Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
109 : Alstrelia : Mereka semua


__ADS_3

DEG!


".............!" Chavire seketika diam mematung ketika dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak berkenan dengan tubuh aslinya .


Itulah yang membuat Chavire merasa curiga dengan hati yang sedang dirasakannya itu. Instingnya itu tidak pernah salah.


'Walaupun, sekarang aku ada di dalam tubuh orang lain, aku masih bisa sedikit merasakan sesuatu yang terjadi dengan tubuhku. Meskipun, aku masih tidak tahu siapa yang sedang mengendalikan tubuhku saat ini, tapi-' Chavire pun memejamkan matanya dan tertawa mencibir. 'Apa yang sedang tubuh asliku lakukan? Perasaan enak dari gairah macam apa ini? Aku bisa-bisa jadi dibuat gila.' Batin Chavire.


Namun, semua yang Chavire pikirkan saat ini harus dia tarik lagi sebelum kenyataan situasi yang sedang terjadi itu membuat dirinya terbunuh oleh Alstrelia.


SYUHT...!


Chavire kembali membuka kelopak matanya dan senyuman mencibir itu langsung menghilang saat ujung pedang milik Alstrelia tiba-tiba sudah ada di depan matanya.


Sebelum ujung pedang itu menusuk matanya, Chavire pun sedikit memiringkan kepalanya kearh kanan, membuat Alstrelia yang bergerak ke depan, tepat kearahnya dengan pedang tersodor kedepan pula, berhasil Chavire hindari. Meskipun salah satu sisi pedang itu berhasil menggores pipi Chavire sebelah kiri.


CESS..


Dan disaat yang sama pula, dikarenakan Alstrelia bergerak maju kedepan demi menyerangnya, Chavire pun dengan sengaja langsung melingkarna tangan kanannya kepinggang langsing milik Alstrelia, seddangkan tangan krinya segera menangkap pergelangan tangan kanan Alstrelia sampai pedang yang Alstrelia genggam itu tiba-tiba terjatuh.


KLANG.!


Serangan milik Alstrelia kepada Chavire pun berakhir dengan sebuah pelukan.


Setelah itu Chavire yang saat ini sudah memeluk Alstrelia degan erat hingga Alstrelia sendiri tidak dapat memberontak, Chavire pun membuat sebuah bisikan kecil tepa tdi samping wajah kanan Alstrelia. "Sudah cukup, kamu sudah menang, Alstrelia."


"Tapi aku belum membunuh kaian berdua." Jawab Alstrelia dengan mata masih bersinar berwarna bitu.


"Kamu yakin mau membunuh kakakkmu sendri dan calon suamimu ini?" Tanya Chavire lagi dengan senyuman tipis menghiasi bibir seksinya. Sepasang matanya pun menatap Alstrelia dengan tatapan lembut seakan Alstrelia yang ada di depannya itu memang benar-benar perempuan yang Chavire kenal, serta Chavire temui di dalam mimpinya.


Tentu saja pernyataan akan pertanyaan Chavire tadi membuat Alstrelia memberikan sedikit reaksi terkejutnya dan membuat mulutnya setengah mengatup, sampai kedua mata yang awalnya bercahaya, kini kian meredup dan menghilang, dalam artian Alstrelia sudah dalam kondisi normalnya lagi.


Sedangkan Alrescha pun akhirnya terdiam juga dan tidak bergerak saat keempat Gimmick yang hampir menembakkan tembakan sihir kepadanya, tiba-tiba tidak jadi menembak dan terbang menjauh.

__ADS_1


Tapi seperti yang diharapkan oleh orang yang lebih mengenal Alstrelia yang ini, setelah Alstrelia kembali normal, maka kalimat maut itu pun kembali keluar. "Suami apaan? Kau tidak selevel denganku, manusia."


BUKH....


"Ukh...!" Chavire langsung meringis sakit saat perutnya mendaoatkan makanan berupa bogem mentah dari Alstrelia.


"Dan kau barusan...memelukku?" Tanya Alstrelia dengan wajah jijiknya.


Alis Chavire bertautan dan berpikir 'Kenapa dia sangat berubah dari pertemuan terakhir kita? Pertama memang dari penampilannya, tapi dai cara bicaranya ini? Kenapa terasa seperti orang lain?' Chavire yang perlahan menaruh curiga itu tiba-tiba merasakan aura mencekam dari belakangnya persis.


Aura dingin, yang bahkan lebih dingin dari lapisan es yang tadi tercipta, langsung menusuk tulang punggungnya.


