Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
198 : Alstrelia : Dimana


__ADS_3

'Ternyata api biru milikku, tidak bisa membakar tubuhnya juga? Apalagi pengaturan yang Ayah berikan pada tokoh utama novel ini?' Pikir Alstrelia.


Dia sungguh melihat Alrescha bisa berdiri biasa saja, padahal di sekelilingnya itu termasuk diri Alstrelia saat ini, mereka berdua tengah berada di dalam lingkaran yang sudah berkobar dengan api biru mistik yang sebenarnya bisa membakar apapun itu.


Dn jika yang terkena adalah makhluk hidup, maka api biru itu langsung membuat makhluk itu mati tanpa tubuh yang tersisa sedikitpun.


Tapi apa yang ada di depannya itu?


'Apa mungkin karena dia memegang pedangku, makannya itu tidak akan memberikan efek padanya?' Tatap Alstrelia pada satu pria yang berdiri gagah dengan kondisi telanjang dada.


Cukup memukau, tapi apa gunanya itu, jika Alstrelia saja sudah cukup sering melihat apa yang biasanya pria lakukan saat latihan olahraga berat, pastinya sudah tidak memakai pakaian atasnya.


'Aku benar-benar bisa merasakan energi sihirnya lebih jelas. Apakah ini kombinasi mana sihir yang dimiliki pedang ini dengan mana sihir milik Alstrelia? Mana sihirnya hampir sama.' Tatap Alrescha terhadap pedang milik Alstrelia yang sudah Alstrelia pinjami itu.


Hanya saja ketika Alrescha hendak mendalami lagi energi pedang yang tengah Alrescha pegang itu, tiba-tiba saja pedang tersebut menghilang, layaknya butiran debu berwarna biru yang tersapu oleh angin.


SYUHH~


Dan pedang itu kembali masuk ke dalam kalung yang di pakai oleh Alstrelia, tepat di balik kerah baju itu.


Saat itu pula, api biru yang tadi masih berkobar membakar lantai dalam bentuk lingkaran yang dimana lantai yang mereka pijak sudah amblas ke bawah sedalam setengah meter, tiba-tiba juga menghilang.


"Apa hanya seperti ini saja?" Tanya Alstrelia, masih berbaring di atas lantai dengan posisi menghadap ke atas.


Hingga Alrescha sendiri sedikit mendapatkan intipan kecil di balik rok pendek yang di pakai oleh perempuan yang ada di depannya itu.


Walaupun bisa di lihat, tapi apa yang bisa di lihat ketika di balik rok itu Alstrelia juga memakai sebuah celana pendek ketat berwarna hitam.


'Bukannya ini artinya aku tetap mengintip? Tapi-' Raut wajah milik Alrescha pun benar-benar kurang baik, pasalnya dia masih bisa merasakan bagaimana Alstrelia beberapa waktu berulah dengan cukup semangat.


Hanya saja, karena saat ini lingkaran yang menyegel sihir mereka berdua sudah hilang, maka Alrescha pun terpaksa menggunakan kekuatan miliknya itu untuk di gunakan pada tubuhnya sendiri agar bisa mendapatkan rasa dingin yang setidaknya bisa menurunkan apa yang hampir di capainya.


Akan tetapi ketika mereka berdua sedang mencoba beristirahat setelah menahan semua godaan dan gairah yang ada, tiba-tiba mereka kembali mendapatkan satu insiden yang membuuat mereka berdua.


BRUK...


Lantai yang mereka pijak itu pun semakin amblas dan akhirnya menciptakan sebuah lubang yang membawa mereka lansgung terjun ke bawah tanah yang cukup dalam.


____________


"Dimana koman? Kenapa sampai jam segini, dia belum kujung balik?" Rungut Elda, merasa galau karena dia harus sendiran di kamar yang bagi Elda cukuplah membosankan.


Tentu saja yang membuat Elda merasa sangat bosan sendiri adalah karena dia tidak bisa melakukan apapun ketika dunia yang Elda masuki itu bukanlah dunia dari abad yang modern.


