Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
80 : Alstrelia


__ADS_3

CLING…


Sebuah kalung dengan dua cincin menggantung di tangannya. Cincin itu terbuat dari perak, jadi jika terkena racun sedikit maka cincin itu akan menjadi hitam.


Tapi siapakah pemilik cincin itu?


‘Apakah pemilik tubuh ini sebenarnya sudah mempunyai kekasih?’ pikir Chavire saat melihat sepasang cincin yang dimasukkan ke dalam kalung, digantungkan di depan wajahnya dan terus memperhatikannya. 


Sampai dimana dia akhirnya menemukan dua inisial dari nama pemiliknya.


‘C&A? Sialan, kenapa juga aku tidak memiliki ingatan dari tubuh ini.’ Chavire menggerutu di dalam hatinya.


Dia benar-benar sangat marah, tapi apa yang dia lampiaskan?


“Arggh!” Chavire mengacak rambut merahnya dengan wajah frustasi. Dia segera menyimpan sepasang cincin itu ke dalam saku celananya dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang kurang nyaman.


Setelah melakukan perjalanan panjang, demi bisa melanjutkan tujuannya besok pagi, Chavire pun mau tidak mau harus singgah ke salah satu desa dan memesan hotel dari kaum rendahan yang hanya memiliki harga 2 perak untuk satu malam.


Tapi Chavire hanya bersyukur saja, setidaknya dia bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah itu.


Malam yang hening itu pun menjadi peneman dari kesendiriannya. 


Tanpa adanya kemewahan, pelayan, pakaian bagus, makanan sederhana, dan harus tidur di kamar sempit yang mampu dihuni oleh dua orang.


Kehidupannya berubah menjadi 180 derajat. 


Apa yang awalnya Chavire miliki dengan semua kemewahannya, sekarang dia berbanding terbalik seperti seorang gelandangan. 


‘Apakah ada cara untuk kembali ke tubuhku sendiri?’ pikir Chavire sembari menatap langit-langit kamarnya.


KRUYUK~


“...................” Chavire pun tanpa sadar bisa memiliki momen perutnya berbunyi gara-gara lapar, padahal selama ini dia tidak pernah mengalami yang namanya kelaparan sampai tahap perutnya berbunyi. 


Chavire pun tersenyum miris. Biasanya juga pelayannya lag yang membawakannya makanan, tapi apa ini?


‘Aku harus mencari makananku sendiri.’ Dengan perasaan dan tubuh yang sudah lelah itu, Chavire pun kembali bangkit dan pergi dari kamar. 


Dia akan mencari makannya sendiri, dengan membelinya. Dan secara kebetulan di lantai bawah adalah restoran juga.


Dia harus menuruni anak tangga sebanyak 30 buah dan sampailah di restoran.


“Oh Tuan merah,” sama seorang wanita peruh baya. Dia memiliki tubuh sedikit gemuk, memakai penutup kepala dan celemek untuk menghindari pakaiannya sendiri kotor.


‘Namaku bukan merah.’ Chavire mengutuk dirinya sendiri karena ada juga yang memanggilnya berdasarkan warna rambutnya itu. “Apa aku bisa pesan makanan dengan harga segini?” tanya Chavire tanpa basa-basi.


Dengan terpaksanya, dia memperlihatkan 5 koin perak kepada wanita itu.


“Segini.” wanita itu mengambil satu koin perak dari lima koin. “5 koin itu terlalu banyak, kau tidak mungkin makan sebanyak itu dengan tubuhmu yang lelah.”


Chavire terperangah melihat uangnya ternyata bisa tersisa, padahal bagi Chavire sendiri 5 koin perak adalah uang yang sangat sedikit. Tapi dia tidak menyangka kalau 1 koin perak mampu untuk membeli makanan.


“Akan aku buatkan kamu sesuatu yang paling enak. Tunggu dulu ya,” kata wanita ini sambil pergi menuju dapur.


