Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
69 : Alstrelia


__ADS_3

...Harap bijak dalam membaca ya, karena di cerita mau di bab ini pasti akan ada unsur kekerasa dan darah....


...Happy Reading....


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


WUSHH~


Angin lembut dari malam itu membuat rambut panjang Alstrelia yang terurai itu berayun sampai di satu titik, rambut itu mengenai wajah Elbert yang sedang termangu melihat aksi nekat Alstrelia yang hampir saja memenggal leher Elbert.


‘Ikat pinggang itu bisa berubah menjadi senjata?’ satu pikiran pertama terlintas saat matanya menemukan bilah panjang berwarna hitam yang mirip dengan pedang adalah sebuah ikat pinggang.


‘Rambutnya sangat halus’ pikiran kedua yang muncul di pikiran Elbert ketika wajahnya sesaat tadi tersapu lembut oleh rambut panjang itu. 


Setelah kedua pikiran itu muncul, kini satu hal lagi muncul di benaknya, ‘Apa itu wajah seriusnya jika bisa bertarung?’ 


Alstrelia yang menyadari tatapan mata dari Elbert ke arahnya, membuatnya kembali berdiri dengan sempurna lalu melirik ke bawah sambil memperingatkan : “Jangan pernah menyentuh kucing,” 


Seketika itu senjata panjang yang ada di tangan kirinya langsung Alstrelia hentakkan dalam satu kali percobaan.


CTAK..


Senjata itu kembali ke bentuk semula, terlihat lembek dan bisa digunakan untuk ikat pinggangnya lagi.


“..................” Elbert kemudian berdiri dengan mata terus memperhatikan gerak gerik dari Alstrelia dengan melontarkan pertanyaan, “Memangnya ada apa dengan kucing tadi?”


“Kucing tadi-” kalimat yang menggantung itu sukses membuat Elbert semakin penasaran. Alstrelia sengaja mengulur waktu jawabannya karena dia sedikit terpancing dengan keributan yang ada di area taman, “Bisa membunuhmu.” sambungnya.


“Cepat, periksa semua halaman, tangkap kucing itu tapi jangan disentuh!” perintah salah seorang kesatria kepada anak buahnya. 


“Baik!” sekelompok kesatria mulai memperketat penjagaan dengan cara berkeliaran kesana kemari dan mulai mencari kucing yang kemungkinannya tidak hanya ada satu atau dua saja.


“Ketua, kita apakan rekan kita yang meninggal ini?” dua orang yang membawa tandu itu berhenti tepat di depan seorang kesatria yang mereka panggil dengan sebutan ketua.


“Bawa dia ke ruang bawah tanah, bersihkan lalu hubungi keluarganya.” Satu perintah lagi muncul saat dua orang kesatria membawa tandu yang diisi seorang mayat.


Dengan anggukan, kedua orang itu segera melanjutkan tujuannya untuk mengantarkan mayat dari rekan kerja mereka. 


“Memangnya dengan cara seperti apakah kucing itu membunuh?” tanya Elbert.


“Kau akan tahu sendiri jika melihat mayat itu.” jawabnya. “Kau cari saja dia, aku akan menunggumu disini. Meskipun, aku tidak punya harapan untuk bersama dengan wanita itu," imbuhnya. Tangannya bergerak untuk memakai ikat pinggangnya lagi yang berwarna hitam itu di atas gaunnya.


Itu adalah barang serbaguna yang bisa menyesuaikan apa yang pemiliknya pakai. Karena itulah gaun mencolok itu tetap mempertahankan keindahannya meski ikat pinggang itu tergantung di pinggangnya.


“Saya tidak akan lama,” jawab Elbert dan berlalu pergi meninggalkan Alstrelia disana. 


‘Siapa yang punya cara secerdik itu menggunakan hewan kecil sebagai senjata untuk memeriahkan pesta di malam ini? Apa itu hanya permulaan? Pesta seperti ini akan diadakan selama tujuh hari penuh, bisa saja yang kucing yang berkeliaran membawa sentuhan kematian itu hanya awal dari segalanya,’ Alstrelia yang tidak mau tahu dan berlama-lama di teras luar, berjalan masuk kembali kedalam Ballroom, meski itu sedikit menyesakkan karena dia benar-benar membenci semua aroma yang menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.

__ADS_1


_________________


SRRING…


Edward dan Alrescha seketika sampai di tempat tujuan dengan membawa pasukan yang Alrescha bawa dari kediamannya.


“Tuan, ini sudah sangat kacau.”


“Apa kita sudah terlambat datang?” 


“Teman-teman kita-” 


Mereka semua diam melihat ada banyak mayat yang bergelimpangan di atas tanah. Ada yang masih hidup, tapi keadaannya juga sudah cukup parah, harapan untuk hidup sudah jelas cukup tipis.


“Jangan hanya diam saja, berpencar dan selamatkan yang bisa diselamatkan. Kumpulkan rekan kita yang mati, sedangkan sisanya ikut mencari keberadaan monster nya.” perintah Alrescha yang tidak ingin membuang waktunya lagi dengan menonton saja.


