
“Madam! Apakah desain baju ini adalah karya terbaru anda?” Tanya seorang wanita muda yang bekerja sebagai asisten pribadi madam Luna, namaya adalah Serena.
Serena yang kebetulan baru saja membuat sarapan pagi untuk madam Luna, dia secara tidak sengaja melihat ada satu lembar desain sketsa gaun di atas meja kerja milik madam Luna. Gambar yang sukses menarik perhatian Serena karena sangat berbeda dengan gaun yang sudah-sudah.
“Bukan. Ini milik Klien aku. Serena,” Madam Luna memanggil Serena sambil menyerahkan sketsa gaun itu kearah Serena. “Apa kau bisa mewakiliku untuk membuat ini?”
“T-tapi madam! Itu pasti gaun eksklusif milik Klien anda, kenapa diberikan kepada saya?” Serena merasa keberatan karena dari desain yang cukup cantik itu, Serena merasa belum mampu untuk membuat gaun itu semirip mungkin dengan yang ada di gambar.
“Karena kau asistenku, kau harus mempu untuk melakukan apa yang aku minta. Itu akan menjadi kehormatanmu, bisa membuat gaun ini.” Pujuk madam Luna. “Waktunya kurang dari seminggu, dan aku juga harus mengerjakan pekerjaan yang lain. Semua karyawan juga sibuk, satu-satunya orang yang bisa aku andalkan adalah kau, Serena.”
Serena menelan saliva nya sendiri, dia merasa berat hati jika menolak permintaan dari majikannya sendiri.
Tapi demi sebuah kehormatan, membuat pakaian cantik yang akan digunakan oleh seorang wanita bangsawan dan diperlihatkan oleh banyak orang, Serena akhirnya menerima lembar sketsa itu.
“S-saya akan membuatnya hari ini juga.” Jawab Serena kepada madam Luna.
Madam Luna hanya memberikan senyuman penuh dengan kemenangan. “Karena terlihat berbeda dari kebanyakan gaun yang sudah di buat selama ini, akusudha menyiapkan semua bahan dan kebutuhannya. Kau hanya tinggal memotong, menjait dan membuatnya jadi gaun pertama yang akan menampilkan pesona nona bangsawan ini.”
“Apa saya boleh tahu, siapa yang akan memakai gaun ini?”
Madam memejamkan matanya semabri menjawab : “Buat saja dulu, itulah tugasmu. Siapa yang akan memakainya, kau akan tahu saat gaun ini di kirim. karena kita akan mengirimnya langsung.”
__ADS_1
“Baik madam. Saya akan membuatnya dengan sangat sempurna.” Dengan semangat yang tinggi, Serena bergegas pergi ke ruangannya.
“.............” Madam Luna hanya memperhatikan asistennya yang sudah pergi itu. ‘Kita akan lihat, apa yang sebenranya nona rencanakan, sampai aku harus membuat satu gaun lagi secara pribadi.’ Pikir madam Luna.
Ia mengambil amplop yang dia temukan di dalam buku majalahnya. Amplop misterius yang ternyata dari Klien nya juga, yaitu Alstrelia.
‘Aku harus lembur.’ Benak hati madam Luna. Ia melihat empat lembar kertas itu dengan seksama. Dari perhiasan berupa sketsa anting, sepatu, gaun, dan yang terakir adalah surat singkat dari Alstrelia.
Buat satu lagi, tapi syaratnya dibuat olehmu sendiri dan tanpa diketahui oleh orang lain.
‘Pemikirannya cukup tajam, menghindari adanya orang lain yang menjiplak. Tapi siapa yang akan menji-...Oh~ Lady Arsela ya. Tapi kalau iya wanita itu menjiplak desain gaun pertama, bagaimana caranya dia mengetahui itu? Aku jelas tidak memberitahunya, dan semua karyawanku juga adalah orang kepercayaanku semua.
Yang sekarang bisa madam Luna lakukan adalah menunggunya.
Adakah tebakannya benar?
“Ok, saatnya aku bekerja,” Madam Luna beranjak dari kursi kebesarannya dan pergi menuju ruang pribadinya sendiri yang letaknya kebetulan memang ada di dalam ruang kerjanya juga.
__________________
“Nona! Nona Arsela!” teriak Sena memanggil nona nya yang dia layani, yaitu Arsela.
__ADS_1
“Aku itu tidak tuli, jadi tidak usah berteriak.” Ucap Arsela memperingatkan pelayannya yang berlari dengan meneriaki namanya. “Jadi ada apa?” Arsela melirik kotak yang dibawa oleh Sena.
“Tuan due sudah mengirimkan anda hadiah. Lihat ini, set perhiasan ini terlihat cukup mahal dan lebih inah dari pada yang sebleumnya.” Sena memperlihatkan kotak perhiasan yang suddah dia buka dan diletakkan di depan Arsela.
Arsel menerima kotak itu dan melihatnya lebih dekat. “Apa ini akan cocok dengan gaun yang aku pesan?” Arsela bergumam saat melihat satu set perhiasan berwarna merah ruby.
“Tapi yang tertulis di surat ini, kalung perhiasan itu mampu berubah warna sesuai dengan pakaian yang digunakannya juga.” Sena membaca sepucuk kertas yang Sena dapatkan dari dalam kotak perhiasan itu. “Bagaimana jika nona mencobanya?”
“Pakaikan ini.” Perintah Arsela kepada Sena untuk memakaikan kaliungnya.
“Baik nona.” Sena dengan bersemangat mengambil kalung itu lalu memakaikannya ke leher Arsela. “Sudah.”
Arsela yang seddang memakai gaun berwarna hijau itu, dipadukan dengan kalung berwarna merah ruby?
Tidak.
Kalung itu ternyata berubah warna menjadi hijau juga.
“Wahh...Itu benar-benar berubah nona! Anda jadi tidak perlu repot-repot mencari perhiasan untuk menyamakan warna gaun anda.”
“Kenapa tiba-tiba aku diberikan perhiasan yang sduah ditanami sihir?’ Tidak seperti pelayannya yang terus berwajah bahagia dan penuh dengan semangat, Arsela justru menaruh curiga dengan kalung yang diterimanya itu.
__ADS_1