
Kedua belati milik Arsene yang tiba-tiba terbang mengarah ke Gamelo itu pun langsung menusuk sampai menembus tubuhnya.
JLEB.....
"..............!" Gamelo itu seketika tewas, dan burung bayang yang hendak dia ciptakan itu langsung musnah bersamaan dengan tubuh Gamelo itu sendiri.
SRRINGG......
KWAKKK....!
Ternyata saat Arsene menatap ke depan, rupanya tidak hanya kedua senjata miliknya saja yang tiba-tiba terbang sendiri, karena deretan dari segala senjata yang ada di penjuru kota ternyata sama-sama sudah bejejer menghiasi langit kota bersama dengan burung Galshad yang besar itu.
Tidak dapat di pungkiri, bahwa burung Galshad itu seolah sedang bersiap untuk melancarkan serangannya kepada musuhnya.
Tapi yang menjadi pertanyaan bagi Arsene sendiri adalah siapakah yang menjadi target dari Galshad itu?
Burung Galshad Es itu terbang di angkasa bersamaan dengan seluruh senjata dari berbagai jenis. Layaknya prajurit yang akan menyerang musuhnya lebih dulu sebelum kekuatan utama mereka, maka itulah peran yang terjadi pada makhluk dan semua senjata itu.
KWAKKK...!
Teriakan ari burung es itu pun langsung menjadi pertanda untuk mereka semua bahwa...
SYUHTTT... ------> -------->
Galshad memulai perannya untuk membantai semua musuhnya dalam sekali serang.
______________
Ketika di luar Istana semua urusan serangan untuk memukul mundur para Gamelo itu sedang berlangsung, maka sama halnya dengan mereka yang ada di luar, di dalam Istana, lebih tepatnya dimana seluruh karakter dalam novel itu sedang berkumpul menjadi satu, bahkan termasuk salah satu Gamelo yang menjadi perkara atas semua yang terjadi, sebab sudah membunuh Alstrelia, mereka pun sudah bersiap pada posisinya masing-masing?
"Ha...apakah kalian pikir membalaskan dendam orang yang sudah mati itu bisa memuaskan rasa kehilangan kalian?" Tanya Gamelo yang sudah membunuh Alstrelia itu dengan nada yang cukup menyindir.
Ya...dia menyindir kedua pria yang ada di depan sana, sebab karena satu perempuan saja, mereka berdua saat ini akhirnya mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam dirinya itu.
Kekuatan asli mereka yang tidak pernah mereka pakai.
KWAKK.....
__ADS_1
Suara dari burung Galshad milik Alrescha pun kembali terdengar. Dan itu terdengar lebih dekat dari sebelumnya, karena....
BRAKHH......
Atap yang semula masih utuh itu langsung hancur setelah burung Galshad itu menabrakkan tubuhnya sendiri demi menhancurkan atap dari tempat tersebut.
Dan dari situlah, mereka semua langsung melihat bahwa yang ada di langit itu bukan hanya burung Glashad itu, tapi juga seluruh pasukan dari senjata yang dikendalikan oleh Chavire pun sudah bersiap untuk melakukan pekerjannya, yaitu...
"Kau..membunuh Alstrelia?" Tanya Chavire dengan nada yang cukup rendah.
Bahkan dari situ saja Gamelo, Arsela, dan Charles pun dapat mengerti akan nada yang dipenuhi dengan kemarahan yang masih tertahan itu, sebentar lagi akan keluar bersamaan dengan seluruh senjata yang sudah siap menuntun mereka semua masuk kedalam jurang kematian.
"Hahaha...kalau iya kenapa? Kan enak, kalau dia mati, maka aku bisa mengantikan posisinya." Ejek Gamelo ini atas pertanyaan Chavire.
Namun tepat di saat itu juga, Alrescha pun sama-sama terprovokasi itu langsung menyela ucapannya di detik itu juga, "Yang benar saja, Alstrelia tetaplah Alstrelia, kau tidak pantas menggantikan posisinya!" Kata Alrescha dengan tangan kanan, dia rentangkan ke depan.
Lalu di saat yang bersamaan pula, Chavire pun menyusul ucapan Alrescha dengan kemarahan yang akhirnya keluar juga, "Kalau begitu, kau pantas untuk menyusulnya!" Imbuh Chavire dengan nada tinggi. Dan di saat itu pula Chavire mengarahkan pedang miliknya ke depan.
