Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
142 : Alstrelia : Kondisi


__ADS_3

Awal permulaan dari pertarungan mereka berdua pun terjadi lagi. Alrescha kini kembali melawan Gamelo itu untuk yang ke sekian kalinya.


CTANG,.....


Ketika satu pedang yang di genggam oleh tangan kanan Gamelo itu menahan serangan Alrescha, maka tangan kirinya saat itu pula menangkis serangan milik Chavire.


Demi mempersingkat waktu untuk mengalahkan Gamelo yang tersisa itu, Chavire tentu saja turut serta untuk membantu Alrescha untuk mengalahkan makhluk itu.


SRAKK...


Suara dari dua sisi besi yang saling bergesekan itu berhasil menciptakan clah untuk mereka bertiga melompat mundur dan memulai serangan yang baru.


CTANG...!


"Benar-benar dua orang yang tidak bisa saling terpisahkan," Kata Gamelo tersebut saat dirinya kembali harus melayani dua orang kaki yang sedang tersulut oleh api amarah.


".............." Tanpa sepatah kata, baik itu tanggapan maupun sanggahan yang bisa mereka berdua lakukan, Alrescha dan Chavire hanya terus terfokus pada serangannya.


____________



Di saat yang sama. Tepatnya di Istana kerajaan Asgardia.


Suasana yang awalnya begitu kondusif di selimuti kedamaian, dimana semua orang saat ini sedang beristirahat di kantin untuk makan siang, secara mendadak suara peringatan langsung muncul. Dan itu ditandai dengan lampu darurat yang menyala berwarna merah, menajdi satu pertanda buruk yang mengakibatkan mereka semua langsung panik.


"Peringatan..peringatan, tanda bahaya pada Tuan Putri Alstrelia."


"Tuan Putri?!"


"Ayo! Cepat-cepat kita pergi!"


"Apa yang terjadi pada Tuan Putri?"


"Kita tidak bisa mendeteksi beliau dimana, tapi kita masih bisa memantau kondisi tubuh Tuan Putri. Semoga tidak terjadi apapun."

__ADS_1


Satu persatu dari mereka bergegas pergi dari kantin menuju ke laboratorium komputer.


Suara dari peringatan sistem, Jarvie pun terus terdengar ke segala penjuru Laboratorium komputer.


___________________


Drap.....Drap.......Drap......


Seorang wanita berambut panjang berwarna coklat yang di ikat satu itu berlari dengan seragam militer nya yang berwarna putih, karean memakai rok mini berwarna hitam, maka setiap kali berlari, ujung rok itu sedikit berkibar dan menampakkan sepasang kaki yang jenjang, yang dibalut degan stocking berwarna hitm pula.


Tapi lebih dari pada itu, wanita bertubuh molek ini ternyata sudah memasang ekspresi khawatir.


Dia berlari cepat menyusuri lorong yang berdominan berwarna putih bersih, layaknya sbeuah rumah sakit.


Tepatketika dirinya sudah di ambang pintu besi, kedua pintu itu bergeser dan mempersilahkan wanita yang terlihat buru-buru itu untuk masuk kedalam laboratorium komputer.


"Apa yang terjadi?" Satu pertanyaan meluncur keluar dari mulut yang sudah terbuka karean harus mengatur nafasnya sebab baru saja berlari maraton.


"Ah..wakil komandan Elda?" Salah satu orang laki-laki memakai jas berwarna putih layaknya seorang dokter, langsung menyahutnya.


"Sepertinya ada yang terjadi dengan Tuan Putri." Kata pria ini seraya tangannya terus berkutat di keyboard dengan gerakan yang cukup cepat.


Dengan wajah yang cukup serius, Elda terus menatap satu persatu data yang keluar hasil dari data informasi tubuh milik Alstrelia.


"Keempat Gimmick yang biasa merespon semua rangsangan serta kondisi juga pikiran ynag dimiliki oleh Tuan Putri sama sekali tidak bekerja. Saat ini status dari kondisi Tuan Putri a-"


"Shhtt...." Elda langsung mendesis agar mulut itu tidak melanjutkan ucapannya.


