Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
139 : Alstrelia : Karena Vera


__ADS_3

DHUARR...


Ledakan yang cukup besar itu menajdi tontonan tersendiri untuk semua orang. Dimana salah satu menara istana tertinggi yang berd idengan megah itu seketika langsung rusak berat setelah mendaoatkan serangan fatal akibat dari kilatan cahaya yang tadi bersinar dari tempat itu.


"Cahaya apa itu tadi?" Tanya Lena kepada Elbert.


Selepas dirinya mampu mengalahkan Gamelo kembarannya tadi, dan setelah seluruh musuh yang mereka hadapi sudah di bantai habis oleh burung Galshad Es tadi, semua orang pun akhirnya bisa bernafas lega karena burung Galshad tadi adalah burung peliharaan milik dari Alrescha yang selama ini tertidur.


Dan apa alasan di bali burung Galshad itu tiba-tiba bangkit, Elbert yang merupakan wakil komandan pasukan Fisher sekaligus tangan kanan dari Alrescha pun tidak tahu persis apa yang terjadi.


Yang Elbert pikirkan beberapa waktu tadi saat burung Galshad itu muncul adalah, kalau Tuan muda nya itu sedang di selimuti kemarahan yang besar.


Hanya itu yang bisa Elbert tebak atas bangkitnya burung Glashad yang merupakan kekuatan terpendam dari diri Alrescha yang sudah bertahun-tahun tertidur sekaligus Alrescha tekan agar tidak bangkit, sebab setiap bangkit, burung Galsad itu akan membuat kerusakan yang cukup parah, dan Alrescha sendiri masih belum begitu mampu mengendalikannya.


Tapi apa yang terjadi di malam ini menandakan kalau Tuan mudanya mampu mengendalikan makhluk itu dengan cukup baik, sampai seluruh Gamelo yang begitu merepotkan mereka semua, akhirnya bisa di tangani dengan cepat.


Tapi yang terjadi beberapa saat tadi itu apa?


Cahaya apakah yang tadi muncul dari menara Istana itu?


Itulah yang di tanyakan Lena kepadanya.


Lena yang tidak mendapatkan sahutan dari Elbert sama sekali, membuatnya terpaksa untuk menoleh ke arah wajah dari satu kesatra berpangkat wakil komandan Fisher itu.


"SIr?" Panggil Lena sambil menarik ssi dari jubah biru yang Elbert pakai.


Elbert pun menoleh kearah Lena dan menjawab, : "Cahaya tadi adalah kekuatan milik Yang mulia Kaisar. Cahaya Dewa Venus."


'Cahaya Dewa Venus?' Ucap Lena dalm hatinya. Disebabkan Lena kurang tahu pasal dewa ataupun agama serta mitologi, Lena hanya mencoba memahaminya bahwa kekuatan tadi memang benar-benar kuat, dan apa yang dihasilkan oleh sihir milik Yang mulia Kaisar itu mampu mengahncurkan dinding besar kota sampai roboh, padahal jaraknya lebih dari tujuh belas kilometer.


Dan dikarenakan adanya dinding pelindung yang menyelimuti kota, maka serangan dari cahaya tadi pun tidak keluar dari kota. Itu juga berkat dari leluhur Vera yang membuat dinding pembatas, agar seluruh serangan dari luar maupun dari dalam bisa di halau.


Tapi akibat cahaya tadi itu berhasil mengenai dinding transparan yang dibuat oleh Vera, maka efek sampingnya juga mengenai Vera juga, sampai Vera secara otomatis memuntahkan darah.

__ADS_1


__________


"Uhukk....awas saja kau, aku akan minta imbalan lebih," Gerutu Vera. Dia beralih posisi untuk duduk, tapi dia tetap berada di tengah lingkaran sihirnya.


Namun kali ini tentu saja ada yang berbeda, dan itu sekarang dirinya tidak sendirian lagi. Sebab, di depan sana, Vera sudah di temani dua orang yang terlihat kebingungan itu.


"Kenapa kita disini?" Tanya Arsela dengan wajah bingung.


Charles sendiri juga tidak tahu. Tapi suara yang tiba-tiba muncul itu berhasil menarik perhatiannya.


"Halo kakak?"


Suara milik Vera benar-benar sukses membuat kedua orang itu menoleh ke arahnya.


Setelah menyeka darah yang sempat menodai bibirnya, Vera pun melirik kearah Arsela dengan wajahnya yang terlihat bingung juga.


"Apakah wanita itu kekasih baru kakak?" Tanya Vera.