Jadi..


"Lena, kenapa pijatanmu sangat enak ya? Aku sangat menyukainya. Aku rasa, ini pertama kalinya aku bisa memanjakan tubuhku sampai seperti ini." Puji Elda terhadap Lena yang kini sedang duduk atas pant*atnya dan memberikan sensasi pijatan yang cukup memanjakan jiwa dan raga Elda yang kebetulan sangat lelah, gara-gara dia harus bertarung dengan Charles lebih dari satu setengah jam tanpa menggunakan kekuatan sedikitpun.


"Karena saya sudah punya sertifikasi sebagai pelayan pribadi Nona Alstrelia, maka dari itu saya harus bisa melakukan segalanya. Bahkan untuk sekedar memijat sudah pasti saya bisa melakukannya. Saya senang jika anda senang juga." Jelas Lena.


"Nona Alstrelia yang kamu layani itu sebenarnya orang seperti apa?" Toleh Elda ke arah Lena yang akhirnya menghentikan proses untuk memijat tubuh Elda, karena Elda sudah merubah posisi tubuhnya dari telungkup menjadi duduk, lalu menarik kain selimut untuk menutupi tubuh bagian depan.


"Beliau, bukanlah orang yang suka berbicara. Lebih ke pendiam, jadi Nona memang pada dasarnya tidak begitu pandai berinteraksi dengan banyak orang. Dan sekarang, Nona anda menjadi nona saya juga." Beritahu Lena.


"Tapi Koman itu, orangnya seperti itu." Elda mengangkat jari telunjuknya ke arah atas dan memberitahu kalau Alstrelia yang di layani oleh Lena itu bukanlah tipe orang yang pendiam, yang ada justru adalah sebaliknya. "Dia cerewet, mulutnya suka bicara kasar, suka merendahkan juga, apa yang seperti itu kau bisa mengatasinya?"


Lena mulai mengingat segala kalimat yang pernah terlontar dari mulut Alstrelia yang cukup tajam itu.

__ADS_1


"Yah...memang agak menyebalkan, karena Nona anda adalah tipe orang yang suka bicara sesuka hati pada orang lain tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. Tapi semua yang selalu Nona katakan juga selalu masuk akal, lagi pula-" Lena melirik ke arah lemari pakaian milik Alstrelia yang asli, di sana ada banyak rahasia yang di sembunyikan yang membuat Lena secara otomatis tidak berani membukanya. "Tapi selama ini Nona anda selalu melakukan saya dengan baik, walaupun dengan cara yang berbeda. Tapi saya tidak begitu mempermasalahkannya." Imbuhnya.


"Ya. Dia akan bersikap baik pada orang yang memang dari awal punya kesan baik, dan sebaliknya. Tapi kenapa kau terus saja melirik ke arah pintu lemari itu? Apakah ada sesuatu yang ingin kau beritahu tapi tidak berani memberitahu?" Melihat Lena sesekali melihat ke arah satu lemari yang tidak pernah Alstrelia buka, membawa Elda jadi terbawa rasa penasarannya.


"Hm..." Lena kembali menghadap ke depan seraya mendorong tubuh Elda agar kembali berbaring, karena proses untuk memijat tubuh Elda sama sekali belum selesai.


Elda hanya menurutinya saja, dia pun jadinya kembali berbaring dalam posisi telungkup.


"Memang ada sesuatu, tapi saya juga tidak berani membukanya." Lirih Lena.


Sampai di saat Lena akan kembali memberikan Elda minyak gosok dengan aromaterapi, tiba-tiba saja-


BRAK..


"Lena, apa anda tahu dimana Tuan?" Elbert tiba-tiba sudah membuka pintu dengan cukup kasar pula. "Aku sudah mencarinya, tapi sama sekali tidak menemukannya."


Lena dan Elda pun sama-sama melirik ke arah satu orang yang tidak punya sopan santun itu.


"Sir Elbert bukannya sudah di peringatkan, ketuk pintu dulu. Nona memang tidak ada di kamar, tapi ada tamu lain, apa Sir Elbert paham?" Kata Lena memberikan sebuah peringatan kepada Elbert.


