
Sang Darayad mengakhiri ciumannya di dahi Chavire, dan melihat dengan mata kepalanya sendiri dimana mereka akhirnya bisa melihat sosok asli dari Chavire ini.
"Ailyn, apakah kau masih ingat dengan apa yang pernah aku certakan kepadamu soral Kaisar dari Kekaisaran terbesar di benua?"
"Maksud anda Kaisar Regalia yang songong berlagak sok ganteng itu?"
JDERR...
Chavire tetap terdiam mendengar sindiran yang dia dengar langsung dari mulutnya Ailyn ini.
Darayad sendiri hanya tersenyum lemah, karena dia tidak bisa merubah kepribadian adiknya, Ailyn untuk tidak berkata kasar seperti itu.
"Ya, benar. Kaisar tampan yang pernah aku ceritakan itu. Manusia yang kau anggap penyusup di depanmu ini adalah Kaisar itu sendiri Ailyn." Beritahu Darayad kepada Ailyn yang sontak langsung mundur satu langkah ke belakang dengan wajah tercengang.
"A-apa? Laki-laki ini Kaisar itu? Kenapa? Maksudku kenapa manusia ini ada di wilayah kita?" Tanya Ailyn, masih belum bisa mengatur cara bicaranya sendiri di depan orang terhormat seperti Chavire.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Ailyn, Darayad menarik lengan Chavire untuk berdiri. "Berdirilah, dan jawab rasa penasaran dari adikku yang tidak sopan ini. Dan mohon maafkan atas kelancangannya itu.
"Baik." Chavire berdehem sebagai awal pembukaan atas penampilan miliknya yang lama, dimana dia tahu kalau penampilannya itu tidak akan bertahan lama. "Apakah aku harus memperkenalkan diri lagi? Tidak masalah juga, jadi aku akan memperkenalkan diriku lagi."
Chavire berjalan mundur dua langkah ke belakang. Dia berdiri dan kemudia membungkukkan tubuhnya ke depan dengan tangan kiri dia letakkan di depan perutnya sedangkan tangan kananya sedikit di rentangkan ke samping kanannya.
Setelah itu, Chavire akhirnya mengucapkan kalimat salam atas perkenalan dirinya itu kepada mereka berdua? Tidak, tapi kepada mereka bertiga, karena Pici juga termasuk yang harus diberikan salam perkenalan dirinya.
"Perkenalkan, saya Chavire, Kaisar muda dari Kekaisaran Regalia." Ucap Chavire.
"Yah, memang cukup muda, bahkan kelihatannya seumuran denganku." Ungkap Ailyn.
Darayad yang sedikit kesal dengan tingkah adiknya yang masih saja tidak sopan kepada manusia yang ada di depan mereka berdua, langsung memberikan sebuah senttilan.
CTAK..
"Ahw..."Ailyn pun merintih sakit dengan dahi yang baru saja di sentak dengan sebuah sentilan yang terlihat pelan tapi sebenarnya cukup keras, hingga membekas di dahinya itu.
"Aku akan menganggap itu sebagai pujian." Balas Chavire.
"Pi..pi..pi!" Panggil Pici, sambil mengulurkan tangannya ke arah Chavire agar kembali di gendong.
Tapi melihat kode mata dari Darayad kepada Ailyn itu adalah kode untuk memberikna merkea berdua waktu bicara berdua, maka Ailyn pun membawa pergi Pici yang ingin di gendong lagi oleh Chavire.
"Pii...!" Teriak Pici dengan kesedihan harus berpisah dengan manusia yang bari di temuinya itu.
KLEK.
Tepat setelah pintu itu tertutup, Darayad dan Chavire pun berdiri dan saling menatap satu sama lain dalam arti yang cukup lebih dalam.
"Mari duduk dulu." Tawar Darayad kepada Chavire.
