Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
114 : Alstrelia : Malam kesenangan.


__ADS_3

Alstrelia dan Alrescha pun saling pandang satu sama lain. Mereka yang berdiri berhadapan, membuat mereka seakan sedang bercermin pada dirinya sendiri.


Tapi persetan wajahnya sama dengan laki-laki di depannya itu, Alstrelia yang sudah tidak tahan dengan Alrescha yang satu itu, tanpa ba..bi...bu lagi mereka berdua pun saling menodongkan pedang mereka berdua di wajah lawan mereka masing-masing.


Alstrelia yang mengarahkan ujung pedangnya kearah wajah Alrescha dan Alrescha yang menodongkan ujung pedangnya kearah wajah Alstrelia pula.


Kedua anak kembar ini itu pun akhirnya membuat satu pertarungan perdana mereka.


CTANG...!


Kedua pedang itu pun saling beradu satu sama lain.


*******


"Ah...Charles...sudah." Pinta Arsela kepada pria yang ada di belakangnya.


Wajahnya yang cantik itu kini sudah terhias rona pipi yang mengisyaratkan kalau Aresela benar-benar larut dalam kesenangan yang dia lakukan dengan pria yang dia anggap sebagai Cahrles.


"Ini masih permulaan. Kau lihat sendiri, batu kristal itu perlahan membesar saat kau mengeluarkan suara seksi itu." Sahut Charles, lalu membalas permintaan Arsela dengan sebuah kecupan manis di tengkuk Arsela.


Kecupan basah namun manis itu menyeruak masuk kedalam nuansa dairah dari mereka berdua untuk membuat satu hal yang lebih dari sekedar berciuman.


"Arsela, kenapa kau secantik ini?" Goda Charles sembari salah satu tangannya mencengkram waah Arsela untuk menoleh kebelakang, dan hal itu pun membuat mereka jadi saling menautkan bibir mereka satu sama lain.


CUP.


"Uhmm...." Sebuah ciuman, berlangsung cukup panas, hingga Arsela yang sudah mulai kehilangan kendali atas kedua kakinya yang kian gemetar sebab Charles melakukan hal lain di pangkal pahanya, membuat Arsela langsung bersandar ke belakang, tepatnya bersandar ke batu kristal berwarna ungu itu. 'Kalau Alrescha tahu, apa jadinya aku ini?' Pikir Arsela, tiba-tiba saja teringat dengan satu pria yang sudah menjadi tunangannya.


Tetapi karena Alrescha selalunya sibuk dengan urusannya sendiri, Arsela yang sekarang perlahan jadi kehausan akan sentuhan panas yang diberikan Charles kepadanya .


Dan untuk saat ini, sekalipun sudah mulai melakukan ketahap itu, dia masih belum bisa melihat masa lalu yang dimiliki oleh Charles itu.


Jadi apa yang bisa membuatnya dapat melihat masa lalu dari pria di depannya itu?


Itu adalah sebuah taruhan yang cukup besar, sebab roh kehidupan Charles sekarang masuk kedalam tubuh Kaisar, dengan kata lain jiwa milik Kaisar masuk kedalam tubuhnya Charles.


Tapi...


Arsela yang benar-benar penasaran dengan apa yang dimiliki oleh Charles yang dulu dia tinggalkan, mau tidak mau dia pun akhrinya menuntut pria itu untuk melakukannya lebih dari sekedar ciuman?


Ya...


Itulah yang saat ini Arsela inginkan, karena pada dasarnya, dirinya memang cinta Charles pada pandangan pertama. Meskipun sekarang sudah bertunangan dengan Alrescha, namun sayangnya perasaan itu pun ternyata tetap tidak bisa berubah.


"Charles," Panggil Arsela lirih namun suaranya yang di dengar oleh Charles, cukuplah menggoda.