Sampai akhirnya, mereka semua...
KWAKK....
Burung Galshad itu mengepakkan sepasang sayapnya yang besar itu ke arah mereka semua. Dalam sekejap mata, suhu di sekitar mereka langsung turun drastis, lalu tidak sampai di situ saja, karena yang dilakukan oleh burung Galshad itu juga adalah melepaskan seluruh bulu yang pada kenyataannya adalah bulu yang terbuat dari es.
Maka dari itulah, seluruh serpihan es yang panjang serta tajam itu segera menghujani musuh Alrescha dan Chavire, dan apa yang Chavire lakukan juga sama-sama menyerang mereka dengan seluruh senjata yang dia kendalikan.
'Coba kita lihat mana yang lebih keras. Apakah es batu, besi, melawan kristal ini?' Karena keadaan yang begitu darurat itu, Charles pun kembali memasukkan tangan kanannya kedalam salah satu bongkahan batu kristal yang ada di sampingnya.
Arsela yang awalnya hendak menyerang untuk menghadapi serangan dari mereka berdua, langsung Arsela urungkan karean melihat Charles lebih dulu maju.
KRAKK....
Seluruh bongkahan batu kristal itu retak dan menciptakan pecahan berbentuk seperti jarum. Dengan bentuk seperti itu, Charles langsung mengendalikan pecahan kristal itu untuk melawan seluruh serangan dari kedua orang itu.
Hasilnya, batu kristal itu pun adu tanding dengan es batu yang merupakan bulu dari burung Galshad itu sekaligus sama-sama menghantam seluruh senjata yang dikendalikan oleh Chavire.
Hingga akirnya suara keras itu berhasil mengisi suasana tegang yang terjadi di antara mereka semua.
__ADS_1
Serpihan dari semua hantaman kristal yang terjadi atas serangan yang dibuat oleh dua laki-laki terhadap serangan milik Charles, lagi-lagi menghujani mereka.
Memang terlihat cantik, tetapi itu semua adalah awal mula dari seluruh cerita yang akan mereka buat khusus untuk malam itu.
Chavire dan Alrescha yang tidak puas dengan hasil yang ada, kembali menyerang mereka, dan dalam kasus itu pula, mereka pun mengganti strategi bertarungnya.
Dan strategi barunya, tentu saja adalah dengan menyerang pembunuh Alstrelia secara langsung!
DRAP....!
CTANG....!
Galshad terus menerus melakukan serangannya sampai membuat Cahvire kewalahan.
Sedangkan Arsela yang tadinya diam, memilih untuk melawan senjata yang mampu di kenalikan oleh Chavire itu dengan serangan miliknya.
Kalau begitu bagaiman dengan kedua Gamelo yang tersisa itu?
Mereka berdua di urus langsung oleh Chavire dan Alrescha.
"Begitu ya?" Gumam Gamelo yang menjadi pembunuh atas diri Alstrelia yang saat ini masih tergeletak.
Gamelo itu pun melirik pada satu pedang yang saat ini masih di pegang oleh mayat Alstrelia, setelah dirasa dia membutuhkan pedang itu juga, maka dia pun mengambilnya, sekaligus mengambil kembali pedang miliknya yang masih tertancap di perut Alstrelia.
Dengan gerakan yang cukup kasar, darah dari perut yang awalnya sudah Alrescha bekukan jadi kembali mengalir.
Dan hal tersebut pun membuat Chavire dan Alrescha berhasil menuai kemarahan yang lebih besar lagi!
"Ayo kita lawan mereka berdua," Perintah Gamelo ini kepada rekannya itu.
"Kelihatannya ini akan semakin seru." Sahut Gamelo ini.
Dengan demikian, mereka berdua pun bersiap dengan pertempuran yang sesungguhnya.
Pertarungan yang awalnya digunakan untuk melindungi atas nama Kekaisaran Regalia itu pun berakhir dengan pertarungan atas dasar dedam pribadi.
Dendam dari dua orang yang sama-sama menyukai Alstrelia. Namun Alstrelia sendiri saat ini sudah berhasil dia kalahkan, yang mana secara otomatis, dia akan menjadi pengganti dari posisi Alstrelia palsu itu.
__ADS_1