Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
219 : Alstrelia : Penuhilah panggilan ini


__ADS_3

"Persiapannya selesai." Alstrelia menatap ke arah bawah, dimana lingkaran sihir yang di buat Elbert memang sudah sama persis dengan contoh yang Alstrelia berikan kepada Elbert.


Setelah melihat kembali lingkaran sihir yang ia pijak itu, dia melihat ke arah jam.


Jam menunjukkan pukul dua pagi.


Dan syarat utama lainnya untuk melakukan ritual miliknya adalah dengan mengecek gelombang sihir miliknya sendiri.


Alstrelia sempat menyentuh nadi miliknya dengan menggunakan jari yang tadi sempat dia gunakan untuk mengaduk batu kristal yang terendam oleh darah milik mereka berdua.


"Gelombang sihir sempurna." Ucap Alstrelia pada dirinya sendiri, setelah dia merasakan adanya mana sihir miliknya sudah kembali penuh. "Dengan melakukan ritual penggabungan batin pada jam dua pagi, dimana Mana-ku sedang dalam di kondisi puncak, sekalipun tanpa katalis, sebenarnya aku mampu memanggil adikmu, Alrescha."


"Apa? Kalau begitu, kau seharusnya memanggilnya, bukan sekedar membangun penggabungan batin." Hanya dengan mendengarnya saja, Alrescha pun jadi seperti memiliki harapan yang cukup besar agar adiknya bisa kembali.


Tapi sayangnya tanggapan Alstrelia sendiri adalah penolakan.


Alstrelia memberikan gelengan kepala dengan pelan sambil mengambil sepuluh kristal yang ada pada gelas tersebut.


"Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Itu namanya egois." Kata Alstrelia.


Karena dirinya namanya juga adalah Alstrelia, maka ia pun bisa sedikit merasakan apa yang di rasakan oleh Alstrelia yang asli.


"Kau tahu kan, apa penyebab dari dia pergi. Perhatikan kondisi dulu. Jika memang sudah aman, aku pasti akan melakukan pemanggilan itu." Beritahu Alstrelia dengan dingin. "Kau tidak perlu khawatir aku akan ingkar janji, karena aku sama sekali belum pernah mengingkari janjiku sendiri. Yah~ Meskipun itu tergantung situasi juga." Imbuh Alstrelia dengan senyuman simpul menghiasi bibirnya.


'Benar juga. Kenapa aku jadi seegois ini?' Alrescha mengusap wajahnya dengan kasar, dia sama sekali tidak bisa berpikir jernih jika yang menjadi topik pembahasan nya adalah Alstrelia.


Memang, perempuan ini juga punya penampilan yang sama dengan adiknya, tapi karena sifatnya bertolak belakang maka kesan yang Alrescha dapatkan pun berbeda.


Jika kesan perempuan di depannya itu adalah seperti orang yang tahu segalanya, maka tidak adiknya yang sebenarnya memiliki Prophet Art justru malah bertingkah takut.


'Tapi jika adikku tetap berada di luar, lalu siapa yang melindunginya?' Entah kenapa Alrescha tiba-tiba jadi ingin mendapatkan jawabannya sekarang juga.

__ADS_1


Alrescha sadar bahwa adiknya itu pergi dari sisinya adalah untuk melindungi dirinya sendiri dari musuh yang sudah Alstrelia prediksi dengan kemampuan Prophet Art nya.


Tapi mau bagaimanapun, Alrescha benar-benar ingin tahu sekarang.


Dan cara cepat untuk mengetahuinya adalah dengan mencium bibir itu lagi.


Ya.


Mulut yang selalu mengumbar aneka rasa untuk membuat semua orang terhina, di balik itu semua, sekarang di mata Alrescha, bibir itu sudah lebih dari sekedar untuk berbicara saja.


Itu adalah pintu penghubung untuk semua gambaran yang bisa ia dapat dengan cukup mudah.


Hanya dengan menciumnya, Alrescha akan segera mendapatkan jawaban yang cukup mudah. Itulah yang Alrescha inginkan dari perempuan di depannya itu.


Dan Alsrescha pun terus menatap wajah Alstrelia yang kian jadi lebih serius itu.


"Aku akan mulai." Alstrelia yang menghiraukan apa yang sedang di pikirannya Alrescha, akan memulai ritual penghubung nya.


