
"A-alstrelia?" Tatap Chavire pada seorang perempuan yang saat ini sedang berkolaborasi dengan Alrescha untuk melawan Bab* itu. 'Kenapa penampilannya sangat berbeda dari yang terakhir kali aku lihat? Dia jadi terlihat lebih keren.' Pikir Chavire.
Padahal baru semalam dirinya bertemu dengan Alstrelia tepat di dalam mimpinya. Dan hari ini, dia secara kebetulan justru bertemu dengan perempuan itu lagi.
Meskipun dalam suasana yang sangat berkontradiksi, Cahvire sangat memahami kalau perempuan yang saat ini ada di depan matanya sedang serius menghadapi Orc Lord Disaster?!
'Bagaimana monster rendahan itu bisa berubah?' Saat Chavire termaangu dengan apa yang sedang dia lihat, sosok monster yang kini tingginya sudah menyamai dinding itu sendiri.
"Kenapa kau ada disini?!" Pekik Edward pada seorag perempuan yang dimana saat ini di bahu sebelah kanannya bertenggerlah burung Elang berwarna coklat.
KWAK!
Everst langsung terbang kearah Edward dan mematuk tangan Edward yang digunakan untuk menunjuk wajah majikannya.
"Akhhh..!" Rintih Edward.
"Salahmu sendiri, jangan menunjuk wajahku dengan ekspresi seperti itu." Kata Eldania langsung menyela rintihan Edward di saat itu juga. "Aku disini un-"
"Edward, apa kau tahu cara membuatku kembali ke tubuhku?" Sela Chavire saat itu pula, menghentikan perdebatan yang akan Eldania dan Edward mulai.
"Kau kenal aku?" Celetuk Edward seraya berjalan mendekat kearah Chavire yang saat ini berpenampilan lain, karena hal yang paling menonjol adalah rambut berwarna merah itu.
Edward berjalan mengelilingi Chavire dan mencoba mengendus aroma tubuh milik Chavire.
'Kenapa aromanya terasa familiar? Ya..ini cukup mirip dengan aroma milik Kaisar. Tapi pria sok tapan dan sombong itu ada di dalam tubuh ini? Memang sih ada kasus pertukaran jiwa, tapi Kaisar masuk kedalam tubuh ini?' Edward pun memberikan tatapan menyelidik pada pria berambut merah ini. "Pfft...."
Di tengah-tengah suasana tegang itu, Edward tiba-tiba tidak bisa untuk tidak tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?" Protes Chavire.
"M-maaf..ahaha...maaf.. Tapi aku tidak bisa menahannya."
'Dia memang penyihir tidak berguna.' Kutuk Chavire.
BUGHH...!
Suara hantaman itu sukses menanarik perhatian Chavire dan Eldania untuk melihat kearah samping mereka.
'Alstrelia?!' Panik karena tubuh yang saat ini sedang terbang kearahnya adalah Alstrelia. Chavire pun berlari menuju tepi dinding dan melompat.
__ADS_1
TAP..
Chavire berusaha melompat setinggi-tingginya untuk menangkap tubuh Alstrelia sebelum perempuan itu jatuh.
Tapi sesuatu yang lain terjadi.
NGUUNG...
Gimmick yang awalnya jauh dari tempat dimana Alstrelia berada sesaat tadi, sekarang sudah melesat terbang tepat di depan wajah Chavire.
'Apa ini?' Hanya itulah yang menjadi bahan rasa penasarannya, sampai dimana tubuh Alstrelia yang beberapa saat lalu menujukkan kalau Alstrelia seperti akan jatuh dalam kondisi tak berdaya, kini justru Alstrelia merubah posisi nya jadi berdiri, dan sukses mendarat di atas Gimmick nya.
TAP.
"...................." Alstrelia sesaat menjeling keaah sosok pria yaitu Chavire dengan tatapan paling dingin, sebelum akhirnya Alstrelia kembali menatap ke depan dengan senyuman miringnya.
'Siapa dia? Tatapan matanya sangat berbeda.' Benak hati Chavire. Meskipun sesaat tadi jadi disughi pemandangan menakjubkan karena Alstrelia memakai pakaian yang sangat berbeda, tapi tatapan Chavire terfokus pada ekspresi wajah Alstrelia yang terlihat sangat ambisius untuk melawan Bab* besar yang ada di depan mereka semua.
Karena Chavire tidak jadi menangkap tubuh Alstrelia, maka Chavire pun kembali mendarat.
"Aku tahu aku populer, tapi apa kau benar-benar mau melakukannya di tengah-tengah peperangan ini?" Suara milik Eldania pun sukses menyita perhatian Edward dan Chavire untuk melihat apa yang sedang terjadi.
