
"Jangan marah dulu, memangnya aku melakukannya tanpa sebab?" Ujar Alrescha dengan lirikan matanya.
Salah satu alisnya terangkat sambil menepuk rok miliknya yang baru saja dijadikan pelampiasan tendangan oleh Alrescha itu.
'Memangnya apa?' Alstrelia mencoba memeriksa keadaan sekitar dengan indera keenamnya.
Seeperti apa yang terjadi beberapa waktu tadi, sebuah gerakan cepat tiba-tiba saja datang dan muncul menargetkan mereka berdua.
Alstrelia dan Alrescha pun saling bergerak menghindari adanya serangan dari arah titik buta itu.
SYUHTT....
Demi menghindari satu serangan lagi yang tiba-tiba saja datang, Alrescha dibuat mundur dua langkah ke belakang. Tapi seakan itu adalah sebuah jebakan, setelah dia mundur kebelakang, sesuatu yang gerakannya cepat itu muncul dari arah belakang. Alrescha langsung beralih posisi geser ke ke kiri beberapa langkah.
"............!" Sama halnya dengan Alrescha yang sudah meraskan keberadaan serangan kilat itu, Alstrelia pun melakukan hal yang sama. Dia harus menghindari serangan yang terasa tak kasat mata itu.
Karena serangan dari belakang untuk Alrscha bisa lolos target, serangan lanjutannya pun dilampiaskan kearah Alstrelia.
Alstrelia mengarahkan tubuhnya kebelakang, dilanjutkan kedua tangannya dia gunaan sebagai tumpuan untuk mengangkat kedua kakinya keatas, dan melompat ke belakang.
Tidak hanya sampai disitu saja, karena serangan demi serangan kembali terjadi dan menargetkan mereka berdua.
"Dia...merepotkan." Kata Alstrelia. Dia mundur ke belakang sampai punggungnya mnabrak punggung Alrescha.
"Jadi apa kau bisa menarik kata-katamu tadi soal diriku ini mesum?" Tanya Alrescha, ia mendorong punggung Alstrelia agar dirinya bisa menghindar dari serangan yang ada di depannya persis tadi.
"Apa yang sudah aku ucapkan tidak bisa aku tarik lagi." Membalas perbuatan Alrescha, dia pun mendorong punggung Alrescha dengan punggungnya. "Dan aku sudah malas bermain seperti ini."
Dengan posisinya saat ini, ke empat Gimmick miliknya langsung terbang berputar tepat diatas kepala mereka berdua, setelah itu mereka berempat terbang menjauh dengan menampilkan sinar proyeksi yang dimana itu adalah dinding transparan yang bergerak semakin besar memenuhi ruangan.
__ADS_1
Sampai akhirnya, ada suatu yang mereka dapat.
TAK....
TAK..
Suara yang timbul berasal dari tetesan darah yang bergerak kena tabrak dinding pelindung milik Alstrelia.
"Itu?" Alstrelia mengernyitkan matanya saat diatas kepalanya terlihat ada beberapa tetesan darah yang mendarat di permukaan dinding pelindung miliknya.
"............" Alrescha yang masih diam ditempat, saat ini sedang memejamkan matanya dan mencoba mencari keberadaan dari orang yang menjadi dalang dari darah yang mampu dikendalikan oleh orang itu.
SYUHT......
'Di arah jam 9.' Artinya dari temapt dirinya berdiri saat ini, dia menemukan letak dari orang yang saat ini sedang bersembunyi. Dan letaknya di arah sebelah kirinya.
Disanalah....
Dibalik dinding itulah Alrescha dapat merasakan kehadiran seseorang. Yang berarti di balik dinding itu ada sebuah lorong rahasia yang menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain.
"............" Tapi mengingat saat ini dirinya ikut terkurung didalam sebuah dinding pelindung milik Alstrelia, sedangkan musuh sebenarnya ada di samping sana, Alrescha pun merentangkan tangan kanannya kedepan. Mengarahkan kelima jarinnya kearah depan, dan bibirnya pun dengan pelan mengucapkan mantera. Selesai melakukan kilasan mantera sihir, Alrescha segera mengepalkan tangan kanannya.
KRAKK....!
Lukisan yang ada di dinding tersebut seketika sudah hancur bersamaan dengan dinding itu.
"..............!" Wajah panik dari pria ini segera membuatnya mengambil keputusan.
Dinding yang sudah berlubang itu akhirnya memperlihatkan satu orang yang baru saja kabur dari jalan rahasia.
__ADS_1
'Sialan, kenapa dia bisa melakukan hal itu dari jarak jauh? Padahal aku sudah menghilangkan hawa keberadaanku, tapi dia tetap saja masih bisa menyadari keberadaanku. Ini diluar rencana!' Racau pria ini. Kakinnya terus berusaha untuk lari dari Alrescha.
Sedangkan Alrescha yang tidak bisa membiarkannya kabur begitu saja, dia segera merentangkan tangannya mengikuti dinding itu dan Arescha kemudian mengangkat tangannya sedikit keatas, membuat lorong dari jalan rahasia itu segera tertutup oleh dinding es tebal.
WHOSSH.....
Kabut putih hasil efek dari dinding es itu berhasil menarik perhatian Alstrelia yang saat ini sudah berdiri di belakang Alrescha persis.
Alstrelia memperhatikan apa yang bisa dilakukan oleh anak itu dengan kekuatannya, karena dia merasa Alrescha seperti menahan kekuatannya sendiri, dan membuat Alstrelia lah yang harus mengerahkan segala usahanya untuk ini dan itu.
Walaupun, bagi Alstrelia itu tidak masalah, karena dia akhirnya bisa mendapatkan kesenangan, tapi yang paling penting adalah kenapa Alrescha baru kali ini mulai mengeluarkan kemampuannya itu?
"................" Alstrelia melihat wajah Alrescha yang begitu serius.
Setelah memberikan jalan buntu untuk orang itu, Alrescha dengan segudang ide, agar orang tersebut bisa keluar dari tempatnya, tanpa membuat Alrescha repot-repot mengejarnya, dia pun langsung menebalkan dinding es itu sampai ketitik dimana orang tersebut langsung terpojok tepat di dinding yang sudah berlubang itu.
BUKH....
Orang itu langsung dipaksa keluar setelah muncul dinding es lain.
Jika saja dinding es yang menghalangi jalannya itu tidak ada, sudah pasti orang itu sudah kabur.
Tapi berkat kemampuan Alrescha, dia pun dapat mengeluarkan sorang penyusup lainnya yang menjadi dalang dari serangan kejut tadi.
"Ha...jadi kau, rupanya, Lonel."
Kalimat yang keluar dari mulut Alrescha pun segera mengejutkan pria itu. 'Darimana dia bisa tahu namku? Sebelum aku mati ditangannya, setidaknya aku memberikan mereka berdua pelajaran.'
Tidak takut dengan apa yang bisa dilakukan oleh kedua bersaudara itu kepadanya, hatinya sudah mantap untuk menyerang mereka lebih dulu. Kesenangan yang terjadi setelah bertemu lawan yang tangguh, itulah tekad yang dimiliknya.
__ADS_1