Charles yang sudah melepaskan tautan dari ciuman yang dia buat pun akhirnya berkata : "Arsela, apa kau tahu? Wajahmu saat ini sudah mengisyaratkan sesuatu kepadaku." Bisik Charles tepat di depan wajah Arsela yang benar-benar sudah tersipu malu.


"Hmm...aku tahu." Balas Arsela, menatap mata hijau camrud itu dengan tatapan penuh menggoda.


Charles pun tersenyum miring, lalu dengan kebringasannya, dia yang sudah tidak tahan akan wanita cantik di depan matanya itu, dia akhirnya cepat-cepat melahapnya.


Tangan kiri Charles yang sudah menganggur itu segera meraih baju Arsela bagian depan dan sedikit melorotkannya, bibirnya kembali berciuman, dan tangan kanannya yang masih berulah di bawah sana, kini akhirnya benar-benar menyingkap gaun panjang Arsela sampai ke atas pinggang.


"Tenang saja, orang-orangku yang ada di depan sana akan mengurus semua gangguan." Kata Charles, kemudian dia pun melanjutkan kesenangan yang akan mereka berdua lakukan. Antara demi dirinya sendiri, maupun demi sesuatu yang terus saja dipersiapkannya.


"Hm...." Dehem Arsela, akan menerima apa yang akan Charles lakukan kepadanya.


"Kalau begitu kita lakukan," Ucap Charles, dengan semangat yang dari tadi dia tahan itu, Charles pun akan memberikan kesenangan untuk Arsela.


SRUKK...


Charles melempar baju kebesarannya, dan menyisakan kemeja putih yang masih melekat di tubuhnya, sedangkan Arsela, dia hanya perlu diam di tempat.


Lalu dalam langkah cepat mereka, Charles pun melakukan hal yang disukai oleh banyak orang jika sudah merujuk pada satu hal yang namanya hubungan.


"Kau santai saja dan keluarkan suara indahmu itu untukku seorang." Pinta Charles sebelum akhirnya dia yang sedari awal sudah menahan satu-satunya harta berharganya, barakhir dengan menyatukan miliknya kedalam area milik Arsela dalam sekali percobaan hingga..


"Ahh~" Desah*n akan lenguhan yang keluar dari mulut Arsela saat itu, seketika membuat ruangan yang awalnya kosong dan berisi batu satu batu kristal besar berwarna ungu, kini muncul di beberapa sudut ruangan.


"Suaramu cukup nakal, Arsela." Seringai Charles dengan senyuman penuh kemenangan, sebab akhrnya dia mampu mendapatkan kembali tubuh Arsela dengan mudah dan akan menajdi miliknya seutuhnya, sedangkan di sisi lain, batu kristal yang tumbuh di beberapa sudut ruangan itu pun semakin menambah kesan keindahan untuk membuat mereka masuk semakin dalam untuk mendapatkan sebuah kemenangan, lebih dan lebih.

__ADS_1


PHAK.


"Ahh.....~" lenguhan tak jelas itu semakin gencar di dalam ruangan tersebut.


********


Di sisi lain.


"Ukh..." Chavire yang saat itu tengah berjalan menyusuri lorong di Istananya, tiba-tiba dibuat berhenti. Dengan wajah penuh peluh akan keringat, Chavire tersenyum hambar. Dia benar-benar berada disituasi yang cukup tersiksa, sebab adrenalin kelakiannya jadi bangkit. "Apa-apaan ini? Dia menggunakan tubuhku untuk melampiaskan naf*u? Manusia rendahan, awas saja kalau aku menemukanmu, aku akan membuatmu menderita di atas kesenangan yang kau buat sendiri sampai mati." Kutuk Chavire dengan segala sumpah serapah.


Tapi untung saja dia punya ketahanan sendiri untuk tidak terhanyut dalam perasaan nikmat itu?


Chavire sendiri sudah tidak tahu lagi.


Itu cukup nikmat. Hanya saja Chavire sedikit bersyukur juga, karena dia bisa tahu rasa itu tnpa perlu bersusah payah berhadapan dengan wanita.


