
BRUK…..
BRUK…..
Satu persatu mereka akhirnya tumbang.
Bahkan Marvin yang memang pada dasarnya memiliki kemampuan bela drii dan punya mana di dalam tubuhnya, membuat tubuhnya yang hafal dengan gerakan bela diri, terus menerus melancarkan serangan pada Alstrelia yang ternyata masih mampu menghindari serangannya.
Menghindari dan menahan serangan dari orang lain secara bersamaan, siapa yang tidak akan mengakui kalau dibalik penampilannya yang bisa membuat kacau semua pria yang melihatnya, ternyata memiliki kemampuan untuk bertarung?!
CTANG!
“Kita bertemu lagi,” ujar Alstrelia saat menahan pedang yang Marvin ambil dari musuh Alstrelia yang sudah tumbang itu.
“Aku-”
“Aku tidak menyalahkanmu,” Alstrelia segera menepis pedang Marvin dari bawah ke atas.
SRAAKK….!
Bunyi pedang yang bergesek itu semakin menambah kengerian suasana yang semakin runyam itu.
DORR…..
Dengan bantuan gimik, tembakan tadi tepat mengenai betis pria yang hendak menyergapnya dari belakang, karena itulah dia langsung tumbang dan tidak bisa bergerak melawan lagi.
“Tapi untuk menghentikan kalian, aku terpaksa menggunakan kekerasan.” imbuh Alstrelia lagi. Dia menjeling ke rah samping kanan.
Karena kebetulan di balik rok pendeknya dia menyimpan beberapa jarum di sarung pistolnya yang melekat di paha nya, dia segera mengeluarkan ke empat jarum secara bersamaan lalu melemparnya ke arah mereka.
SYUHHT..
BRUK..!
Secara serentak mereka kalah, karena dia melemparnya dan menempatkannya di titik akupuntur.
Sedangkan tangan kirinya dia kembali ayunkan pedangnya lagi.
CTANG….CTANG….CTANG…….
Meskipun melakukan perlawanan dengan sengit, akhir dari pertarungannya, dia terus memukul tepat ke titik vital lawan.
BUKHH…..
Setelah gagang pedang yang Alstrelia genggam dia gunakan untuk memukul tengkuk lawan dengan keras, dia langsung menendang tubuh lawannya agar menjauh.
BRUK!
Sampai tendangan itu membuat tubuh lawannya terlepar dan menabrak tiang.
__ADS_1
Dan perlawanan terakhirnya, Alstrelia kembali menembak kaki salah satu kaki dari mereka yang hendak berdiri dan menyerangnnya lagi.
DORR!
".................!" Alstrelia merotasikan arah pandangannya ke segaka penjuru ruangan.
Benar.
Layaknya seorang pembantai, Alstrelia berhasil melumpuhkan ratusan orang sendirian, dan akhir dari pertunjukkannya adalah sekarang Alstrelia lah satu-satunya orang yang masih berdiri di tengah-tengah tubuh yang terbaring di lantai.
"Apa sudah selesai?" Gumam Alstrelia ketika tidak melihat satu orang pun yang bediri kecuali Alstrelia sendiri.
TENG…..TENG…….TENG……
Suara bel dari jam menara kota langsung terdengar ke segala penjuru di pusat ibu kota, menandakan waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
TAP…...TAP…..TAP…..
".................!" Mendengar ada suara langkah yang mendekat, Alstrelia buru-buru mengambil rok birunya, dan mengaitkannya lagi di pinggang.
Sekalipun sobek, justru itu akan menambah keuntungannya.
Setelah berhasil mengaitkannya lagi, Alstrelia buru-buru menghentakkan ikat pinggang miliknya dan mengaitkannya di pingganya lagi.
Selesai dengan persiapannya, Alstrelia pun berbaring di lantai yang ada noda darahnya, sehingga dia akan terkesan seperti korban juga.
KLEK.
Di dinding perbatasan.
“Tuan, sebaiknya anda kembali ke pesta. Nona Alstrelia pasti sedang menunggu anda.” ujar salah satu kesatria kepada Alrescha yang sedang minum.
Setelah berhasil menyapu bersih semua monster yang ada, mereka semua bisa beristirahat sejenak sambil memeriksa kerusakan, jumlah mayat, dan hal yang harus ditangani adalah menambah penjagaan di sekitar perbatasan.
Alrescha harus menempatkan penyihir di antara kesatria penjaga.
Itulah yang Alrescha pikirkan.
Tapi Semua pikiran itu Alrescha alihkan untuk memikirkan adiknya?
Alstrelia menunggunya?