Lalu Darayad mengangkat tangan kananya, dan sebuah cahaya hijau berwarna lembut itu pun muncul di ujung tangannya. Tidak lama kemudian sebuah kursi yang terbuat dari kayu tapi sudah di modifikasi khusus layaknya kursi pada umumnya langsung muncul bersamaan dengan meja bundar dengan corak khas dari kayu asli.
"Terima kasih." Balasnya.
__ADS_1
Sang Darayad pun ikutan duduk, dan memunculkan tumbuhan dengan bunga besar berwarna pink tepat di samping mereka. Dimana bunga besar yang masih menguncup itu bergerak ke arah atas meja. Setelahnya bunga itu mekar dengan cukup lebar, hingga meja yang awalnya kosong, sekarang sudah terhidang sebuah teko kecil bersamaan dengan cangkir berwarna hijau.
"Minum itu dulu." Perintah Darayad kepada Chavire, agar segera minum teh yang baru saja di sajikan oleh bunga tadi. Dimana bunga tadi sudah menghilang begitu saja, memberikan kesempatan untuk mereka berdua kembali dalam keheningan dan mencari kalimat awal yang harus di katakan antara mereka berdua.
"Baik Yang mulia." Chavire dengan menurut meminum teh yang baru saja di sajikan itu. 'Ah~ Rasanya, ada roma bunga-bungaan. Ini termasuk enak.' Karena ketagihan, Chavire jadinya menghabiskan teh itu dalam beberapa teguk saja.
"Sebenarnya aku sudah tahu apa tujuanmu datang kesini karena menginginkan batu mana ya, kan?" Tanya Darayad, mengawali percakapan di antara mereka berdua.
"Iya, anda benar sekali."
"Kalau begitu, aku ingin mendengarnya langsung darimu, apa alasan yang membuatmu ingin mendapatkan batu mana milkku." Ucap Darayad sekali lagi.
"Baiklah, saya akan menjawabnya dengan jujur. Sebenarnya batu mana itu bukan untuk saya, melainkan seseorang." Jawab Chavire atas permintaan Darayad barusan.
Darayad mulai medengarkan cerita apa yang akan di ceritakan oleh manusia di depannya ini?
Dan selagi itu pula, Darayad kembali menyesap teh miliknya itu sedikit demi sedikit untuk menikmati aroma serta rasa yang terkandung di dalam teh tersebut.
Chavire yang menyadari sang Ratu hutan menginginkan penjelasan yang lebih rinci itu, kembali berkaya : "Seseorang ini akan memantu saya untuk menemukan adik dari sahabat saya yang sedang menghilang.
"Hmm..." Darayad meletakkan cangkir teh itu kembali ke atas lemek dan menaruhnya di atas meja. "Aku tahu apa maksudmu. Yaitu irang itu mmeinta sebuah imbalan dengan batu mana sebagai bayarannya kan?"
"Itu benar, dan secara kebetulan juga orang ini sebenarnya memiliki wajah yang sama dengan adik dari sahabat saya yang menghilang itu.
Maka dari itu, saya sedang berusaha untuk mendapatkannya agar dia dapat membantu saya untuk menemukannya." jelas Chavire secara panjang lebar kepada Darayad.
Darayad pun tetap mendengarkan apa yang dikatakan oleh Chavire ini, sampai akhirnya Darayad membuka suara, : "Dan adik dari sahabatmu itu, apakah Putri Alstrelia?"
Itulah mengapa Chavire mau mencarinya sendiri batu Mana itu, sebab dia ingin memberikan hasil dari jeri payahnya sendiri itu kepada si kembaran dari Putri Alstrelia kalau tekad yang di miliki oleh Chavire ini adalah sungguh-sungguh.
"Kalau begitu aku akan tanya satu hal kepadamu Chavire." Darayad untuk pertama kalinya memanggil namanya langsung di depan orangnya. "Apakah kau percaya kalau kembaran dari Putri Alstrelia itu benar-benar bisa menemukan sang Putri? Bisa saja kan dia hanya memanfaatkan kebaikanmu saja."
