
Dari awal hingga akhir.
Semua yang hidup dan menjalani kehidupan mereka semua dalam segala kisah adalah sebuah permainan yang sudah diatur dari tuhan?
Itu memang salah satunya.
Tapi yang menjadi penentu menang atau kalah dari semua permainan yang terus berlangsung adalah diri kita sendiri.
Siapa yang paling bisa dipercaya?
Itu adalah diri sendiri.
Lalu bagaimana dengan orang lain?
Setiap manusia selalu menganggap bahwa orang lain adalah pion dari permainan mereka.
Sama hal nya dengan Alstrelia.
Karena Alstrelia masih menganut bahwa masuk kedalam novel adalah sekedar permainan yang harus Alstrelia selesaikan, maka semua orang disekitarnya tidak lain adalah pion yang harus dijalankan sesuai dengan perannya masing-masing.
Alrescha, Elbert, Lena, madam Luna, mereka semua adalah pion untuk Alstrelia bertahan dalam menghadapi sesuatu yang tidak bisa Alstrelia lakukan dengan tangannya sendiri.
“..............” Alstrelia yang sudah terbangun dari tidur sesaatnya, perlahan membuka kelopak matanya. Sekalipun hujan masih turun dengan deras, maka tidak membuat gadis yang akan menginjak umur 19 tahun ini tertidur kembali.
Dia terbangun dan langsung beranjak dari ranjangnya, setelah itu dia pergi menuju meja rias dan membuka laci yang ada disana.
Undangan yang diterima tadi pagi dari Alrecha membuatnya ingin melihat lagi. Dia mendekatkan surat undangan berwarna merah itu ke depan hidungnya dan kemudian mengendusnya dengan perlahan.
Kelopak matanya terpejam, sampai dia mulai menghayati aroma kertas yang digunakan oleh Kaisar untuk menulis surat undangan khusus untuknya.
“Aroma ini-” Alstrelia membuka kelopak matanya dengan pelan, lalu bergumam lirih setelah menimbang-nimbang aroma tipis dari parfum yang digunakan oleh kaisar terasa berbeda. ‘Aroma kasturi.’
Alstrelia bukan sekedar menumpang di rumah orang saja, melainkan dia juga mengerjakan pekerjaan lain yang terlihat remeh tapi cukup menjadi bukti yang bisa dapat dia simpulkan ketika saatnya tiba.
__ADS_1
Sala satunya adalah saat ini. Dia sedang mencari informasi yang berkaitan dengan adiknya Alrescha yang asli. Jika bukan karena Alrescha yang enggan bicara, Alstrelia tidak akan melakukan hal merepotkan itu.
Dia saat ini mencoba melakukan sesuatu pada undangan yang dia terima saat ini dengan undangan yang Alstrelia asli terima.
Membandingkannya dan mencoba mencocokkannya. Itulah yang akan Alstrelia lakukan dengan semua undangan yang akan dia teliti.
Alstrelia membuka laci yang lain, dan melihat deretan amplop yang tertumpuk dengan rapi sesuai dengan tempatnya masing-masing.
Jika itu amplop berisi undangan pesta dari sesama bangsawan maka ada terletak di urutan depan, yang terletak di tengah, itu adalah amplop yang isinya adalah undangan untuk tea time. Masih banyak kotak lainnya yang diisi berbagai undangan, tapi ada satu kotak yang berhasil menarik perhatian Alstrelia saat itu juga.
Itu adalah deretan kotak paling belakang sendiri. Disana hanya berisi beberapa lembar undangan dengan stempel yang sama. Stempel pemegang kekuasaan tertinggi di kekaisaran dan tentunya memiliki taburan emas sebagai pembeda kualitas, bahwa si pengirim adalah kaisar sendiri.
Alstrelia mengambil semua undangan itu, dan membandingkannya dengan undangan yang hari ini Alstrelia terima. Sampai semua surat, Alstrelia keluarkan dan di jejerkan dengan rapi.
Setelah mempertimbangkan banyak hal hanya dengan bukti yang sedikit itu, Alstrelia akhirnya berhasil menemukan sedikit kesimpulan yang masih belum diketahui oleh banyak orang.
“Heh~” Ekspresinya yang awalnya terlihat dingin, seketika berubah menjadi ekspresi mencibir.
