
Sesuatu yang dingin Alstrelia rasakan di sepasang kakinya, juga telapak tangan.
Wajah tenang dengan kedua mata yang sedang terpejam itu langsung disapa olleh cahaya. Dimana ketika dia membuka kelopak matanya, rupanya itu adalah cahaya bulan yang sedang bersinar cukup terang.
Tapi apa yang dia lihat saat ini, itu bukanlah tempat terakhir kali yang masih Alstrelia ingat .
Saat ini dia sedang terbaring di suatu tempat yang cukup sepi, tenang, dari sebuah bangunan tinggi yang membuatnya serasa berada lebih dekat dengan bulan purnama itu.
Semerbak aroma bunga mawar berwarna biru pun menyeruak masuk kedalam indera penciumnanya. Dimana hal itu benar-bbenar membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar berada di tempat lain.
'Tapi dimana ini?' Alstrelia terus menatap langit-langit bangunan itu untuk melihat bulan purnama yang baginya itu terlihat cukup indah.
Namun tepat saat Alstrelia beralih posisi untuk miring kesebelah kanan, Alstrelia langsung dipertemukan dengan wajah miliknya?
Seorang perempuan dengan wajah yang mirip dengannya, ternyata juga sedang terbaring di sisinya persis. Dan mata yang awalnya terpejam itu pun perlahan terbuka, dan menampilkan siluet dari iris mata berwarna biru.
Karena itulah, Alstrelia pun jadi terasa seperti sedang menatap cerminannya sendiri, karena wajah di depannya itu benar-benar sangat mirip.
Dan yang mebedakannya, tentu saja adalah pakaian mereka berdua. Jika Alstrelia adiknya Alrescha yang asli memakai gaun berwarna biru, maka dirinya masih tetap menggunakan seragam militernya.
"Kamu benar-benar mirip denganku ya?" Tanya Alstrelia adiknya Alrescha, (Alstrelia 1).
"Jika tidak mirip, aku mana mungkin menggantikan posisimu, Alstrelia." Jawab Alstrelia (2).
Dengan posisi tiduran mereka berdua saling berlawanan, mereka berdua pun melihat wajah lawan bicaranya dengan posisi terbalik satu sama lain.
Meskipun begitu, tidak membuat mereka terasa risih atau apapun. Karena mereka berdua terasa nyaman di posisinya masing-masing di tempat yang cukup sepi dan terbebas dari segala hiru pikuk orang-orang yang sibuk menjalani hidupnya sendiri.
Alstrelia (1) yang pemalu itu segera menundukkan wajahnya, karena merasa bersalah sebab posisinya sebagai adiknya Alrescha harus digantikan dengan kebarannya yang berasal dari dunia lain itu.
"Kau benar-benar pemalu ya?"
__ADS_1
"Hm...." dehem Alstrelia (1) dengan pertanyaan dari kembarannya itu.
"Aku ada disini loh, jangan menunduk. Memangnya aku akan memakanmu?" Alstrelia (2) yang sedikit kesal karena lawan bicaranya tidak mau menatap wajahnya lagi, secara tangannya langsung mencengkram wajah kembarannya itu agar tidak menunduk lagi.
"..............!" Alstrelia (1) yang sedikit kikuk itu, hanya diam dengan ekspresi sedikit takut, sebab melihat kembarannya tersebut benar-benar punya karakter berbeda yang cukup bertolak belakang dengannya. "Tidak."
"..............." Alstrelia (2) pun terus menatap serius kembarannya sampai dia benar-benar merasa puas, kalau ternyata dalam hidupnya dia bisa diperlihatkan sebuah pengalaman, bertemu dengan dirinya yang lain. "Apakah cincin yang ada dikalung yang dipakai oleh Chavire itu peemberianmu?" Tebak Alstrelia (2), lalu melepaskan cengkraman tangannya dari wajah kembarannya itu.
"Iya. Karena aku tidak bisa berbuat banyak padanya, aku hanya bisa memberikan cincin milikku kepadanya. Cincin itu akan melindunginya, jadi dia akan tetap aman selama cincin itu ada padanya." Jawab Alstrelia (1).
"Apakah kau tahu, memberikan cincin seperti itu atas dasar bisa melindunginya, maka itu sama artinya kalau kau baru saja membuat lamaran secara tidak langsung." Beritahu Alstrelia (2).
"............!" Sontak Alstrelia (1) membelalakkan matanya terkejut, karena ternyata niat baiknya itu berakhir ke arah lain juga. "A-aku tidak...tahu itu." Balas Alstrelia (1).
