
'Dia memang punya kemampuan bertarung, tapi apakah dia bisa melawan makhluk ini?' Batin Elbert.
Sama halnya dengan Alstrelia yang saat ini sedang berdiri di atas Gimmick nya, Elbert pun diberi kesempatan untuk berdiri diatas senjata yang selau pergi mengikuti Alstrelia kemana pun dan dimanapun Alstrelia berada, seolah senjata itu sudah menajdi bagian dari diri Alstrelia.
"Apa kau bisa mengatakan alasan aku harus dibunuh?" Tanya Alstrelia secara gamblang tepa tdi depan makhluk tinggi dan besar itu, yaitu Orc Lord.
Orc Lord itu pun sedikit memiringkan kepalanya dan berkata : "Kenapa kau tanya padaku? Padahal kau sendiri juga tahu apa yang kau miliki di dalam dirimu itu."
DEG!
Mendengar pernyataan dari makhluk itu, seketika mulutnya Alstrelia sedikit ternganga membentuk tawa yang tidak bisa Alstrelia suarakan. 'Bukannya artinya kalau kembaranku adalah ancaman?' Pikir Alstrelia. 'Ternyata kalau makhluk rendahan pasti otaknya juga sama-sama idiot. Dia secara terang-terangan mengatakan Alstrelia adalah ancaman untuk Tuannya itu. Baiklah, sekarang yang harus aku lakukan adalah, siapakah Tuan mereka?'
'Dari ekspresi wajahnya, sepertinya dia sudah sangat yakin sekali menantang Orc ini.' Pusat perhatian Elbert pun lagi-lagi tertuju pada Alstrelia yang saat ini sudah memasang ekspresi wajah penuh siasat. Seolah, 'Dia benar-benar punya rencana sendiri untuk mengalahkan Orc Lord ini.' Pikir Elbert lagi.
Akan tetapi, mengingat Orc Lord sudah pasti memiliki kemampuan lebih, maka Elbert pun dibuat khawatir dengan satu hal lagi, Yaitu kediaman Fisher.
Sebelum itu terjadi, Elbert pun melancarkan aksinya untuk menyerang Orc Lord itu.
Elbert melompat dari satu Gimmick ke dua Gimmick lainnya, setelah itu dia pun melompat lebih tinggi seraya mengarahkan pedangnya dari atas kepala ke arah depan untuk menargetkan Orc Lord sebagai sasarannya.
BUKHH......
Hempasan angin yang terjadi akibat pedang yang Elbert gunakan untuk menebas kepala Orc Lord itu ternyata bisa ditahan dengan mudah dengan lengan makhluk itu dengan cukup baik.
'Dia sampai bisa menahan seranganku ini?!' Pikir Elbert.
Demi menghindari terkena serangan dari Orc itu, Elbert langsung melompat mundur.
WUSHH....!
Secara bertahap, kini Alstrelia pula yang menyerang Orc tersebut dengan pedangnya sendiri dari arah belakang. 'Jika aku tidak membunuhnya sekarang, dia akan menjadi bencana. Dan aku jadi tidak punya tempat tinggal.' Pikir Alstrelia.
Karena sudah mendapatkan kenyamanan tersendiri bisa berada di tempat yang sudah bisa dia sebut sebagai rumah walaupun sementara, Alstrelia mau tidak mau harus menyingkirkan musuhnya itu.
Meskipun seperti diperalat oleh kembarannya karena harus mengerjakan pekerjaan kotor, tapi karena pada dasarnya Alstrelia Ve Der Francisteen adalah manusia yang sudah banyak menyirami tangannya dengan darah musuhnya, maka Alstrelia pun tidak mempermasalahkannya.
Seakan kalau itulah pekerjaan Alstrelia yang sebenarnya.
__ADS_1
SYAHTT.....
Dalam sekali tebas, Alstrelia akhirnya mampu memisahkan kepala bab* itu dari tubuhnya.
TAP.
Alstrelia pun mendarat di tanah dengan sempurna, lalu menoleh kebelakang dimana dia tadi sudah memotong kepala milik makhluk itu.
Tetapi sesuatu yang lain pun terjadi. Tubuh Orc Lord itu ternyata masih bisa berdiri, sampai sebuah cairan berwarna hijau tiba-tiba keluar dari potongan leher Bab* itu untuk mengambil kepalanya yang terpisah dari tubuh Orc itu. Hingga akhirnya tubuh dan kepala yang sudah terpisah itu kembali menyatu dan menghidupkan makluk tersebut dengan sebuah amarah yang lebih besar dari sebelumnya.
GRARRHH....!
Erang Orc tersebut, membuat Elbert yang menyaksikan kejadian itu tepat di depan matanya, langsung menelan ludahnya sendiri, karena sekarang kepala Bab* yang tadi terpisah, sudah menyatu ke lehernya lagi dengan cukup sempurna. "Kekuatan penyembuh yang menakutkan." Gumam Elbert.
Dengan kata lain, mau diserang seberapa banyak pun, Orc tersebut dapat menyembuhkan dirinya sendiri.
Alstrelia yang masih mendengar gumaman itu pun angkat bicara, "Ya...itu cukup menakutkan. Selama dia punya cukup pasokan 'mana' untuk tubuhnya, kekuatan penyembuhnya akan terus aktif. Sebaliknya, ceritanya akan berbeda lagi jik dia sudah tidak memiliki pasokan 'mana',maka dia akan dengan mudah ditangani. Tapi-" Alstrelia pun menoleh kearah belakang.
