Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
24 : Alstrelia


__ADS_3

TAP….TAP…...TAP……


Langkah kaki dari mereka berdua saling bertautan satu sama lain. Berjalan membelah jalanan kota yang sedang ramai karena akan diadakan sebuah Festival tahunan.


Dari sini Elbert akhirnya mampu melihat mata Alstrelia yang nampak cerah itu, sedang menikmati pemandangan yang ada.


Meski mata Alstrelia tampak sedang begitu menikmati suasana dari jalanan yang sedang mereka berdua lewati, tapi Elbert tahu kalau wanita disampingnya ini tidak nampak seperti kagum dengan nuansa pasar yang ramai.


‘Apa nona akan bereaksi seperti ini juga?’ Pikir Elbert, ketika ingatan mengenai wajah nona nya yang selalu terlihat suram. Bagi Elbert, itu terlihat sama dengan ekspresi wajah wanita ini.


Terlihat tidak begitu menyimpan perasaan kagum dengan keramaian ini. 


“Mereka semua terlihat bersenang-senang.” Keterdiaman diantara mereka berdua langsung menghilang setelah Alstrelia pertama kali angkat suara.


“.......................” Elbert masih memperhatikan wajah Alstrelia yang terlihat begitu iri itu. 


“Apa mereka selalu seperti ini?” tanyanya lagi. Alstrelia sedikit menundukkan kepalanya ke bawah, untuk melihat sepasang kakinya yang sedang menginjak jalan dengan paving batu. 


“Saya ti-”


“Bicara saja dengan santai.” sela Alstrelia. 


“Itu tidak bisa.”


“Ini bukan perintah, tapi permintaan.” tutur Alstrelia. Dia sekarang sedang memandang kucing jalanan yang tidak sengaja lewat tadi sedang berjalan masuk ke dalam gang sempit dan gelap itu. 


“..................” Elbert ikut berhenti di tegah jalan, dan ikut menemani arah pandangan Alstrelia yang sedang menatap gang sempit itu. Dari situ terlihat ada beberapa gelandangan yang sedang mengais sampah sisa makanan yang dibuang oleh orang yang sudah tidak ingin makan.


“Pertanyaanku tadi, kelihatannya hanya untuk sekelompok orang-orang tertentu.” ujar Alstrelia saat dia melihat ada seorang pengemis yang meminta uang kepada seseorang, tapi balasannya adalah teriakan dengan sebuah hinaan. 


‘Kira-kira apa yang sedang dia pikirkan saat melihat para pengemis itu?’ benak hati Elbert.


Alstrelia tetap menatap orang-orang yang memiliki nasib yang terbalik itu. “Menurutmu, dari kedua orang itu mana yang salah?”


Tiba-tiba Elbert diberikan pertanyaan pilihan dari Alstrelia. 


Ya.

__ADS_1


Alstrelia sedang meminta pendapat dari sudut pandang Elbert saat melihat peristiwa tadi. Dimana seorang pengemis baru saja mendapatkan penolakan kasar dari seorang pengunjung yang lewat itu.


“Tentu saja orang yang memaki itu.”


“..................” Alstrelia langsung menoleh ke arah Elbert sambil menatap wajahnya. “Kenapa begitu?”


“Orang tua itu hanya meminta sedikit belas kasihan. Uang satu koin perak sudah bisa membuatnya kenyang untuk 3 hari, tapi orang itu tidak memberinya.”


“Pikiranmu ternyata pendek ya?”


“Apa?” Elbert langsung terpancing emosi ketika mendapakan ejekan dari mulut mungil wanita ini.


Alstrelia kembali melanjutkan perjalanannya, sambil berkata lagi: “Kau salah, apalagi mereka berdua. Mereka juga sama-sama salah, Elbert.”


“Apa maksudmu?” Akhirnya Elbert mengiyakan permintaan Alstrelia untuk bicara santai dengannya.


“Dari satu sisi, dari luar pengemis seperti mereka memang terlihat kasihan, dan ingin mendapatkan simpati dari orang lain, dan disatu sisi lain lagi, pria itu tidak memberinya uang. Semua itu karena apa?” tanya Alstrelia.


“.................”


Bagi Alstrelia, itu adalah pemandangan yang paling berarti. Karena selama ini, dirinya sangat jarang melihat kedamaian dari hewan bersayap itu untuk terbang bebas seperti itu.