Ya, untuk adiknya yang asli, pasti sudah menunggu untuk ditemukan. Tapi jika si Alstrelia pengganti, Alrescha berpikir berulang kalipun merasa kalau Alstrelia pengganti itu tidak akan memiliki niat untuk menunggu dirinya kembali ke istana. ‘Pasti dia sedang bersenang-senang.’
“Alrescha, aku sudah menangani semua mayatnya. Aku harus kembali ke istana.”
Salah satu alis Alrescha terangkat, lalu bertanya : “Kenapa kau terlihat buru-buru?”
“Sebelum kita pergi tadi, aku sempat melihat kucing. Aku merasa ada yang aneh dengan keberadaan kucing itu, jadi aku harus balik.” terang Edward.
__ADS_1
‘Arsela juga disana. Tapi karena ada Elbert, aku pikir tidak masalah.’ saat hendak membuat penolakan, satu suara dari salah satu anak buahnya kembali menyita perhatiannya.
“Sebaiknya anda kembali ke pesta. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, lagi pula anda datang dengan penyihir, apa susahnya kembali ke Istana.” kesatria ini terus mencoba membujuk Alrescha agar kembali.
“Benar Tuan, disini biar kami yang urus. Tuan kembali saja ke pesta.”
“Jika kalian sudha berkata seperti itu, aku akan kembali ke Istana.” jawab Alrescha. Alrescha melirik kearah Edward dan Edward hanya memberikan anggukan kecil sebagai jawaban.
Tak berselang berapa lama, mereka berdua kembali melakukan teleportasi. Lokasinya tentu saja sama persis dengan tempat yang terakhir kali mereka tinggalkan, yaitu di teras.
*
*
*
Setelah selesai melakukan teleportasi singkat.
Alrescha mencoba memperhatikan ke sekelilingnya. Terlihat di luar sangat ramai karena banyak kesatria yang berpatroli.
‘Apa sudah terjadi sesuatu?’ Tapi karena Alrescha tidak ingin berpikir lama, dia menuntut kakinya masuk ke dalam Ballroom lagi.
“Dikunci?”
“Biar aku buka.” Dengan sihir, Edward mampu membuka pintu yang terkunci tapi sudah tidak ada kunci.
KLEK.
Berhasil dibuka, Edward dan Alrescha melangkah masuk.
“Kenapa sangat hening?” bisik Edward mulai menaruh curiga besar pada suasana yang sangat tidak biasa itu.
Tapi tidak kalah curiga yang Alrescha miliki, Alrescha bergegas masuk lebih dalam lagi.
“Ini!” Alrescha terperanjat saat melihat pemandangan yang ada di lantai satu sangatlah kacau. Dari makanan, meja, kursi, dan semua tamu undangan yang ada, semuanya tergeletak di lantai layaknya berada di medan perang.
Alrescha mengedarkan pandangannya, dan langsung melihat satu orang yang sangat Alrescha kenali sudah terbaring di lantai dalam kondisi terkulai di lantai.
Pakaian, rambut, bahkan terlihat ada darah yang mengalir dari balik tubuh yang terbaring dalam kondisi tengkurap itu menjadi bahan Alrescha masuk dalam ke khawatirannya.
Alrescha buru-buru melompat dari lantai dua ke lantai satu. Dia bisa mendarat dengan mulus. Tapi apa yang harus dia lakukan saat melihat Alstrelia, benar-benar tergeletak di lantai?
“Alstrelia.” panggil Alrescha untuk pertama kalinya dengan suara sedikit keras.
Alrescha berjalan dengan langkah kaki yang terburu-buru, lalu saat sudah sampai di samping tubuhnya Alstrelia persis, Alrescha langsung berlutut dan mengambil tubuh Alstrelia agar diposisikan dengan posisi yang benar.
“.................” Entah berasal dari mana perasaan itu, melihat Alstrelia yang biasanya mengumbar senyuman dan kata-kata sombong itu kini diam dengan wajah yang begitu tenang, berhasil membuat hatinya jadi terasa sakit. Alrescha pun jadi buru-buru memanggil Edward dengan sedikit keras, “Edward, antarkan kami berdua pulang. Lalu cari Elbert dan Arsela, jika ketemu bawa mereka pulang juga.” perintah Alrescha kepada Edward.
Sama hal nya dengan Alrescha, Edward pun jadi merasa aneh sendiri saat melihat Alstrelia ternyata bisa diam dengan wajah setenang itu, ‘Padahal beberapa jam yang lalu dia terlihat semangat menjahiliku, tapi melihatnya seperti itu, kenapa aku jadi merasa kasihan?’
__ADS_1
Tidak tega membiarkan kedua kakak beradik palsu itu menunggu, Edward langsung merentangkan tangannya ke depan, lalu dalam sekejap mata Alrescha dan Alstrelia segera menghilang dari pandangannya