Alstrelia memejamkan matanya, mengulurkan tangan kanannya ke depan dalam posisi kepalan tangan itu menghadap ke bawah. Barulah mulut yang tadinya sempat diam, kembali digunakan untuk merapalkan mantera yang ia pahami.


"Demi elemen air dan api, demi fundamen jalinan batin, demi paus jalinan kontrak, demi sang leluhur saya Afreslahs, satukanlah hati ini, pikiran ini, tutuplah gerbang arah mata angin, majulah ke atas singgasana saya, dan tapakilah jalan berliku menuju kerajaan saya." Rapalan mantera itu pun membuat kristal yang Alstrelia genggam menjadi cair.


Dan setiap cairan yang menetes ke atas lantai, langsung terserap masuk kedalam garis lingkaran sihir itu. Menciptakan cahaya berwarna biru untuk setiap tetes dan satu garis yang ada.


Tiap tetesan yang terus berlangsung membasahi lantai, membuat seluruh garis lingkaran sihir tersebut pun semakin memenuhi garis tersebut.


PSSHH....


Sampai di satu sisi, rambut Alrescha tiba-tiba saja perlahan berubah menjadi putih. Rasa haus ingin menemukan jawaban dengan cara mengambil alih bibir yang di penuhi pengetahuan itu membuat Alrescha yang tidak kuasa menahan sesuatu yang ada di dalam dirinya, perlahan berjalan menghampiri Alstrelia yang sedang melakukan ritual penggabungan batin.


"Penuhi, penuhi, penuhi, penuhi, penuhi." Lima kata yang terucap itu menghasilkan cairan dari batu katalis yang Alstrelia genggam itu terus menetes ke lantai, sampai warna dari lingkaran sihir itu semakin terang dan terus terang. "Ulangi sebanyak lima kali. Namun, hancurkan setiap yang terisi. Set."

__ADS_1


Imbuhan kata dari rapalan mantera itu membuat warna lingkaran sihir biru berubah warna menjadi putih.


"Dengarkan perkataan saya, dan dengarkan kata hati saya. Apa yang kamu katakan akan terus tersampaikan kepada saya. Dan takdir kita akan terus berada di bawah kendali kita." Terang Alstrelia. Tangannya terus terulur ke depan, angin perlahan menyelimuti kamar tersebut.


Elbert dan Elda yang tidak jauh dari area lingkaran sihir yang perlahan aktif itu memutuskan untuk mundur dari sana.


Tapi tidak dengan Alrescha. Dia kini memegang kepalanya, wajah tersiksa dari kepala yang sangat sakit dan terasa seperti hendak pecah, rambut yang sudah berubah warna jadi putih perak itu menyambut kedatangan pikiran dan hati yang tidak terduga. 'A-apa ini? Arhh...!'


"Jikalau kamu mendengar saya, maka jawablah. Alstrelia, Alstrelia, Alstrelia, Alstrelia, Alstrelia. Namamu, nama saya, namanya Alstrelia. Jika kamu mengikut kehendak dengan saya, maka bicaralah."


Rapalan terus saja di ucapkan demi melangsungkan pemanggilan antara dirinya dengan diri Alstrelia kembarannya itu.


WUSHH.....


Angin yang cukup dingin itu berputar di area lingkaran sihir, lalu Alstrelia terus menyambungkan kalimat rapalan mantera nya.


Dan dari situlah, Alstrelia mulai menarik kembali tangannya dengan perlahan lalu meletakkannya di depan dada.


"Saya adalah wujud dari seluruh kebajikan dari dunia yang kekal. Saya adalah kontradiksi dari kejahatan yang kekal."


Alstrelia semakin mengencangkan kepalan tangannya, membuka matanya dengan mata terus melebar, dan kemudian suaranya semakin meninggi.


"Kamu wujud dari penuntun masa depan ini, jawablah melalui lingkaran pembatas ini!" Dan teriakan itu di iringi dengan tangan kanannya yang langsung dia rentangkan ke depan dengan telapak tangan terbuka lebar.


WUSSHH...


Angin yang muncul itu berputar cepat, dan menyapu debu yang masih ada di dalam kamar, sampai sebuah teriakan yang cukup keras itu berhasil mengisi setiap sudut kamar.


"Alstrelia,"


"Ahhh....!"

__ADS_1


__ADS_2