
Di kediaman Fisher, dimana tempat itu jadi kian ramai karena kedatangan beberapa orang-orang baru.
"Alrescha! Kau berani memukulku sedangkan kau adalah anj*ng penjagaku!" Teriak Chavire. Setelah di berikan hantaman keras dari balok es yang dibuat oleh Alrescha, Chavire yang merasa tidak terima itu jadi marah dengan tindakan si anj*ing penjaga kasiar yang ternyata sudah mau membangkang.
"Sebenarnya dia itu siapa? Anj*ing penjaga? Tuan adalah Tuan, Tuan Alrescha bukanlah anj*ng penjaga siapapun selain Nona Alstrelia." Ucap Elbert.
"........." Alstrelia Ve Der Francisteen yang merasa terpanggil itu buru-buru menoleh ke arah Elbert.
"Apa?! Anj*ing penjaga Koman ku adalah aku, bukan dia." Pungkas Elda, seraya mengacungkan pedangnya kearah Elbert, dan berusaha melindungi Alstrelia dari Elbert, tentunya.
"..........!" Elbert terkesiap karena Elda yang ada di depannya persis itu langsung mengarahkan senjatanya ke arahnya, padahal Alstrelia yang Elbert maksud tadi itu bukanlah Alstrelia yang ada di depannya itu, tetapi adiknya Alrescha yang asli. 'Padahal bukan Alstreliamu yang aku maksud.' batin Elbert.
Elda tentu saja salah sangka antara Alstrelia majikan milik Elda itu dengan Alstrelia majikan Elbert yang asli.
"Elda, turunkan pedangmu." Perintah Alstrelia.
Elda awalnya melirik ke arah Alstrelia, lalu kembali melirik ke arah Elbert lagi.
"Kalau ada kerusakan lagi, nanti kita akan tinggal dimana?" Imbuh Alsttrelia agar mereka termasuk dirinya untuk tidak melakukan pertarungan lagi, yang memungkinkan untuk merobohkan mansion itu.
Elda menghilangkan mana miliknya yang tadi sempat dia salurkan ke gagang pedang, lalu Elda berkata : "Bukannya ada Edward? Dia kan penyihir, pasti bisa memperbaiki semua kerusakan yang kita buat ini seperti semula."
__________
"Havhum..!" Edward tiba-tiba saja bersin.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? Penyihir tidak mungkin bisa sakit begitu saja kan?" Kata komandan kesatria ini kepada Edward yang baru saja bersin itu.
"Ada yang baru saja membicarakanku." Jawab Edward.
"Hmm..kau kan terkenal, pasti banyak yang membicarakanku dari belakang." Ucapnya. "Tapi, apa kau tidak bisa membereskan semua ini dengan sihirmu?" Komandan kesatria ini pun merentangkan kedua tangannya, memperlihatkan kondisi bangunan Istana yang sudah hampir hancur semuanya.
Edward menatap denga ntatapan malas, kondisi Istana Kekaisaran yang sudah rusak cukup parah akibat pertarungan yang terjadi tadi malam.
"Kau pikir, aku bisa melakukan apa yang kau pikirkan itu dengan mudah?" Tanya Edward.
"Jadi kau tidak bisa memperbaiki istana ini dengan sihirmu?"
"Kenapa hanya penyihir saja yang selalunya mendapatkan pekerjaan lebih berat seperti ini? Lalu apa gunanya kalian bertugas disini, jika hanya mengandalkan penyihir sepertiku? Maka kau tidak pantas, tidak hanya kau saja, tapi mereka semua tidak pantas di sebut kesatria. Paham?" Protes Edward kepada komanda kesatria ini.
Sontak komandan kesatria ini langsung terdiam.
"Apa? Sel-"
"Apa? Mau mengatakan lama? Padahal setengah bulan itu sudah termasuk singkat ketimbang seribu orang yang dipekerjakan bersama-sama." Sela Edward. "Sudahlah, aku ingin Istirahat dulu, kau dan semua anak buahmu lakukan saja apa yang bisa kalian kerjakan.
Setelah berkata seperti itu, Edward segera pergi dari sana menggunakan teleportasi.
Kepergian dari Edwardpun membawa para teman-teman nya sebagai sesama penyihir yang awalnya sedang membantu para kesatria, ikut pergi juga. Sehingga bantuan dari pada penyihir tadi langsung berhenti begitu saja.
"Komandan? Bagaimana pembicaraannya dengan Tuan Hasting?" Tanya salah satu kesatria yang tiba-tiba datang menghampiri komandannya itu.
__ADS_1
"Tidak ada masalah. Tapi aku sarankan agar kalian tetap membereskan semua ini dengan manual lebih dulu. Jangan terlalu mengandalkan penyihir lebih dulu, mereka butuh waktu untuk memproses perbaikan Istana ini secara berkala." Beritahu komandan kesatria ini kepada anak buahnya itu.
"Baik," Memberikan tabik hormat, lalu berlari pergi untuk memberitahu semua teman-temannya agar kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sedangakan komandan kesatria ini, dia benar-benar menatap pemandangan dari Ibukota dari atas belkon Istana.
Kepulan asap masih mewarnai Ibukota, banyak bangunan yang hancur, taman indah itu jadi sudah seperti sebuah kuburan karena ada puluhan mayat yang masih belum terurus di sana. Tidak hanya disana saja, tapi juga di tempat lain.
Intinya, setelah adaya perang sehari setelah malam pesta pembukaan untuk ulang tahun kekaisaran, maka dari situlah awal dari kekacauan untuk seluruh penduduk dari kekaisaran Regalia dimulai.
Dan dalam waktu semalam, negeri terbesar di benua itu, berhasil berada di ambang kehancuran.
'Lalu satu hal lagi. Yang mulia kaisar yang kita kenal sudah tidak ada lagi. Tubuh itu memang tubuh milik Yang mulia Kaisar, tapi tidak dengan jiwanya.
Bagaimana ini? Apakah ada orang lain selain aku yang menyadari perbedaan dari Yang mulia Kaisar ini selain aku?
Kira-kira bagaimana dengan perasaan Putri Alstrelia ya? Jika tahu akan kenyataan ini?
Putri Alstrelia dan Kaisar itu dari kecil sudah sangat dekat, walapun dari luar mereka berdua akan dianggap teman dekat yang aneh, karena yang satu seorang pendiam dan yang satu orang yang banyak bicara.
Namun fakta bahwa Putri Alstreliia adalah pasangan resmi Yang mulia Kaisar Chavire, tidak akan bida di ubah, semoga saja Tuan Putri tidak tahu, karena kalau tahu pasti beliau akan sedih.' Pikir komandan kesatria ini atas nasib dua orang yang cukup penting di Kekaisaran Regalia.
___________
Mata yang awalnya tertutup itu, perlahan terbuka dan menampilkan siluet dari isris mata berwarna biru laut.
__ADS_1
Dan mulut yang sedari tadi terdiam itu akhirnya mengatakan sepatah kata kalimat berbentu sebuah gumaman lirih. "Sedih? Dia terlalu baik sampai memikirkanku yang bahkan sangat aku sendiri tidak ingat nama dari komandan kesatria tadi itu siapa. Tapi dia mengingatku, yang bahkan sangat jarang mengunjungi Istana. Bagaimana bisa ada yang mau memikirkan perasaanku ini?"