'Siapa perempuan ini? Berani sekali bebicara seperti itu padaku.' Pikir Alrescha. Karena tadi sempat mendapatkan baku hantam dengan sang Bab*, Alrescha pun secara tidak sengaja jadi jatuh dan sekarang menindih Eldania.
"Disini sangat menarik ya? Aku jadi lebih betah," Tukas Eldania. "Raut wajahmu juga kurang baik, pasti banyak yang sudah terjadi dan harus kau tanggung sendirian kan?" Imbuhnya, sambil menepuk pundak Alrescha.
"Itu sudah jadi tanggung jawabku." Pungkas Alrescha saat itu juga sembari menyingkir dari atas tubuh Eldania.
"Kau terlalu baik." Sambung Eldania. Setelah berhasil berdiri, Eldania mengangkat tangan kanannya dan membiarkan Everst terbang mendarat di tangannya.
Hanya saja saat mengetahui ada tiga orang laki-laki sedang menatap kearahnya dengan tatapan intens, Eldania pun kembali angkat bicara.
"Jangan pedulikan aku, apalagi mencurigaiku." Harap Eldania dengan wajah polosnya.
'Justru karena kau mengatakan itu, kau harus patut dicurigai!' Pekik Edward.
"Aku hanya menonton. Lakukan apa yang perlu kalian lakukan." Tambah Eldania. Saat itu juga Eldania pun duduk di atas peti kayu bersama dengan Everst.
Awalnya Alrescha mendelik perempuan itu dengan tajam Tapi sebab Eldania sudah duduk diam dengan wajah kalem, Alrescha langsung mendes*h frustasi.
__ADS_1
Alrescha berbalik dan melihat lagi lautan monster yang ada di depannya itu. Sekalipun dia menyadari keberadaan dari orang lain yang memiliki rambut berwarna merah terang, Alrescha memilih untuk fokus dengan apa yang ada.
*
*
Di tempat Alstrelia.
'Siapa pria tadi? Dia mencoba untuk menangkap tubuhku? Huh..dia pikir aku bisa jatuh ke dalam gendonganmu?' Pikir Alstrelia. Sekarang menepis kenyataan kalau dibawahnya ada dua orang asing yang terlihat sedang menonton, Alstrelia kembali fokus pada apa yang ada di depannya.
"Apa kau sudah menyerah?" Tanya Orc ini setelah berhasil menghempaskan dua tubuh dari manusia bersaudara itu secara bersamaan.
"Selesai kau bilang?" Gumamm Alstrelia. Kepalanya sedikit menunduk sampai poni dari rambutnya yang mulai kusut itu hampir menutup separuh wajahnya. Setelah itu kedua tangannya pun menyimpan kembali pistolnya.
Dengan posisi Alstrelia berdiri tegak, tangan kanannya pun dia rentangkan ke samping.
Sebuah kabut berwarna biru itu pun tiba-tiba muncul, yang mana secara perlahan tangan kanannya memunculkan sebuah pedang.
Pedang miliknya yang awalnya tersimpan di dalam kalungnya, kini sudah Alstrelia pegang.
"Justru bagiku, ini barulah permulaan, bab* jelek." Hina Alstrelia dengan senyuman seringaian nya.
"Hahaha...jadi yang tadi masih main-main?" Tanya Orc ketika melihat sorotan mata jenaka milik Alstrelia berhasil menarik perhatian Orc ini.
"Ya..karena kau Bab* bodoh, maka baru menyadari kalau yang tadi adalah hanyalah pertarungan pembukaan." Jawab Alstrelia.
GREP.
Setelah berhasil mendapatkan wujud dari pedang miliknya sepenuhnya, Alstrelia kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan.
"Bodoh? Kaulah manusia bodoh karena mau melawan Raja Iblis sepertiku! Alstrelia! Kau akan mati saat ini juga!" Sarkas Orc ini.
Sayangnya Alstrelia tidak begitu menghiraukan balasan dari hinaan yang dia dapatkan dari Bab* itu. Dia pergunakan waktu miliknya itu untuk dia gunakan dalam mempersiapkan pertarungan sesungguhnya.
"................." Alstrelia mengerjapkan matanya beberapa kali, setelah itu tangan kirinya dia angkat. Alstrelia kemudian menutup kedua matanya, dan kedua jari miliknya yaitu jari telunjuk dan jari tengahnya dia letakkan di depan sepasang matanya yang tertutup itu.
Perlahan kedua jari tangannya dia geser ke kiri.
Alstrelia membuka matanya dan memperlihatkan warna matanya yang berubah menjadi biru terang.
__ADS_1
"Mode bertarung dimulia."