Elbert hanya melirik Elda yang sedang memberikannya tatapan sengit secara sekilas. Lalu dengan tanpa tahu malu, Elbert menutup mata dan berbalik. "Paham. Tapi saya pikir tamu nya juga ikut bersama dengan Nona. Makannya saya berani masuk tanpa mengetuk pintu.


Elda yang tidak beranjak dari tempatnya itu, langsung mengambil garpu yang beberapa waktu lalu sempat Elda gunakan untuk mengambi kue. Tapi karena di sekitarnya hanya ada senjata itu, dari tempatnya itu, Elda langsung melempar garpu di tangannya itu ke arah Elbert.


SYUHT...


Tanpa menoleh ke belakang, Elbert berhasil menangkap garpu yang di lempar oleh Elda dengan sekali tangkap.


GREPP...


"Maafkan saya, tapi bukankah seharusnya tamu seperti anda lebih baik tinggal di kamar tamu saja?" Kata Elbert memberitahu.


Karena itu, Elda pun buru-buru mengambil bajunya dan segera memakainya.


"Kebetulan ini sudah terlalu lama untuk sekedar pergi jalan-jalan setelah membuatku bertarung rodi dengan Charles itu, jadi aku juga akan mencarinya. Kau mau ikut atau tidak, itu terserahmu." Kata Elda seraya mengulurkan tangannya ke arah Lena, dan lena yang paha, dengan tangan yang di sodorkan ke arahnya, Lena pun segera mengambil tongkat milik Elda yang bisa berubah menjadi pedang itu.


Setelah menerima senjatanya, Elda pun tun dari tempat tidurnya dan berjalan mendahului Elbert yang sedari tadi berdiri memunggunginya.


Melihat Elda pergi tanpa mempermasalahkan apa yang terjadi tadi, Elbert pun langsung berjalan mengekorinya dari belakang.


'Wanita macam apa dia ini? Dia sama persis dengan majikannya. Apa karena dia memang anj*ing penjaga Nona Alstrelia palsu itu, makannya dia punya sifat dan karakter yang hampir sama? Tapi-' Elbert pun menatap punggung Elda yang terlihat begitu tegap dan memperlihatkan sisi sebagai wanita yang kuat.


Di balik seragam yang baru saja Elda pakai itu, Elbert sesaat tadi sempat melihat di punggung Elda persis ada bekas luka sayatan yang cukup panjang, seperti bekas tebasan dari pedang.


Elbert pun terdiam sambil memperhatikan Elda yang berjalan seperti seorang pemimpin, karena setiap pelayan yang melihatnya, Elda hanya terus melihat ke arah depan.


*


*


*


"Hei, kau-" Tunjuk Elda terhadap burung dara yang sedang bertengger di atas ranting pohon, dan kebetulan sedang berduaan dengan pacarnya.


Kurr..?


"Kau melihat koman ku?"

__ADS_1


Kur..?


Burung dara ini memiringkan kepalanya tidak paham dengan apa yang di maksud oleh manusia yang ada di bawahnya itu.


"Apa anda tidak bisa bertanya dengan makhluk yang waras saja?" Ledek Elbert melihat Elda justru bertanya kemana perginya Alstrelia kepada seekor burung yang sedang berduaan itu.


"Dengar itu, dia mengatakan kalau kau tidak waras." Ujar Elda dengan selamba, pada burung dara itu.


KUR..!


Kedua burung dara itu pun langsung menatap Elbert dengan tatapan yang tegas.


"Sudah-sudah, yang aku tanyakan itu kemana perginya wanita cantik molek dengan tubuh bahenol, terus memakai pakaian sepertiku." Tunjuk Elda pada dirinya sendiri.


'Kenapa dia sebagai anak buah malah mengatakan hal itu secara terang-terangan?' Pikir Elbert atas tingkah serta ucapan Elda saat bertanya soal majikannya sendiri dengan kalimat yang tidak sopan, seperti tingkah Elda sendiri


Kur...kur....kur...