"Tapi- Semua informasi yang kami dapatkan benar-benar menandakan kalau Tuan Putri sudah tidak memiliki kehidupan." Laki-laki ini memberanikan dirinya untuk bericara terus.


Walaupun Elda sediki kesal, sebab laki-laki itu tidak menurutinya untuk diam, Elda pun jadi angkat bicara, "Itu tidak mungkin. Aku lebih mengenal Putri Alstrelia dari kalian. Jadi jangan langsung mengambil kesimpulan seperti itu!" Tegas Elda, tidak menerima pernyataan yang dibuat oleh laki-laki itu.


"Tuan Putri tidak mungkin mati begitu saja. Padahal selama ini Tuan Putri sudha mengambil banyak tugas dalam berbagai perang, dan hasilnya selalu ada kemenangan. Jadi mana mungkin Tuan Putri meninggalkan tugasnya itu begitu saja! Apa kalian mengerti?!" Imbuhnya.


Mendengar ucapannya Elda dengan nada yang tinggi itu, sontak semua orang langsung terdia,

__ADS_1


Mereka juga berpikiran yang sama dengan apa yang baru saja di jelaskan oleh Elda, bahwa Putri Alstrelia tidak mungkin mati.


Tetapi kalau begitu, kenapa suluruh aktivitas dari daya hidup milik Tuan Putri Alstrelia tidak memiliki tanda-tanda kehidupan lagi?


"Hahh~ Tapi kalau iya pu.." Elda awalnya memejamkan matanya sesaat, lalu dia membuka matanya lagi dengan sorotan mata yang tegas. "Lakukan apa yang bisa kalian lakukan bodoh! Kan kalian sendiri yang sudah membuat Tuan Putri jadi kelinci percobaan kalian! Harusnya kalian bisa melakukan sesuatu! Jangan malah memberikanku ekspresi seperti orang yang putus asa!" Bentak Elda, dia murka sekali dengan deretan anak buahnya itu yang justru memasang ekspresi khawatir seolah sudah tidak ada harapan.


"B-baik!" Jawab mereka secara serentak.


Dibawah tekanan yang sedang ELda berikan untuk semua anak buahnya itu, tiba-tiba kedua pintu masuk itu terbuka lagi.


Elda mendelik tajam, siapakah orang yang akan masuk itu?


"Apa yang terjadi pada Alstrelia?"


Suara dari orang yang sangat mereka kenal langsung membuat mereka menghentikan pekerjaannya untuk memberikan salam hormat kepada seorang pria, satu-satunya orang yang menjadi Identitas dari kerajaan Asgardia, yaitu Alvron.


Sepasang mata berwarna biru itu pun segera dia rotasikan, sampai dia melihat wajah Elda yang tampak murung.


"Yang mulia~ Ini menyangkut Tuan Putri Alstrelia," Salah satu orang tengah mencoba menyahut pertanyaan dari raja Alvaron.


Tetapi tangan Elda yang tiba-tiba terangkat itu mengartikan kalau Elda lah yang akan bicara kepada Raja Alvaron.


"Biar saya saja ang menjelaskannya." Timpal Elda.


Dia berjalan mendekat untuk menghampiri ayah Alstrelia.


Lalu demi menjaga pandangannya, karena dia sedang berhadapan dengan seorang pria yang masih mempertahankan tampang dari wajah yang rupawan itu, Elda menunduk seraya menjelaskan, "Maaf Yang mulia, kami sedang di landa krisis, sebab mereka bilang-"


Elda langsung memberikan jelingan yang tajam pada anak buahnya itu.


"Tuan Putri sudah tiada." Saat mengatakan itu, ekspresi Elda jadi sedikit sedih. Dia benar-benar tidak ingin bahwa apa yang barusan dia katakan kepada Yang mulia Raja, tidak betulan terjadi.


Seketika Alvaron mengernyitkan matanya. Dia mencoba melihat layar komputer yang ada di depan sana. Terlihat adanya deretan peringatan yang muncul yang berisi informasi mengenai kondisi tubuh anaknya, yaitu Alstrelia.


"Dia-" Mulut Alvaron setenag mengatup, karena dia melihat tidak adanya kativitas pada tubuh anaknya?

__ADS_1


__ADS_2