Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
34 : Alstrelia


__ADS_3

Dibalik itu semua, gagak hitam yang bertengger di salah satu pohon langsung pergi begitu saja dengan senyap.


Kilatan dari mata hitam burung gagak ini menghilang seiring waktu berlalu, membuat semua pemandangan apa yang dilihat oleh burung gagak ini akhirnya bisa terlihat oleh dia.


“......................” Alstrelia duduk sembari menatap Elbert yang sudah memasang wajah seriusnya. ‘Siapa gerangan orang yang ingin menyerangku?’ pikirnya. Tapi lain pikiran lain juga dengan mulutnya. “Bukankah aku sudah mengatakannya, agar jangan menatapku?”


“Orang yang patut dicurigai harus diawasi.”


Alstrelia menghela nafas dengan pelan. “Kenapa mecurigaiku? Memangnya apa yang aku lakukan?”


“Saja.”


Alstrelia mengernyit. ‘Apa-apaan dengan jawabannya itu?’


Ketika Alstrelia menatap Elbert dengan tatapan penuh selidik, sepintas pikirannya tersambung dengan burung gagak itu.


Di pedalaman hutan, terlihat seseorang sedang berjalan sendirian sambil berdiri dibawah pohon. Burung gagak hitam itu berdiam diri di atas pohon itu persis, sehingga matanya mampu melihat apa yang bisa dia lihat saat seorang wanita berambut pirang sedang menggerutu sendirian disana.


“Hah! Kenapa sihirku tidak mengenainya?” ucap wanita ini. “Aku benci wanita cantik, apalagi dia. Dia cantik seperti boneka, dan aku semakin membencinya karena dia selalu dilirik oleh banyak laki-laki.”


BUKH..! 


Sebuah bogem mentah berhasil mendarat di permukaan batang pohon. Bahkan saking kuatnya, banyak daun yang berguguran.


Kembali ke sisi Alstrelia.


“Pfft…” Alstrelia langsung menahan tawanya.


“Apa yang lucu?” tanya Elbert yang sadar dengan reaksi Alstrelia yang seketika berubah dari wajah dingin menjadi wajah bahagia,


Alstrelia menjeling Elbert dan menjawab: “Apa yang dipikirkan kadang lebih lucu ketimbang kenyataan.” Karena merasakan bahagia ketika melihat ada orang lain yang sedang mengumpat dirinya, suasana hatinya jadi berubah lebih baik. 


______________________________________


“Alres, kamu mau pergi kemana?” Tanya Arsela saat melihat Alrescha sudah menaiki kuda.


“Aku akan pulang sebentar.”


“Tapi kamu bil-”


“Aku akan kembali secepatnya.” Itulah yang dikatakan oleh Alrescha kepada Arsela yang tiba-tiba ditinggal pergi.


Alrescha menaiki kudanya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Arsela di tangan anak buah Alrescha yang sudah di bawa untuk menjaga Arsela selama kepergiannya.


“......................” Arsela yang awalnya menatap Alrescha dengan ekspresi memelas, langsung berubah menjadi tatapan yang dingin. ‘Dia lagi-lagi meninggalkanku. Alrescha, sejak kapan kau begitu peduli dengan adikmu sampai berani meninggalkanku seperti ini?’ 

__ADS_1


“Nona, sebaiknya kita kembali ke istana. Disana lebih aman ketimbang disini terus.” ucap kesatria berseragam merah ini kepada Arsela yang masih berdiri menatap kepergian Alrescha, sang tunangan yang baru berjalan beberapa hari ini.


“.................” Arsela awalnya terdiam saja, karena ingin melihat kepergian Alrescha sampai di detik terakhirnya. Tapi kemudian dia mengiyakan ajakan dari kesatria di belakangnya itu untuk kembali ke istana.


____________________


KLOTAK…..KLOTAK…...KLOTAK……


Dengan menaiki kuda dalam kecepatan tinggi, Alrescha bisa memotong perjalanan dari kota ke rumah dalam waktu kurang dari 20 menit.


“..................” Dengan wajah seriusnya, Alrescha tetap dalam pikiran kacaunya. 


Alrescha tahu kalau wanita yang berperan menjadi adiknya saat ini adalah wanita asing yang tidak tahu asal-usulnya dari mana, tetapi karena tahu kalau wajahnya itu adalah hal yang utama untuk Alrescha karena seperti adiknya yang asli, membuat Alrescha berani meninggalkan Arsela di restoran untuk memastikan keadaan Alstrelia.


Alasannya sudah pasti karena pagi tadi wanita itu ikut pergi bersamanya ke kota. Meski didampingi oleh Elbert sebagai pengawal pribadinya, sayangnya Alrescha tetap tidak bisa merasakan tenang sedikitpun.


Itulah mengapa sekarang Alsrescha bergegas pulang, hanya untuk memastikan kalau wanita itu baik-baik saja setelah adanya kejadian sebesar itu di kota.


KLOTAK……..KLOTAK……KLOTAK……. 


Di luar pintu gerbang, dua orang penjaga yang tidak sengaja mendengar derap kaki kuda yang begitu cepat, membuat mereka berdua langsung bersikap waspada.


“.................!”


“................!”


“Kenapa tuan pulang secepat ini?” gumam kesatria ini sambil mendorong pintu gerbang agar bisa terbuka.


