Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
218 : Alstrelia : Solusi untuk kakak Alrescha.


__ADS_3

"Phuah...!" Mereka berdua akhirnya mengakhiri tautan mereka.


"Kau memang lebih tua dariku, tapi ternyata kau sebodoh itu. Aku sudah tahu apa yang aku lakukan agar kau tidak terus mendapatkan keuntungan seperti ini." Papar Alstrelia seraya menyeka bibirnya dengan lengan seragamnya.


Alrescha, Elbert, dan Elda pun penasaran dengan maksud yang di ucapkan oleh Alstrelia itu.


_____________


Di dalam walk-in Closet milik Alstrelia.


Deretan baju tersusun rapi di dalam lemari kaca. Lemari khusus agar tidak ada debu atau serangga yang masuk dan merusak ataupun mengotori semua gaun mewah tersebut.


Saking besarnya, itu sudah seperti sebuah butik.


Dan penataannya cukup lengkap.


Tapi apa alasan mereka semua ada di sana?


Itu karena Alstrelia sudah menemukan solusi cerdas dan paling bagus untuk Alrescha yang kelihatannya memang kehabisan cara untuk bisa menggunakan kemampuannya untuk bisa melihat apa yang Alstrelia dapatkan, karena rupanya Alstrelia yang ada di depan mereka mempunyai satu hubungan tak kasat mata, benang putih tipis yang menghubungkan antara Alstrelia adiknya Alrescha yang asli.


"Kau gambar ini." Alstrelia yang baru saja selesai menggambar di depan meja rias, memberikan selembar kertas kepada Elbert.


"Kau, cari gelas yang sering kau pakai." Perintah Alstrelia kepada Alrescha.


Alrescha pun pergi dari sana. Sedangkan Elbert membuat lingkaran sihir sesuai dengan gambar yang ada di dalam kertas tersebut.


"Elda, cari kristal berwarna biru dan hijau."


"Seberapa banyak?"


"Tiga buah per warna saja." Jawabnya.


Alstrelia masih duduk di depan meja rias, sambil memandangi dirinya sendiri yang memang mirip dengan adiknya Alrescha, dan dia ada duduk di sana karena dia berperan untuk menggantikan posisi dari adiknya.


Tapi semua itu akan berakhir ketika semua cerita mencapai akhir.


Namun yang menjadi pertanyaannya adalah kapan dia akan menemukan puncak dari cerita serta endingnya?

__ADS_1


Alstrelia menarik satu helai rambut hitam miliknya itu sampai putus. Dia pun memandangi rambut tersebut.


Setelah itu, dia beranjak dari kursinya, pergi menuju lingkaran sihir yang sedang Elbert buat dan baru saja separuh jadi.


Elda sendiri, dia sedang membuka semua laci yang ada di lemari, terlihat ada banyak kotak perhiasan tertata rapi dari kecil sampai besar. Dan setiap di buka, ia akan melihat berbagai set perhiasan yang sebenarnya sama sekali belum pernah di pakai oleh pemiliknya yang asli.


Lalu Elda sendiri, dia hanya mencari set perhiasan dengan batu kristal yang sesuai dengan pesanan dari Alstrelia.


'Hebat juga keluarga ini. Hanya tinggal berdua saja, tapi Alrescha mampu membelikan banyak perhiasan untuk adiknya. Dia ternyata benar-benar memperhatikan adiknya sendiri ya? Walupun caranya yang sedikit salah.' Setelah berhasil menemukannya, Elda membawanya pergi untuk di berikan ke Alstrelia yang kini sedang berjongkok melihat Elbert lebih dekat.


"Yang rapi."


"Saya tahu."


Elda datang dan memberikan set perhiasan dengan warna yang sesuai dengan pesanan.


"Elda, aku tidak memerlukan rantai kalung, cincin, gelang dan anting, yang aku perlukan adalah batu kristalnya saja." Beritahu Alstrelia kalau Elda salah memberikan barang.


"Eh, maaf." Elda membawa kembali semua perhiasan itu untuk dia ambil bagian kristal nya saja.


Alstrelia segera melihat hasil kinerja Elbert yang rupanya benar-benar berhasil membuat lingkaran yang cukup sempurna.


"Aku sudah membawa sesuai permintaanmu." Pintu yang terbuka itu memasukkan Alrescha sudah membawa sebuah gelas keramik berwarna putih ada ukiran bunga yang menghiasi di pinggir gelas tersebut.


