
“...............” Alrescha diam ketika Alstrelia sudah berdiri di depannya.
Alstrelia mengatupkan mulutnya seolah ia mau bicara tapi tidak jadi. Setelah itu kedua tangannya terangkat dan terus terulur ke arah Alrescha.
Alrescha melirik ke bawah, tepatnya sedang memperhatikan Alstrelia yang sedang mengusik kerah bajunya.
Tanpa menjinjit, Alstrelia benar-benar melakukan sesuatu kepada kerah baju milik Alrescha.
Hembusan nafas milik Alstrelia pun sempat berhembus menyapa dagunya, sampai Alrescha akhirnya merasakan aroma harum yang menyerbak menemui indera penciumannya.
‘Wisteria. Apa dia suka aroma ini?’ Bagi Alrescha sendiri, dia juga sama-sama sepakat kalau aroma dari bunga Wisteria memang terasa menenangkan, sekaligus memikat.
Itu pertama kalinya bagi Alrescha berdiri sedekat itu dengan Alstrelia. Seakan memberikan perhatian lebih kepadanya, siapa yang akan menyangka akan hal itu akan terjadi saat ini?
Saat Alrescha benar-benar melihat adik penggantinya yang sering bersikap tegas, dengan mulut kasar yang bisa menyinggung hati orang lain detik itu juga, sekarang seperti ada sihir di balik penampilannya itu.
‘Dia ternyata bisa berpenampilan seperti ini. Lebih dari kejadian yang waktu itu.’ Alrescha tentu saja masih mengingat saat Alstrelia meminta bantuannya untuk resleting gaunnya.
Tatapan matanya Alstrelia yang biasanya tajam, kini bahkan melembut layaknya wanita kalem.
Tindakan yang sedang dilakukan oleh Alstrelia kepadanya benar-benar sukses menarik perhatiannya.
Dengan tinggi tubuh Alstrelia yang kini sebatas dagunya, itu membuat Alrescha dapat melihat jelas wajah Alstrelia yang ternyata murni tidak memakai make up ataupun lipstik.
“Kalau seperti ini, tidak akan kosong lagi.” Kata Alstrelia, berhasil membuyarkan segala lamunan Alrescha saat itu juga.
Alstrelia mundur beberapa langkah dan memperhatikan Alrescha sedikit dari kejauhan.
Alrescha melirik ke bawah. Ternyata Alstrelia baru saja memberikannya sebuah pin berantai yang dipasang di dua sisi kerah bajunya.
“Itu cocok sesuai dengan statusmu.” Imbuh Alstrelia, memberikan penilaian berupa sedikit pujian.
Pin yang dipasang di kerah baju Alrescha ternyata memiliki lambang dari Duke Fisher, jadi yang menjadi pertanyaan di benak hati Alrescha saat ini adalah, ‘Sejak kapan dia membuatkan ini?’
Jujur saja, Alrescha belum sekalipun memiliki pikiran untuk membuat pin layaknya lencana yang diukir berdasarkan lambang dari statusnya yang merupakan seorang Duke Fisher, tapi kali ini Alstrelia tiba-tiba memberikannya begitu saja?
‘Caranya membuat kesan pada pria adalah memberikannya sesuatu yang tidak pernah sekalipun dipikirkannya. Yah~ Ini demi memancing sedikit emosi milik wanita itu, jika bukan, aku saja sebenarnya malas melakukannya.’ PIkir Alstrelia menjelinng kearah Arsela yang diam. “Bert, ayo berangkat.” Perintah Alstrelia kepada Elbert.
Elbert sendiri sepintas tersadar, bahwa dirinya sudah memiliki nama panggilan paling pendek setelah namanya yang tidak memiliki marga apapun.
“Baik Nona.” Elbert menyusul kepergian Alstrelia. Dia tetap menerima segala panggilan yang muncul dari mulut Alstrelia yang bisa jadi kejam kapanpun itu.
