Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
154 : Alstrelia : Kebersamaan


__ADS_3

Tap….Tap….Tap….


Langkah kaki itu membawa pria berstatus Duke itu pergi ke satu ruangan miliknya, yang saat ini sudah separuh hancur gara-gara pertempuran yang terjadi malam tadi dengan para monster. 


Dari sinilah, selagi berjalan masuk kedalam kamarnya, ujung jarinya pun menyentuh bibirnya yan beberapa saat lalu sempat dia gunakan untuk mencium bibir ranum yang dimiliki oleh kembaran dari adiknya, yaitu Alstrelia. 


‘Manis.’ Detik hati Alrescha. 


Alrescha pun memejamkan matanya dan mencoba mengingat sensasi lembut, hangat, yang belum pernah dirasakannya.


Alrescha sebenarnya sadar, mencium perempuan itu adalah satu hal baru yang baru pertama kali Alrescha rasakan. 


Lalu bagaimana saat bersama Arsela?


Alrescha belum pernah sekalipun melakukannya, sebab dia merasa untuk menghormati perempuan itu, karena tidak mungkin dirinya memaksa kehendak dari Arsela yang awalnya dia pandang sebagai perempuan yang baik, karena selalu mengerti akan kemauan yang dimiliki Alrescha. 


Tetapi setelah melihat pengkhianatan yang dilakukan oleh Arsela di belakangnya tadi malam, dan di tambah perempuan yang punya wajah serupa dengan adiknya itu terus saja memprovokasinya, Alrescha pun tanpa pikir panjang jadi mencium perempuan itu tanpa basa-basi. 


Semua itu demi melampiaskan rasa kesalnya, atas apa yang dilakukan oleh Arsela. 


Dan hasilnya? Dia akhirnya bisa merasakan mulut Alstrelia yang terus mengundang emosi banyak orang yang mendengarnya .


“Tapi ini…kenapa cukup lumayan juga?” Lirih Alrescha dengan senyuman tipisnya. Bahkan di balik senyuman yang tersungging di bibir seksinya itu, telinganya pun sudah merah merona. ‘Memang ya..setelah sudah pernah melakukannya sekali, itu membuat orang semakin menginginkannya.’ Batin Alrescha, masih menyentuh bibirnya sendiri. 


_______


“Apa yang akan kau lakukan kepadaku?” Tanya Chvire kepada adik tirinya yang tiba-tiba saja sudah ada di samping tempat tidurnya dengan mulut sudah membuka dan secara kebetulan pula sudah ada di samping lehernya.


Dan perempuan itu tidak lain adalah Reva. 


Setelah mendengar suara yang cukup familiar itu, Reva yang saat ini sudah ada di atas kasur yang di gunakan oleh kakak tirinya itu langsung membelalakkan matanya.


“A-apa?” Seketika kesadarannya kembali, dan untung saja kesadarannya itu kembali setelah suara milik Chavire menyeruak masuk ke dalam indera pendengarannya.


Chavire yang sudah terbiasa tidur bertelanjang dada itu pun merubah posisinya jadi miring ke samping kiri, untuk melihat reaksi wajah terkejut yang sedang di perlihatkan oleh adik tirinya itu, yaitu Reva. 


“Aku tanya, apa yang sedang kau lakukan di kamarku, dan pagi-pagi sudah naik ke ranjang seorang laki-laki lajang sepertiku.” Kata Chavire lagi memberikan peringatan kecil kepada Vampir kecil yang tidak sopan itu. “Bukankah semalam aku sudah memberikanmu darahku, kenapa sekarang diam-diam ingin mencuri darahku, kau ternyata tidak tahu caranya berterima kasih ya?” Imbuhnya dengan kalimat yang panjang dan lebar. 


Vera yang langsung dihujani berbagai kalimat dari sang kakak, langsung menjauhkan mulutnya dari leher itu. 


“M-maaf, aku tidak sengaja.” Cetus Reva, merasa tidak enak karena kesalahannya sendiri, ternyata dirinya sudha hampir mencuri darah seseorag. 


Oleh karena itu Reva menjauhkan diir dari pada berdekatan dengan kakak tirinya yang menggoda itu, sbeab tubuhnya Chavire yang sedang bertelanjang dada.


Chavire yang melihat wajah bersalah dari Reva itu langsung menarik tangan Reva dengan kuat, dan…


BRUKK…


“C-chavire?” Reva terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh kakaknya, karena tiba-tiba menariknya asuk kedalam sebuah pelukan, sampai Reva sendiri saat ini bisa mendengar detak jantung kakaknya yang cukup normal. 


