Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
87 : Alstrelia


__ADS_3

“Jadi apa alasanmu ingin menemuiku?” Tanya Alstrelia sembari menutup pintu.


“..............?” Arsene ceilngukan, karena dia sekarang ini berada di kamar wanita?! 


Benar.


Daripada berbicara di ruang tamu, berbicara di dalam kamar adalah yang terbaik demi menjaga privasi mereka, karena setiap kamar selalu memiliki kedap suara.


Setelah menutup pintu, Alstrelia berjalan menuju sofa dan langsung duduk disana dengan menumpukkan kaki kanannya di atas kaki kiri.


“Aku tidak akan mengatakannya-” Alstrelia melirik kearah sofa yang masih kosong. Mengartikan Arsene mau duduk atau tidak, itu terserah dari pria itu, karena yang Alstrelia butuhkan adalah alasan dibalik Arsene mendatanginya. “Aku juga tidak akan menyuguhkanmu minum, jadi maklumi sifatku ini.”


‘Dia sangat terang-terangan sekali,’ Tapi karena alasan itulah dirinya tertarik pada wanita di depannya itu, Arsene tidak mempermasalahkan sifatnya yang angkuh itu. 


Karena tidak ditawari dan tatapan matanya seperti mengartikan untuk Arsene pilih berdiri atau duduk, maka Arsene dengan santainya duduk di depan Alstrelia persis.


“Aku ingin membicarakan tentang Artefak,” kata Arsene, mencoba memancing rasa penasaran dari wanita di depanya itu. 


“Oh~ Artefak,” lirih Alstrelia sambil mengulas senyum penuh tahu. 


“Anda pasti tahu apa itu artefak si-”


“Sayangnya aku belum membaca satupun buku sejarah mengenai apa itu Artefak sihir. Kalau waktumu luang, apa kau bisa membuat dongeng untukku?” Sela Alstrelia dengan cepat. 


Arsene terkekeh mendengar Alstrelia ternyata bisa mempunyai humor yang lumayan. “Apa anda ingin dibuatkan dongeng pengantar tidur?”


Alstrelia memejamkan matanya, lalu berbicara lagi : “Apa kau baru menyuruhku tidur disaat di depanku ini ada tamu?”


“Haha...maafkan kelancangan saya. Tapi karena anda sudah berkata seperti itu, saya akan membuatkan anda dongeng, tapi tidak akan membuat anda tertidur.”


“Ceritakanlah, aku tidak sabar mendengar seorang pria membuat dongeng sendiri.” Kata Alstrelia, menuntut Arsene agar cepat bercerita. 


                         ********


“Apa yang kalian dapatkan?” Alrescha langsung bertanya kepada dua orang kesatria yang sedang memungut tubuh hewan?


Ketika Alrescha mendekati mereka berdua, dia segera tahu kalau tubuh yang sudah terbelah menjadi dua itu bukanlah hewan biasa, itu adalah monster. 


“Nona yang membunuh monster ini. Dan satu hal lagi yang harus Tuan tahu, kalau makhluk ini ternyata sudah memata-matai kediaman ini.” Jawab kesatria ini.


Alrescha kemudian jalan mendekati kepala monster itu. Satu hal yang dia lihat saat ini, adalah dia melihat titik kecil dan berkilau ada di tengah dahi kumbang tersebut.


Alrescha awalnya mencoba mengambilnya. Tetapi agar bisa di ambil, dia harus sedikit menyayat kulit itu. “Berikan pedangmu,” Pinta Alrescha dengan tangan kanan sudah terulur ke salah satu diantara mereka berdua. 


“Ini tuan,” Mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang, lalu memberikannya kepada Alrescha. 


Dengan tangannya yang terampil itu, Alrescha berhasil menyayat kulit kepala dari monster tersebut. 


“Tuan, itu?” 


“Bukannya itu batu kristal?” 


Mereka berdua bertanya hampir bersamaan. 

__ADS_1


Alrescha mengeluarkan batu kristal berwarna putih itu. Hanya saja, ketika Alrescha ambil, batu kristal tersebut langsung berubah menjadi hitam.


“Batu kristal ini adalah alat perantara untuk mengendalikan monster ini dari kejauhan. Selain bisa mengendalikannya, dia bisa melihat apa yang monster ini lihat.” Jelas Alrescha kepada mereka berdua. 