"Itu gelasmu?" Salah satu alisnya terangkat seperti orang yang setengah percaya dan tidak percaya.


"Jika mau tertawa silahkan saja." Alrescha tidak mempermasalahkan sudut pandang yang di miliki oleh Alstrelia.


Mulutnya jadi manyun, dan menyambar gelas yang di sodorkan oleh Alrescha kepadanya. "Siapa yang mau tertawa."


"Ini, aku sudah mengambil semua batu kristal nya ya-" Elda yang sudah menyodorkan batu kristal ke depan komandannya, tiba-tiba ucapannya jadi mengambang setelah dia melihat ekspresi wajah Alrescha yang terlihat buruk itu.


"Apa yang kau lakukan dengan semua perhiasan milik adikku?" Tanya Alrescha sambil menatap segenggam batu yang sudah ada di telapak tangan Elda.


"Mengambil batunya." Sahut Elda.


"Hanya batu, kenapa kau terlihat marah seperti itu?" Merampas batu dari tangan Elda.

__ADS_1


'Dia tanya kenapa? Itu kan batu yang susah payah aku dapatkan dari hutan Eldora, dan dia mau menggunakan itu untuk ritualnya?' Alrescha yang sebenarnya tidak rela itu hanya meliriknya dengan penuh makna.


Batu hijau yang Alrescha dapat dari hutan Eldora adalah batu kehidupan dari monster penjaga pohon Levaur. Pohon yang menjadi inti dari sarang telur semua monster yang sempat Alrescha hancurkan dalam misi pembasmian.


Sebagai kenangan sekaligus hadiah, ia sengaja membuatnya sebagai perhiasan untuk Alstrelia.


Tapi ia pun sama sekali tidak pernah melihat adiknya memakai perhiasan itu.


"Sudahlah, pakai saja itu." Alrescha dengan berat hati mengiyakan Alstrelia untuk menggunakan batu tersebut.


"Baiklah. Tapi mukamu itu sungguh jelek. Pasti tidak rela ya?" Sindir Alstrelia.


Dia memberikan gelas tadi ke Elda, menaruh batu kristal tadi kedalam gelas itu, lalu Alstrelia merentangkan tangan kirinya, membuka telapak tangannya dan menyayat telapak tangannya dengan pisau makan yang sudah Alstrelia siapkan dari awal.


Hasil dari sayatan itu pun memberikan luka yang cukup dalam di telapak tangan Alstrelia. Dia mengepalkan tangannya yang terluka itu di atas gelas itu hingga darah berhasil di tampung di dalam gelas tersebut.


"Kau lakukan juga." Alstrelia memberikan pisau tadi ke Alrescha.


Alsrescha terdiam sesaat, sebelum dia kahirnya mengambil pisau tersebut, dan berjalan lalu berhenti di samping kiri Elda.


Sama hal nya dengan apa yang di lakukan oleh Alstrelia, Alrescha pun menyayat telapak tangan kirinya hingga darah yang keluar ikut tertampung juga di dalam wadah.


Semua batu kristal itu pun terendam oleh darah merah tersebut.


Alstrelia meletakkan rambut miliknya ke dalamnya.


Setelah itu, Alstrelia mengambil kembali gelas itu dari tangan Elda, dan mendekatkan bibir gelas dengan bibirnya. Memejamkan matanya, Alstrelia akhirnya mengeluarkan air liurnya ke dalam gelas.


"Phuih." Ludah itu akhirnya masuk juga ke dalam kubangan darah yang sudah terkumpul di gelas tersebut. "Jangan melihatnya dengan tatapan jijik." Peringat Alstrelia sambil berjalan ke dalam lingkaran sihir yang sudah di buat oleh Elbert itu.


"Aku sudah melihat ada yang lebih jijik dari itu, jadi itu tidak seberapa." Ucap Alrescha.


Alrescha pun memperhatikan Alstrelia terus.


"Bahkan jika aku melakukan ini?" Alstrelia tiba-tiba memasukkan tangan kanannya ke dalam gelas itu, mengaduk air darah bercampur dengan ludah, sehelai rambut dan batu kristal dengan menggunakan jarinya.


Alstrelia tersenyum miring, melihat Alrescha, juga Elbert memiliki reaksi wajah yang sama, yaitu dua alis yang bertautan, yang artinya mereka berdua merasa jijik dengan apa yang dilakukan oleh Alstrelia itu.

__ADS_1


__ADS_2