Dan ditengah-tengah dirinya sedang berpikir untuk mencerna situasi akan tubuhnya yang tiba-tiba mendapatkan stimulasi cukup banyak, hingga secara tiba-tiba ekspresi wajah Chavire berubah menjadi 180 derajat lalu mendelik tajam ke arah kanan dan kiri.


"Keluar kalian." Perintah Chavire dengan nada dingin.


Namun, dia tidak mendapakan respon. Padahal Chavire sendiri tahu kalau disekitarnya beberapa orang sedang mengawasinya dan siap untuk menyerangnya.


"Sayang sekali, jika tidak mau keluar sendiri, biarkan aku paksa kalian keluar." Setelah berkata demikian, sepasang mata Chavire pun bersinar. Dan segala senjata yang terjejer sebagai hiasan di dalam koridor itu, tiba-tiba langsung terbang keluar dari tempatnya.


Dalam sekejap mata, tanpa melakukan hal apapun yang membuat Chavire harus bergerak, dia langsung menyerang semua musuh yang sedang bersembunyi itu dengan semua senjata yang sudah dia kendalikan dengan kekuatan miliknya.


SYUHT.... --------> ----------->


--------> -------> -------->


Suara dari kedua senjata besi yang saling beradu segera memecah keheningan.


CTANG.....


CTANG....


".............!" Seorang pria berpakaian pelayan yang datang dari atas pilar, lagsung turun dengan satu pedang sudah siap untuk menikam pria itu.


JLEBB.....


Darah kematian yang berasal dari satu pelayan itu langsung menghujani marmer berwarna putih bersih itu. Dan sebelum darah yang Chavire pikir itu adalah darah kotor itu mendarat di tubuhnya pula, dalam dua gerakan kecil itu, dia berhasil menghindari kotoran itu.


BRUKK....


Tubuh dari satu orang pelayan yang masuk dalam kelompok pemberontak itu pun langsung mati dan terjatuh dalam kondisi tubuhnya sudah ditusuk layaknya tusuk sate.


"Jika saja kau tadi keluar saat aku mengatakan keluar, kau tidak akan mati seperti itu." Gumam Chavire dalam sebuah ejekan.


CTANG....


Datang lagi satu orang yang hendak menyerangnya dari samping kanannya. Tapi seperti yang sudah Chavire ketahui, dia mampu menangkis serangan itu dengan pedang yang sudah datang melindungi Tuannya itu.


"Kalian meremehkanku?" Kata chavire. Setelahnya, Chavire pun mengarahkan semua senjatanya kearah orang-orang yag hendak menyerangnya dalam sekali percobaan.


SYUHT....


CTANG...


Tidak ada satu pun yang akan lolos dari wilayahnya sendiri, karena itulah Chavire pun mengerahkan segenap kekuatannya untuk membasmi para sampah itu.


JLEB...


Segala suara daging yang di tusuk, kembali muncul. Namun disaat yang sama pula..


SRAT....


Satu serangan yang berasal dari titik buta, berhasil melukai lengan kekar sebelah kanan Chavire. Baju yang dipakainya sempat robek, dan meninggalkan luka yang saat ini sudah mulai mengeluarkan darah.


Tapi serangan apakah itu?


DEG!

__ADS_1


"Ukh..." Chavire tiba-tiba merasakan sakit di jantungnya, membuat dia langsung mencengkram kuat baju di bagian dadanya, dan sempat hampir jatuh terhuyung ke belakang, tapi dia buru-buru mengkondisikannya agar tidak jatuh. 'Apa ini? Aku tidak merasakan kehadiran seseorang, tapi darimana asal serangan tadi?' Pikir Chavire sambil melihat kearah bekas dari luka yang dia dapati.'


Chavire mengernyitkan matanya saat tubuhnya benar-benar jadi merasa lemas tak berdaya, hingga seluruh senjata yang awalnya bisa dia kendalikan itu, langsung terjatuh ke lantai..