__ADS_1
Sedangkan Arsela, dia sedikit memendam rasa emosinya. ‘Kenapa tiba-tiba dia punya inisiatif untuk melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan? Alstrelia, apa dia benar-benar sudah berubah?’
“Arsela.” Panggil Alrescha kepada Arsela yang terlihat melamun tadi.
“Ayo berangkat.” Arsela kembali dalam posisinya untuk terlihat baik dimata Alrescha.
Alrescha segera menerima rangkulan dari Arsela, lalu berjalan keluar.
_____________________
Di dalam kereta kuda.
“Nona, apa anda tidak mempermasalahkan gaun anda yang sama dengan milik Nona Arsela?” Akhirnya setelah masuk kedalam kereta kuda masing-masing, Elbert bisa menanyakan pertanyaan yang dari tadi sedang mengganggunya, karena melihat Alstrelia itu seolah mengiyakan apa yang diucapkan oleh Arsela tentang gaun kembar, maka terlihat seperti kakak adik ipar yang akur.
“Tentu saja masalah. Siapa pun pasti merasa benci jika ada orang yang punya pakaian sama di pakai di pesta besar seperti ini.” Jawab Alstrelia.
“Apa anda mencurigai madam Luna yang membuatkan gaun yang sama dengan anda?” Tanya Elbert lagi. “Saya sebenarnya tahu kalau madam Luna juga pergi mengunjungi Nona Arsela untuk gaun pestanya juga. Pasti karena itu kan?”
“Itu-” Alstrelia menggantungkan kalimatnya sambil melirik ke arah lain. “Justru sebaliknya.”
“Ya?” Elbert bertanya bingung dengan jawaban singkat yang cukup membingungkan itu.
“Tidak. Tapi-” Alstrelia kembali menatap Elbert dan kembali berkata : “Kenapa kau yang begitu khawatir dengan apa yang aku pakai?”
“Kau kesatria yang baik.” Kata Alstrelia secara tiba-tiba. Dia memejamkan matanya dan tetap bersikap tenang. “Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mengatasi masalah yang kau khawatirkan itu. Jadi, angkat pantatmu.”
“Apa?!” Reaksi Elbert sebenarnya sungguh lucu, dia terkejut tidak main ketika Alstrelia secara gamblang mengatakan pantat.
“Jangan ambil kesimpulan yang dari segi sensitif, kau duduk di depanku, maka aku menyuruhmu berdiri.” Imbuh Alstrelia, memperjelas maksud dari ucapan pertamanya tadi.
“Saya peringatkan untuk jangan menggunakan kata-kata yang senonoh seperti itu.” Kata Elbert lalu berdiri dari kursinya.
“Angkat kursi itu dan keluarkan isinya.” Perintahnya lagi.
“.................” Elbert mau tidak mau harus menuruti perintahnya yang super sepele itu. Elbert kemudian membuka bantalan kursi yang tadi ia duduki, lalu mengambil sebuah kotak hadiah yang cukup besar. “Apa ini?”
“Bukankah kau tadi mengkhawatirkanku akan jadi topik pembicaraan hangat di seluruh kekaisaran jika memakai gaun yang sama dengan orang asing? Apapun yang akan dilakukan, bahkan jika akan berperang, bukannya harus mempunyai rencana cadangan? Itulah gaun cadanganku yang dibuat oleh madam Luna.” Beritahu Alstrelia.
“Tapi gaun ini-” Elbert yang penasaran itu langsung menjembreng gaun lain milik Alstrelia. Telinganya sudah memerah akibat Elbert sudah membayangkan banyak hal, ketika Nona yang ada di depannya itu memakai gaun biru itu.
“Aku akan memaklumi kenormalanmu sebagai pria, Elbert. Tapi apa kau sungguh bisa mendampingiku, jika telingamu saja sudah memerah hanya karena memegang gaunku?” Alstrelia hanya menatap Elbert dengan ekspresi tenang, tapi nada serta cara bicaranya penuh dengan tipu daya yang menggoda Elbert lebih dari sekedar kata-kata yang keluar dari mulutnya saja.