'Aku pikir dia hanya anak perempuan biasa. Ternyata dia bisa mengaktifkan lingkaran sihir? Tunggu, lingkaran sihir itu....' Charles semakin mengeryitkan matanya saat melihat perempuan yang sedang duduk di tengah-tegah pola lingkaran sihir yang aktif itu membuat wajah polosnya seolah tidak tahu apa-apa.


Reva, atau sekarang sedang menjelma mnejadi Vera.


Charles tidak tahu sama sekali tentang nama Vera, makannya dia masih mengira kalau perempuan yang ada di depannya itu adalah Reva.


'Berarti jangan-jangan alasan aku bisa pindah ke kamar ini, juga karena dia?' Ekspresi Charles yang awalnya serius itu pun berubah menjadi wajah senang?


Lebih tepatnya dia sedang tergelak dengan situasi miliknya yang ternyata juga bisa dikendalikan oleh perempuan yang Charles pikir tidak bisa melakukan apapun itu.


"Dia siapa?" Tanya Arsela kepaa Charles lewat kemampuan telepatinya.


"Dia..adik tirinya Chavire." Balas Charles dengan senyuman liciknya.


"Ada apa kakak? Kenapa mentapku seperti itu?" Vera lagi-lagi bertanya dengan ekspresi polosnya.

__ADS_1


"Ternyata penampilanmu dengan gaun merah itu bisa membuatmu bertambah cantik ya?" Puji Charles, berjalan mendekati Vera yang masih terduduk di lantai.


"Ah~ Begitu ya?" Sahut Vera dengan wajah malu, sampai dia menunduk sambil melihat pakaian yang sedang di kenakannya itu. 'Warna merah? Padahal ini warna dari darah seperti milik kalian, para manusia. Begitu menyukai warna yang seperti ini ya?'


Bagi kebanyakan laki-laki, warna merah memperlihatkan kesan yang berani. Dan Charles kali ini pun melihat hal yang sama pada Vera.


'Apa yang akan dia lakukan?' Arsela menatap Vera dan Charles secara bergantian. Tetapi yang menjadi sorotan utamanya saat ini tentu saja adalah Vera.


Selama ini Arsela hanya mendengar namanya saja, Reva atau putri mahkota Kekaisaran Regalia yang tidak pernah terlihat di muka umum itu akhirnya saat ini Arsela mendapatkan kesempatan itu untuk melihat Putri itu secara langsung.


Jujur saja Arsela melihat wanita itu cukup cantik, dan bahkan tidak kalah cantik dengan Alstrelia. Tetapi yang namanya wanita, tetap saja memiliki perasaan untuk tersaingi.


Oleh sebab itu, ketika Charles saat ini berjalan mendekati Vera dengan tatapan yang lembut itu, tentu saja Arsela merasa kesal. Karena Charles bisa melakukannya di depannya seperti itu, sampai membuat bumbu pujian pada adik tirinya Chavire itu.


"Reva, kenapa duduk di lantai? Kan dingin?" Charles memperlakukan adik tirinya Chavire itu seperti anak kecil.


Faktanya, Reva memang sedikit pendiam, seluruh pelayan pun tahu dan karena itu Charles pun mengira kalau Reva itu adalah anak manja yang bodoh, karena selama ini selalu mendengar ucapannya.


Tapi semua itu sebenarnya hanya kedok milik Reva, agar dirinya tidak terlihat menonjol di mata pria ini. Dan apalagi yang saat ini ada di dalam tubuh Reva adalah Vera, karena itu, saat dia mendengar kata-kata yang cukup kekanakan itu, Vera pun berdecit kesal.


'Tch...dia pikir aku wanita kolot apa?' Cibir Vera di dalam benak hatinya. Tapi demi perannya yang harus terlihat seperti wanita bodoh, maka mau tidak mau Vera menanggapi ucapannya. "Kan hanya disini tempat Reva tinggal." Sahutnnya.


"Tapi disini sudah berbahaya, apa kau mau pergi denganku?" Mengulurkan tangannya ke depan Vera.


".................." Vera menatapnya dengan wajah ragu. "Pergi kemana?"


"Karena kita keluarga kerajaan, kita harus pergi ke tempat yang aman."


"Tapi bagaimana dengan semua orang?" Ujung jarinya hampir menyentuh telapak tangan Charles, tapi Vera tarik kembali. "Kita sebagai keluarga kerajaan, bukannya harusnya melindungi mereka semua."


GRREP...


Melihat Vera menarik kembali tangannya, Charles langsung menggapai tangan itu lalu menariknya keluar dari lingkaran sihir, dan kemudian dia memeluknya, lalu..

__ADS_1


JLEBB....


__ADS_2