
Dalam sepersekian detik itu, akhir dari jarak yang sudah Alstrelia dan Alrescha makan sampai habis sepenuhnya, Alrescha akhirnya langsung mendapatkan sentuhan yang lebih kasar tepat dimana tangan kanan Alstrelia sudah berada ditengkuknya.
Sensasi sakit yang sangat menusuk itu langsung membuat mata Alrescha membulat sempurna.
Wajahnya semakin menegang, sampai diluar kuasa kendali Alrescha sendiri, tubuh Alrescha jadi masuk ke dalam pelukan Alstrelia.
BRUK!
Alstrelia langsung menangkap tubuh Alrescha sebelum terjatuh, kemudian dia sedikit mengangkat kedua jari dari tangan kanan yang ada di belakang tengkuk Alrescha.
Terlihat disana Alstrelia menjepit sebuah jarum kecil di antara kedua jari tangan yang sudah berhasil menusuk kulit dari tengkuk Alrescha sampai sedikit berdarah.
Namun, tidak hanya untuk Alrescha seorang, sebab di saat yang sama pula Alstrelia juga menusuk ujung jari telunjuknya sampai berdarah juga.
Karena Alrescha yang minta ingin melihat bagaimana Alstrelia bisa mendapatkan informasi sepenting itu, maka Alstreliia pun mengabulkannya.
Dan caranya adalah dengan saling menyatukan darah mereka berdua.
Tepat dimana ujung jarinya Alstrelia sudah berdarah, dan tengkung Alrescha sudah sedikit mengelurakan darah juga , maka Alstrelia langsung menekan cairan dari darahnya sendiri ke tempat dimana tadi kulit dari bagian tengkuk Alrescha dia tusuk.
Kedua darah itu pun menyatu menjadi satu.
Bercampur, dan membuat sebuah ikatan kecil, yang menghubungkan beberapa indera milik Alstrelia dengan Alrescha.
'Apa ini?!' Detik hati Alrescha saat tengkuknya dilanda rasa sakit yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang dingin.
Matanya yang masih terbuka lebar itu tidak lagi bisa melihat baik itu Alstrelia, maupun pemandangan luar yang bisa dilihat dari jendela istana, tapi Alrescha langsung melihat sebuah pemandangan lain dari suatu tempat yang sebenarnya sangat jauh, dan berada di luar ibu kota.
Sebuah dinding besar yang menjulang tinggi, itulah yang Alrescha lihat pertama kali. Tapi dari situ pula, hal paling mengejutkannya adalah saat dia melihat sekelompok mosnter dalam jumlah besar sedang melawan para kesatria yang di tugaskan di perbatasan.
______________________________
"Bagaimana monster ini tiba-tiba muncul sebanyak ini?!" Ucap salah satu orang kesatria yang sedang berdiri di atas dinding perbatasan.
Wilayah utara, ditempat ini adalah wilayah yang memiliki karakter suhu yang cukup dingin. Dan dibalik dinding besar yang menjulang tinggi serta berdiri kokoh mengitari wilayah dari Kekaisaran Regalia adalah satu-satunya dinding untuk membatasi segala ancaman dari luar wilayah.
__ADS_1
Itulah alasan dibalik berdirinya dinding besar itu.
Tapi apa jadinya jika dinding itu ternyata dijadikan bahan adu kekuatan untuk para monster yang benar-benar ingin menjebol nya?
GROARRHH!
Erangan dari para monster yang kian berdatangan mulai mengisi kesibukan mereka semua.
Dan tujuan utama mereka adalah untuk menerobos sekumpulan manusia yang tidak lain adalah para kesatria penjaga, dan setelah bisa melewatinya, maka tujuan lainnya adalah membinasakan manusia yang ada di depan mereka.
Tapi sayangnya, kesatria yang berjaga di daerah perbatasan bukanlah kesatria khusus. Yang dimaksudkan adalah bukan kesatria yang memiliki sihir kendali. Karean itulah, saat kedatangan monster yang tiba-tiba itu, mereka semua mulai panik.
Perasaan panik itu meliputi, apakah mereka bisa melawan monster sebesar itu?
Alasannya cukup sederhana, itu adalah karena mereka tidak pernah sekalipun bertarung melawan monster.
Dan jika memang ingin melawan monster itu, maka harus memiliki skill yang tinggi.
