
KLEK!
Setelah Alstrelia masuk kedalam rumah, dia langsung disambut oleh dokter wanita. Itu terlihat jelas dari jubah putih yang melekat di tubuh wanita itu.
“Siapa?” tanya Alstrelia secara langsung. Walaupun dia tahu wanita di depannya itu adalah seorang dokter, ada kemungkinan kalau Alstrelia yang dulu tidak pernah bertemu, atau seolah-olah lupa dengannya, agar tidak begitu dicurigai.
“Saya Andrian, dokter pribadi anda sekaligus asisten dari dokter utama kediaman Fisher.” jawabnya dengan ramah juga sopan.
“.....................” Alstrelia mendeliknya beberpaa detik lalu berakata : “Kalau begitu, ikut aku.”
“Baik.” dengan patuh, Dr. Andrian berjalan mengikuti Alstrelia pergi.
Meskipun mansion yang Alstrelia tinggal mewah, tapi apa gunanya itu jika terlihat tidak adanya kehidupan disitu?
Bagi Alstrelia yang ini, kemewahan seperti yang ada di dalamnya, tidak memiliki arti apapun.
KLEK.
Setelah sampai di depan kamar, Alstrelia membuka pintu itu, dan menyuruh Dr. Andiran masuk. “Masuklah.”
“Saya permisi.”
Setelah dokter itu masuk, Alstrelia menutup pintunya, lalu berdiri menghadap kearahnya.
“Jadi apa yang harus aku lakukan jika kau ingin memeriksaku?” tanya Alstrelia dengan lugas.
“Anda ha-”
Tanpa mendengar seluruh ucapannya, Alstrelia sedikit menundukkan kepalanya kebawah dan menyela ucapannya langsung. “Karena ingin memeriksaku apakah aku terluka atau tidak, sepertinya harus dilihat secara rinci kan? Artinya aku harus membuka bajuku.” tanpa sebuah perintah maupun permintaan dari dokter tersebut, Alstrelia perlahan menarik sleting bajunya kebawah.
“Tu-tunggu nona-” wajahnya mulai memperlihatkan kepanikan gara-gara Alstrelia tanpa disuruh, malah membuat inisiatif sendiri.
“Hm? Tunggu apalagi? Bukankah ini cara praktisnya?” Alstrelia kembali menyela ucapannya dengan cepat.
SREETT……
Suara sleting itu terhenti saat memang jalurnya sudah habis, dan hanya tinggal dibuka.
“Nona, anda tid-,........?!” kalimatnya langsung menggantung begitu saat Alstrelia benar-benar sudah membuka pakaiannya.
SRUK.
__ADS_1
Alstrelia menjatuhkan pakaiannya ke lantai.
Lantas, sekarang Alstrelia akhirnya memperlihatkan tubuhnya kepada Andrian.
“Sekarang kau bisa memeriksaku.” pinta Alstrelia terhadap Dr. Andrian yang sedang menatapnya dengan tatapan tercengangnya.
‘P-pemandangan apa ini?! Ini pertama kalinya aku melihat tubuh seindah dan secantik itu?!’ pikirnya, dengan mata melebar. Bahkan wajahnya udah tersipu malu karena terkena imbas dari apa yang sedang dia lihat saat ini.
Rok pendek yang memperlihatkan kakinya yang jenjang namun juga ramping, tubuh dengan pinggang langsing berselimut kulit putih pucat itu mewarnai seluruh tubuhnya, seakan bahwa apa yang Andrian lihat itu adalah sebuah boneka hidup.
Ya..
Pada dasarnya Alstrelia memang hidup, dan kehidupannya sedang menjalani sesi drama menjadi adik dari seorang duke muda.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” celetuk Alstrelia. “Aku sudah sampai mengizinkanmu ke tahap ini, jika kau tidak melakukan pekerjaanmu sebagai dokter, berarti aku akan menyebutmu sebagai…..” sengaja menggantungkan kalimatnya, Alstrelia berjalan mendekat kearah Andrian dan berhenti tepat di depannya persis, sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Andria, lalu berbisik dengan nada paling lirih. “Dokter mesum, yang menyamar sebagai wanita dan ingin memperkosaku.”
“....................!” seketika Andrian mebelalakkan matanya dan langsung menatap wajah Alstrelia beberapa detik sebelum akhirnya melangkah mundur.
BRUK!
Andrian tidak sengaja tersandung dan jatuh terduduk di atas meja kecil.
“Kenapa kau menghindar? Bukankah ini yang kau inginkan?” tanya Alstrelia sambil menatap dingin wajah Andrian yang juga sudah tidak lagi memperlihatkan reaksi wajah tersipu, melainkan tatapan mata yang sama.
“Bagaimana kau bisa tahu aku ini adalah laki-laki?” tanya Andrian dengan suaranya yang sudah berbeda dari yang tadi.
