
'K-kenapa ruangannya jadi terasa lebih dingin? Aku pikir Tuan sedang tidak menggunakan kekuatan nya. Tapi aku seperti berada di kutub saja,' Pikir Andres.
Saat ini dia tengah berada di dalam ruang kerja milik majikannya itu, yaitu Tuan Alrescha, dan secara kebetulan, karena disuruh untuk menunggu oleh Tuan Alrescha sampai pekerjaannya selesai, maka Andres pun duduk di sofa dan mencoba menunggu pekerjaan milik Tuannya itu selesai.
Tapi siapa sayangnya, mau di lihat dari manapun saat ini, Andreas hanya melihat Tuan Alrescha hanya duduk diam dengan wajah berpikir, tapi semua pikiran itu juga membuat ujung dari jari Tuan Alrescha terus saja menyentuh bibirnya sendiri.
‘Jadi maksud dari pekerjaan yang harus di selesaikan oleh Tuan ini apa? Padahal dari tadi, Tuan hanya duduk diam sambil menyentuh bibirnya sendiri.
Apakah ada sesuatu yang aku lewatkan selama aku berada di dinding utara?’ pikir Andres. Dia benar-benar di buat menunggu sampai jamuran, gara-gara Tuan nya itu tidak memberikan sepatah kata pun untuknya.
Karena lelah untuk menatap wajah serius dari majikannya itu, Andres pun menyeduh kopi untuk dirinya sendiri, menyeruputnya dengan penuh perasaan, dan Andres langsung masuk dalam kenikmatan yang terasa sudah lama tidak dia rasakan, karena pekerjaannya itu menuntut dirinya tidak bisa menikmati waktu santainya seraya minum kopi panas.
Sedangkan pekerjaan milik Alrescha yang sedang dalam mode berpikir tapi dalam bentuk lamunan, dia sejujurnya sedang dibuat untuk berpikir mengenai, Alstrelia, tentunya.
Siapa lagi yang bisa membuat Alrescha frustasi karena kehilangan adiknya secara mendadak itu?
Tetu saja Alstrelia.
Dia memikirkan kejadian yang terjadi tempo hari, dimana dia akhirnya menggunakan kemampuannya untuk menguak secara paksa apa yang dimiliki oleh Alstrelia si pengganti itu, dan kenyataan pahitnya selain mendapatkan kenyataan manis karena mendapatkan ci*uman manis karena perbuatannya sendiri adalah…
‘Dia punya kekuatan Prophet Art? Memangnya leluhur dari keluarga Fisher pernah ada yang memiliki kekuatan Prophet Art ini?’ Pikirnya.
Itulah yang sedang Alrescha pikirkan. Dia sedang di landa kebingungan, sebab adiknya rupanya menyembunyikan kekuatan sebesar itu darinya.
Prophet Art,
Hanya segelintir orang saja yang mengetahui apa itu Prophet Art, Karena selama ini tidak ada pengetahuan ataupun informasi khusus mengenai kekuatan ini.
Banyak sekali jenis dari kekuatan sihir yang ada di dunia ini. Akan tetapi Prophet Art akn menjadi nama yang paling tidak dikenal oleh semua orang, karena selama ini tidak ada seorangpun yang mengetahui asal-usul dari tipe kekuatan sihir Prophet Art.
Yang mereka tahu hanyalah sihir masa depan, tapi semua itu adalah sihir yang hanya menjadi angan-angan belaka untuk semua orang, karena sekalipun banyak tipe macam-macam dari kekuatan sihir, yang dimaksud dalam bentuk orang yang mampu meramal masa depan itu memang tidak benar-benar ada.
Dan kasus dari kekuatan yang mampu untuk melihat masa depan itu, ternyata ada pada diri Alstrelia, adiknya yang asli.
Karena itulah, Alrescha pun jadi mulai menyadari akan keanehan dari rutinitas yang selama ini Alstrelia lakukan.
‘Prophet Art, jika aku pikirkan dari sudut pandangku sendiri, kekuatna ini memang bisa membuat seseorang untuk melihat masa depan.
Kantas bagaimana cara mendapatkannya? Bagaimana cara kerja agar bisa melihat masa depan itu sendiri?
