
Setelah kekacauan itu bisa di selesaikan dengan kekuatan milik mereka berdua, Alrescha akhirnya bisa mengambil batu yang memang sebenarnya dia incar dari lama.
Batu Savar, itu adalah batu yang bisanya terdapat pada tubuh Tregon.
Jika Tregon hitam dengan ukuran yang kecil, maka batu yang di hasilkan nya juga kecil layaknya satu butir bola kasti, tapi jika itu adalah Tregon kelas SS, maka hasil dari batu Savar cukuplah besar dan buktinya saat ini sudah ada di tangannya.
Batu Savar dengan ukuran bola besar yang sedang Alrescha pegang itu memiliki dua warna yang terlihat seperti kobaran api antara warna biru dengan warna orange kemerahan yang hendak menyatu.
Dan sesuai dengan apa yang tercantum dalam buku yang pernah Alrescha baca serta pengalamannya dalam menghadapi keroco dari Tregon berukuran kecil, maka Alrescha sudah tahu sifat dari batu yang di dapatkannya akan menyesuaikan tubuh yang Alrescha kalahkan.
Batu Savar berasal dari Tregon kecil tapi punya kualitas yang tinggi, biasa di gunakan untuk membuat campuran dalam pembuatan zirah khusus, karena punya ketahanan yang cukup kuat jika berhadapan dengan serangan dari sihir.
Itu juga yang biasanya di gunakan oleh semua pasukannya Fisher, bahkan salah satunya Elbert, dia juga mempunyai zirah khusus, tapi dengan batu Savar yang sedikit langka, yaitu dari Tregon biru.
Tapi beda lagi dengan batu Savar yang dia pegang. Batu itu adalah batu paling kuat, dan bisa melindungi dari segala serangan sihir.
Dan Alrescha menginginkannya karena dia akan membuat beberapa perhiasan serta barang yang terbuat dari batu itu untuk Alrescha berikan kepada Alstrelia, adiknya yang tidak lama lagi akan menginjak usia sembilan belas tahu, yang artinya upacara kedewasaan sebentar lagi akan di laksanakan.
Tapi kira-kira apakah tanggal dan hari ulang tahun nya akan sama dengan perempuan yang ada di belakangnya itu?
"Kau mau ini?" Toleh Alrescha ke arah Alstrelai yang masih berada di belakangnya.
"Ya, itu juga kalau kau mau memberikannya sedikit kepadaku." Sahut Alstrelia. Dia melepaskan cengkraman kedua tangannya itu dari kedua bahunya Alrescha, lalu berjalan ke depan dan melihat batu dalam bentuk bola itu dengan begitu seksama.
Saking jerihnya, wajahnya pun sempat terpantul di permukaan batu Savar itu.
__ADS_1
"Tapi, coba lihat ini, kenapa aku melihat di dalamnya seperti ada banyak bintang ya?" Ucap Alstrelia. Tatapan matanya pun tidak bisa dia alihkan dari batu besar dengan ukuran bola itu.
Jika di ibaratkan telur, maka hampir setara dengan telur dinosaurus.
"Ha? Memangnya kau melihatnya seperti itu?" Alrescha yang tertarik dengan apa yang di ucapkan oleh Alstrelia, Alrescha pun mencoba menilik lagi batu yang ada di tangannya itu dengan sangat teliti.
Hingga sepasang mata mereka kian tertuju dengan arus dari warna biru juga orange serta merah yang dimana di dalam batu itu terlihat bergerak dengan sangat pelan?
Karena mereka berdua penasaran apakah penglihatan mereka saat memutuskan kalau warna di dalam batu itu bergerak, maka mereka berdua pun tetap untuk melihat batu tersebut dengan sangat serius, hingga mereka berdua bisa melihat di dalam sana juga seperti ada kilauan kecil layaknya bintang.
"Itu bagus, tapi kenapa semakin aku lihat jadi seperti Galaxy ya?" Alstrelia masih tidak bisa mengalihkan tatapan matanya dari batu Savar.
"Galaxy? Apa itu?" Alrescha yang terpengaruh jadi tidak bisa meninggalkan pemandangan di depannya itu.
Dan mereka berdua pun jadi seperti dua orang yang sedang dalam pengaruh hipnotis dari batu Savar.
"Aku jadi ingin melihatnya." Kata Alrescha, tiba-tiba jadi penasaran dengan apa yang di jelaskan oleh Alstrelia.
"Pakai saja dengan sihir teleportasi milik Edward itu. Pasti rasa penasaranmu hilang." Kata Alstrelia, memberikan jalan pintas yang lumayan masuk akal.
Ketika mereka berdua serius dengan apa yang dia lihat di dalam bola Savar itu, Elda dan Elbert dalam sekejap mata sudah mendarat di permukaan lantai es yang licin!
"Eh..eh! Ini licin!" Elda yang kehilangan keseimbangan untuk berdiri di atas es yang licin itu, akhirnya terjatuh.
BRUKK....
__ADS_1
Dan sayangnya tidak hanya Elda saja yang terjatuh dan menghantam lantai es yang keras dan dingin itu, karena Elbert juga mengalami hal yang sama, sebab sesaat tadi sebelum Elda benar-benar terjatuh, tangannya itu sempat mencengkram tangan Elbert.
Tapi karena Elbert sendiri jadi ikut kehilangan keseimbangannya juga, maka hasilnya Elbert pun jadi sama-sama jatuh.
"Aduh..duh...duh..." Rintih Elda, dengan pantat nya yang merasakan sakit di pantatnya itu.
Hanya saja, dia tidak sekedar duduk terbaring dengan kaki selonjor saja, karena di atas nya persis, dia langsung di hadapi oleh wajah Elbert yang benar-benar cukup dekat, sampai deru nafas milik mereka berdua masing-masing menyapu wajah mereka berdua.
"Apa anda tidak apa-apa?" Tanya Elbert.
Elda yang menatap mata Elbert dengan intens, menjawab : "Aku apa-apa."
Elbert tetap menatap mata Elda, kemana Elda melirk, Elbert pun tetap mengikuti arah mata Elda memandang. "Anda ...., can ...tik."
Suara yang begitu pelan juga sangat lirih tidak membuat Elda tidak mendengar gumaman kecil itu.
Maka dari itu, sekarang Elda pun memberikan ekspresi wajah terkejutnya, melihat mata Elbert dimana bibir tebal yang terkesan seksi itu baru saja mengucapkan kalimat pujian kepadanya.
"Apa, kau baru saja memujiku?" Tanya Elda saat itu juga, menuntut jawaban dari apa yang Elda dengar tadi itu.
Tapi sayangnya Elbert langsung mengalihkan topiknya dengan langsung berdiri dan menunjuk ke arah dua orang yang ada di depan sana. "Tuan dan Nona ada di sana."
"Elbert, aku sedang bertanya, apakah kau tadi memujiku?" Elda benar-benar menuntut jawaban keada Elbert.
Makannya, Elda pun sekarang jadi berekspresi serius di depan Elbert, di sertai dengan tatapan mata yang cukup tajam, seperti orang yang baru saja men cap Elbert sebagai musuhnya.
__ADS_1