrelia lagi agar lebih jelas, kalau keinginannya saat ini kepada kesatria Jolie adalah menunggang kuda.
“T-tapi nona, itu ber-!” Jolie yang langsung kehilangan kata-katanya karena melihat Alstrelia sudah mulai berusaha naik ke kuda yang tadi Jolie gunakan, sontak membuat Jolie berlari. "Nona itu sangat berbahaya!" ucap Jolie mengingatkan Alstrelia dengan nada tegas.
"Apa ini? Naik kuda hanya seperti ini saja?" tanya Alstrelia, tidak memperdulikan peringatan Jolie yang tadi karena sudah berhasil naik kuda.
"Iya." Joie menatapnya dengan kepala penuh tanda tanya. 'Nona bilang mau diajarkan, tapi aku belum mengajarkannya naik kuda, sudah naik lebih dulu.'
"Lalu apa lagi?"
_________________________
Di dalam istana kekaisaran.
Pagi itu semua kepala keluarga dari Duke sampai baron, mereka semua berkumpul dan sudah duduk di depan meja makan yang memiliki meja cukup panjang, dan mampu menampung lebih dari 20 orang untuk setiap sisi kanan dan sisi kiri.
Meskipun setiap kursi sudah diatur untuk masing-masing kepala keluarga, disini Alrescha justru duduk di kursi dari deretan terakhir.
Walau begitu, tidak ada yang mengambil protes atas keinginan Alrescha yang ingin duduk berjauhan dengan yang mulia kaisar.
"Yang mulia mengenai kejadian yang semalam, anda harus segera menemukan dalang dibalik ledakan itu. Banyak korban te-"
"Ini meja makan, kalian duduk hanya untuk makan. Bukan membahas permasalahan yang sedang terjadi." sela pria muda awal 20 tahunan yang duduk ini kursi paling ujung. Dia adalah kaisar dari negeri Regalia.
Chavire Varius Von Argelia.
__ADS_1
Di Umurnya yang masih muda, dia sudah menjabat sebagai kaisar setelah kaisar yang sebelumnya meninggal karena usia, juga karena penyakit yang diderita.
Chavire belum lama dinobatkan sebagai kaisar karena prosedur untuk kenaikan pangkatnya sempat tertunda, apalagi ditambah setengah tahun yang lalu sempat adanya perang di perbatasan barat dengan negara tetangga.
Selain itu, Chavire dimata para bangsawan lain itu layaknya sebuah tunas yang baru tumbuh tapi sudah dipaksa menerjang badai.
Karena itulah masih banyak bangsawan yang merasa enggan kalau kaisar saat ini adalah Chavire sebab mereka menganggap kematian dari mendiang kaisar adalah karena dibunuh oleh Chavire.
Siapa yang tidak menganggapnya begitu, jika melihat tampan Chavire itu seperti pria bengis yang haus dengan darah juga kekuasaan, dan ditambah sorotan matanya yang tajam, seolah yang dia tatap adalah musuhnya sendiri.
“Sebelum kalian pulang, kita makan pagi lebih dulu. Karena barangkali ada yang tidak sabar ingin pulang, benar kan Duke Fisher?” Chavire hanya melirik Alrescha yang diam tanpa banyak bicara itu sedang menatap piringnya yang kosong.
“Kenapa anda berpikir seperti itu?”
Chavire mengangkat garpunya, kemudian dia memukul ujung garpu ke gelas wine miliknya, hingga sebuah dentingan langsung mengisi ruang makan.
TING!
KLEK.
Deretan pelayan membawa berbagai macam hidangan untuk kaisar serta para bnagsawan lain, segera masuk dengan barisan yang rapi.
“Hanya menebaknya saja, atau tebakanku benar? Alrescha.” Chavire hanya menatap Alrescha dengan tatapan ringan, karena pandangannya segera teralihkan dengan sarapan paginya. “Mungkin saja, kau khawatir dengan adikmu itu kan, jika ditinggal terlalu lama? Siapa namanya?”
Sayangnya Alrescha enggan untuk menjawab pertanyaan dari Chavire.
Karena itulah, salah satu diantara mereka langsung menjawabnya. “Namanya Alstrelia yang mulia.”
“Oh benar, ingatan Marques memang hebat. Jika kau tidak mengatakannya, aku memang tidak akan pernah mengingat adiknya yang berama Alstrelia.” meski Chavire menyunggingkan senyuman ramah, tapi tidak dengan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
Bagi Alrescha, Chavire seperti sedang membuat suatu rencana. Karena itulah, didalam ketenangan Alrescha yang memilih duduk diam itu, di balik telapak meja yang terbentang di meja makan, tangannya sudah mengepal dengan erat.
“.....................” Dia merasa tidak terima karena Chavire yang duduk di ujung meja makan, menyebut nama Alstrelia dengan mulut itu.
Kenapa?
__ADS_1
Karena 2 bulan yang lalu, saat Alstrelia ikut dalam pesta ulang tahun dari adiknya Chavire, Chavire membuat perkara dengan Alstrelia di depan umum, sampai membuat Alstrelia sudah merasa enggan dengan segala undangan yang diterimanya, karena Alstrelia sudah memiliki trauma besar terhadap Chavire.