“Shhtt….” Desis Chavire sambil memeamkan matanya. 

__ADS_1


Dia sebenarnya cukup lelah, sebab dalam dua bulan yang dia jalani itu, dirinya selalu mendapatkan hal tak terduga yang terasa di luar akalnya sendiri. 


dari jiwanya yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuh orang lain, negaranya yang ada di ambang kehancuran, fakta kalau dalang dari dirinya bisa bertukar tubuh dengan orang lain adalah karena balas dendam lama, lalu tubuh aslinya yang justru sekarang ini sudah di nodai, dan satu fakta paling mengejutkannya adalah Alsttrelia yang dia temui di dalam mimpinya adalah adiknya Alrescha yang menghilang. 


Bagaimana Chavire bisa tahu, itu karena sifat seseorang yang tidak mungkin bisa berubah total dalam waktu yang singkat, dan satu lagi cincin yang Chavire dapatkan dari dalam mimpi itu adalah jelas cincin yang Alstrelia pakai dari kecil, sedangkan Alstrelia yang saat ini tinggal di mansion mlik kediaman Fisher, hanyalah seorang pengganti.


Karena itu Chavire pun jadi merasa frustasi sendiri sebab perempuan berkepribadian lembut dan pemalu ynag Chavire kenal, sekarang adalah perempuan yang cukup bar-bar.


‘Ini menyakitkan, ternyata dia bukan Alstrelia yang aku kenal. Ah…kemana perginya calon Istriku itu?’ Pikir Chavire.


Chavire yang merasa geram karena perempuan miliknya menghilang, di dalam dirinya sedang mendekap Reva, Chavire pun tanpa sadar jadi semakin mengeratkan pelukan itu. 


“A-ah..aku…sesak!” Protes Reva terhadap Chavire. 


“Maaf.” Mendengar protesan dari Reva, Chavire pun mengendurkan pelukannya itu agar Reva bisa nyaman sekaligus bisa merasakan rasanya di peluk oleh seorang laki-laki.


“.......” Reva terrdim, melihat kakakknya saat ini benar-benar menggunakan tubuh orang lain sebagai media dirinya untuk di jadikan bahan pelukan olehnya. “Apa kau tidak punya niatna untuk kembalii ke tubuh Aslimu?” 


Satu pertanyaan terlontar begitu saja. Demi menjawab rasa penasarannya ,tentu dirinya harus berani untuk bertanya pada orang yang bersangkutan. 


“Aku tidak menginginkan tubuh yang sudah di nodai,” Jawab Chavire. 


“Benar juga.” Blas Reva, dia pun setuju dengan jawaban kakakknya itu. 


Tapi kalau begitu bukankah, dengan keberadaan jiwa milik kakakknya yang saat ini sudah masuk kedalam tubuh orang lain, maka menandakan mereka berdua juga jadi dua orang asing dengan tubuh yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali?


“Walaupun sekarang aku menggunakan tubuh orang lain, kau tetap aku anggap sebagai adikku.” Kata Chavire, menyela segala pikiran yang hendak di pikirkan oleh Reva. 


Iya..iya. Jangan cemas, kau tetap akan menjadi kakakku.” Ucap Reva, menghilangkan suasana canggung yang terjadi di antara mereka berdua beberapa saat tadi. 


“Baguslah.” Jawab Chavire, lalu mengusap kepala adiknya dengan lembut. 


“.......” Reva yang tidak peduli dengan pikirannya yang sebenarnya menyukai kakak tirinya iitu, membalas pelukan Chavire. Dia pun menikmati aroma tubuh Chavire yang cukup maskulin itu, juga merasakan tubuh Chavire yang atletis, sampai Reva jadi tersenyu-senyum sendiri, karena tubuh sebagus dan merupakan idaman bagi semua wanita, sekarang bisa Reva dapatkan. 


“Kerja yang bagus.” Kata Chavire secara tiba-tiba. 


Vera sedikit mendongak ke atas dan menemukan dagu milik sang kakak yang terlihat cukup kokoh, layanya sebuah ukiran yang dianugerahi sebuah kesempuraan yang di tutunkan oleh dewa secara langsung. 


“Apa?” Tanya Reva, tidak mengerti maksud dari ucapan dari sang kakak barusan. 


“Semalam, pekerjaanmu cukup bagus.” Jelas Chavire.


‘Oh yang itu.' Reva akhirnya mengerti tujuan dari ucapan kakakknya tadi. Yaitu karena bantuan yang dilakukannya semalam?