Chavire terus menatap sisa dari uangnya sendiri. ‘Jadi bagi mereka, koin perak masih terbilang cukup besar? Padahal aku pikir, malam ini akan menjadi malam terakhirku makan. Tapi kelihatannya aku masih bisa makan untuk dua hari kedepan.’ pikir Chavire.


Lalu tepat di saat Chavire akan menyimpan kembali uangnya, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan pintu masuk yang terbuka dengan cukup keras.


BRAK!


“...........!” Chavire yang terkejut setengah mati itu, berhasil membuat uangnya berjatuhan. ‘Dasar! Apa dia tidak bisa membukanya dengan pelan?!’ marah Chavire dalam diamnya. Dia jadi terpaksa memungut uangnya yang berserakan di lantai kayu.


“Hha..hah...hah…, apa ada orang?!” tanyanya.


“Apa aku bukan termasuk dari orang yang kau harapkan?” sela Chavire setelah memungut uangnya sendiri, lalu kembali berdiri. 


“Tapi kelihatannya, kau bukan pemilik dari tempat ini.” jawabnya.

__ADS_1


Terdengar suara dari jawaban itu adalah benar-benar suara dari seorang perempuan, Chavire pun akhirnya menoleh ke arah tersangka dari keterkejutannya tadi.


“.................?! Kenapa kau basah kuyup?” tanya chavire saat melihat seorang perempuan berambut coklat dengan iris mata berwarna merah ruby itu berdiri dengan seluruh tubuh basah kuyup. ‘............? Apa dia baru saja berburu? Tapi kenapa dia menangkap burung elang?’ Chavire terheran dengan penampilan serta apa yang dibawa oleh perempuan tersebut.


“Tentu saja karena aku kehujanan.” Perempuan itu melangkah masuk agar pintu yang awalnya terbuka dan membawa angin dingin itu masuk, bisa dia tutup. “Kau bukan pemilik tempat ini kan?” tanyanya lagi, mengkonfirmasi tebakannya.


“Dia-”


“Nona apa ada yang bisa saya bantu?” wanita paruh baya tadi kembali keluar.


“Aku butuh makan, berikan 4 porsi, terserah apapun itu.” ucap perempuan ini dengan serta merta.


“Harganya 4 perak.” jawabnya.


Perempuan itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sekeping koin emas, “Aku tidak punya perak.” Kemudian sudut matanya menangkap Chavire tadi baru saja menyimpan logam perak. “Dia yang bayar.” 


“Kenapa aku?!” tanya Chavire, tidak terima tiba-tiba disuruh bayar makanan orang lain.


“Aku tadi melihatmu punya uang pas. Jadi kau yang bayar, dan aku akan memberikanmu ini.” Perempuan tersebut pun melemparkan koin emas kepada Chavire.


Chavire dengan sigap menangkapnya.


Karena merasa ada rezeki nomplok, koin perak berubah menjadi emas, Chavire pun memberikan keempat uang tadi kepada wnaita tersebut. “Ini.”


“Akan saya buatkan untuk kalian. Mohon tunggu ya,” dengan senyuman ramahnya, wanita ini kembali pergi ke dapur.


Dan sekarang yang ada di restoran tersebut tinggal mereka berdua. 


Chavire sempat menyelinap curi-curi pandang saat melihat penampilan dari perempuan asing yang baru ditemuinya ternyata memakai celana pendek dengan stocking sebagai penutup sepasang kakinya yang ramping dan juga jenjang.


Bagaimana tidak, jika tinggi tubuh mereka berdua hampir sama. 


“Apa itu hasil buruan mu?” tanya Chavire penasaran dengan seekor burung coklat masih di bawa oleh satu tangan dengan posisi burung tersebut terbalik.


“Bukan. Dia adalah temanku, burung dengan warna bulu coklat yang indah ini, kau lihatkan? Dia sangat tampan?” Dengan wajah penuh bahagia, perempuan ini mengelus-elus leher dari burung elang yang sedang dipegang dengan posisi terbalik.