“Mungkin ada sesuatu yang tertinggal.” jawab kesatria yang satunya lagi, karena orang yang menjadi topik pembicaraan mereka sudah melesat masuk.


Alrescha pergi ke mansion satunya lagi, dan secara kebetulan pelayan pribadi Alstrelia ada ada di depan pintu sambil berbincang dengan kesatria Anders.


“Tuan?” tanya Lena, dan Anders juga sama-sama melirik ke satu orang yang baru saja sampai dengan kuda sebagai kendaraan dari orang ini.


“Apa Alstrelia sudah pulang?”


“Belum, kenapa tuan? Apa ada sesuatu yang terjadi di kota?” 


Keterdiaman Alrescha menjadi jawaban untuk mereka berdua. Alrescha menjeling ke samping kanan dan kiri, tidak terlihat adanya bekas dari roda kereta kuda, yang berarti kedua orang di depannya itu memang berkata jujur. Bahkan terlihat wajah dari bingung kedua orang itu, menandakan kalau Lena dan Anders masih belum mengetahui berita di kota.


“Tapi ini sudah hampir jam 10. Kenapa mereka berdua belum pulang?”


“Apa saya perlu mencarinya tuan?” tanya Anders, menawarkan diri.


“Jika 10 menit lagi mereka belum pulang juga, lakukan pencarian.” perintah Alrescha.

__ADS_1


“Baik tuan.” jawab Lena dan Anders bersamaan.


“Jangan katakan aku pulang mencarinya.”


“..............!” Lena dan Anders saling melirik satu sama lain.


“Ya tuan.” 


Tetapi belum sempat Alrescha berbalik untuk pergi dari sana, dua orang itu akhirnya muncul.


“...............? Kenapa disini ramai?” tanya Alstrelia bingung dengan keberadaan dari tiga orang yang sedang berkumpul seolah sedang mengadakan rapat dadakan.


Albert yang melihat keberadaan dari tuannya, segera bertanya kepadanya. “Kenapa tuan bisa ada disini? Bukankah seharusnya anda di istana?”


“Bukan apa-apa. Hanya ada barang yang tertinggal.” jawab Alrescha dengan dingin, lalu tangannya sedikit menarik tali pelana agar kudanya berjalan pergi. “....................”


“...................” Untuk beberapa detik itu Alstrelia dan Alrescha saling bertatap mata, hingga Alsrescha akhirnya sudah pergi dengan tunggannya.


“Nona, kenapa anda pulangnya lama sekali?” tanya Lena khawatir kepada Alstrelia.


“Maaf, membuat kalian khawatir. Tapi kereta kudanya tadi ada sedikit masalah. Karena itulah kami pulang terlambat.” jelas Elbert kepada Lena yang sedang memasang wajah khawatirnya.


“Dari pada menunggu diperbaiki, lebih baik jadi jalan kaki.” ucap Alstrelia singkat.


“Apa?!” teriak Anders dan Lena serentak di detik itu juga saking terkejutnya dengan jawaban yang baru saja mereka berdua dengar itu. 


“Kenapa kalian berteriak?” tanya Alstrelia merasa kedua orang didepannya bereaksi terlalu berlebihan.


“T-tapi! Jalan kaki?! Pasti itu jauh!” kata Lena dengan gugup saat mengetahui nona yang dia layani sekarang ini memilih hal yang tidak mungkin akan dilakukan nona bangsawan lain.


“Hanya jalan kaki sejauh 2 km, apakah termasuk jauh?” tanya Alstrelia lagi dengan wajah bingungnya.


“Nona! itu sudah terlalu jauh! Lalu sir Elbert, apa anda membiarkan nona kami berjalan sendiri?” taya Lena menuntut jawaban kepada Elbert.


“Itu-” Elbert tidak bisa menyangkalnya, karena memang benar adanya kalau Alstrelia benar-benar berjalan sendiri dengan kakinya sendiri juga.


Marah dengan Elbert yang tidak becus bekerja, Lena memberikan peringatan kepada Alstrelia. “Nona, sebagai putri bangsawan di negeri ini, jangan sekali-kalinya berjalan sendiri sejauh itu lagi, itu tidak sesuai dengan citra anda nona.” 


“Putri?” Salah satu alis Alstrelia terangkat. “Apakah itu adalah kehidupan yang harus dijalani dengan segala kemudahan juga kemewahan? Apa kau menganggap itu adalah sebuah jabatan terhormat untuk kebahagiaan diri sendiri?”


“...................” Dalam seketika ketiga orang itu langsung terdiam, bahkan Lena sekalipun dia tidak bisa berkata-kata karena dibalik sisi pertanyaan yang ditanyakan oleh Alstrelia itu berisi sebuah kesalahan yang biasanya dijalankan oleh seorang wanita yang memiliki sebuah jabatan tinggi, apalagi ketika seseorang menjabat menjadi seorang putri.


Lalu Duke Fisher yang memang kebetulan ada seorang anak perempuan bernama Alstrelia, maka secara otomatis Alstrelia menyandang nama putri nomor kedua setelah putri yang dilahirkan dari keluarga kerajaan.


Kalau Alstrelia seorang putri, maka Alrescha adalah seorang yang memiliki jabatan menjadi pangeran, sekaligus memiliki kesempatan untuk menduduki takhta sebagai serang kaisar di negeri ini.

__ADS_1


Tapi Alstrelia?


__ADS_2