Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
59 : Alstrelia


__ADS_3

Alrescha, dia berjalan dengan langkah kaki cepat ketika harus pergi dengan buru-buru sebab dia harus menyambut tunangannya Arsela yang tiba-tiba datang kerumahnya


‘Padahal aku sudah bilang akan menjemputnya, tapi dia malah datang. Bukannya ini kebalik?’ Rutuk Alrescha di dalam hatinya. Dia merasa sedikit kesal karena Arsela tidak menuruti perintahnya.


Ia terpaksa buru-buru menghampiri Arsela yang sudah turun dari kereta kudanya sendiri.


KLEK.


Sampai pintu rumah utama itu tiba-tiba terbuka, Alrescha segera menuruni anak tangga dan cepat-cepat melihat Arsela sedang berjalan masuk menuju kearahnya.


“Arsela, bukannya waktu itu sudah bilang agar kau menunggu? Kenapa malah datang kesini? Aku yang akan menjemputmu, bukan sebaliknya.” ucap Alrescha menuntut alasan di balik kedatangan Arsela yang tiba-tiba itu.


Hingga di saat itu juga, Alrescha tersadar kalau gaun yang dipakai oleh Arsela ternyata punya desain berbeda, dan bahkan terlihat couple dengan jas yang sedang Alrescha pakai saat ini.


'Apa Alstrelia mendesai jas ini agar sepasang dengan Arsela?' pikirannya terus tertuju pada Alstrelia si adik pengganti yang memiliki banyak segala ide di luar perkiraannya Alrescha.


“Aku hanya tidak mau menunggu lama.” Jawab Arsela dengan simpel.


“Gaunmu-” Alrescha kehilangan kata-katanya.


“Cocok tidak?” Tanya Arsela sambil memutar tubuhnya, sehingga gaun yang ia pakai langsung berkibar. “Aku juga memakai perhiasan yang kamu berikan padaku. Ternyata ini benar-benar berubah warna.” Arsela juga menyentuh kalungnya yang sudah berubah warna menjadi biru, sama dengan warna gaun yang dipakai.


Itu adalah perpaduan yang sangat cocok, bahkan ketika menimbang-nimbang mereka berdua jadi benar-benar seperti pasangan sejati.


“Kau cantik.” Meskipun, bilang begitu Alrescha kembali memperbaiki ekspresinya sendiri.


“Terima kasih Alres.” Arsela menunjukkan wajah penuh bahagia dengan semua yang sedang dipakainya, apalagi setelah dipuji.


‘Kira-kira dia memakai apa?’ Benak hati Alrescha tertuju pada adik penggantinya. Ia cukup dibuat penasaran dengan segala hal yang berkaitan dengan Alstrelia yang itu. 


TAP…...TAP…....TAP…...


Mendengar suara langkah sepatu yang menggema di ruang tamunya, Alrescha langsung menemukan si pemilik langkah tadi.

__ADS_1


“Elbert, kamu mau pergi kemana dengan pakaianmu yang cukup rapi itu? Apa kamu mau pergi kencan?” Tanya Arsela, mencuri rasa penasaran Alrescha yang hendak bertanya lebih dahulu. 


“Siapa yang harus saya kencani? Saya diperintahkan oleh nona Alsterlia untuk menjadi pendampingnya di pesta nanti.” jawab Elbert kepada mereka berdua.


‘Apa?!’ Alrescha terkejut dalam diam. ‘Elbert yang akan menjadi pendampingnya? Kenapa perempuan itu tidak mengatakannya lebih dulu?’ Alrescha sedikit tersinggung, karena tidak ada pembahasan mengenai pendamping Alstrelia saat datang ke pesta.


“Oh, begitu. Alres, apa kamu tidak mencarikannya pendamping, makannya menggunakan kesatria pribadimu?” Pertanyaan dari Arsela benar-benar berhasil masuk kedalam hati nurani Alrescha yang lupa membahas itu.


‘Jangan-jangan waktu itu yang tiba-tiba datang ke tempatku, dia sebenarnya mau membahas masalah ini. Tapi aku sendiri malah tidak peka dan justru mempermasalahkan kedatanganya.’ Alrescha semakin terjerat dengan masalah yang tidak bisa Alrescha atasi itu, justru diatasi sendiri oleh Alstrelia. “Karena aku pikir, dia lebih suka orang yang dikenalnya ketimbang orang lain. Makannya aku tidak mencarikannya.” jawab Alrescha detik itu juga, menghindari kecurigaan Arsela kepadanya.