“Oh!” 


‘Apa dia baru saja menyadari sesuatu?’ Chavire mulai dibuat penasaran dengan reaksi wajah dari perempuan asing itu. 


“Aku belum mengeringkan tubuhku.”


‘Hah! Aku pikir pikirannya sudah kembali waras setelah sadar dia salah memuji!’ Chavire benar-benar merasa diuji hanya karena tingkah tidak terduga yang perempuan itu perlihatkan.


“Ehm...apa kau mau membersihkan tubuhmu juga denganku?” entah itu pertanyaan atau tawaran, perempuan itu mengekspresikan wajah sedikit terusik dengan penampilan Chavire yang pada dasarnya berantakan.


‘Apalagi yang dia katakan?! Kenapa kata-katanya tidak bisa di tata dulu?!’ Chavire perlahan jadi merasa pusing sendiri menghadapi satu perempuan aneh itu. “Tidak,” tolak Chavire lalu berjalan menuju salah satu meja kosong yang letaknya di pojokan sendiri, setelah itu dia langsung duduk.


Tanpa disuruh dan tanpa ditawari, perempuan bersurai coklat itu mengekori Chavire dan ikut duduk, tapi di seberang meja persis, lalu meletakkan burung elang itu di atas meja.


“Kenapa kau duduk disini?”


“Bukannya lebih enak jika ada teman mengobrol?” sahut perempuan itu dengan cepat.


“Tapi, apa kau sadar? Kau membuat lantai basah.” kata Chavire memperingatkan.


Perempuan ini menunduk dan tersenyum tipis. “Hanya basah, itu tidak masalah buatku.” setelah berkata seperti itu, sebuah angin lembut dan hangat tiba-tiba menyelimuti mereka berdua. 


‘Sihir?!’ Chavire terperangah saat mengetahui kalau ternyata perempuan aneh yang duduk di depannya itu adalah seorang penyihir.


Dalam kurun waktu kurang dari 5 detik, lantai yang tadinya basah sebab ulah dari langkah kaki basah milik perempuan itu, sekarang semuanya sudah sepenuhnya kering. 


Bahkan termasuk dengan penampilan dari Chavire sendiri serta perempuan di depannya itu, mereka sekarang sudah terlihat lebih rapi dari sebelumnya, bahkan pakaiannya sudah kering serta bersih.


“Shh~” desis perempuan tersebut kepada Chavire, agar tidak memberitahu siapapun tentang fenomena sihir yang baru saja dia lakukan.


‘Dia menyuruhku menyembunyikan kalau dia adalah penyihir?’ Chavire hanya menjawabnya dengan keterdiamannya sendiri.

__ADS_1


“Terima kasih sudah menunggu. Ini makanan untuk kalian.” wanita paruh baya pemilik dari hotel, restoran, sekaligus koki akhirnya datang dengan membawa nampan besar berisi 5 porsi makanan.


Satu per satu makanan di letakkan di meja makan, tidak ketinggalan dengan minumannya. Setelah selesai, wanita itu pergi meninggalkan mereka berdua.


“Apa kau bisa menghabiskan semua itu sendirian?” tanya Chavire.


“Siapa yang mengatakan aku akan menghabiskan semua porsi ini sendirian?” balik tanya perempuan ini kepada Chavire, kalau tebakannya salah total.


Pandangan mata yang awalnya tertuju pada makanan itu segera dia alihkan pada burung elang yang tergeletak dengan posisi terbalik, dimana kedua kakinya menghadap ke atas.


“Hei, bangun. Jika tidak bangun, aku tidak akan menyisakan makanan ini untukmu.” usik perempuan ini kepada burung Elang tersebut dengan mengelus-elus perutnya dengan ujung jari telunjuknya.


Kwak?


“............!” Chavire membelalakkan matanya saat burung Elang yang terlihat seperti sudah mati itu, ternyata hidup!


