
WUSHH....
Jendela kamar yang awalnya tertutup itu tiba-tiba saja langsuung terbuka, di saat yang sama pula angin yang dingin itu berhembus masuk kedalam sampai di mana asap hitam yang tiba-tiba masuk itu ahisrnya menampilkan satu sosok seorang pria, dimana di kedua tangannya saat ini dia tengah menggendong seorang wanita cantik, yang maa di leherwanita itu terdapat tanda dua titik merah yang baru saja di dapatkannya.
Phak...phak...Phak....
"Oh kau datang membawa wanita cantik?" Tanya pria ini, masih melakukan pekerjaannya untuk memuaskan nafsunya pada tubuh Airis yang sudah tidak bernyawa itu.
Lalu pria yang sedang menggendong wanita cantik yang tidak lain adalah Arsela, langsung memasang ekspresi wajah marah dengan aura membunuhnya.
"Kau! Melakukannya lagi dengan menggunakan wajahku?!" Tekannya, dengan perasaan amarah yang dimilikinya, pra ini .
"Maaf, lagian jika tidak begitu, aku tid- ah...ini sangat menyenangkan." Tidak menghiraukan amarah yang sudah terkumpul dari diri pria yang sedang berdiri itu, ptia ini justru terus saja melanjutkan urusan pribadinya sampai ke tahap pimcakmua lagi. "Arhh...kau harus mencoba ini, kar-"
SYUHTT...
Tebasan angin yang tiba-tiba datang itu, berhasil memenggal leher fari pria yang sedang bersenna-senang sendirian itu, sampai kepalanya itu sudha menggelinding ke lantai.
"Seenaknya saja menggunakan wajahku, dan membuat pelayanku lagi-lagi mati, ternyata kau tidak pantas menjaga kastilku dengan baik selagi aku pergi." Gumam pria ini.
Lalu anak buahnya yang kepalaya berhasil di penggal itu wajahnya perlahan menjadi jelek. Wajah seperti manusia yang cukup pasaran dengan adanya noda bintik hitam di bawah kantung mata, itulah wajah asli dari makhluk tersebut.
Dan kedua mayat yang tergeletak di dalam kamarnya itu tiba-tiba diselimuti kabut hitam, sampai ketika kabut hitam tersebut berangsur-angsur menghilang, maka tubuh mereka berdua pun sudah tidak ada lagi.
"......" Pria ini menatap kamarnya yang cukup berantakan. "Alvei!" Hingga dia akhirnya meneriaki sebuah nama dengan cukup lantang.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dengan cukup kasar.
BRAKK...
"Ya! Ada apa Tuan Agres?!" Teriak gadis berpakaian pelayan ini.
AKan tetapi tidak seperti yang kebanyakan pelayan adalah orang dewasa, maka pelayan ini adalah gadis kecil yang masih berusia sembilan tahun. Sehingga langkah dari kaki pendek yang dimiliki gadis ini pun berhasil menarik perhatian pria yang di panggil Tuan Agress itu.
"Dari mana saja kau?" tanyanya sambil melangkah keluar dari kamar.
"Saya-" Gadis ini sempat celingukan dengan keadaan kamar milik Tuannya yang cukup berantakan itu. "Hahh?! K-kenapa kamar Tuan berantakan seperti ini?!" Alvei ini menatap tempat tidur dan punggung dari Tuannya yang kian menjauh itu.
Mau pilih yang mana ,Alvei melangkah pergi untuk mengikutti Tuan Agres yang sedang menggendong seorang wanita dari ras manusia.