Padahal yang melakukan itu bukanlah dirinya, melainkan Vera, yang mendiami tubuhnya, yang merupakan sosok leluhur.


“Tapi kan, bukan aku yang melakukannya.” Tukas Reva, dia benar-benar merasa bukan dirinya lah yang membantu pekerjaan Chavire semalam, tapi sang leluhur itu sendirilah yang membantu sang Chavire. 


Chavire pun tahu, kalau yang membantu dirinya semalam bukanlah Reva, melainkan Vera.


“Tapi tetap saja, karena dia menggunnakan tubuhmu, secara tidak langsung kau juga melakukan pekerjaanmu dengan cukup baik. Sampai akhirnya kau melakukan sesuatu yang tidak pernah di pikirkan oleh orang lain., loh~”

__ADS_1


“Eh? Apa itu?”


“Kau berhasil membua orang yang merasuki tubuhku jadi milikmu. Kau sungguh licik ya, vampir kecil.”


Reva pun tersenyum lemah, kaena di sini ternyata masih ada yang memperdulikannya dan itu adalah kakakknya. “Terima kasih.”


Reva kembali memposisikan kepalanya di depan dada bidang Chavire yang benar-benar sangat dekat dengan wajahnya itu. 


“Hmm…” Chavire punn memejamkan matanya lagi dan melanjutkan tidurnya dengan di temani Reva. 


“Ini menyenangkan. Bagaimana jika kau memberikanku pelukan tidur setiap hari?” Tawar Reva, yang sangat ingin dan ingin lagi bisa tidur bersama dalam sebuah pelukan yang cukup hangat itu. 


“Sayangnya itu tidak akan jadi ekspektasimu Reva. Aku punya banyak pekerjaa, dan bukankah ada banyak pria yang punya tubuh sepertiku, cari saja dan pilih mereka untuk membantumu tidur. Mengingat kau adalah seorang Putri, maka mereka tidak akan menolakmu.” Hasut Chavire kepada Reva. 


“Itu ada benarnya juga sih. Tapi aku inginnya itu adalah kau.” Balas Reva. 


Dia sebenarnya hanya ingin di temnai oleh kakakknya saja, tapi mengingat hal itu tidak mungkin terjadi, sebab sosok dari kakaknya adalah orang yang seharusnya menguasai Kekaisaran, dan sedangkan saat ini negara ini sedang membutuhkannya, maka tidak mungkin Chavire punya banyak waktu untuk mengabulkan permintaan kecilnya itu.


“Tidak bisa.”


“Ya sudah!” Reva semakin mengeratkan pelukannya itu, seakan dia tidak memperbolehkan Chavire pergi dari sisinya. 


Dan karena itulah, Chavire dan Reva pun akhirnya kembali terlelap dalam tidurnya. 


_________


Di dalam kamar yang saat ini di huni oleh tiga orang perempuan. 


Suasana yang cukup serius pun sedang terjadi disana, pasalnya saat ini Als sedang mengintrogasi anak buahnya itu agar mengatakan yang harus dikatakannya, sebab Elda, perempuan yang tidak lain adalah anak buah yang paling dekat dengan Alstrelia itu bisa datang ke dunia novel ini karena apa?


Itulah yang ditanya-tanyakan baik itu oleh Alstrelia sendiri maupun Als. 


“Hal yang terakhir kali aku ingat, aku duduk bersama dengan Yang mulia Raja, itu saja.” Jawab Elda. 


“Itu saja?”


“Ya, itu saja. Memangnya aku harus jawab apa? Kan hanya itu yang bisa aku ingat.” Cetus Elda


Als tiba-tiba menghela nafas dengan kasar. “Kau memang tidak guna.”


“Apa?!” Pekik Elda.


Als menatap Elda dengan tatapan malas dan menjawab lagi, “Ya…kau tidak berguna. Aku tanya bukannya bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan, malah membuatku semakin penasaran.”


“Als…~” Elda sudah mengepalkan tangan kanannya, dan berusaha untuk menahan kekuatannya yang ingin dia lampiaskan untuk menghajar Als yang songong itu. 


“Hm?” Sahutnya dengan nada ringan sambil melirik ke arah kanan, dimana raut wajah Elda saat ini tidaklah terlalu baik. 


Hanya saja, saat Als melirik ke arah Elda, saat itu pula Elda sudah ada di depan matanya. 


“Kau cukup mengesalkan ya?” tekan Elda dengan bogem mentah sudah disiapkan dengan cukup baik untuk menghajar Als, dan…

__ADS_1


BUKKHHH….


__ADS_2