Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
220 : Alstrelia : Hasil


__ADS_3

Pusaran angin yang berhembus untuk sesaat tapi dengan posisi tekanan yang cukup kuat itu menciptakan petir berwarna kuning muncul dan menyebar ke seluruh penjuru ruangan.


Jam juga menunjukkan pukul dua pas tepat dengan selesainya ritual penghubungan batin itu.


Cahaya terang yang berasal dari lingkaran sihir itu menjadi satu-satunya penerang di kamar tersebut. Itu semua karena efek dari pengaktifan lingkaran sihir tadi, sehingga semua lampu menjadi padam.


Dan teriakan yang cukup kencang itu mewarnai ketegangan diantara mereka semua yanga ada di dalam kamar itu juga.


Erangan keras milik Alrescha pun benar-benar menambah kesan kacau, sampai Elbert sendiri langsung berlari menghampiri Tuan nya yang terlihat sedang tersiksa itu.


"Akhh ...! Kenapa sakit sekali!" Racau Alrescha sampai Alsrescha langsung jatuh dalam posisi berlutut dan tubuh membungkuk ke depan, tepatnya ke atas lantai, gara-gara saking tersiksanya akan rasa sakit yang mendera kepalanya itu.


“Hahh …, hah …, hah …” Alstrelia yang sedang kelelahan itu, langsung jatuh terduduk dengan nafas yang cukup memburu. 


Mana sihirnya langsung terkuras, itulah yang membuat kedua kakinya merasa lemas untuk berdiri terus. 


“Koman!” Elda menarik salah satu lengan Alstrelia dan membantunya kembali berdiri. ‘Sampai mengerahkan mana sihirnya untuk pemeran utama dunia novel ini, komandan sangat dermawan sekali. Pantas saja banyak orang yang menyukainya, di balik mulutnya yang suka menghina itu.’ 


Alstrelia sendiri sebenarnya cukup sadar diri dengan apa yang ia lakukan adalah sebuah pengorbanan yang cukup besar, dengan arti lain, ia terus saja di ajak untuk terus membantu Alrescha menemukan tujuannya, yaitu menemukan adiknya. 


Sedangkan Alstrelia, dia harus menamatkan kisahnya dengan cerita yang ia atur sendiri?


Itu masih sebuah pertanyaan yang cukup besar. Karena Alstrelia sendiri tidak tahu apa kisah sebenarnya dari novel yang ia masuki itu. Awal kisah saja tidak tahu, apalagi akhir ceritanya, dia benar-benar buntu jika hanya mengandalkan dirinya sendiri terus. 


“Elda, beritahu semua kisah dari cerita novel yang kita masuki kepadaku secara rinci.”


“Koman, apa kau ingin segera menyelesaikan kisah ini?” 


“Ya.” Alstrelia yang masih merasakan lelah itu, segera berjalan menghampiri sofa dan langsung duduk dalam posisi selonjor. 


BRUK.


“Kita tidak bisa berlama-lama disini, sekalipun waktu di tempat ini lebih cepat ketimbang dunia nyata. Dan jika sesuai dengan perkataanmu, aku sudah menghilang selama lima hari, maka artinya perang dengan pasikan Darkness itu tinggal tujuh hari lagi.” Walaupun sekarang tubuhnya ada di sini, tapi tidak dengan pikirannya yang terus saja mengingat rumahnya. 


Rumah miliknya itu berada di tempat yang cukup luas, diantara milyar bahkan triliunan bintang juga planet.


Dan kerajaan yang Alstrelia emban, sebentar lagi akan memasuki masa perang dengan pasukan Darkness. 


Makannya, Alstrelia pun benar-benar di kejar waktu sana dan sini. Belum lagi persiapan dirinya untuk menghadapi semua pasukan yang kemungkinan jumlahnya bertambah, mengingat pasukan Darkness sempat mendapatkan sekutu yang bagus. 


Elda yang mendengar peryataan milik Alstrelia pun terkesiap kaget. 


Dia sungguh tidak mengerti untuk cara berpikir dari atasan nya itu, karena di saat tubuhnya lelah karena menghabiskan energi sihirnya sendiri untuk melakukan ritual, tapi Alstrelia masih bisa menyempatkan dirinya untuk memikirkan kondisi kerajaannya yang ia tinggal itu. 

__ADS_1


“A-ah, kalau begitu coba ta-”


“Akhh…! Apa yang kau lakukan padaku!” Pekik Alrescha. Karena sakit yang mendera kepalanya itu, Alrescha tiba-tiba mengeluarkan darah dari hidungnya. 


Rambutnya pun masih tetap berwarna putih. 


KWAKK….!


Efek dari perubahan warna rambut milik Alrescha, tentu saja menciptakan burung elang Galshad. 


“Tuan, biar sa-”


“Tidak Elbert, biarkan saja dia. Nanti juga sembuh sendiri.” Perintah Alstrelia terhadap Elbert yang hendak menolong Alrescha untuk meredakan rasa sakit yang ada di kepalanya.


“Tapi ini tidak bisa di biarkan, Tuan itu majikan saya, dan sekarang Tuan sedang menderita, lebih ba-”


“Aku lebih tahu dari yang kau tahu Elbert. Tidak percaya juga tidak masalah, coba saja lakukan segalanya untuk menyembuhkannya, itu tidak akan ada gunanya.” Beritahu Alstrelia. Bahwa Alrescha yang sedang kesakitan itu sama sekali tidak bisa di sembuhkan, karena pada dasarnya hanya akan sembuh sendiri. 


Dan tentu saja ada satu syarat agar kepala Alrescha yang sakit itu bisa reda.