Selama ini, setiap ku ingin menemui adikku, Lena selalu menjawab kalau adikku sedang tidur, apakah itu lewat mimpi? Atau ada cara lain?
Ah…waktu itu, kelihatannya aku pernah melihat ekspresi Alstrelia tiba-tiba saja terkejut dan berubah jadi takut saat melihat ikan di tepi kolam. Apakah ini benar, kalau dia-’
Tiba-tiba lamunan yang sedang Alrescha lakukan itu menghilang, dengan di tandai kedua matanya membulat sempurna.
Dia tiba-tiba menyadari satu hal, kalau Alstrelia ternyata..
‘Dia bisa melihat masa depannya kapan pun tanpa bisa di kontrol?’ Detik hati Alrescha.
Dia jadi terkejut, menemui satu kesimpulan yang membuat siapapun yang mendengarnya akan langsung di buat lelah, karena kekuatan yang tidak bisa di kontrol itu akan terus mengguncang psikologisnya.
Dan hal seperti itu menimpa pada adiknya?
‘Apa itu alasannya dia selalu berwajah suram dan tidak mau berbaur dengan banyak orang?’
Melihat ekspresi wajah Alrescha yang terlihat terkejut itu pun buru-buru membuat Andres segera meletakkan kembali kopi miliknya.
“Ada apa Tuan?” Tanya Andres, melihat kepanikan yang terlihat cukup jelas pada diri Alrescha.
“.........” Alrescha sempat melirik ke arah Andres yang sempat Alrescha lupakan karena saking serius untuk memikirkan hal yang berkaitan dengan adiknya tadi. “Andres.”
“Ya Tuan?” sahut Andres dengan tegas.
__ADS_1
“Aku tahu kau selama ini dekat dengan Lena-”
‘Kenapa Tuan jadi membicarakanku dan Lena?’ Andres jadi khawatir sendiri, karena ucapan dari Tuan Alrescha yang masih menggantung itu. “Ya Tuan.”
“Berarti secara tidak langsung kau juga jadi memperhatikan adikku kan?”
“I-itu benar Tuan.” Jawabnya, dengan singkat. ‘Jangan-jangan Tuan mau melakukan sesuatu kepadaku karena aku memperhatikan adik Tuan ya?’ suasana jadi mulai tegang, membawa perasaan Andres yang gugup itu.
Sedangkan Alrescha, dia saling menyatukan kelima jarinya ke sela-sela lima jari lainnya, lalu meletakkan dagunya di atas kesepuluh jarinya itu seraya menatap Andres dengan tatapan mata yang cukup dingin.
Sampai Andres yang tiba-tiba mendapatkan tatapan paling dingin dari majikannya itu, langsung membuat Andres menelan salivanya sendiri. “A-ada apa ya?”
“Duduk.”
Andres langsung duduk kembali dengan wajah tegangnya.
“Sekarang ceritakan apa yang kau ketahui tentang adikku. Jangan bertanya apapun, ceritakan saja kepadaku, paham?” Tuntut Alrescha kepada Andres.
“Apa anda menyuruh saya untuk berkata jujur?”
“Mau kau ternyata mengolok-olok adikku dari belakang, semuanya tanpa terkecuali, ceritakan saja langsung.” Imbuhnya.
“S-saya tidak mungkin berani mengolok adik anda Tuan.” Balasnya.
“Aku tidak peduli soal kau pernah atau tidak. Yang aku butuhkan sekarang ada cerita dari mulutmu itu. Mengerti?” Perintah Alrescha.
“Iya, baik Tuan.”
Dari sinilah, Alrescha pun perlahan jadi mengerti alasan demi alasan kenapa adiknya itu selama ini lebih jadi orang yang cukup pendiam, tidak banyak bicara, dan kalau bicara seperlunya saja.
Di samping komunikasi, Alrescha jadi mengetahui juga kenapa Alstrelia bisa punya ekspresi yang terlihat suram dan nampai seperti orang yang kelelahan.
Tebakan yang sempat Alrescha pun benar, kalau adiknya itu memang tidak punya kualitas tidur yang cukup bagus, karena setiap baru beberapa puluh menit tidur, maka setelah itu tiba-tiba dianya terbangun karena mengatakan mendapatkan mimpi yang buruk.
Itu salah satu kemungkinan yang sempat Alrescha pikirkan juga.