"T-tapi tuan! Saya bahkan baru saja membereskan kamar Tuan satu jam yang lalu sampai bersih dan tidak ada debu sedikitpun di lantai atau dimanapun, sampai kolong tempat tidur anda pun bersih negkilap." Tapi setelah berkata demikan, Alvei tiba-tiba saja meloott ke arah majikannya itu. "Ah..jangan-jangan Tuan, anda yang baru saja membuat kamar anda berantakan, makannya demi menjaga imege anda, anda menuduh sa-"
"Kau pikir aku akan melakukan hal yang sedang otakmu pikirkan itu? Aku tidak akan melakukan apa yang sedang kau pikirkan dengan semmbarang manusia, kau harus mengerti itu." Kata pria ini kepada pelayan kecilnya saat itu juga.
"Ok..maafkan saya Tuan karena terlalu lancang. Tapi...siapa manusia yang anda bawa itu?" Alvei melirik ke arah seorang wanita yang dia lihat itu ternyata punya wajah yang cukup cantik.
"Aku tidak sengaja menemukannya di suatu tempat. Karena dia masih hidup, tentu saja aku mengambilnya. Dan..!" Agres pun langsung balik badan dan menghadap Alvei itu. "Dari pada kau menyia-nyiakan waktumu untuk menanyakan hal yang tidak ada hubungannya denganmu ini, lebih baik segera bereskan kamar itu lagi. Kasur, sepresi, semua barang yang ada di dalam sana buang, aku tidak mau menempati kamar yang sudah kotor itu." Perintahnya.
"Siap Tuan!" Memberikan hormat kepada Tuannya itu.
Akan tetapi, saar dirinya hendak pergi masuk kedalam kamar milik Tuannya itu, dia kembali di panggil.
__ADS_1
"Tunggu, sebaiknya kau siapkan dulu kamar tamu untuk manusia ini." Imbuhnya lagi.
Alvei mengangguk paham, lalu dengan kaki pendeknya itu, dia berlari menuju kamar kosong yang letaknya di depan kamar milik Tuan Agres persis.
Di tengah-tengah pria ini menunggu, dia membawa Arsela pergi ke ruang kerja nya, yang kebetulan ada di samping kamarnya juga.
Setelah masuk, dia meletakkan Arsela di atas sofa.
"Apa ini?" aru menyaari kalau di leher Arsela yang dia bawanya itu, rupanya ada bekas gigitan yang cukup dia kenal. Agres pun menyunggingkan sebuah senyuman. "Ternyata masih ada Vampir yang hidup ya?" Lirihnya.
Hanya saja pria ini kemudian mengernyitkan matnya dan berakhir dengan hidung yang merasa terusik dengan aroma yang cukup familiar juga.
"Og, ternyata dia baru saja melakukannya juga ya? Rupanya aku kurang beruntung nih. Dia sudah bukan lagi wanita yang masih pperawan." Gumam Agres.
Karena wanita yang dia bawa itu masih tidak sadarkan diri, dia pun duduk di sbeerang sofa untuk menatap Arsela dengan wajah seriusnya.
Matanya terus memperhatikan Arsela yang terlihat cukup tenang itu. 'Walaupun begitu, tapi kelihatannya dia memang cukup berguna. Dia punya kekuatan untuk melihat masa lalu seseorang.
Kira-kira jika di padukan dengan orang yang memiliki kekuatan untuk melihat masa depan, apa jadinya ya?
Charles memang gagal untuk membunuh Tuan pPutri itu. Ya...awalnya aku memang berpikir kalau Tuan Putri yang bisa melihat masa depan itu cukup mengganggu dan bisa mnejadi ancaman besar juga, baik itu untuk aku maupun untuk masa depan dari dunia ini.
Hanya saja, jika aku bisa mendapatkan Tuan Putri itu dan memaksanya untuk menggunakan kekuatannya untuk aku, akan jadi seperti apa ya? Itu pasti jauh lebih berguna. Apalagi dengn seperti itu, aku tidak perlu repot bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan.
Dan itu jika aku memang bisa mengasai kekuatan Prophet Art milik Tuan Putri Alstrelia itu.' Agres pun mengangguk setuju dengan semua pikirannya saat ini. Karena itu, dia pun merasa puas sampai membuat dirinya tersenyum lagi.
__ADS_1