Semua orang yang tidak lain para kesatria, saat ini justru berkumpul untuk menonton?
"Mereka akan jadi santapan selanjutnya untuk Bab* ini." Ejek Alstrelia.
Angin lembut itu pun menyapa mereka bertiga tepat di tengah lautan mayat, menyebarkan aroma amis yang cukup kuat.
"................" Tanpa sepata lagi, serangan yang Alstrelia coba lakukan adalah untuk melenyapkannya dengan pistolnya.
KLAK...
Alstrelia mengarahkan satu senjatanya yang dia pegang dengan tangan kirinya kearah depan. Itu adalah senjata sihir yang mampu membunuh musuhnya sebelum musuh itu bergerak. Cara kerjanya memang seperti yang sudah terjadi baru-baru ini Alstrelia gunakan untuk membunuh monster sampah yang bermodalkan nekat itu, tapi kira-kira apa jadinya jika dia gunakan untuk melawan Orc Lord ini?
Suatu pertanyaan yang akan terjawab saat itu juga.
"Baiklah, kita coba ini." Dengan wajah tanpa ekspresi, Alstrelia segera menarik pemicunya.
Sebuah cahaya putih muncul di ujung moncong pistolnya. Karena targetnya kali ini lebih besar dari para Wayvern itu, sebuah lingkaran sihir berwarna merah itu pun muncul tepat di bawah kaki Orc Lord itu.
"Apa yang kau lakukan? Semua ini tidak akan mempan kepadaku, manusia." Kata Orc. Meskipun setelah berkata seperti itu pada mereka berdua, benjolan demi benjolan muncul di seluruh tubuh dan kian kesini semua itu semakin membesar layaknya balon yang terus diisi angin melebihi kapasitas yang bisa di tampun dan..
__ADS_1
DHUAR....
'Bukankah senjatanya itu terlalu mudah untuk menghabisi musuhnya?' Pikir Elbert saat melihat cara kerja senjata milik Alstrelia dibilang sangat mudah.
Padahal bagi Alstrelia sendiri, senjata yang dia gunakan itu hanyalah sekedar perantara untuk membuat variasi sihir lebih banyak tanpa membuat dirinya merapalkan mantera sihir.
Tapi kira-kira apakah serangannya tadi benar-benar berhasil untuk menghabisi musuhnya itu?
Selepas ledakan yang menghancurkan seluruh tubuh Bab* itu menjadi bongkahan daging yang tak beraturan berserakan dimana-mana, lagi-lagi sebuah cairan hijau kembali muncul. Namun kemunculan dari cairan hijau itu muncul di seluruh bongkahan daging Bab* itu.
Dan seperti sebelumnya, keberadaan dari cairan hijau itu pun membuat para daging yang terlempar jauh ke segala arah itu, saling mencari satu sama lain dan setelah bertemu dengan komponen mereka, maka semua daging itu pun kembali menyatu.
JLEB.
Elbert yang kebetulan menemukan satu buah tangan milik Orc itu tergeletak di depan kakinya, segera dia tancapkan pedang suci miliknya itu agar tangan yang hendak bergerak itu, bisa Elbert tahan.
Tapi tidak seperti harapan. Sekalipun tangan itu tidak jadi menemui teman-temannya, Orc yang sudah kembali menjadi wujud aslinya itu, ternyata mampu menumbuhkan tangannya yang tidak dia dapatkan tadi gara-gara Elbert mengunusnya dengan pedang suci itu.
'Itu- Kemampuan regenerasi dan penyembuhan.' Alstrelia pun akhirnya menampikan senyuman tawarnya saat meilhat kecepatan regenerasi Bab* itu dan memilih memberikan serangannya yang lain.
"Ah~ Makan, aku butuh makan, labih banyak makanan!" Teriak Orc itu, lalu demi menargetkan para manusia yang berada di kediaman Fisher, Orc ini pun melancarkan serangan sihirnya.
Sebuah cahaya merah muncul di telapak tangannya, dan cahaya itu pun melesat ke atas.
DHUAR...
Layaknya percikan dari kembang api, butiran kecil dari hasil ledakan tadi langsung mengarah kepada para kesatria.
********
"Temuilah, datanglah, berikan perlindunganmu pada generasimu, Alstona." Lirih Alrescha.
Setelah melukis pola dari lingkaran sihir tepat di tengah taman dari sebuah Alstar yang Alrescha buat sendiri dengan darahnya, sekarang Alrescha pun melakukan ritual pemanggilan untuk memanggil artefak miliknya, yaitu...
'Itu pedang Alstona?!' Lirik Edward saat melihat lingkaran sihir yang Alrescha buat dengan darah itu tiba-tiba bersinar berwarna kuning, lalu tepat di tengah-tengah lingkaran tersebut, perlahan muncul sebuah bilah pedang berwarna putih perak.
Sampai suara ledakan itu berhasil menyita perhatian Edward yang sedang berjaga.
__ADS_1
"Ledakan itu?!" Buru-buru Edward mengangkat tangan kanannya sebelum hujan dari malapetaka itu membunuh semua orang dikediaman Fisher, Edward pun merapalkan mantera sihir untuk membuka sihir teleportasi.
Hingga dalam sekejap mata, butiran dari sihir pembunuh yang akan menghujani mereka semua langsung masuk dalam celah dimensi tak terlihat tersebut.