Kedua kesatria itu mengangguk paham. 


“Lalu apa yang akan anda lakukan dengan batu itu?” 


“Aku akan mencoba mencari sisa dari jejak sihir ini. Kalian perketat penjagaan, jangan sampai lengah.” Perintah Alrescha, menyimpan batu kristal tadi di atas sapu tangan yang sering Alrescha bawa, lalu membungkusnya dengan saputangan tersebut. 


“Baik Tuan,” Jawab mereka berdua secara serentak. 


Kepergian Alrescha pun menjadi awal dari mereka semua untuk bertindak lebih waspada lagi. 


Karena dari kejadian tadi, mereka berhasil memetik atas kesalahan mereka, kalau ada kalanya monster pun bisa dijadikan objek percobaan dan diperalat untuk memata-matai musuh.


Dengan kata lain, musuh dari manusia, bukan hanya manusia saja, tapi makhluk dari beda ras. 


‘Dari batu kristal ini, aku merasakan samar-samar sihir milik Kaisar. Tapi juga merasa ada campuran dari mana sihir milik orang lain. Sihir asing itulah yang membuatku penasaran, siapa yang menjadi dalang dibalik ini semua? Kaisar bukanlah Kaisar, bagaimana aku bisa mencari tahu siapa yang ada di dalam tubuh Kaisar?’ Alrescha sekali lagi tidak bisa dibuat tenang. 


Duduk santai pun tidak bisa dia lakukan, karena banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. 


Tapi pekerjaan yang sedang Alrescha emban, bukan lagi sesuatu yang membuatnya harus berurusan dengan setumpuk kertas yang menggunung itu. 


Melainkan, mempersiapkan pasukan yang dimiliki Fisher untuk melawan Invasi Monster yang terjadi secara besar-besaran. 


Dan Alrescha tidak hanya harus mengumpulkan pasukan kesatria, tapi juga penyihir. 


‘Kita akan lihat nanti, seberapa banyak pasukan mereka.’ Benak hati Alrescha. Dia sedikit mendongak ke atas, untuk melihat mansion milik adiknya yang dibangun tidak jauh dari mansion utama. 


“................! Dia?” Alrescha mengernyitkan matanya, ketika sepasang matanya yang memang memiliki kemampuan penglihatan yang tajam itu, ternyata berhasil menangkap basah Alstrelia sedang berbicara berduaan dengan seorang laki-laki. ‘Dia berani juga, memasukkan tamu kedalam kamar adikku.’


Awalnya Alrescha merasa tidak suka melihat perempuan yang memang benar-benar mirip dengan adiknya, justru berbicara berduaan.


Alrescha seperti melihat kalau sekarang adiknya sedang melakukan kencan pribadi dengan kekasihnya. 


‘Kenapa aku jadi merasa cemburu karena melihat mereka berdua?’ Alrescha menyentuh dadanya sendiri. Ada satu perasaan aneh yang muncul di dalam dadanya. 


Tapi mau dikonfirmasi berapa banyak pun, Alrescha sudah mengerti apa perasaan yang sedang mencuat itu.


Itu benar-benar perasaan dari orang yang sedang cemburu?


‘Apa-apan dengan aku ini? Aku sudah memiliki tunangan, kenapa aku bisa memiliki perasaan cemburu pada perempuan itu?’ Alrescha menggeleng pelan agar semua pikirannya itu dia buang jauh-jauh.


Hanya saja, Alrescha tidak bisa berpaling untuk tidak melihat Alstrelia yang sedang sedang tersenyum sombong itu. 


Walaupun, sombong tapi kenyataannya, hal itu tetap berhasil menarik perhatiannya terus.


‘Apa yang sedang mereka bicarakan?’ Alrescha mencoba mengartikannya sendiri dengan mengamati gerak bibir mereka berdua. ‘Artefak sihir? Kenapa arah pembicaraan mereka mengarah ke Artefak sihir?’


Artefak sihir, itu adalah barang dari masa lalu yang cukup berharga. 


Seperti namanya, Artefak sihir mengartikan barang yang memiliki sihir dan merupakan barang peninggalan masa lampau, yang mempunyai sejarah panjang serta tidak akan tertulis secara gamblang di buku sihir. 