Matanya yang terpejam itu kini terbuka dengan lebar, hingga memperlihatkan mata berwarna kuning. 


Kwak!


Sampai akhirnya burung Elang itu bangun dan berdiri dengan kedua kakinya. 


“Aku sudah susah payah membelinya, habiskan semua ini.” menyodorkan 2 porsi makanan kepada burung Elang itu.


“K-kau memberinya makanan matang?” Chavire tidak percaya kalau ada saatnya dirinya diperlihatkan sesuatu yang lebih aneh ketimbang rohnya sendiri masuk ke tubuh orang lain.


“Apakah hal itu mengganggumu?” tanya perempuan itu kepada Chavire, mencoba mengkonfirmasi pertanyaannya apakah benar atau tidak. “Everst, dia terganggu kalau kau makan makanan manusia.”


Sepintas burung Elang yang dipanggil Everst itu menatap tajam Chavire.


Tanpa reaksi wajah lain selain tatapan mata yang tajam, Evert si burung Elang langsung berjalan menuju piringnya Chavire. 


Tanpa peduli apapun lagi, kaki besar itu sudah mulai melayang di udara dan hendak didaratkan di atas piring milik Chavire.


PHAK!


“Hei! Apa yang kau lakukan?!” Untungnya Chavire mampu menyelamatkan makanannya sebelum diinjak oleh Everst.


“Dia hanya menyukai makananmu,” perempuan ini terkekeh geli melihat reaksi Chavire yang sudah salah tingkah. “Everst, kau makan saja. Katamu tadi, kau lapar? Isi tenagamu agar aku bisa pulang.”


Everst hanya menatap datar perempuan tersebut, lalu dengan menurut Everts kembali ke tempatnya dan mulai memakan makanannya sendiri.


‘Dia bisa berbicara dengan hewan?’ Chavire jadi semakin penasaran dengan keberadaan dari perempuan aneh, tapi ternyata bisa melakukan sihir juga. ‘Apakah aku bisa meminta bantuannya?’ benak hati Chavire. 


Dia berkeinginan untuk sampai di Kekaisaran Regalia dengan cepat. Tapi sayangnya yang dia perlukan adalah seorang penyihir yang mampu menggunakan teleportasi. Dan Chavire akhirnya menemukan seorang penyihir. 


Tapi yang menjadi satu permasalahannya adalah, ‘Apakah dia bisa menggunakan sihir teleportasi?’


____________________


Tidak seperti biasanya, jika pagi selalu disinari mentari pagi yang hangat, kini langit kelabu mulai menyelimuti seluruh langit di Kekaisaran Regalia.


“Hah?!” kelopak mata yang awalnya terpejam itu langsung terbuka lebar. ‘Langit kamar ini-’ sadar kalau dirinya melihat langit kamar yang berbeda dari yang dia miliki, dia langsung terbangun dari tidurnya.



Itu adalah kamar milik Alstrelia.


‘Kenapa aku bisa tertidur disini?’ pikir Alrescha.


WUSHH!


Angin dingin dari luar kamar, tiba-tiba saja masuk. Alrescha kemudian menoleh kearah samping kanannya, sampai secara gamblang dia melihat Alstrelia sedang duduk di sofa dengan kedua pintu jendela yang ada di belakangnya benar-benar sudah terbuka lebar. 


Tatapannya tidak seperti orang yang sedang ada dalam mood baik seperti biasanya, itu adalah tatapan mata tajam seperti sedang menuntut seseorang untuk menuruti semua ucapan yang akan dia keluarkan dari mulut berlidah tajam itu.


“Alrescha,” akhirnya namanya terpanggil begitu saja oleh Alstrelia yang sedang menatap intens Alrescha yang masih berada di atas kasurnya. “Kelihatannya kau harus bekerja lebih keras.”

__ADS_1


‘Apa maksud dari ucapannya itu?’ Alrescha sepintas memiliki perasaan buruk tentang apa yang tadi di katakan oleh Alstrelia.


__ADS_2