Oleh karena itulah, setelah mendapatkan semua informasi yang dia dapatkan dan dia kumpulkan, maka dia jadi sepenuhnya paham akan diri adiknya itu.
Alstrelia, yang kesepian itu.
____________
“Hahh! Hah..hah…hah…” Matanya bergetar, nafasnya memburu, dan peluh miliknya berhasil membanjiri wajah lelahnya.
“Apa kau baru saja mendapatkan mimpi buruk lagi?” Tanya Naga hitam ini saat melihat Alstrelia lagi-lagi terbangun dengan kondisi mental yang sudah buruk itu.
“I-iya.” Alstrelia menyeka keringatnya dengan punggung tangannya, lalu melirik pada Tuan naga yang sedang tiduran di samping tempat tidurnya.
“Makanlah dulu, kau hampir seharian ini tertidur.”
“Hah! Seharian? Bagaimana bisa aku tidur sampai seharian?” Tanya Alstrelia yang ini, merasa tidak percaya kalau dirinya baru saja tidur sampai sehari penuh?
Melihat adanya sorotan serta ekspresi wajah yang tidak percaya itu, Naga hitam yang sedang meringkuk di atas lantai dengan kepala diletakkan diatas lantai juga, kembali memejamkan matanya, lalu berbicara menjelaskan apa yang terjadi kepada Alstrelia itu.
“Karena kau sempat mendapatkan kekuatan suci, maka tubuhmu yang kelelahan itu langsung tertidur. Proses sampai kau bangun seperti sekarang ini, membuktikan kalau kau memang belum punya tidur yang bagus.
Tapi meskipun tubuhmu bisa tidur, ternyata itu tidak membuat kekuatanmu tersegel sementara waktu. Hasilnya, saat ini kau terbangun dengan deretan mimpi burukmu yang antara panjang sekali atau banyak dan sering berganti-ganti, kan?” Jelas Naga hitam ini dengan panjang lebar.
Alstrelia membelalakkan matanya, karena semua yang di katakan oleh Tuan Naga itu memang ada benarnya.
Alstrelia, selama masa tidurnya, dia mendapatkan banyak sekali gambaran yang muncul secara acak, dan membuat Alstrelia sendiri kembali kewalahan.
__ADS_1
Tapi tidak seperti sebelumnya, karena setiap bangun, gara-gara hanya mendapatkan tidur yang sedikit saja, maka membuat tubuh dan pikirannya sama-sama lelah, maka khusus kali ini, tidak ada kata lelah di tubuhnya sama sekali.
“Siapa yang melakukannya?” Tanya Alstrelia, dia sangat penasaran siapakah yang mampu membuat dirinya bisa mendapatkan tubuh yang kembali sehat dan bugar seperti ini? Mengingat hubungan yang dia jalin dengan Naga hitam ini adalah karena keringat yang dihasilkan oleh Naga hitam ini mampu menyegel sementara waktu kekuatan prophet Art yang dimiliknya itu.
Naga hitam itu kembali membuka matanya, dan menjawabnya dengan sedikit lirih. “Dia ada di sini. Dan aku tidak bisa bergerak takut mengganggunya.”
Karena penasaran, tentunya, Alstrelia pun turun dari tempat tidurnya, dan berjalan menghamapiri Tuan Naga yang sedang berbaring di depan api unggun persis.
Dan ketika di selidiki, ternyata di balik tubuhnya yang besar itu, ada satu orang perempuan sedang tidur memunggungi tungku api unggun dengan posisi sedang memeluk dari ujung ekor Naga itu.
“Dia membuatku kewalahan, aku tidak boleh bergerak oleh dia.” Sorotan matanya tertuju pada satu ekor burung elang yang sedang menatap Naga hitam itu dengan cukup tajam.
“A-apa? Kenapa disini ada burung? Dan siapa perempuan di ekormu itu?”
“Aku belum menanyai namanya, tapi sepertinya dia benar-benar menganggap ekorku itu adalah bantal guling.” Keluh Naga ini, karena saat ini dia tidak bisa bergerak dari posisinya saat ini, dikarenakan dia memiliki tuntutan dari Everst untuk tidak bergerak sedikitpun dari sana, apalagi membuat gerakan yang membuat masternya terbangun.