__ADS_1
“...............!” Elbert terperangah sambil bergantian menatap gaun yang sedang dipegangnya dengan orang yang akan memakai gaun itu sendiri. “Jangan-jangan, mau ganti disini?” Elbert bertanya dengan hati-hati.
“Apakah masalah?” Alstrelia menatap balik Elbert yang sedang menahan sipu malunya sendiri.
Alstrelia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik gaunnya yang sebenarnya memiliki dua buah saku di samping kanan dan kiri. Setelah itu ia berdiri dan memposisikan tubuhnya untuk sedikit menunduk ke hadapan Elbert.
“Kau hanya perlu duduk diam.” Ucap Alstrelia sembari memberikan sebuah pita berwarna hitam untuk menutupi sepasang mata Elbert. “Itu saja.” Imbuhnya.
'Harum.' Detik hati Elbert ketika ia merasakan aroma wangi muncul dengan sangat jelas ketika tangan Alstrelia benar-benar berada diantara samping kepalanya, dan ditambah dengan helaian rambut yang jatuh itu, sempar menyapu wajahnya untuk sesaat.
Alstrelia pun berhasil memasang penutup mata kepada Elbert.
Setelahnya, Alstrelia menarik semua tirai jendela agar tertutup.
SREK.
Alstrelia perlahan melepas gaunnya sendiri.
Suasana hening itu hanya terisi oleh suara dari langkah kaki kuda, dan suara dari roda kereta kuda. Tapi dari situ juga, Elbert menemui suasana lebih dari itu.
SRUK.
Suara itu bertambah satu saat salah satu kakinya merasakan adanya tumpukan ringan dari gaun yang sudah tergeletak di lantai kereta.
Elbert menelan salivanya sendiri ketika dia mulai terbayang akan hal yang sedang terjadi di depannya itu adalah sesuatu yang cukup menggoda. ‘Apa dia sudah melepaskan gaunnya?’ pikir Elbert.
Elbert mulai merasakan tekanan batin ketika apa yang sedang dipikirkan oleh Elbert memang sedang terjadi.
Alstrelia memang sudah melepaskan sepenuhnya gaun yang tadi melekat di tubuhnya, hingga sekarang dia saja sebenarnya sudah separuh telanjang.
Tapi disamping itu semua, sebenarnya Alstrelia diam-diam di balik gaunnya tadi ia masih memakai seragam miliknya. Lebih tepatnya rok yang masih melingkar di pinggangnya bertambah dengan pakaian atasannya yang sebenarnya di ikat di bagian pinggangnya juga tetap ia bawa.
Dia bukanlah orang yang tidak akan secara gamblang hanya memakai gaun saja, karena selama ini Alstrelia sudah sering menemukan banyak hal di luar perkiraannya, jadi untuk berjaga-jaga seragam khususnya tetap ia bawa dan dipakai di balik gaunnya itu.
“Sini.” Pinta Alstrelia.
Elbert secara tiba-tiba mengulurkan tangannya yang sedang memegang gaunnya Alstrelia ke depan, sampai tidak sengaja Elbert menyentuh sesuatu.
DUK.
“.................!” Elbert tidak berani bergerak setelah ujung tangannya tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembut. ‘A-apa itu tadi?’ Pikir Elbert. Hanya saja pikirannya mengarah satu hal lain. ‘Jangan-jangan aku menyentuh itu.’
__ADS_1
Telinganya kembali memerah.
“................” Alstrelia menatap datar Elbert ketika ujung tangan kanannya sebenarnya menyentuh perutnya. ‘Aku memang sadar, dia tetap saja pria normal. Tapi jika dia mengintip sedikit saja, aku pasti sudah menendangnya keluar dari sini.’ batin Alstrelia. Ia segera mengambil gaun barunya, dan kembali memakainya.