Senyuman devil nya mengisyaratkan bahwa dia sukses menemukan titik terang asal muasal kenapa Alsrecha memiliki tampang berbeda saat membahas sang Kaisar.
Penyuka wewangian ini umumnya punya kegemaran terhadap seni dan bisa berpikir tangkas. Mereka punya rasa percaya diri yang tinggi, selalu ingin tahu, dan tak suka basa-basi.” Jelas Asltrelia.
Alstrelia mengambil surat kedua, ketiga, dan seterusnya layaknya yang dia lakukan pada surat yang pertama.
“Surat pertama sampai keempat, ini wanginya berbeda dengan dua surat ini.”
Alstrelia mencoba mengidentifikasinya lagi, karena indera penciumannya tajam, mau seberapa samar dia masih bisa mencoba menemukan jawabannya.
“Ini parfum aroma oriental, pemiliknya cenderung memiliki kepribadian unik, tapi… dia punya sensualitas tinggi. Jadi, siapa pemilik parfum aroma musk ini?” tanya Alstrelia pada dirinya sendiri.
Alstrelia terus menatap surat yang memiliki aroma wangi musk itu dengan tatapan penuh dengan perhitungan.
‘Dia adalah pemegang stempel itu, berarti jabatannya pastinya adalah kaisar. Tapi jika dalam beberapa bulan selera parfum nya berbeda, maka ada kemungkinan lain dia adalah orang yang sama tapi juga berbeda? Siapa yang akan aku hadapi ini? Jangan-jangan dia orang yang membuat adiknya memiliki pengalaman buruk, makannya anak itu terlihat berekspresi seperti menganggap kalau kasiar adalah musuhnya.’ Pikir Alstrelia.
__ADS_1
Alstrelia kembali melihat setiap tulisan yang ada di kedua surat itu.
“Mau seberapa mirip tulisan ini, pasti tetap saja ada celah untuk aku ketahui.” Alstrelia membereskan semua undangan itu dan diletakkan di tempatnya lagi. ‘Apa tujuannya?’
_________________________
“Masih seberapa jauh lagi aku bisa sampai di perbatasan?” Gerutu pria berambut merah ini dengan kondisinya saat ini.
GUK!
Pria itu menoleh melirik ke bawah. Seekor anj*ng tengah mendongak ke arahnya sambil mengibas-kibas ekornya sendiri.
‘Anj**g ini tetap mengikutiku. Sebenarnya siapa orang yang membuatku terjebak masuk di dalam tubuh orang lain? Awas saja kalau ketemu, aku akan membuat perhitungan, menyiksanya sampai dia memiliki pikiran bahwa mati itu adalah pilihan terbaiknya.’ Pikirnya. Pria ini langsung menarik tali kuda, dan membuat kuda yang dinaikinya kembali berjalan menyusuri hutan lebar.
GUK!
“Untung saja anj**g ini terus mengikutiku. Setidaknya aku tidak sendirian.” Walaupun tidak bisa dipercaya harus pergi merangkak demi kembali ke tempat asalnya, pria ini tetap merasakan bersyukur karena ada yang menemani perjalanan panjangnya.
GUK!
"Hyah..!" Pria ini pun kembali memacu kudanya agar berlari.
Pagi, siang, malam, dia lewati dengan ujian hidup yang keras. Tapi demi menemukan jalan pulang, pri aini tidak memiliki perasaan untuk patah semangat.
"Awas saja, kalau aku menemukan orang yang mencuri tubuhku, aku pasti akan menyiksanya." gerutu pria ini.
Dia tetap merasa tidak bisa menerima keadaan sebenarnya, dimana dirinya bertukar tubuh ngan orang lain.
Penyebabnya?
Dia masih belum bisa megetahuinya secara pasti.
Tapi itu akan jelas jika dia sudah bertemu dengan orang yang menggunakan tubuhnya yang berharga.
__ADS_1
Bahkan lebih berharga ketibang tambang berlian.
"Hyah...!" pria ini lebih memacu kudannya agar berlari lebih cepat. Tanpa ketinggalan, anj**ing itu juga terus mengikutinya. 'Masih seberapa jauh lagi?' pikirnya. Dia sangat berharap bisa sampai di tempat tujuannya, tapi itu adalah hal yang harus di aperjuangkan lebih keras lagi.