Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
86 : Alstrelia


__ADS_3

Berusaha keras.


Mungkin itulah yang sering dikatakan oleh banyak orang agar bisa menggapai sesuatu yang diinginkannya.


Meskipun, hasil terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi?


Ya.


Dan jika gagal, maka itu adalah awal untuk membuatmu terus bangkit dan memulai semuanya dari awal lagi. 


Itulah kunci menuju kesuksesan.


                         ***


Sama halnya dengan Chavire. Ekspektasinya benar-benar melenceng sangat luas. 


Dia memang mengharapkan kepada wanita bernama Eldania itu membawanya pergi keKaisaran Regalia dengan cepat.


Tapi apa yang dikatakan cepat, jika cara tempuh untuk pergi ke Regalia adalah dengan menunggangi seekor burung?


‘Kenapa burung ini jadi sebesar ini?’ pikir Chavire, tercengang dengan situasinya saat ini. Dia mau tidak mau harus menahan diri agar tidak mabuk udara.


“Bagus kan?” 


Chavire melirik kearah Eldania yang saat ini sedang duduk di depannya persis. 


Sayup-sayup wajah Chavire hampir tersapu oleh rambut coklat milik Eldania. Dan dia sempat melihat mimik wajah dari wanita itu terlihat sangat senang saat menaiki burung peliharaannya sendiri.


“Jika naik seperti ini, kita akan sampai berapa lama?” akhirnya Chavire menanyakan pertanyaan yang dari tadi dia tahan.


“2 hari.”


“Apa kau tidak bisa menggunakan teleportasi?” 


“Aku bukanlah penyihir tulen yang seperti kau harapkan itu. Aku mampu mempelajarinya, tapi aku malas menggunakannya. Sihir teleportasi memakan ‘Mana’ yang lebih besar. Apa kau mau menanggung, jika ‘mana’ milikku terkuras banyak jika kita tiba-tiba muncul di tengah situasi yang genting?” terang Eldania.


GUK!


Mendengar anj**ng yang dibawa oleh Chavire itu menggonggong, Eldania segera merebut anj**ng itu dari tangan Chavire. 


GUK….GUK…


“Apa yang mau kau lakukan?” Chavire sedikit menahan hewan peliharaan itu daripada direbut oleh Eldania.


“Apa kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Dia sedang kelelahan,” Eldania menarik paksa anj**ng itu dengan lebih kuat. 


“Terus kau mau apa?” 


GUK!

__ADS_1


“Kau tidak perlu tahu, tapi aku tidak akan melakukan hal buruk pada peliharaanmu ini. Benar kan, Everst?” 


KWAKK…!


“Dengar, dia saja menyetujui ucapanku. Berikan saja dia padaku dulu.” sungut Eldania.


GUK...GUK…!


“.................” Chavire akhirnya kalah berdebat. Dia memberikan peliharaannya itu kepada Eldania.


Setelah memberikan anj**ng itu kepada Eldania, wanita itu pun memeluknya dan membawanya pergi ke depan.


‘Apa yang sebenarnya dia lakukan kepada anj**ing itu?’ Chavire yang diselimuti rasa penasaran pun sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. 


Eldania yang awalnya menunduk itu, tiba-tiba menoleh ke arah kiri, membuat wajah mereka berdua benar-benar sangat dekat.


Wajah Chavire yang sedang menatapnya dengan tatapan serius itu berhasil menarik pikiran Eldania kalau Chavire bukanlah anak-anak. Saat ini tampang Chavire benar-benar terlihat cukup dewasa. 


“Sayang sekali ya?” lirih Eldania kepada Chavire. Sorotan matanya Eldania melembut, dan menatap Chavire dengan tatapan seperti seseorang yang sedang melihat kekasihnya sendiri.


“Soal apa?” tanya balik Chavire masih menatap wajah Eldania.


“Aku tidak bisa memilikimu,” sahut Eldania. Manik matanya yang berwarna merah itu terus terpaku pada warna mata Chavire yang berwarna hitam. “Aku rasa kau membutuhkannya juga.” imbuh Eldania.


Sayangnya, Chavire sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapannya Eldania. Dia hanya mengerti dari sorotan matanya yang terlihat mengkhawatirkannya. 


Namun, apa yang sedang Eldania khawatirkan pada Chavire yang sama-sama orang asing?


‘Bagaimana bisa? Apa dia menenangkannya?’ matanya menangkap kembali tatapannya Eldania. Sekilas Chavire melihat tangan kiri Eldania terangkat dan mengusap pipi Chavire. ‘Aneh. Jelas dia hanya menyentuh wajahku, tapi kenapa rasanya hangat dan cukup nyaman?’


“Setelah ini tubuhmu akan kembali segar, kau dengar kan?”


Sayangnya karena saking nyamannya sentuhan yang Eldania berikan kepada wajahnya, membuat Chavire mendengarnya dengan samar, dan hanya mendehem pelan sebagai jawaban.


‘Apa ini salah satu dari sihirnya?’ pikir Chavire. Itu cukup nyaman, sampai Chavire rasanya saat itu juga dia ingin tertidur. 