KLANGG...


*********


CTANG....


Lagi-lagi pertarungan terjadi di area Balroom. Petemuan antara satu senjata dengan senjata lain terjalin di dalam tarian kematian mereka semua.


Mereka semua?


Benar sekali.


Apa yang coba 40 orang itu lawan adalah untuk menyerang kedua bocah kembar itu.


CTANG...!


Itu adalah sebuah keputusan bodoh, karena yang mereka semua lawan adalah dua orang beda jenis, beda sifat, beda pikiran, dan punya tempat tinggal beda dimensi, sekaligus dua sosok yang memiliki status mereka sendiri-sendiri.


Semua pertemuan itu membawa mereka berdua untuk saling bekerja sama dalam satu urusan yang belum kelar, tapi datang satu masalah besar yang membuat mereka mau tidak mau terpaksa melakukan hal remeh untuk menyingkirkan segala bahaya yang mendatanginya.


CTANG.


"Jangan-jangan kalian semua berasal dari kelompok itu." Kata Alstrelia di tengah pertarungannya.


Tapi lagi-lagi musuh yang mereka hadapi lebih suka membisu ketimbang mengeluarkan jawaban mereka. Yang artinya, mereka semua tahu akan kosekuensi yang mereka dapatkan jika tidak menjawab pertanyaan yang Alstrelia tanyakan.


"Itu sudah pasti. Di pergelangan tangannya, mereka punya tato yang sama." Akhirnya Alrescha pula yang menjawab pertanyaan Alstrelia barusan.


"Aku tidak bertanya kepadamu." Celetuk Alstrelia.


SYAHT...


Dalam sekali ayunan, dia berhasil membunuh dua orang pelayan itu. Setelahnya, dia melompat mundur.


Alrescha pula, demi menghindari serangan yang mengarah kepada kedua kakinya, Alrescha pun melompat mundur sampai punggung mereka berdua saling bertubrukan satu sama lain.


"Membuang waktu saja." Decih Alstrelia, merasa bosan karena harus bertarung dengan manusia yang tingkat pertarungannya cukuplah rendah.


"...................." Alrescha yang mendengar keluhan itu segera mengarahkan ujung pedangnya ke lantai.


TAK.


Selepas itu, suhu yang dingin itu kembali datang dan perlahan langsung membekukan tubuh mereka semua.


Melihat Alrescha lagi-lagi membuat keringanan dengan cara seperti itu, Alstrelia secara tidak sungkan langsung melompat, dimana saat berada di atas, dia segera memutar tubuhnya 360 derajat. Disamping tangan kanannya yang saat ini memegang pedang, dia ayunkan juga.


Kilatan dari hembusan angin yang tercipat itu pun langsung membuat mereka semua langsung terbantai.


SHRAAKK......


Sampai kibaran dari rambut hitam panjang milik Alstrelia itu sepintas membuat Alrescha jadi terus memperhatikannya.


TAP.


Keberhasilan Alstrelia dalam membantai mereka semua, menciptakan cipratan darah dari tubuh mereka membentuk sebuah pola spiral.


"...........!" Merasakan kehadiran dari sesuatu yang amat sangat cepat sedang menuju kearah Alstrelia, Alrescha langsung menendang pantat Alstrelia dengan keras.


BUKH...


"Alrescha!" Panggil Alstrelia karena tiba-tiba pantatnya di tendang oleh Alrescha. "Kau mesum ya?" Celetuk Alstrelia.


"............!" Seketika sepasang mata Alrescha membulat sempurna.


Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya, dia punya julukan sebagai mesum?


Tapi apa daya, dia harus melakukannya demi sesuatu yang tiba-tiba datang dan hendak menyerang perempuan itu. Jadi entah kenapa, di dalam diri Alrescha pun, tidak memiliki satu masalahpun saat Alstrelia ini memanggilnya sebagai mesum.

__ADS_1


__ADS_2