Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
94 : Alstrelia.


__ADS_3

"Apa yang terjadi kepada mereka?" Tidak hanya satu atau dua orang yang melihat makhluk bersayap itu terbang kesana kemari untuk melawan temannya sendiri.


"Entah karena sedang terjadi apa dengan mereka, ini adalah kesempatan kita. Kita jadi tidak perlu mengkhawatirkan makhluk bersayap yang merugikan kita." Ucap salah satu kesatria.


Banyak diantara memang sedang memasang wajah heran sekaligus penasaran, karena Wayvern yang merupakan monster yang cukup merugikan mereka jika bertarung dengannya, sekarang jadi sudah bisa teratasi tanpa perlu campur tangan.


"Benar, yang perlu kita lakukan adalah melawan mereka!" Kesatria ini berlari dan langsung menghunuskan pedang kearah musuhnya sendiri yang memiliki tubuh besar, punya kulit berwarna hijau, deretan gigi putih tapi tajam layaknya gergaji, serta sepasang telinga yang runcing mirip dengan telinga Elf.


Tidak ada diantara mereka yang terlihat takut dengan keberadaan monster yang tiba-tiba muncul di kediaman Fisher, karena mereka memang sudah didasari kemampuan untuk bertarung dengan musuh dengan tubuh besar serta beda ras.


Tapi apa yang sedang mereka hadapi kali ini?


Sosok dengan wajah jeleknya itu adalah Goblin.


"Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, aku bisa bertemu dengan manusia." Dan goblin ini cukup pandai untuk berbicara, sampai semua orang yang ada disana terpegun sendiri.


Monster bisa bicara?


Kenyatannya sudah ada di depan mata mereka.


"Jangan pedulikan omongannya, sekarang serang mereka!" Teriak salah satu dari mereka.


"Hyaaah...!" All. Mereka semua berlari untuk memulai serangan mereka terhadap monster itu.


DRAP....DRAP.....DRAP......


Sama halnya dengan para kesatria, monster itu pun berlari ke arah mereka juga.


Dengan segala senjata yang mereka miliki, dan ditambah dengan tubuh mereka yang besar, dalam sekali ayunan tangan, jika yang mereka hadapi adalah manusia biasa, maka yang ada manusia itu akan berubah menjadi penyek.


**********


"Sudah lama tidak bertemu, ya? Edward?" Sapa seorang wanita, ketika kemunculan Edward persis di depan pintu utama mansion dari kediaman Duke Fisher.


Edward yang baru saja muncul setelah melakukan teleportasi pun menoleh ke belakang.


"Jadi kau yang merusak dinding pembatas yang sudah aku buat?" Tanya Edward pada wanita yang terkenal sebagai salah satu pemilik salon yangterkenla di Ibu kota. "Winda?"


Wanita yang dipanggil Winda ini pun tersenyum manis tanpa merasa bersalah, karena berpihak pada musuh dan berani menyerang Fisher.

__ADS_1


"Iya. Karena aku sudah tidak tahan dengan rencana ini, aku jadi dengan sengaja membuka teleportasi untuk mereka. Jadi mereka kan tidak perlu jauh-jauh untuk bertamu kesini." jawab Winda. "Lalu sepertinya, dia sedang di kendalikan seseorang. Sayang sekali, karena mereka malah asik bermain ketimbang membunuh Putri Alstrelia." Imbuh Winda saat mendongak ke atas, dimana Weyvern yang tugasnya adalah untuk memburu Alstrelia, kini malah sedang bermain-main.


"Apa kau bilang?" Satu suara asing itu pun langsung muncul ditegah perbincangan mereka berdua.


Winda kemudian menoleh ke belakang dan langsung memberikan senyuman ramah ketika yang bertanya tadi ternyata adalah Elbert.


"Hai, kita bertemu lagi," Sapa Winda dengan lambaian tangan kearah Elbert.


"Kau barusan bilang, ingin membunuh Putri?" Tanya lagi Elbert, mencoba mengkonfirmasi apa yang baru saja dia dengar tadi.


"Ya, dialah alasanku harus datang kesini dan membiarkan mereka mengeroyok mansion ini agar jadi hancur." Jawab Einda secara terang-terangan sambl melirik kearah para monster yang sedang bertarung melawan para kesatria Fisher.


Elbert yang seketika dilanda kemarahan, langsung bersikap lebih dingin. Dia kembali bertanya lagi : "Apa alasanmu?"


"Seseorang yang mengganggu tatanan dunia, tentu saja harus di singkirkan." Ungkap Winda.


"Oh~ Jadi kau pun merasa kalau Putri memang harus dibunuh karena tidak layak hidup?" Elbert yang sudah di dalam tekanan amarahnya sendiri karena Winda yang merupakan teman masa kecilnya itu, ternyata diam-diam memiliki niat terselubung yang sangat besar.


Karena Winda saat ini, menginginkan kematian Putri Alstrelia?


Elbert yang merupakan orang yang bertanggung jawab atas apa yang ada di kediaman Fisher pun tidak akan merelakan hal itu terjadi begitu saja.