“Setelah kita sampai, kau akan bekerja keras. Perlihatkan tekadmu padaku, Chavire Varius Von Argelia.” jawab Eldania kepada Chavire. 


Chavire yang mendengar hal itu, segera mengangguk setuju. “Aku akan memperlihatkanmu tekad yang aku katakan kepadamu.” sahut Chavire, masih menikmati kehangatan yang dia terima dari tangan yang menyentuh wajahnya itu. 


“Meskipun, kita berdua orang asing, kau tetap tidak akan pernah sendirian. Seseorang akan terus membawamu menuju jalan yang kau pilih, ingat itu,” usul Eldania. 


Setelah berkata seperti itu, tubuh Chavire akhirnya tumbang. Eldania langsung menahan tubuh pria itu sebelum terjatuh. Memperbaiki posisinya seakan itu adalah tubuh berharga. 


Ya..


Walaupun tubuhnya tidak berharga, tapi tidak dengan roh yang mendiami tubuh itu. 


“Everst, tambah kecepatanmu,” perintah Eldania.

__ADS_1


KWAKK…!


Dalam sekali kibaran, burung elang bernama Evarst itu pun semakin meningkatkan kecepatan terbangnya. 


Melewati kumpulan awan putih, Eldania segera disuguhkan deretan pasukan yang sedang berjalan ke arah yang sama, yaitu ke arah Selatan. 


Tempat dimana kekaisaran terbesar di benua, akan mengalami bahaya.


‘Mereka lebih banyak dari perkiraanku. Siapa orang yang mampu mengumpulkan pasukan sebanyak itu?’ Eldania menatap monster yang terlihat kerdil jika di lihat dari atas, tapi jika dilihat dari bawah, mereka adalah sosok yang cukup besar. 


_____________________


“Nona, hati-hati.” Sena memberikan peringatan kepada Arsela agar setiap langkah yang dipijak harus hati-hati. 


Mengingat lantai yang mereka pijak adalah lantai yang mendapatkan suhu lembab, maka tumbuhan seperti lumut sudah tumbuh dan menyebar ke segala sisi dari lorong itu. 


Harus memakan sampai 15 menit lamanya, agar mereka sampai di lantai paling ujung. 


Tapi apa yang ada di ujung adalah sebuah pintu dari besi, dan tanaman rambat sudah menutupi pintu itu. 


“Apa kau tahu bagaimana caranya membukanya?” tanya Arsela kepada Sena. 


“Beliau bilang, harus mengisi lingkaran pahatan ini dengan darah. Tapi syaratnya adalah darah keturunan bangsawan.” beritahu Sena. 


Sena berjongkok, lalu menyapu satu lembar lantai batu dengan tangannya. Setelah di bersihkan, terlihat adanya pola berbentuk lingkaran. Karena dibuat dengan cara di pahat, sudah pasti celah itu digunakan sebagai tempat menampung darah. 


Dan bangsawan?


Arsela adalah bangsawan, karena itulah dengan berani Arsela menyayat telapak tagannya sendiri dengan pisau belati yang dia bawa sebelumnya. 


“Arhh….” rintih Arsela. Rasa sakit itu langsung muncul tepat saat kulitnya itu, Arsela sayar dengan cukup panjang dan dalam, hingga darah segar mengalir deras dan mulai mengisi celah dari pahatan lantai batu itu.


Sena awalnya ingin mencegahnya, tetapi persyaratan untuk membuka pintu tu adalah darah bangsawan. Karena itu, Sena tidak bisa menggantikan derita dari Nona majikannya itu. 


“Sedikit lagi.”’ gumam Arsela, dia mengepalkan tangan kirinya, agar darahnya bisa keluar lagi dan memenuhi celah itu dengan sempurna.


“Nona, anda sudah kehilangan banyak darah. Jangan paksakan lagi.” Sena merasa khawatir melihat mimik wajah Arsela yang terlihat sangat kesakitan, tapi tetap berusaha ditahan agar tidak menangis?


Arsela tidak merasa ingin menangis, justru senyuman evilnya tiba-tiba keluar, karena kepalan tangan yang digunakan untuk memeras darahnya sendiri, darah itu di dalam celah itu benar-benar sudah terisi penuh. Yang artinya, pintu akan segera terbuka.


Tidak berselang lama, kedua pintu besi itu terbuka. 


“Nona! Anda berhasil!” ungkap Sena, merasa senang dengan keberhasilan Arsela atas pengorbanannya. Dan Sena buru-buru mengambil saputangan miliknya, dan segera membalut tangan Arsela yang terluka itu. 


‘Akhirnya, aku bisa mendapatkannya. Pedang Curtana,” Senyuman itu kian mengembang ketika kedua pintu itu sudah terbuka sepenuhnya, dan terlihat di balik pintu itu ada sebuah batu dengan pedang berwarna silver menancap di batu tersebut.


“Ayo masuk,” ajak Arsela kepada Sena.


Sena dengan wajah tak kalah senang, berjalan mengikuti majikannya itu masuk kedalam.

__ADS_1


‘Akhirnya, penantian panjang ini berakhir setelah aku menemukan pedang ini.’ batin Arsela, lalu menghampiri pedang yang menancap di batu itu. 


__ADS_2