Tapi karena keterbatasan skill mereka dalam bertarung, semakin lama mereka bertarung melawan musuh yang tidak sebanding itu, maka akan menjadi sebuah kesempatan besar yang semakin menguntungkan para monster.
Bau anyir dari darah menyeruak menyelimuti area perang, kekacauan pun semakin bertambah parah saat pintu utama dari dinding itu akhirnya berhasil diterobos masuk oleh kawanan monster dari berbagai ukuran dan ras.
"Arrggh….!" Teriakan yang begitu memilukan terus terdengar.
GROARRH!
Erangan keras itu menjadi petanda untuk memanggil para kawanannya.
"Hancurlah kalian, binasalah kalian menjadi daging penyek." Ucap salah satu monster berkepala kadal.
"Lari! Lari! Mereka sudah menjebol pintunya!" Teriak salah satu orang diantara mereka semua.
Lari lintang pulang demi menghindari segerombolan monster yang berhasil menerobos masuk dinding perbatasan itu.
KEPAKK…..
__ADS_1
Burung gagak hitam itu kembali yerbang dibawah hujan ringan. Dia terbang mengelilingi wilayah utara yang menjadi sasaran utama monster.
KROAKK...
__________________
"Hah!" Alrescha langsung tersadar kembali. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mencerna semua hal yang baru saja dia lihat tadi. "Apa itu artinya-"
Belum sembar berbicara tuntas, Alstrelia langsung menyela nya dengan cepat. "Kita berpesta, maka mereka juga ikutan berpesta. Apakah ini maksud dari perayaan ulang tahun berdirinya Kekaisaran Regalia seperti apa yang diucapkan Kaisar?"
Alrescha perlahan melepaskan dirinya dari pelukannya, dimana Alstrelia masih saja duduk santai dan bertahan menopang tubuh Alrescha sesaat tadi.
"Apa itu artinya kau juga mencurigai Kaisar?"
"................." Alstrelia kembali bersandar ke sandaran kursi. Merenung dengan menatap pemandangan dari sekumpulan orang yang ada di lantai satu."Kaisar yang ada disini tadi, dia adalah palsu."
"................!" Alrescha tertegun ketika di dalam kepalanya tiba-tiba mendengar suara milik Alstrelia.
"Aku melakukan ini untuk menjaga rahasia. Inilah yang aku maksud kalau selama masih hidup, serapat apapun rahasia di jaga, rahasia itu masih bisa terbongkar dengan mudah. Dan itu caranya adalah dengan ini." Alstrelia sedikit menunduk sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya, lalu jari telunjuknya pun mengetuk-ketuk pelipisnya dengan pelan.
"Selama pikiran itu masih ada, mulut yang sering mengucapkan kata-kata manis yang tidak berguna, selama manusia itu belum mati, rahasia bisa terbongkar lewat kemampuan ini." Itulah maksud dari tindakannya saat ini menopang kepalanya dengan tangannya.
Akhirnya Alrescha mengerti sudah awal mula kenapa Alstrelia yang ada di depannya itu selalu bertindak santai dalam segala situasi dan lebih banyak bertindak pasif dengan melakukan kegiatan lain.
'Itu karena dia sudah memprediksi semuanya.' Pikir Alrescha saat melihat senyuman Alstrelia itu terlukis sedemikian tipis seakan semua hal yang ada didunia ini mampu Alstrelia kuasai dalam genggaman tangannya sendiri.
"Mereka, para bangsawan sungguh menikmati pesta ini dengan kebanggaan mereka mempunyai segala kemewahannya. Sedangkan pasukan kesatria yang ditempatkan di daerah perbatasan sedang menyerahkan nyawa melawan monster demi melindungi Kekaisaran ini.
Alrescha, hidup itu memang tidak pernah ada yang adil, apa kau sungguh menerima dua hal yang terus berkontradiksi ini?
Contohnya saja seperti satu orang yang sedang berdiri di depanku. Seorang pria yang sangat mencintai pekerjaannya dan tunangannya, tapi tidak pernah memiliki pemahaman pada adiknya sendiri sampai seseorang harus menggantikan tempatnya.
Jalan hidup setiap manusia itu memang selalu menakjubkan dan penuh dengan teka-teki, kan?" Ucap Alstrelia dengan seringaian tipisnya.
Senyuman yang berhasil memancing emosi dari Alreacha. Karena sekarang Alrescha benar-benar sudah tersulut akan ucapannya Alstrelia yang memang ada benarnya, namun sulit Alrescha terima.
__ADS_1