__ADS_1


Artefak sihir memiliki nilai yang sangat tinggi dan banyak diincar oleh semua orang. Terutama bagi orang yang memiliki kemampuan dalam mengendalikan ‘Mana’ sihir, maka dia kaan dengan sangat gencar ingin mendapatkan Artefak sihir, demi meningkatkan kemampuannya. 


Tapi keberadaan dari Artefak sihir sangat sulit ditemukan.


Dan rata-rata Artefak sihir dapat ditemukan di sebuah reruntuhan. Tapi tidak semua reruntuhan memiliki barang berharga itu. Karena setiap barang dari Artefak sihir, akan dijaga oleh makhluk penjaga.


                          ******


‘Jadi apakah itu artinya, pedang yang sudah aku dapatkan ini adalah salah satu artefak sihir juga?’ Alstrelia tentu saja sedang membicarakan dirinya sendiri. 


Dimana di awal kedatangannya di dalam cerita novel ini, Alstrelia sempat bertarung dengan Griffin, makhluk mitologi berbentuk separuh tubuh elang dan separuh tubuh singa.


Pertarungannya melawan makhluk penjaga reruntuhan itu membuatnya mendapatkan pedang Alstoria, yaitu pedang asli dari kerajaan Asgardia.


Pedang Alstoria adalah pedang secara turun temurun yang dimiliki oleh keturunan darah murni raja Asgardia. 


Pedangnya itu memang sempat menghilang dari istananya tapi siapa yang akan menyangka jika pedang itu, ‘Pedang Alstoria ternyata disimpan di reruntuhan itu. Yang artinya, seseorang melakukan lintas ruang dan waktu. Dengan kata lain, dunia ini memang benar-benar bisa dimasuki oleh orang selain aku juga.’ 


Itu adalah salah satu fakta yang sedang Alstrelia kumpulkan, karena Alstrelia sepenuhnya sudah sadar, kalau keberadaan dirinya yang tiba-tiba masuk kedalam dunia novel, memiliki banyak kesamaan!


“.............” Karena segala pikirannya itu, Alstrelia pun jadi terlihat seperti sedang menatap serius ke arah Arsene. 


“Nona,” panggil Arsene kepada Alstrelia, seakan-akan sedang memikirkan Arsene untuk diberikan sebuah perhitungan karena sudah melakukan kesalahan besar terhadapnya. “Apa saya melakukan kesalahan?” tanya Arsene dengan senyuman tawar. 


“..............” Bola mata Alstrelia pun akhirnya bergerak mengikuti arah dari lambaian tangan yang sedang Arsene lakukan kepadanya. “Masalahmu adalah mengganggu lamunanku.” Celetuk Alstrelia. 


Setelah mendengar dongeng dari Arsene, kini Alstrelia sudah mulai paham apa itu Artefak sihir.  


“Ehmm….” Alstrelia kemudian bangkit dari kursinya, dan berkata : “Berdasarkan ceritamu soal artefak sihir, apakah kedatanganmu kesini adalah karena adanya seseorang yang sudah menemukan Artefak sihir itu?” 


‘Dia sangat peka,’ Arsene cukup puas dengan pemahaman Alstrelia yang cukup tajam. “Iya.”


“Dengan kata lain-” Alstrelia kemudian berjalan menghampiri jendela kamarnya, lalu bertanya lagi : “Orang itu adalah seseorang yang harus aku waspadai juga?”


“Benar.” Sahut Arsene.


‘Alrescha ternyata secara terang-terangan melihat kearah kamar ini . Berarti dia juga mengetahui apa yang aku bicarakan tadi? Yah~ Itu tidaklah masalah, pada dasarnya manusia idiot itu perlahan harus mengetahui orang yang harus diwaspadai adalah orang yang sangat dekat dengannya.’ Pikir Alstrelia. 


Dia melihat ke arah bawah, dimana Alrescha masih berdiri di luar dengan menatap ke arahnya juga. 


Sambil terus menatap ke arah Alrescha, Alstrelia pun berbicara sesuatu tanpa mengeluarkan suaranya.


Dimana, hal itu berhasil membuat Alrescha mengangkat kedua alisnya. 


‘Dia memang punya ekspresi yang lucu,’ ledek Alstrelia dalam diamnya. 


*


*


*


‘Apa yang baru saja dia katakan tadi? Arsela?’ pikir Alrescha, saat melihat gerak bibir Alstrelia tadi mengatakan Arsela. 

__ADS_1


__ADS_2