
TAP...
Satu langkah ke depan Alvaron ambil, sehingga jarak diantara mereka berdua, antara Elda dan Alvaron pun semakin terkikis, segi Elda sendiri tidak bisa bergerak dari tempatnya, sebab tubuhnya terasa kaku, layaknya tubuhnya itu berubah menjadi patung.
Padahal sebenarnya tubuhnya itu sedang dikendalikan oleh Alvaron agar tidak bergerak sedikit pun.
"Apakah kau yakin dengan keputusanmu, membawa pulang Putri Alstrelia kepadaku?" Tanya Alvaron dengan tatapan yang cukup dingin, sampai Elda sendiri merasa tatapan itu sudah menembus tubuhnya, sehingga saat in saja dia memang merasakan tubuhnya meremang hebat saat mendapatkan tatapan sengit dari pria yang punya status tertinggi di kerajaan Asggardia ini.
"Iya."
Jawaban itu pun menjadi pertanyaan berikut yang akan dilontarkan oleh Alvaron kepada Elda ini.
"Syarat keduamu itu adalah niatmu. Bawa niat itu bersama dengan ini, mengerti?"
"Iya."
Lalu Alvaron pun mengulurkan tangan kanannya itu ke arah Elda, tepatnya tangan kanannya itu pergi menghampiri wajah Elda, mengusapnya sesaat seiring tangan tersebut berhenti tepat di telinga milik Elda.
Setelah itu, Alvaron langsung menindik telinga milik Elda yang belum memiliki lubang telinga untuk anting dengan paksa.
CESS...
"...........!" Elda langsung mengernyikan matanya, karena harus menahan rasa sakit yang diberikan oleh sang Raja kepadanya di telinga kirinya.
Itu cukup membutuhkan waktu, sampai darah dari telinga yang sedang di tembus oleh anting tindik itu keluar dan menodai jari jermari lentik milik Alvaron.
'Padahal hanya di tindik seperti ini, kenapa rasanya sakit seperti ingin mati?' Pikir Elda kala itu, masih mencoba menahan sakit itu dalam diam. Dan karena itu pula, Elda berpikir alasan kenatap tubuhnya saat ini tidak bisa bergerak adalah karena sakit yang saat ini Elda rasakan bisa saja membuat tubuhnya bertindak untuk menyerang Alvaron saat itu juga.
Jadi ada kemungkinan memang untuk menyiasati kemungkinan yang ada itu dengan cara demikian.
__ADS_1
Setalah mendapatkan satu tindikan yang cukup menyakitkan itu, tiba-tiba wajah sang Raja mendekat.
'Apa lagi yang akan Yang mulia Raja lakukan?' Elda hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh sang Raja ini terhadapnya, karena saat ini dirinya benar-benar tidak bisa berbuat apapun lagi.
Dan jarak itu semakin dekat dan lebih dekat, sampai dimana jarak dari kedua wajah mereka berdua pun sudah cukup menjadi bahan untuk percobaan untuk saling berciuman?
Itu memang benar, tapi sayangnya itu hanya khayalan belaka dari Elda saat itu, karena yang dilakukan oleh pria di depannya itu adalah...
FYUUHH~
Hembusan dari tiupan kecil yang dilakukan oleh Alvaron berhasil membuat Elda merasakan sensasi geli di telinga sebelah kirinya.
Tapi ajaibnya, tiupan itu berhasil membuat telinga yang tadinya terasa sakit, sudah tidak sakit lagi.
Hanya saja-
"Baik, Yang mulia. Saya, akan membawa Yang mulia Putri, dan menyelesaikan alur dari Novel anda." Jawab Elda.
Dan saat itulah, pandangan Elda yang semakin buram, akhirnya membuat tubuh Elda langsung ambruk.
BRUKK....