TENG…...TENG…….


Jam sudah menunjukkan pukul 6, sedangkan acara yang diadakan di istana dimulai jam 8 malam, karena jaraknya sedikit jauh maka mereka semua sudah menyepakati untuk berangkat pukul 6 sore.


Tetapi karena Arsela sudah datang, maka waktu mereka untuk berangkat bisa di undur sedikit.


Itulah yang Alrescha harapkan, tapi..


“Kita berangkat sekarang, ya?” Arsela berbalik dengan menarik tangan Alrescha.


“Tapi kan ada Elbert. Mereka juga akan menggunakan kereta kuda terpisah kan?” Arsela melirik kearah Elbert.


“Benar, kami akan memakai kereta kuda terpisah. Tapi apa anda seburu-buru itu? Waktu pesta juga masih tersisa satu setengah jam lagi jika kita berangkat sekarang.” Jawab Elbert sekaligus bertanya.


“Jika mau berangkat, kenapa tidak berangkat saja. Aku masih punya Bert untuk menemaniku.” Sela Alstrelia, berhasil membuat ketiga orang yang sedang memperdebatkannya, dibuat diam.


Sosoknya yang muncul dari balik kegelapan berhasil menyita perhatian mereka bertiga.


“Nona.” Elbert berbalik, dan menemukan Alstrelia datang dari arah belakangnya. 


Alrescha dan Elbert melihat Alstrelia dengan tatapan terkejut saat melihat gaun yang dipakai oleh Alstrelia benar-benar sama persis dengan yang dipakai oleh Arsela.


“Hah!” Arsela ikut memberikan reaksi terkejutnya saat melihat gaun yang dipakai Alstrelia memang sama.

__ADS_1


“Kenapa kau terkejut?” Tanya Alstrelia melihat reaksi Arsela yang dimana, di mata Alstrelia adalah sebuah akting belaka.


“Aku hanya tidak mengira pakaianmu sama denganku.”


“Terus apa masalahnya?” Tanya Alstrelia lagi, seolah tidak tahu.


Alrescha langsung menghilangkan keterkejutannya tadi dan menjawab pertanyaannya Alstrelia. “Semua orang akan menganggap-”


“Kita akan dianggap serasi. Adik ipar, kita akan terlihat serasi dan jadi seperti kakak adik sungguhan.” kata Arsela secara tiba-tiba. “Hubungan kita akan semakin baik dimata mereka, apalagi setelah melihat pakaian kita yang sama.”


“Berarti artinya tidak ada masalah.” ujar Alstrelia seakan mengiyakan ucapannya Arsela.


Elbert dan Alrescha tidak tahu ini akan menjadi buruk atau tidak, melihat Arsela terlihat bertambah semangat saat mengetahui Alstrelia memakai gaun yang sama juga. 


Dimata mereka berdua, letak perbedaan dari penampilan mereka berdua tentu saja sebab Alstrelia yang memakai sepatu hak lebih tinggi, maka yang ada Arsela justru seperti adiknya. 


Lebih tepatnya, segala aksesoris yang sedikit itu, tetap tidak merubah penampilan Alstrelia yang tetap saja terlihat cantik dimata mereka berdua. 


Elbert memejamkan matanya, dia mencoba mengatur hatinya sendiri yang sedikit terusik gara-gara penampilan Alstrelia yang berubah 180 derajat dari biasanya.


Jika biasanya Alstrelia seperti wanita bar-bar, maka sekarang sosoknya benar-benar seperti wanita pada umumnya.


‘Elbert, kenapa dia menatapnya dengan tatapan seperti itu?’ Alrescha mulai memperhatikan Elbert yang sedang menatap Alstrelia seperti orang yang memiliki suatu perasaan.


“Karena adik ipar sudah datang, berarti kita bisa berangkat, kan?” Arsela menoleh ke arah Alrescha yang terdiam itu.


“Apa kau sudah siap?” Alrescha justru memberikan respon untuk bertanya kepada Alstrelia.


Si empu langsung menoleh ke arah Alrescha yang masih berdiri di depan tangga persis.


TAK...TAK….TAK…..


Tanpa sepatah kata dari mulutnya yang terus diam, langkah kakinya berjalan menuju tempat dimana Alrescha berdiri. 

__ADS_1


‘Apa yang mau dia lakukan?’ Alrescha semakin penasaran dengan kedatangan dari adik penggantinya itu.


‘Dia mau apa?’ pikir Arsela melihat Alstrelia berjalan menghampiri Alrescha. 


__ADS_2