
Tidak ingin membuang waktu dengan segala basa-basi yang ada, Alrescha akhirnya meminum cairan berwarna merah itu.
Dingin, tidak berasa, dan tidak ada aroma apapun. Apa yang ia rasakan ketika minum ramuan yang cara pembuatannya aneh itu, adalah seperti air biasa.
KWAKK...!
Suara dari burung Galshad itu kembali terdengar dengan cukup keras, tapi setelah itu, tidak ada apapun lagi, baik itu keberadaannya, serangan, atau aura milik burung Galshad itu. Seakan burung tersebut sudah menghilang?
"Tuan, burung Galshad sudah tidak ada lagi." Beritahu Lena, setelah mengintip dari balik jendela yang memang sudah pecah.
Mendengar itu, Alrescha jadi merasa tenang, hingga efek dari perasaannya sendiri itu membuat rambut putih itu berubah kembali menjadi hitam.
Tentu saja akibat dari penggunaan kekuatan yang tidak terduga, sebab ia jadi memunculkan burung Galshad, Mana sihirnya jadi berkurang drastis, dan akibatnya karena segala tekanan sakit kepala yang ia terima, Mana sihir yang menghilang, serta semua segala perasaan yang masih ia miliki, Alrescha pun akhirnya tumbang.
BRUK.....
'Akh~ Aku akhirnya mencapai batas ya?' Setelah berpikir demikian, matanya pun terpejam dengan sosok Alstrelia yang terlihat sedang membuka baju sebagai pemandangan terakhir.
_____________
WUSHH~
Angin yang begitu lembut berpadukan aroma bunga liar yang cukup menyita perhatian, membawa mata yang semula terpejam akhirnya terbuka juga.
'Hah? Kenapa aku disini?' Alrescha membuka matanya lebar-lebar. Tapi apa yang pertama kali ia lihat adalah langit biru berhiaskan awan putih yang terus silih berganti dalam berbagai bentuk, karena terbawa oleh angin. 'Kenapa rasanya sejuk? Jelas aku merasakan embun, aroma tanah, daun, dan bunga, tapi juga laut?'
BYURR.....
__ADS_1
Deburan ombak itu berhasil menarik perhatian Alrescha yang awalnya terbaring terlentang di atas rumput untuk segera berdiri.
Ketika itulah, ia melihat adanya lautan biru yang sangat luas, dan ketika melihat ke belakang, dia melihat adanya padang sabana yang sama luas.
NGIKK.....
Hingga kuda berwarna putih rupanya sedang memakan rumput sendirian.
'Aku ada di mana? Bukannya tadi aku sedang ada di kamar, dan tidur karena aku sudah mencapai batasku untuk terus sadar?' Pikir Alrescha.
Benar, karena baik sebelum perang sampai pasca perang Alrescha benar-benar sama sekali belum mendapatkan tidur yang cukup, juga setelah ia menggunakan banyak sihir dalam jangka hampir setengah bulan penuh, serta di tambah dengan kasus adiknya yang menghilang, sebagai kepala keluarga Fisher siapa yang bisa tidur dengan tenang jika semua masalah itu harus Alrescha emban di pundaknya, menghadapi semua masalah secara satu persatu.
Walaupun memang sempat di bantu oleh perempuan misterius yang ia jadikan sebagai pengganti adiknya, tapi tetap saja sebagian besar pekerjaan Alrescha lah yang menyelesaikannya.
Dan akhirnya setelah ia meminum cairan dari ramuan misterius yang di berikan Alstrelia kepadanya, semua beban yang selama ini begitu menekan tubuhnya akhirnya menghilang dan membuat tubuhnya justru menjadi ringan, dan mungkin karena itulah, Alrescha jadi langsung masuk kedalam zona untuk hibernasi.
'Apakah ini mimpiku? Tapi kenapa rasanya nyata?' Angin yang membawa segala aroma menjadi satu, langsung masuk kedalam indera penciumannya. Rasa sakit ketika menggigit bibirnya, semua itu menjadi fakta kalau dirinya saat ini seperti nyata.
BYURR....
Air laut yang menggulung berakhir menghantam tebing kokoh, hingga gulungan yang cukup besar dan pecah itu menghasilkan cipratan yang cukup tinggi.
Aroma asin dari air laut pun datang juga.
'Uhuk ...uhuk..."
Suara batuk itu cepat-cepat membuat Alrescha menoleh ke belakang.
__ADS_1
Tidak ada suara yang tidak ia kenali, bahkan untuk batuk yang seperti itu saja, langsung membuat Alrescha menemukan satu pikiran bahwa itu adalah Alstrelia?
"Padahal disini indah, ada laut, ada langit luas, ada kuda, juga ada pohon tempat untuk aku berteduh, tapi kenapa aku merasa tidak bahagia ya? Bukankah ini yang selama ini aku inginkan? Laut biru itu, kelihatan seperti mataku. Sebenarnya apa yang kurang ya?"
'Alstrelia? Dia disini juga? Tidak-' Alrescha menggelengkan kepalanya dangan cepat, dia sedang tidak berpikir bahwa itu adalah Alstrelia si pengganti, tapi Alstrelia adiknya yang asli.
Tapi, lantas apa dan kenapa ia tiba-tiba saja di perlihatkan sosok dari adiknya yang asli itu?
Kenapa tidak dari awal saja?
'Kenapa baru sekarang aku bertemu dengannya, kenapa tidak dari dulu? Apakah memang karena ada hubungannya dengan dia, makannya sekarang aku baru bisa bertemu dengannya?' Alrescha yang tidak mau berpikir lebih dari itu, segera mengambil langkah pertamanya untuk menghampiri seorang perempuan tengah berbaring dalam posisi miring ke arah kanan.
"Ini membosankan. Sama dengan hidupku." Gerutu Alstrelia. "Semua orang pasti menganggapku sebagai perempuan yang membosankan, karena aku sama sekali tidak pandai bersosialisasi dengan orang lain, tidak pandai dalam hal apapun selain hanya jalan-jalan, membuang waktu dan usia. Aku itu, tidak seperti kakak.
Meskipun kakak beradik, tapi kenapa aku sendiri yang merasa bodoh ya? Padahal kakak sudah membuang banyak uang untuk mengundang banyak guru untukku, tapi dari semua itu, aku sama sekali tidak bisa menangkapnya dengan baik.
Benar-benar adik yang tidak berguna. Aku sama sekali tidak patas jadi adik, dan bahkan dari keluarga Fisher sendiri."
Tidak ada satu pun kata yang tertinggal, bahkan Alrescha yang akhirnya mendengar semua keluhan hati dari diri adiknya itu, langsung di buat tercengang, karena ia akhirnya paham, alasan sebenarnya dari adiknya tidak bisa memahami semua materi pelajaran dari semua guru yang Alrescha undang agar Alstrelia tidak ketinggalan dengan kelas bangsawan, adalah karena kekuatan yang di miliki oleh Alstrelia itu sendiri.
"'Akhh...!" Tiba-tiba Alstrelia merintih sakit sambil memegangi kepalanya.
Alrescha yang panik itu, berlari cepat untuk menghampiri Alstrelia.
"Alstrelia," Panggil Alrescha setelah ia berhasil menghampiri adiknya yang tiba-tiba merintih sakit.
"...." Alstrelia sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang ke arahnya. Terkejut yang datang adalah pria berwajah tembok beton, ia segera bangkit dari tempat berbaringnya dan refleks jadi menyeret pant*atnya untuk mundur ke belakang. "K-kakak?"
__ADS_1