_____________
"Setelah aku membuka mataku, tiba-tiba aku jatuh dari langit. Aku terjunn bebas dan berakhir menemukan koman sudah tidur, karena kehabisan mana sihir." Jelas kepada sang Putri Alstrelia yang Elda cari itu
"Jadi-" Alstrelia bersandar ke sandaran kursi, mengangkat tangan kirinya dan meletakkan sikunya di atas tangan kursi. Setelah itu Alstrelia pun menggunakan punggung jadi telunjuknya untuk menopang bibir bagian bawah seraya berkata :Jadi itulah alasan diriku yang lain muncul?" Tanya Alstrelia, mengkonfirmasi tebakannya itu.
"Iya Koman. Dirimu yang lain itu sungguh menyebalkan. Aku memnag anak buah Koman, tapi dia itu terus saja memanggilku anak buah, padahal aku punya nama sebgus ini." protes Elda atas kejadian yang menimpa dirinya selama beberapa hari ini, benar-benar menjadi suruhan paling aneh dan kejam dibandingkan dengan Koman nya saat ini.
__ADS_1
"Apakah menjengkelkannya lebih dari aku?"
"Ya. Si Als itu bahkan sampai menyuruh Alres itu untuk mencium kakimu- ups." Elda menutup mulutnya langsung.
Alstrelia yang menyadari Elda itu tiba-tiba diam, segera meliriknya. "Apa? Aku belum memberimu perintah untuk diam, kenapa sudah diam?"
Elda menghela nafas dengan kasar, "Memangnya aku harus berkata apa lagi? Semua ucapanku pasti sudah mulai di prediksi lagi, kan?" elda yang lelah untuk sekedar bercerita yang ternyata menguras waktu, sebab Elda bercerita dengan cukup detail, membuatnya duduk sembarangan di kursi single sambil meletakkan keda kakinya di atas meja.
"........" Alstreliia yang terdiam itu tiba-tiba saja langsung berdiri dan membungkuk di depan Elda yang hendak duduk santai itu.
Karena tindakan Alstrelia yang tidak di prediksi itu, mata Elda tentu saja langsung meotot, melihat jarak dari wajah mereka berdua sungguh dekat hingga tiap hembusan nafas yang Alstrelia buat, sukses menyapu bersish telinga sebelah kiri Elda yang cukup menggelitik itu.
"A-ap?" Elda yang gugup itu hanya melirik wajah Alstrelia yang di sampingnya persis.
"Antingmu." Lirih Alstrelia seraya menyentuh telinga sebelah kiri Elda dan mengusap manik kecil yang berasal dari batu kristal yang sama dengan bandul kalung miliknya. "Elda, apakah Yang mulia Raja sendiri yang meakaikanmu ini?"
"Ya?"
Kilatan dari tatapan mata segit itu langsung menyambar mata Elda persis bahwa pertanyaan dengan tatapan mata Alstrelia itu mewakili rasa tidak sukanya.
Tentu saja tidak suka.
Ayahnya Alstrelia tampan, walaupun Alstrelia sendiri adalah anak dari pria itu. Akan tetapi, melihat Ayahnya memakaikan perhiasan kepada Elda, yang sama saja menggunakan perhiasan kepada wanita lain, maka dalam diri Alstrelia pun muncul rasa tidak suka, karena sang Ayah memberikan perhatian pada wanita lain selain dirinya maupun selain Ibunya.
"A-ampun! Ampuni aku!" elda cepat-cepat turun dari akursi dan berlutut di depan Alstrelia yang masih berada di posisinya itu. "Aku sendiri tidak tahu kalau Yang mulia membuatku harus memakai anting ini demi bisa datang kesini untuk menemukanmu. Waktu itu tubuhku benar-benar tidak bisa digerakkan, dan ak"
"Sudahlah, cepat berdiri." Pungkas Alstrelia, dia kembali duduk dan diikuti Elda yang masih berdiri untuk menunggu perintah dari sang Putri majikannya itu. "Elda, duduk." Perintah Alstrelia dengan malas, melihat Elda benar-benar seperti anj*ing yang terus menunggu perintah dari majikannya.
Hanya saja, memang itulah peran milik Elda yag sebenarrnya. Menjadi anj*i*ng dari Alstrelia, yang akan menuruti segala perintah.
__ADS_1