"..................." Elbert yang merasakan ujung sisi dari jubahnya di tarik oleh seseorang yang bersembunyi di belakangnya pun, sedikit menoleh ke belakang dengan sedikit membungkuk pula.


Dia adalah Alstrelia, dan dia saat ini membisikkan sesuatu pada telinga Elbert.


Karena sosok Alstrelia masih tertutup di balik tubuh Elbert yang besar juga cukup tinggi, Winda pun jadi belum tahu siapa orang yang ada di balik tubuh Elbert itu.



"Baiklah." Sahut Elbert dengan anggukan kecil.


"Apa kalian akan bertarung menyerangku?" Tanya Winda sambil menatap Edward dan Elbert secara bergantian.


Elbert tidak merespon apa yang Winda katakan tadi, hanya langsung berbalik.


Sampai dimana, kepergian Elbert berhasil memperlihatkan orang yang dari tadi bersembunyi dibalik punggungnya.


"Bukan mereka, tapi aku!" Ucap Alstrelia, langsung menumpukan kaki kanannya untuk melesat kearah Winda yang belum selesai memperlihatan ekspresi terkejutnya itu.

__ADS_1


"Kau?" Winda seketika tersenyum tawar saat mendapati wanita yang seminggu lalu itu datang dengan Elbert ke salon nya, saat ini ada di depan matanya untuk menyerangnya.


CTANG...!


Satu benturan keras itu berhasil mempertemukan mereka kedua senjata milik berdua dalam pertarungannya antara pedang dan tongkat sihir milik Winda.


"Kau ingin membunuhku kan? Aku berikan kau kesempatan untuk melakukannya! Manusia!" Ujar Alstrelia dengan senyuman miringnya, memprovokasi Winda yang saat ini sudah terlihat memantapkan hatinya sendiri untuk balik melawannya. "Tapi itu pun, jika kau bisa." Imbuhnya.


"Jadi kau Putri Alstrelia yang dirumoran itu?"


"Aku tidak peduli dengan rumor, jika kau bertanya seperti itu, bukankah artinya kau baru menyadari kalau aku adalah orang yang sedang kau cari? Kau cari musuh yang salah, wanita." Ledek Alstrelia, setelah itu Altsrelia langsung mengayunkan kaki kanannya untuk menendang tubuh Winda.


Tapi winda yang menyadari bahaya lain dari taah yang sedang di pijaknya, segera membuat Winda melompat mundur.


Sama halnya dengan WInda, Altrelia pun melompat mundur ke belakang demi menghindari tanaman rambat yang tiba-tiba muncul itu. Setelahnya, Alstrelia menjeling tajam kearah Edward, si pelaku atas lingkaran sihir yang tadi mucul.


"Karena urusan kita yang sebelumnya belum selesai, kau sebaiknya jangan mengganggu. Dan kebetulan, kau penyihir ekslusif Alrescha, jadi urus saja monster itu sebelum mereka lebih merusak rumahnya." Beritahu Alstrelia kepada Edward.


Edward yang berhasil menerima pesan dari Alstrelia hanya terdiam.


Edward terdiam bukannya marah atau apa, tapi hanya merasa tidak terima kalau ternyata Alstrelia tahu, kalau Edward yang merupakan pemimpin dari menara sihir ternyata merupakan penyihir eksklusif dari Duke Fisher, yaitu Alrescha.


Dengan perasaan yang seperti kembali direndahkan oleh Alstrelia, Eward pun menghilang dari sana.


'Kenapa dia pergi?! Padahal tujuanku adalah bertarung melawannya agar aku tahu seberapa hebat anak itu. Tapi-" Hal tidak terduga lainnya, tujuan keduanya pun jadi berubah menjadi tujuan utama.


Alstrelia yang Winda kira adalah gadis yang tidak memiliki bakat dalam pertarungan selain memiliki satu kekuatan khusus, membuat Winda terpaksa melawannya.


"Kau punya celah." Celetuk Alstrelia. Dalam sekejap mata, Alstrelia sudah berada di belakang Winda lalu langsung mengayunkan pedangnya dari kiri ke kanan.


SYUHTT....


Winda yang cepat-cepat melompat ke atas demi menghindari seranagn dadakan itu, dikejutkan dengan benda yang ternyata sudah ada di atasnya persis.


'Apa itu?!' Tanpa membuang waktu untuk berpiki itu adalah benda apa, karena tiba-tiba ujung dari benda yang terlihat seperti salib itu mengeuarkan cahayanya, Winda pun langsung mengangkat tongkatnya ke atas.


DORR....


Sebuah dinding pelindung layaknya seperti bola transparam berhasil melindungi tubuhnya sebelum terkena tembakan dari senjata tersebut.

__ADS_1


"Bukannya sudah aku bilang, kau melawan orang yang salah." Ujar Alstrelia lagi, bahwa apa yang dikataknnya itu adalah ungkapan bahwa, Winda memang salah menargetkan orang. Karena orang yang jadi sasarannya kali ini bukanlah orang yang dicarinya.


__ADS_2