Akhirnya satu pertanyaan yang sebenarnya menjadi bahan keraguan Chavire sendiri pun terucap juga oleh sang Ratu hutan Daryad ini.
Dia ingin melhiat sekaligus mendengar apakah Chavire ini memiliki kepercayaan dengan Alstrelia yang berperan sebagai pengganti atau tidak.
Dan..
Ya...Chavire sendiri sebenarnya memiliki satu keraguan di dalam hatinya. Dia sebenarnya percaya dan tidak percaya.
Dengan kata lain, Chavire masih memiliki separuh kepercayaan teradap Alstrelia yang merupakan kembaran dari Putri Alstrelia yang asli.
'Dari cara bicaranya, dan tingkahnya, dia memang terlihat lumayan meragukan sih. Tapi jika bukan karena dia juga, sudah pasti Kekasiaran Regalia sudah sepenuhnya hancur. Bahkan sebelum aku datang, pasti semuanya sudah hancur.' Pikir Chavire.
Karena itu, karena Chavire sendiri sudah di perlihatkan akan tekad dari Alstrelia itu dalam ikut menjaga kekaisaran Regalia dari kehancuran cukuplah besar dan sudah di buktikan dengan mata kepalanya sendiri, maka Alrescha pun akhirnya mampu menjawab pertanyaan dari Ratu hutan tadi.
"Ya...Saya percaya kalau perempuan kembaran dari sang Putri Alstrelia yang asli ini memang bisa menemukan perempuan yang sudah masuk kedalam hati saya ini. Maka dari itu, saya mohon kepada anda agar saya boleh meminta batu Mana milik anda itu." Jawab Chavire dengan jelas.
Bahwa dia sangat bersungguh-sungguh untuk mendapatkan apa yang dia mau demi bisa menemukan seseorang yang di cintainya itu, Alstrelia.
Perempuan yang berhasil mengisi kekosongan hatinya ketika semua orang hanya bisa memerintah diri Chavire untuk melakukan ini dan itu dengan sempurna, maka Alstrelia adalah sosok yang membuatnya untuk bertingkah dan melakukan apapun sebisanya, tidak menunutut harus sempurna.
__ADS_1
Itulah kesederhanaan milik Alstrelia yang berhasil menyita perhatian Chavire ini, dan semua itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun lamanya. Sampai Chavire sendiri benar-benar tidak bisa merelakan kepergian Alstrelia yang kini rupanya sedang menghilang.
Kemana, Chavire akan menemukan jawabannya jika sudah memberikan apa yang Alstrelia pengganti itu mau.
"Tapi kau kan tahu sendiri-" Darayad kembali meminum sisa teh yang ada sampai habis, lalu berkata lagi kepada Chavire ini. "Kalau di dunia ini sudah tidak ada lagi yang namanya gratisan." Kata Darayad.
Chavire akhirnya tersenyum simpul saat mendengar kata gratis sudah tidak ada di dunai ini lagi?
Bukan sudah tidak ada, melainkan sudah sangat jarang pemberian dilakukan secara gratisan.
"Saya juga tahu itu. Makannya katakan saja syaratbta kepada saya agar saya bisa mendapatkan batu itu." Ucap Chavire. "Tapi saya harap, syarat itu adalah sesuatu yang bisa saya kerjakan." Pada akhirnya Chavire jadi melakukan tawar menawar kepada Darayad ini.
Sang Ratu hutan juga akhirnya jadi tersenyum sendiri mendengar pernyataan sekaligus tawaran dari Chavire kepadanya.
"Padahal aku sama sekali tidak mengatakan apapun soal syarat agar kau bisa mendapatkannya dariku. Tapi karena kau menawarkan diri bisa mendapatkan sayarat itu, maka aku bisa memberikanmu satu syarat itu untuk kau kerjakan." Jawab Darayad.
Dia pun menerima keinginan dari Chavire yang berani menawarkan diri untuk mendapatkan sebuah syarat.