"Dan karena orang itu menerima hadiah pemberianmu, berarti baik kau maupun dia akan jadi miliki satu sama lain." Imbuhnya.
Saat Alstreila Ve Der Francisteen melirik menatap wajah Alstrelia Lion Beltmore Fisher, dia pun melihat wajah itu sudah merah merona. Yang artinya, apa yang baru saja dia katakan, adalah sesuatu yang kebetulan karena Alstrelia adiknya Alrescha ini memang benar-benar menyukai Chavire itu.
Baginya, itu akan menjadi kisah yang menarik. Karena apa? Karena Chavire pun terlihat sangat perhatian kepadanya, yang berarti memang sama-sama memiliki perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Alstrelia (1) ini.
Alstrelia (2) kembali meliihat ke sekeillingnya. Dia seperti berada di kastil lama, tapi meskipun aa tanaman mawar rambat yang masuk dan menghiasi pilar-pilar itu, keadannya cukup bersih dan terasa tidak ada debu pun, ketika tangannya mengusap lantai marmer putih itu.
"Setelah aku melihat cincin mu, aku tiba-tiba pingsan dan ternyata dibawa kesini. Apa tujuanmu itu?" Alstrelia (2), kini tatapannya menjadi sendu saat dia melihat banyaknya bintang yang bisa dia lihat dari tempatnya itu.
Hal tersebut membuat hatinya tiba-tiba saja merindukan rumahnya dan semua rekan-rekannya di dalam kamp.
Tapi apa daya, sekarang dirinya justru terjebak dalam novel yang memerankan peran pengganti Putri Alstrelia.
"Apa kamu ingin pulang?" Satu pertanyaan yang keluar dari mulut yang terasa ragu untuk berbicara itu pun berhasil menarik perhatian Alstrelia untuk menatap wajah kembarannya yang pemalu itu.
"Memangnya aku benar-benar bisa pulang?"
"Sebenarnya ada. Tapi kamu harus cari jalannya sendiri. Intinya, itu bukan sihir teleportsi."
__ADS_1
DEG.
Ucapannya langsung tepat sasaran pada Alstrelia (2) yang awalnya ingin tahu tentang sihir teleportasi kepada Edward.
Tapi karena kembarannya sudah mengatakan itu, maka harapan untuk mencari tahu sihir teleportasi pun langsung pupus sudah.
"Lalu, tolong jaga kakakku."
"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Apa yang aku dapatkan sebagai imbalan dari semua permintaanmu itu?" Alstrelia pun mulai melakukan tawar menawar pada kembarannya.
Masih dalam posisi terbaring, wajah Alstrelia (1) saat ini sedang memasang wajah berpikirnya. Dia bingung untuk membayar semua permintaan itu kepada kembarannya itu. Karena menemui jalan buntu, dia un jadi bertanya, "Apa yang kamu inginkan dariku?"
Alstrelia (2) yang awalnya berpikir kalau kembarannya sudah menemukan jawaban yang tepat untuknya, tiba-tiba ditanyai balik, membuat Alstrelia (2) mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum dia menyunggingkan senyuman dari tatapan jenaka.
"Asal sesuai dengan kemampuanku, aku akan mengabulkannya." imbuh Alstrelia (1), kalau dia akan mengabulkan imbalan ap ayang kembarannya inginkan, asal itu masih di dalam batas kemampuannya. Jika lebih dari itu, Alstrelia (1) hanya akan masuk kedalam kebingungannya lagi.
"Bukan hal sulit." Ungkap Alstrtelia (2) dibarengi senyuman lembut. "Jadi jangan khawatir. Aku bukan orang yang akan mempersilit kembaranku sendiri." Timpal Alstrelia (2).
"Uhmm....."
"Jadi-" Alstrelia (2) kemudian mendaratkan telapak tangan kirinya di wajah kembarannya itu, dan menariknya lebih dekat, sampai membuat jarak diantara mereka pun semakin terkikis.
Warna mata, wajah yang sama itu, mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Tidak ada yang mereka lakukan selain menatap wajah kembarannya sendiri.
"Ada apa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin terus melihat wajahku sendiri sedang berbicara kepadaku." Jawabnya.
Alstrelia (1) yang sedikit tidak paham akan maksud dari ucapannya itu hanya diam dan terus memperhatikan wajah miliknya yang juga sama-sama di miliki oleh perempuan di depannya itu.
"Alstrelia."
__ADS_1
"Ya?"
'Aku jadi seperti sedang berbicara kepada diriku sendiri.' Batin Alstrelia (2) ini. "Imbalan yang aku minta darimu adalah..."