BRUKK….


“Kyaa …! Ada burung besar!” Teriakan dari salah satu wanita yang ada di luar mansion itu membuat Elbert semakin menatap wajah Alstrelia degan cukup serius. 


Ketika burung Galshad yang ada di depan mansion itu muncul dan mendarat di atap bangunan mansion utama, sayapnya yang berkibar itu segera memporak porandakan sekitarnya setelah bulu Es itu lepas dari tubuhnya dan menyerang kediaman mansion. 


“Kalian semua! Cepat halau semua bulu es itu!” Salah satu orang berteriak menyerukan untuk membuat pertahanan, dengan menghadapi semua bulu Es yang meluncur cepat ke arah mereka. 


KWAKK….!


Tentu saja sayap lebar milik Galshad itu kembali berkibar dan menyapu seisi mansion dengan angin yang dihasilkan oleh kibaran dari kedua sayapnya. 


Suara yang cukup memekikan telinga itu tetap tidak menghentikan para kesatria Fisher untuk tidak melawan serangan Galshad. 


Mereka semua tetap melancarkan serangan bertahan untuk menangkis semua bulu Es yang akan menghanurkan semua tempat yang ada di kediaman Fisher. 


Sampai kekuatan dari suhu yang teramat dingin itu berhasil memecahkan semua kaca jendela.


PRANK …


Angin besar yang membuat seluruh area taman, kembali hancur, dan setiap jendela yang menghiasi segala dinding bangunan, langsung pecah. Termasuk dengan kamar yang sedang mereka berempat gunakan, semuanya pecah dan seakan memperbolekan angin dari luar yang cukup dingin itu masuk kedalam kamar. 


Angin yang cukup dingin itu pun sukses membuat area sekitar mansion mulai membeku. 

__ADS_1


Alrescha yang sudah kehilangan kendali atas kekuatan tersembunyi yang bersemayam itu, terus berteriak sakit dengan kepalanya, karena memang itulah yang Alrescha rasakan. 


Hingga Elbert yang hendak menyentuh kembali tangan milik Alrescha, langsung mengurungkan niatnya, karena jarak diantara mereka berdua saja sudah membuat lantai yang Elbert pijak mulai membeku, dann menjalar ke kakinya. 


“Tuan, sadarlah!” Tapi demi menghentikan itu, Elbert pun menepuk bahu Alrescha dengan sedikit keras, sampai Alrescha langsung menoleh ke arah Elbert dengan tatapan membunuh. 


“Siapa k-” Hingga awal kalimat yang hendak di ucapkan Alrescha itu seketika terpotong, saat suara lembut itu datang dan menyapa indera pendengarannya. 


“Kakak,”


Kesadaran yang awalnya hendak di rebut oleh sosok lain yang ada pada tubuhnya, seketika langsung di rebut kembali oleh Alrescha sendiri. 


“Alstrelia?” panggil Alrescha balik dengan suara lirih, karena dia ragu, bisa saja perempuan yang sedang duduk di depan sana adalah orang yang baru saja memanggilnya kakak. 


Tapi panggilan dari Alrescha sama sekali tidak di jawab. 


‘Kenapa tidak menjawab panggilanku?’ Pikir Alrescha. Dia bingung, apakah yang baru saja dia dengan tadi adalah suara milik dari Alstrelia palsu itu?


“Bawa ini dan buat dia minum.” Perintah Alstrelia Ve Der Franzisteen kepada Elda sambil memberikan gelas yang dari tadi Alstrelia pegang itu. 


Elda hanya memberikan anggukan kecil, lalu menuruti perintah dari Alstrelia untuk memberikan gelas milik Alrescha itu. 


“Ini, kau disuruh minum ini.” Kata Elda, mewakili Alstrelia yang sudah duduk diam sambil memandang luka di telapak tangan kirinya. 


KWAKK….


“AKhh …!”


BRAKK…!


Suara rintihan dari orang-orang yang terluka akibat serangan dari Galshad pun kian terdengar, memojokan diri Alrescha yang sedang tidak mampu mengawal kekuatan untuk mengendalikan burung Galshad itu. 


Alrescha akhirnya mengambilnya. Dia menatap cairan merah kental yang tidak lain adalah darah. 


“Berikan sedikit kekuatanmu pada gelas yang kau pegang itu.” Akhirnya suara milik Alstrelia kembali terdengar. 


Sesuai dengan permintaan, Alrescha menyalurkan sedikit kekuatan miliknya di ujung jarinya, dan hasilnya warna darah yang terlihat sangat nyata itu berubah menjadi air yang terlihat seperti diberi pewarna merah saja, dan tetap memperlihatkan dasar dari gelas itu sendiri. 


“Tunggu apa lagi, aku tidak mungkin meracunimu. Kau lihat sendiri tadi kan, itu darahmu bercampur dengan darahku. Jika kau minum, kau akan tahu apa efek yang bisa kau dapatkan itu.” Jelas Alstrelia panjang lebar. 


Alstrelia menyuruh Alrescha meminum itu juga untuk diri mereka berdua, agar Alrescha tidak lagi sembarangan merebut bibirnya. 


‘Wajahnya saja yang tampan, dan terkesan dingin. Tapi dia memang orang yang idiot. Apakah Ayah membuat karakter ini seperti ini agar aku jadi orang yang lebih mendominasi karakter anak ini?’ Alstrelia hanya berpikir mengenai situasinya saat ini, karena selama ini ia sadar kalau keberadaannya lebih mendominasi ketimbang tokoh utama pria itu sendiri, Alrescha. 

__ADS_1


__ADS_2