Dan Chavire sendiri secara tidak langsung jadi merasa tertipu, karena Chavire buru-buru biara mengenai syarat itu sendiri kepada Darayad, yang padahal Darayad sendiri memang tidak mengatakan apapun soal syarat itu sendiri kepada Chavire.
'Hahh~ Ternyata aku memang baru saja di bodohi oleh Ratu ini.' Chavire pun tersenyum mencibir, karena membawa dirinya masuk kedalam pekerjaan yang akan menyita waktunya untuk lebih lama lagi berada di dalam hutan ini.
Tapi menepis semua kesalahan dari diri chavire yang seenaknya berpikir untuk menawarkan diri melakukan pekerjaan kepada wanita di depannya itu, dia sejujurnya sungguh penasaran dengan satu hal.
'Kira-kira dia umurnya berapa?' satu pikiran tiba-tiba saja tercetus begitu saja saat Chavire memang meliha penampilan dari Ratu hutan di depannya itu memang benar-benar masih muda dan menampilkan kecantikan yang hakiki.
Bahkan jika di bandingkan dengan Alstrelia, itu sebelas dua belas.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Hanya dengan bertanya sambil meliriknya dengan cukup perlahan, Darayad tetap menampilkan keanggunan untuk Chavire sendiri.
"Saya mau bertanya, umur anda berapa?" Satu pertanyaan bodoh itu tiba-tiba terlontar begitu saja untuk sang Ratu hutan yang jelas sedang membelalakkan matanya, karena ini adalah kali pertamanya di tanyai tentang umur.
Darayad memejamkan matanya, lalu menjawab pertanyaan paling tidak pernah di tanyakan oleh siapapun kepadanya selain manusia ini. "Umurku baru saja menginjak lima puluh tahun."
"PRUTT..." Chavire yang kebetulan saat ini sedang minum teh yang baru saja Chavire isi lagi cangkir kosongnya sendiri, secara tidak sengaja langsung disembur saking kagetnya.
"Kenapa?" Lirik Darayad kepada Chavire yang baru saja memperlihatkan ketidaksopanannya di depannya langsung seperti itu sampai menyemburkan air teh yang berharga itu .
Chavire buru-buru menyeka bibirnya dan membersihkan meja yang sempat menjadi korban semburan airnya itu dengan lap. "T-tidak kenapa-kenapa. Hanya terkejut saja, kalau anda yang terlihat seperti baru berusia dua puluh tahunan, ternyata sudah berusia lima puluh tahun."
"Bagi sudut pandang manusia umur seperti itu memang sudah di anggap tua, tapi bagi makhluk seperti kami, umur lima puluh tahun itu setara dengan lima belas tahun.
Aku bukannya mau pamer punya usia yang panjang tapi masih awet muda, tapi asal kau tahu saja, memiliki umur panjang juga bukan perkara yang mudah.
Banyak hal yang membosankan, kau akan tahu jika memang punya niat untuk hidup berumur panjang sepertiku." Jelas Darayad dengan panjang lebar.
Saking lebarnya, maka selebar itu pula rasa terkejut Chavire, yang seolah baru saja mendengar kalau dirinya bisa juga berumur panjang.
Chavire segera menunduk, dan mulai kembali memasuki pikirannya lagi. 'Jadi aku memang tidak bermimpi, kalau aku bertemu Darayad yang punya umur panjang itu tapi punya kemampuan sendiri yang bisa mempertahankan penampilannya seperti seorang gadis muda? Sebenarnya dunia macam apa yang aku tinggali ini? Aku hanya pernah membacanya di buku, tapi tidak pernah sekalipun melihatnya apalagi bertemu langsung dengan makhluk seperti ini.'
Dan diam-diam Chavire kembali mencuri-curi pandang wanita cantik di depannya itu. Sesuatu seperti tubuh yang cukup cantik dan sangat sempurna terpampang jelas di miliki oleh Ratu hutan ini.
__ADS_1