"Kau tadi bilang apa? Calon suami?" Tanya Alrescha dengan nada paling rendah.


Walaupun, insting Alrescha terhadap pria berambut merah itu mengatakan kalau pria tersebut adalah seseorang yang Alrescha kenal, tapi jauh dilubuk hatinya pakng dalam, Alrescha merasa marah sendiri ketika kalimat 'Calon suami' itu terlontar dari mulut pria itu.


Alrescha justru dibuat marah karena tidak ingin Alstrelia, yaitu adiknya bersama dengan laki-laki lain.


Aura mencekam dan mengintimidasi itu pun benar-benar keluar dari tubuh Alrescha. Dimana saat Chavire menolah kebelakang, dia segera disambut oleh es yang langsung Alrescha lempar kearah Chavire.


KRAK!


PRANK!


Tombak yang terbuat dari es itu pun langsung pecah setelah terkena hantaman dari bilah pedang Chavire.


"Kalau kau mengatakan itu lagi, aku akan menghabisimu." Sarkas Alrescha kepada Chavire.


Chavire hanya mematung, 'Dia benar-benar tidak sebegitu rela kah Alstrelia menjadi milikku? Aku pikir dia bukan orang yang akan begitu gamblang memperlihatkan obsesinya kepada Alstrelia.'


Dan di tengah perdebatan diantara mereka bertiga, Edward yang masih berdiri di atas dinding itu segera merentangkan tangan kanannya kedepan.


Sebuah rapalan mantera Edward ucapkan, dan disaat itulah Alstrelia, Alrescha, dan Chavire langsung berteleportasi.

__ADS_1


___________


"Kyaa...!"


DHUAR...!


Suara teriakan dan ledakan terus saja bermunculan seiring waktu monster semakin berkeliaran di seluruh tempat dan mulai merajalela.


Para penyihir yang datang untuk membantu pun dibuat kewalahan, karena selain kerana pergerakan monster yang gesit, mereka juga harus dihadapi oleh perbandingan yang tidak seimbang akan jumlah mereka dalam melawan monster tersebut.


"Argghh!"


"Krauk...krauk...."


"Mereka memakannya lagi. Komandan, bagaimana kita bisa menghadapi mereka kalau kita kekurangan jumlah seperti ini?" Tanya Kesatria ini kepada pemimpinnya.


Saat ini mereka berbaris di atas atap rumah warga dengan posisi mereka masing-masing. Dari atas itulah mereka memperhatikan semua kekcauan itu.


Termasuk komandan mereka yang saat ini berdiri dengan ekspresi seriusnya. Mereka mau tidak mau harus dihadapi situasi yang tidak menguntungkan itu, karena itulah pria ini pun berbalik menghadap ke arah semua anak buahnya dan berseru,


"Dengar, aku sebagai komandan kalian memang tidak seharusnya mengatakan ini. Tapi aku akan teap mengatakannya kepada kalian. Kalian yang berani untuk melawan mereka, majulah denganku tidak peduli dengan jumlah mereka yang ada, harus tetap kita lawan. Itulah yang terpenting saat ini. Dan satu lagi, jika ada yang takut maka kalian boleh pergi bersembunyi. Aku tidak menuntut kalian apapun, karena yang aku inginkan adalah hati kalian sebagai jiwa seorang kesatria Kekaisaran Regalia ini."


WUSSHH~


Semerbak aroma dari darah, serta asap menylemuti suluruh Ibu kota.


Dan mereka semua pun terdiam menatap pemimpin mereka yang memperlihatkan tatapan penuh harap akan pilihan mereka masing-masing.


Sebagai manusia, sudah menjadi hal umum untuk memiliki rasa takut kepada kematian.


Dan hari ini, mereka yang memiliki profesi sebagai kesatria pun akhirnya diberikan ujian yang sebenarnya. Ujian yang akan memperilhatkan hati mereka, apakah diri mereka memang benar-benar bisa di sebut sebagai kesatria tepat di situasi kacau yang mengancam Kekaisaran Regalia?


Mereka semua saling pandang satu sama lain. Memperlihatkan wajah berpikir mereka, sebab hari ini keputusan mereka akan menjadi penentu.

__ADS_1


Apakah jika mengikuti sang Komandan untuk ikut bertarung akan membawa mereka dalam kemenangan, atau akan menjadi akhir dari riwayat hidup mereka?


"Apa jawaban kalian atas pilihan yang aku berikan tadi?" Tanyanya lagi.


__ADS_2