“Baik Tuan, “ secara serentak para kesatria yang masing-masing membawa kuda mereka sendiri segera menarik tali pelana menyuruh kuda tersebut berlari mengikuti Alrescha yang memimpin perjalanan mereka.


Sedangkan sisanya mengumpulkan semua mayat untuk menghindari tubuh mereka cepat membusuk.


Dengan bantuan dari Edward, semua pekerjaan itu bisa dikerjakan dengan cepat.


*


*


*


BUAKH….


Monster perlahan mengarah ke pemukiman penduduk. Padahal jarak antara dinding perbatasan dengan area pemukiman lebih dari 5 Km, tapi itu tidak membuat para monster tersebut memperlambat pergerakan mereka untuk memporak porandakan perkampungan yang ada.


“Cepat, sebelum mereka menyerang penduduk!” teriak Alrescha sudah mengeluarkan pedangnya dari sarung pedangnya.


SRANG..!


Secara bersamaan para kesatria ikut mengeluarkan senjata mereka masing-masing yang berupa pedang.


Masih dengan membawa kuda yang berlari dengan kencang, mereka mulai menyerang satu per satu monster yang ada di barisan belakang.


CRASSHH….


CRASSHH….


Tidak seperti manusia kebanyakan, Alrescha yang merupakan salah satu dari manusia yang memiliki kemampuan sihir, dia berhasil memotong musuhnya hanya dalam sekali tebas. 


Bahkan anak buahnya yang di rekrut secara khusus, juga sama-sama mampu untuk mengalahkan monster yang mereka serang hanya dalam satu atau dua kali tebasan.

__ADS_1


Berbeda dengan kesatria yang direkrut berdasarkan kemampuan berpedangnya saja, yang harus memiliki skill lebih tinggi jika bertarung melawan monster, jelas semua orang yang Alrescha bawa adalah kesatria pilihan.


CRASSH….


GROARRH…!


Semua monster yang menyadari adanya serangan dari belakang, mereka segera berbalik dan berlari menyerang untuk melawan balik mereka semua.


DRAPP…...DRAP…...DRAPP…..


‘Kenapa tiba-tiba bisa muncul monster? Apa ini hanya kebetulan?’ Alrescha langsung mengayunkan pedangnya, dan menebas musuh yang menghadangnya.


CRASSHH……


________________


“Tuan Putri, anda dari mana saja?” Satu pertanyaan mendatangi Alstrelia yang baru masuk.


“Putri, apa saya boleh bertanya kenapa anda tiba-tiba datang ke pesta?”


“Iya Putri, gaun anda juga sangat indah. Apa ini desain dari madam Luna yang terkenal itu?”


“Putri-”


Satu per satu kata Putri menyeruak masuk kedalam pikiran Alstrelia. Matanya perlahan merasa berkedut terus. 


“Putri, apakah anda besok datang ke pesta lagi?”


“Putr-”


Merasa sesak dengan kehadiran dari para wanita bangsawan yang bahkan baru pertama kali Alstrelia lihat, membuatnya tiba-tiba mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya.


Itu sukses membuat semuanya diam tanpa harus membuatnya berteriak.


“Apa kalian mencoba menjilat padaku? Aku tidak memerlukan pujian dan perhatian, yang aku perlukan adalah ketenangan.” desak Alstrelia pada mereka semua.


‘Berhasil menarik perhatian semua orang seperti itu, dia sudah mulai menyombongkan diri?! Dasar perempuan rumahan.' kutuk wanita ini di dalam hatinya.


‘Tidak terlihat seperti wajahnya yang polos seperti ingin dikasihani, ternyata dia sesombong ini. Jika saja wanita ini bukan adik dari Duke Alrescha, aku juga malas mendekatinya.’ satu pikiran lagi muncul dari perempuan lainnya.


‘Hmph..lihat saja, dia pasti tidak akan punya teman jika bertingkah seperti itu di pesta ini, reputasinya akan lebih memburuk.’ hina dalam hatinya.


Alstrelia yang awalnya diam, menoleh dan menatap mereka semua secara bergantian, dan secara tiba-tiba Alstrelia terkekeh saat melihat sorotan mata mereka semua yang dipenuhi dengan bakaran dari emosi yang tidak bisa di luapkan secara terang-terangan.


“Pfft...jika aku dikatakan sombong, aku memang sombong. Itulah manusia, menyirami tubuhnya dengan harga diri yang tinggi. Jadi jangan mengataiku dari belakang kalau aku sombong, padahal kalian sendiri tidak beda jauh denganku jika sudah berhadapan dengan rakyat jelata.” imbuh Alstrelia.


Berhasil menghipnotis semua orang di sekitarnya karena ucapannya terlalu masuk akal, sampai akhirnya mereka semua tidak berani ada yang mendekatinya lagi, saat Alstrelia berjalan pergi.

__ADS_1


__ADS_2