“.................” Alstrelia kembali berdiri dengan tegap lalu berjalan menuju sisi Andrian dan duduk di atas meja itu juga sambil menumpukkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. “Ha~” setelahnya, Alstrelia tersenyum sinis, saat melihat ketegaran dari laki-laki disampingnya yang bisa tahan dengan godaan sesaatnya tadi. “Aku akan menjawabnya jika kau mengatakan namamu yang sebenarnya. Ah….” Alstrelia kemudian menoleh kearah Andrian yang diduga itu adalah nama palsu. “Walaupun kau tidak mengatakannya, aku juga akan tahu. Tapi aku ingin mendengarnya dari mulutmu.”
“Aku, Andreas.”
“Baiklah Andreas, aku akan mengatakan kenapa aku bisa tahu kau adalah laki-laki.”
“..................” Andreas sekilas melirik Alstrelia yang duduk bersilang tanagn di depan dadanya sambil menatap kearah pintu. Meski sebenarnya Andreas terselip merasakan godaan dari tubuh Alstrelia, secara Andreas masih bisa menahan hal itu, walau dari hasil jati dirinya yang seorang pria, dia terus merasakan kalau apa yang paling menarik perhatian bagi Andreas adalah dada milik Alstrelia. ‘Dia walaupun tidak begitu besar, tapi karena tubuhnya sempurna dan indah seperti itu, mau bagaimanapun dia tetap menggoda. Tapi-”
Andreas mengalihkan pandangannya untuk melihat ekspresi dari perempuan disampingnya itu.
‘Dia tidak terlihat takut atau malu dengan penampilannya sendiri di depan pria sepertiku.’ pikir Andreas.
“Itu karena nafasmu.” jaab Alstrelia sambil kembali menoleh karah Andreas.
“Ya?” Andreas langsung bingung dengan jawaban dari Alstrelia, karena sesaat tadi terlena dengan penampilan Alstrelia yang begitu menarik dimatanya.
__ADS_1
“Nafasmu.” Alstrelia menunjuk wajah Andreas sambil kembali mendekatkan tubuhnya ke depan Andreas sendiri. “Aku akan mengatakan ini agar kau tahu, nafas milik seorang laki-laki dan perempuan-”
“...............” melihat Alstrelia kembali mendekatkan wajahnya kearahnya, Andreas tetap pada posisinya, karena dia juga ingin mengetahui apa yang akan Alstrelia lakukan terhadapnya di saat tubuh dari perempuan ini hanya memakai pakaian dalam, yang akhirnya memperlihatkan buah dadanya. ‘Sudah aku duga, dia memang bukan adik Alrescha yang asli. Matanya yang berani seperti itu, itu menandakan kalau perempuan ini memang seseorang yang bisa melakukan apapun tanpa peduli dengan situasi dirinya sendiri untuk mempermalukan dirinya sendiri ataukah dipermalukan oleh orang lain. karena dia, akan membalasnya saat itu juga.’
“Laki-laki dan perempuan memiliki tempo nafas yang berbeda.” imbuh Alstrelia.
Sampai akhirnya, Alstrelia pun semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Andreas.
Jarak dekat yang membuat mereka berdua merasakan deru nafas masing-masing.
“Lihat kan? Kau bisa merasakannya. Nafasku dan nafasmu sendiri. Jika kau mencium seorang wanita biasa, mereka akan langsung cepat terengah, tapi tidak dengan sang pria.”
Mendengar hal tersebut, Andreas menarik sudut bibirnya sambil berkata : “Apa itu artinya kau wanita yng berbeda dengan artian luar biasa?”
“Tentu saja. Aku berbeda dari wanita lain yang lebih rendah dariku.”
“Jadi kira-kira bagaimana rasanya jika yang aku cium ternyata wanita sepertimu?” tanya Andears sembari mendekatkan lagi wajahnya.
Tapi..
“Hah….” Alstrelia langsung memalingkan wajahnya kearah lain sambil tersenyum kecut. “Sayang sekali Andreas, kau bukan pria dengan level yang bisa menciumku.” jawab Alstrelia sambil menepuk pipi Andreas sebelum akhirnya Alstrelia bangkit dan berjalan menuju pakaian yang sempat Alstrelia jatuhkan.
“........................”mendengar Alstrelia mengatakan itu tentangnya, Andreas berubah menjadi diam. Dia terus memperhatikan Alstrelia yang sedang memungut bajunya, dan mulai memakainya kembali.
Andreas yang terus terdiam, tangan kanannya pun mulai mengambil sebuah pisau yang tersimpan dibalik jas putihnya.
“......................” Andreas mengeluarkannya, lalu berjalan mendekat ke arah Alstrelia yang sedang memakai baju.
TAP….TAP…..TAP……
Dari langkah kaki pelan, berubah menjadi lari.
DRAP…...DRAP…...DRAP…..
“..................” Alstrelia membalikkan tubuhnya, dan mendapati Andreas lari kearahnya.
SYUHTT…….
Lalu menerjang kearahnya.
“...............!”
__ADS_1