“Elbert. Semua yang ada diunia ini sebenarnya tidak ada yang namanya benar ataupun salah. Semua hal selalu berkontrakdiksi. Pengemis itu bisa ada disana karena terbelunggu oleh batasnya pikiran bagaimana caranya untuk bekerja di usianya yang sudah tua, dan untuk pria yang memaki orang tua itu juga berada di kondisi antara salah dan benar. Dia benar memberikan peringatan kepada orang tua itu karena hanya bisa mengemis, tapi dia juga salah karena tidak memberinya kesempatan untuk orang tua itu melakukan sesuatu yang bisa dilakukan untuk pria itu.” Alstrelia kembali berhenti untuk mengamati kedai roti yang sedang ramai-ramainya itu. “Apa kau percaya, sebenarnya memberi satu kebaikan yang bisa dikerjakan oleh pengemis itu, maka satu saat sipemberi itu akan mendapatkan lebih banyak menerima dari hasil perbuatannya?”


“......................” Elbert terus mendengarkan.


TAP…..TAP…..TAP…..


“Tapi semuanya kembali lagi pada sifat dasar manusia. Mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri. Karena itu, semua yang aku katakan tadi jarang sekali dilakukan oleh orang-orang.”


‘Kenapa suasananya jadi seperti dia sedang bercerita tentang dirinya sendiri?’ Meski apa yang dikatakan Alstrelia untuk Elbert cukup masuk akal, tapi suasana yang terjadi diantara mereka berdua, seolah seperti menjadi seorang pembicara dan pendengar. 


“Elbert.”


“................?” Elbert yang langsung tersadar dari pikiran sesaatnya tadi, langsung menatap mata Alstrelia yang sedang menatap kearahnya juga. “Apa?”


“Bayar ini kepada dia.” Alstrelia menunjukkan sebungkus roti yang masih hangat itu kepada Elbert.

__ADS_1


‘Ha? Sejak kapan dia mendapatkan roti itu? Padahal dari tadi kedai itu sedang ramai-ramainya.’ pikir Elbert bingung dengan asal roti yang dipegang oleh Alstrelia ini.


Elbert segera melirik seorang wanita muda yang juga sama-sama sudah mendapatkan roti dari kedai terkenal itu. 


“Aku lapar, tapi tidak punya uang. Bayarkan roti ini untukku.” pinta Alstrelia yang kini sudah memakan sepotong roti berbentuk bulat layaknya bola golf.


Mendengar pernyataan Alstrelia, Elbert buru-buru mengambil koin perak yang kebetulan memang Elbert bawa. “Ini.” 


“Terima kasih.” Ucap wanita ini, sambil menerima lima koin perak. Setelah itu wanita ini langsung pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.


“Terima kasih sudah mau membayarkan ini.” ucap Alstrelia kepada Elbert.


Alstrelia langsung menikmati satu persatu roti itu dengan cukup menghayati.


“Ehm, ternyata enak juga.” puji Alstrelia pada roti yang sedang dimakannya, di atas kebingungan Elbert yang tidak tahu harus bagaimana caranya bertanya, karena Elbert benar-benar tidak tahu asal muasal Alstrelia bisa menitip seseorang untuk membelikan roti itu juga.


‘Bukankah dari tadi dia ada disampingku dan terus mengoceh, kapan dia menitip dibelikan roti oleh orang lain?’ Elbert langsung menatap curiga Alstrelia yang sedang makan dengan lahap itu.


Meski Elbert sedang mendengarkan semua ocehannya Alstrelia, tapi sebagai kesatria maka Elbert terus memasang insting dari waspada yang tinggi. 


Dia terus bersikap waspada dengan apa yang ada di sekitarnya. 


Tapi semua itu terasa tidak berguna, karena Elbert benar-benar tidak menyadari soal Alstrelia yang menitip untuk dibelikan roti oleh orang lain.


‘Jangan-jangan dia menyembunyikan sebuah kekuatan yang tidak aku ketahui?’ Elbert kembali masuk kedalam perasaan curiga kepada wanita asing di sampingnya itu. 


“Kenapa roti seenak ini, harganya murah?” tanya Alstrelia di sela-sela sedang mengunyah roti itu.


“Murah?” Elbert balik bertanya.


“Ya, bukankah kau tadi memberikan 3 keping perak? Berarti roti ini murah dong.” jawab Alstrelia tanpa mengetahui bahwa 3 perak, itu adalah harga yang bisa digunakan untuk makan makanan rakyat biasa selama lebih dari 1 minggu. “Apa ada makanan murah lainnya?” 


“Ha? Semua itu masih belum membuatmu kenyang?” 


“Dosis lambungku itu besar. Semakin banyak energi yang dibuang, semakin banyak pula makanan yang aku butuhkan. Apapun itu selama ada nutrisi, aku tidak akan pilih-pilih makanan.” jelas Alstrelia lagi sembari menghirup aroma tersisa dari wadah roti yang dimana isinya sudah Alstrelia makan sampai ludes.


‘Bukannya dia hanya banyak bicara dan jalan kaki saja? Dari Mana asal energi yang harus dibuang itu?!’ teriak Elbert didalam hatinya. Dia akhirnya bisa menemukan seorang wanita yang menunjukkan perilaku rakus terhadap makanan.

__ADS_1


__ADS_2