Setelah mendengar penjelasan singkat dari burung itu, Elda mengangguk paham, lalu Elda melemparkan selebar roti tawar ke atas ranting sebagai imbalan burung itu setelah mau menjawab pertanyaannya.


Dan kedua burung itu langsung menghampiri roti tawar yang tersangkut di ranting pohon, lalu memakannya.


"Apa yang dia jawab?"


"Komandanku dan majikanmu itu ternyata sedang berduaan di tengah hutan." Elda pun menatap gerbang belakang mansion yang di bangun untuk adiknya Alrescha itu. Di mana di belakang gerbang persis ada sebuah hutan yang masih cukup belantara, karena saking lebatnya.


Itu di deskripsikan dalam novel yang pernah Elda baca.


'Bukannya di dalam hutan sana ada reruntuhan kuil?' Elda yang penasaran, tentu saja langsung berjalan pelan ke arah jeruji besi yang merupakan pagar ppembatas antara wilayah kediaman Fisher dengan hutan. "Mereka berdua ada di sana!"


Setelah mengatakan itu, Elda langsung berlari dan melakukan lompatan yang cukup tinggi, agar bisa melewati pagar pembatas yang sedemikian tinggi itu.


Elbert yang tiba-tiba saja di tinggal pergi begitu saja oleh Elda, langsung pergi menyusulnya.


Elda dan Elbert melompati satu pohon dengan pohon yang lainnya, dan Elbert yang tadi sempat tertinggal itu sudah bisa mengimbangi kecepatan Elda dalam melompat.


"Apakah tugasmu disini untuk membawanya kembali?" Tiba-tiba Elbert bertanya, menyinggung kemunculan Elda yang cukup tiba-tiba.


"Aku hanya akan menjawabnya iya. Kenapa? Tidak rela jika aku membawa Nona ku kembali ke tempat asal kami? Gara-gara harus mengisi tempat Nona mu karena belum ketemu?" Tanya Elda balik.


Untuk mencegah adanya yang mendengar pembicaraan mereka berdua, tentunya mereka mengatasinya dengan menggunakan telepati mereka berdua sebagai dasar untuk percakapan mereka.


"Bukan saya yang tidak rela, tapi kelihatannya adalah Tuan. Dia yang memutuskan permasalahan ini, sebab majikan anda dan majikan saya sudah menjalani kesepakatan." Ungkap Elbert.


Mendengar kata kesepakatan, Elda langsung menghentikan aksinya untuk melompat lagi.


"Kesepakatan?" Tanya Elda penasaran, "Kesepakatan seperti apa?" Imbuhnya.


Tapi karena Elbert tidak menghentikan langkah kakinya untuk melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, sontak Elda pun jadinya mengejarnya.


"Elbert!" Teriak Elda, karena Elbert bungkam, tidak mau menjawabnya. 'Dih, dia tidak mau berhenti.' Kesal dengan Elbert yang menghiraukan pertanyaannya, Elda mengeluarkan tongkatnya dan merubahnya menjadi pedang.


Setelah itu Elda langsung melompat dengan lompatan yang cukup tinggi dan menggunakan keampuannya untuk menggunakan Gate sebagai pemersingkat waktu perubahan posisinya jadi berada di jarak sepuluh meter di depan Elbert persis. Setelah itu, Elda pun memberikan serangan peringatan kepada Elbert dengan menebas sekitar pohon yang ada.


CRASSHH...


Mendapatkan satu serangan peringatan dari Elda, Elbert tentu saja dengan tenang segera mengeluarkan pedangnya dari sarung pedangnya dan langsung mengayunkan pedang miliknya untuk memotong ketiga pohon yang sedang terbang ke arahnya dalam sekali perobaan.

__ADS_1


CRASHH....


'Dia..kemmapuannya hebat juga. Dan-' Elda yang melihat ekspresi Elbert yang cukup serius itu, tentu saja tiba-tiba membuat hatinya jadi tertarik dengan sosok pria yang ada di depan sana itu.


__ADS_2