“Jadi dia yang memberikanku pengobatan yang terkenal itu? Menggunakan kekuatan suci?” Tanya Alstrelia, menebak apa yang sempat terlintas di dalam pikirannya itu.
“Hmm…seperti itulah.” Sahut Naga ini, tidak mau tahu, ingin tidur kembali.
“Tapi apakah aku harus membayarnya?” Alstrelia jadi kembali bertanya, karena di zaman seperti ini, tidak ada hal yang gratis.
“Aku yang akan membayarnya, kau hanya perlu inggal dengan nyaman saja di sini, hitung-hitung menemaniku.” Jelasnya. “Apalagi karena dengan adanya mereka berdua, aku merasa dikastilku ini, suasananya jadi tambah ramai, jadi jangan merasa berat hati, karena aku yang membayar semua keerluanmu.” Imbuhnya.
“Tapi- kau kan Naga, tubuhmu besar, darimana kau mendapatkan uang untuk membayarnya?”
“Dengan sisiknya.”
“.........!” Alstrelia yang terkejut dengan suara lain yang tiba-tiba muncul itu, membuat Alstrelia dengan perasaan takut, perlahan menoleh ke belakang, tepatnya ke arah burung elang yang sedari tadi ternyata bertengger di atas nakas.
“Akhh!”
Alstrelia yang terkejut dengan tatapan sengit, seolah dirinya adalah mangsa yang akan mnejadi buruannya, sontak, Alstrelia yang terkejut itu refleks mundur ke belakang, sampai…
BRUK…
Alstrelia terjatuh dan tubuhnya jadi menunduh kepala Tuan Naga.
“T-tapi, s-sisik, itu bukannya terlalu berlebihan? Masa sisiknya harus dijadikan bayaran? Di sini kan ada vas bunga dan meja emas, kanapa tidak itu saja?” Tanya Alstrelia dengan nada gemetar.
Dia cukup takut dengan seekor burung, karena saat dirinya pergi dari kediaman Fisher, atau lebih tepatnya pergi dari rumah dia sempat di kejar-kejar oleh seekor burung.
Burung apa itu, Alstrelia tidak begitu mengingatnya, tapi ada satu hal yang lebih penting, yaitu dia merasakan tatapan yang cukup sama persis dengan tatapan yang sedang diberikan Everst itu kepadanya.
“Emas? Kristal? Uang? Semua itu sudah membosankan bagi kami.” Jawab Everst.
“Tapi,-”
“‘Tapi apa? Yang dia maksudkan itu bukan sisik yang masih menempel pada tubuhku. Dia tidak menginginkan sisik seperti itu, jadi yang kau khawatirkan jika yang dia maksud adalah mencabut sisikku itu adalah pikiran yang cukup keterlaluan.” Beritahu Naga ini.
Naga ini pun sudah tidak bisa memejamkan matanya lagi, karena dahinya saat ini sedang diduduki oleh pan*tat yang mewah itu.
“Dia hanya butuh sisik yang mengelupas, itu saja. Jadi jangan khawatir. sel-”
“Devon- awas kau, aku- aku ***** kau jadi makananku.” Suara milik Eldania yang sedang tidur itu berakhir dengan ujung ekor Naga hitam itu yang tiba-tiba saja di gigit.
Dan di saat itu pula, Everst semakin memberikan tatapan sengit pada mereka bertiga.
‘Kenapa dia menatapku setajam itu? Apakah aku melakukan kesalahan?’ pikir Alstrelia, kembali di takuti dengan tatapan Everst yang cukup mengintimidasi.
‘Ahw…wanita ini, apa dia punya gigi besi, kenapa ujung ekorku di gigit? Aku pikir ekorku cukup keras, apakah di sana lunak? Aku tidak bisa melihat ujung ekorku sendiri, jadi aku tidak tahu.’ Gerutu Naga ini, menerima nasib harus di tempeli dua wanita skelaigus dalam posisi yang berbeda-beda.
Sedangkan Everst, dia menatap tajam ke arah Eldania persis. ‘Dia masih mengingat saja si Devon sialan itu? Eldania, kau itu hanya milikku, tidak ada kata pria lain selain aku yang sudah mencarimu puluhan abad.’
__ADS_1